Posts

Showing posts from 2026

Inventaris Hujan Di Hari Ke Dua Ramadan

Image
Inventaris Hujan oleh: nineshadowforces I. Pukul Dua Sebelum mata terbuka, telinga sudah sampai lebih dulu. Ada suara yang tidak bisa kamu buat sendiri, tidak bisa kamu pesan, tidak bisa kamu minta datang lebih awal atau pergi lebih lambat — suara yang jatuh dari langit dengan cara yang selalu terasa seperti bukan urusan siapapun kecuali dirinya sendiri. Rintik itu sudah ada sejak pukul dua, kata seseorang di dalam dadaku yang lebih jaga daripada mataku, dan sekarang kesadaranku menyusul pelan-pelan seperti orang yang terlambat ke pertemuan yang sudah berlangsung tanpa menunggunya. Hujan. Bukan satu suara. Tidak pernah satu suara. Ada yang jatuh ke kanopi baja ringan milik tetangga sebelah — suara itu paling keras, paling tidak sabar, seperti ketukan jari di meja rapat yang ingin segera selesai. Tapi ada juga yang jatuh ke terpal biru yang dipasang di atas genteng sudah beberapa bulan ini, entah karena bocor atau karena antisipasi, dan suara it...

Lantai-Lantai yang Menunggu

Image
Lantai-Lantai yang Menunggu Saya bekerja di lantai 17, tapi hidup saya terbagi di empat lantai yang bukan milik saya. Ini gedung Setiabudi. Dua puluh delapan lantai, kaca gelap di luar, marmer dingin di dalam. Setiap pagi saya masuk lewat pintu putar yang tidak pernah berhenti berputar—orang masuk, orang keluar, tapi pintu itu tetap bergerak seperti tidak ada yang terjadi. Lobby berbau AC dan pembersih lantai. Tidak ada aroma lain. Gedung ini steril seperti rumah sakit, tapi tidak ada yang sakit di sini. Atau mungkin semua orang sakit, tapi penyakitnya tidak kelihatan. Lift ada di sebelah kiri, tiga unit berjajar. Setiap lift punya 28 tombol. Dua puluh delapan lantai, dua puluh delapan dunia. Saya menekan angka 17 setiap pagi. Tapi ada empat angka lain yang saya ingat lebih jelas: 9, 12, 21, 25. Bukan karena saya pernah bekerja di sana. Bukan karena saya punya urusan di sana. Tapi karena empat lantai itu punya aroma. Dan aroma tidak pernah bohong. Aroma men...

Ciabatta, AI Dan Jam Satu Pagi di Pejaten

Image
Ciabatta, AI dan Jam Satu Pagi di Pejaten Jam satu pagi di Pejaten selalu punya jenis sunyi yang berbeda. Bukan sunyi total. Jakarta Selatan tidak pernah benar-benar tidur. Ada suara motor lewat pelan seperti orang yang lupa arah pulang. Ada dengung kulkas di sudut dapur. Ada kipas angin yang berputar dengan suara seperti menarik napas panjang, teratur, hampir hipnotis. Udara lembap menempel di kulit. Bau sisa hujan sore masih tersisa samar di sela-sela jendela yang tidak pernah rapat sempurna. Di jam seperti itu, orang normal tidur. Saya justru berdiri di dapur, menatap timbangan digital yang angkanya berkedip-kedip menunggu, dan berkata pelan pada diri sendiri: "Bikin ciabatta, ah." Tidak ada yang mendesak. Tidak ada tamu besok pagi. Tidak ada acara yang memerlukan roti Italia dengan lubang-lubang besar dan cru...