Lantai-Lantai yang Menunggu
Lantai-Lantai yang Menunggu
Saya bekerja di lantai 17, tapi hidup saya terbagi di empat lantai yang bukan milik saya.
Ini gedung Setiabudi. Dua puluh delapan lantai, kaca gelap di luar, marmer dingin di dalam. Setiap pagi saya masuk lewat pintu putar yang tidak pernah berhenti berputar—orang masuk, orang keluar, tapi pintu itu tetap bergerak seperti tidak ada yang terjadi. Lobby berbau AC dan pembersih lantai. Tidak ada aroma lain. Gedung ini steril seperti rumah sakit, tapi tidak ada yang sakit di sini. Atau mungkin semua orang sakit, tapi penyakitnya tidak kelihatan.
Lift ada di sebelah kiri, tiga unit berjajar. Setiap lift punya 28 tombol. Dua puluh delapan lantai, dua puluh delapan dunia. Saya menekan angka 17 setiap pagi. Tapi ada empat angka lain yang saya ingat lebih jelas: 9, 12, 21, 25. Bukan karena saya pernah bekerja di sana. Bukan karena saya punya urusan di sana.
Tapi karena empat lantai itu punya aroma.
Dan aroma tidak pernah bohong. Aroma mengingat ketika mata sudah lupa. Aroma hadir ketika orang sudah pergi.
Lift tidak mengenal musim. Di dalam kotak logam ini, pagi dan sore sama saja. Tidak ada jendela. Tidak ada angin. Hanya angka yang menyala, pintu yang terbuka, pintu yang tertutup. Tapi setiap kali saya menekan tombol—kadang bukan untuk saya, kadang karena orang lain minta tolong—aroma itu muncul. Seperti seseorang baru saja berdiri di sini. Seperti sesuatu baru saja terjadi.
Padahal tidak ada siapa-siapa.
Padahal sudah lama.
Lantai 9: Kopi yang Bocor
Tombol lantai 9 selalu lengket. Sedikit saja. Tidak semua orang sadar, tapi jari saya tahu. Ada sisa sesuatu di sana—manis, lengket, sudah mengering. Setiap kali saya tekan, aroma kopi muncul. Bukan kopi segar. Kopi yang terlalu lama dipegang, terlalu lama dibawa, terlalu panas untuk cangkir plastik yang tipis.
Siska.
Dia tidak pernah bilang namanya. Saya tahu karena ada tag nama di tasnya—tag konferensi startup, tulisan "SISKA - MARKETING" dengan font yang terlalu riang untuk pekerjaan yang melelahkan. Kami bertemu setiap Selasa dan Kamis, jam 08:15. Tepat. Seperti ada perjanjian, padahal tidak pernah ada yang bicara.
Dia selalu masuk dengan tumbler kopi di tangan kanan dan setumpuk printout di tangan kiri. Kertas itu baru keluar dari printer—saya tahu karena baunya. Aroma kimia tinta yang belum kering, kertas yang masih hangat, permukaan yang masih sedikit lembap. Aroma janji. Aroma presentasi yang harus sempurna sebelum jam sembilan.
Kami tidak pernah bicara. Posisi kami selalu sama: dia di pojok kanan belakang, saya di pojok kiri depan. Seperti ada protokol diam-diam untuk orang yang naik lift sendirian tapi tidak sendirian. Jangan terlalu dekat. Jangan mata bertemu terlalu lama. Jangan bicara kalau tidak perlu.
Suatu Selasa, tumbler-nya bocor.
Saya tidak tahu kenapa. Mungkin tutupnya tidak terpasang sempurna. Mungkin kopi itu terlalu penuh, terlalu panas, terlalu terburu. Yang jelas, tiba-tiba ada tetesan di lantai lift. Cokelat gelap, manis, pelan-pelan melebar.
Dia melihat ke bawah. Saya melihat ke bawah.
"Maaf," katanya. Suaranya lebih tinggi dari yang saya kira. Atau mungkin lift ini terlalu senyap sehingga suara apapun terdengar mengejutkan.
"Tidak apa," kata saya.
Kami diam sampai lantai 9. Pintu terbuka. Dia keluar dengan tumbler masih menetes. Kertas printout-nya mulai basah di ujung bawah—tinta mulai luntur. Saya tidak tahu apakah dia sempat menyadari itu sebelum presentasinya dimulai.
Itu percakapan pertama dan terakhir.
Sekarang setiap kali saya tekan tombol lantai 9—karena orang lain minta tolong, karena ada yang mau turun—aroma kopi itu muncul. Hangat. Pahit. Bocor. Seperti Siska baru saja berdiri di sini dengan tumbler-nya yang tidak pernah rapat, dengan kertas-kertas yang tidak pernah cukup, dengan jam 08:15 yang tidak pernah cukup untuk apapun.
Tapi Siska tidak ada di sana.
Saya tidak tahu dia masih di gedung ini atau tidak. Saya tidak tahu startup-nya masih ada atau sudah tutup. Saya tidak tahu apakah dia ingat saya—orang yang tidak marah ketika kopinya bocor di lantai lift.
Yang saya tahu: kami tidak pernah saling mengenal, tapi kami saling mengingat.
Dia mengingat saya sebagai orang yang tidak marah. Saya mengingat dia sebagai orang yang terlalu banyak membawa. Terlalu banyak kopi. Terlalu banyak kertas. Terlalu banyak jam delapan pagi yang sama.
Dan aroma itu tidak pernah hilang dari tombol lantai 9.
Lantai 12: Kayu Putih yang Tebal
Lantai 12 berbau seperti apotek lama.
Bukan apotek modern dengan lampu putih dan kemasan plastik. Apotek lama. Yang jual minyak kayu putih dalam botol kaca, yang bau kamper dan tisu basah untuk kompres, yang punya bapak-bapak penjaga kasir dengan kacamata tebal dan sabar mendengarkan keluhan ibu-ibu tentang kolesterol.
Bapak Gunawan.
Saya juga tidak tahu namanya dari dia. Saya tahu karena suatu kali lift macet, dan kami terjebak berdua selama 23 menit. Di situ saya lihat kartu nama yang jatuh dari saku jasnya ketika dia coba tekan tombol darurat: "Gunawan Suryadi, S.H. - Notaris."
Dia selalu masuk di lantai 12 dengan tas kulit cokelat yang permukaannya sudah retak-retak seperti peta negara asing. Tas itu berat—saya tahu karena cara dia membawanya, sedikit miring ke kanan, bahu kanannya lebih rendah. Tapi dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah taruh tas itu di lantai. Dia pegang terus, seperti kalau dia lepas, tasnya akan hilang.
Jasnya abu-abu. Setiap hari. Jas yang sama, atau mungkin dia punya lima jas yang persis sama. Siku jasnya mengkilap—bukan karena mahal, tapi karena terlalu sering dilipat, terlalu sering bergesekan dengan meja kerja, terlalu sering jadi satu-satunya jas yang dia pakai.
Bapak Gunawan tidak pernah menekan tombol sendiri. Dia masuk lift, berdiri di pojok, lalu menunggu. Menunggu orang lain menekan lantai tujuan mereka. Kalau ada yang menekan lantai 12, dia diam saja. Kalau tidak ada, dia baru perlahan angkat tangan, tekan dengan jari telunjuk, lalu kembali ke posisi semula.
Seperti dia tidak mau merepotkan.
Seperti dia minta maaf karena ada di lift yang sama.
Aroma kayu putih selalu muncul ketika dia masuk. Bukan dari botol—dari kerah bajunya. Seperti dia pakai minyak itu setiap pagi, di leher, di pergelangan tangan, di dada. Perawatan. Pencegahan. Ketakutan akan flu, akan batuk, akan sakit yang membuat dia tidak bisa kerja.
Suatu Jumat, lift macet.
Antara lantai 11 dan 12. Lampu berkedip dua kali, lalu lift berhenti. Tidak jatuh, tidak goyang—hanya berhenti. Seperti seseorang pencet tombol jeda di tengah film.
Kami berdua. Saya dan Bapak Gunawan.
Dia tekan tombol darurat. Tidak ada jawaban. Tekan lagi. Masih tidak ada. Lalu dia berhenti, tarik napas panjang, dan bilang, "Tidak apa-apa. Sebentar juga datang."
Kami diam lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu dia bicara. Tidak pada saya—pada udara. Pada dinding lift. Pada dirinya sendiri.
"Anak saya di Melbourne," katanya. "Sudah tiga tahun. Kuliah hukum. Saya kirim email setiap minggu. Dia balas sebulan sekali."
Dia tidak melihat saya. Matanya ke tas kulit di tangannya.
"Saya beli tas ini tahun 2007. Untuk nanti kalau jadi kakek. Saya pikir bagus kalau punya tas kulit tua waktu gendong cucu. Kayak di film-film."
Suaranya pelan. Bukan sedih—hanya... capek.
"Tapi kayaknya tidak akan sampai situ. Anak saya bilang dia mungkin tidak pulang. Kerja di sana. Nikah di sana. Hidup di sana."
Aroma kayu putih menjadi tebal sekali di ruang yang sempit itu. Bukan karena dia pakai lebih banyak. Tapi karena waktu berhenti. Karena tidak ada angin. Karena kami berdua menghirup udara yang sama, diam-diam, dalam lift yang tidak bergerak.
Dua puluh tiga menit kemudian, lift hidup lagi. Pintu terbuka di lantai 12.
Bapak Gunawan keluar. Saya keluar di lantai 17.
Kami tidak bicara lagi setelah itu. Tidak pernah. Tapi setiap kali kami bertemu—yang tidak sering, mungkin sebulan sekali—dia mengangguk. Saya mengangguk. Seperti kami punya rahasia kecil yang tidak perlu dibicarakan.
Tiga bulan kemudian, dia tidak masuk lagi di lantai 12. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin pindah kantor. Mungkin pensiun. Mungkin akhirnya ke Melbourne juga.
Tapi aroma kayu putih masih ada.
Setiap kali saya tekan tombol lantai 12, aroma itu muncul. Tebal. Seperti Bapak Gunawan baru saja berdiri di sini dengan tas kulitnya yang retak, dengan jasnya yang mengkilap di siku, dengan email yang dikirim setiap minggu tapi dibalas sebulan sekali.
Kami keluar dari lift sebagai orang asing yang saling tahu rahasia.
Saya tahu dia kesepian.
Dia tahu saya mendengarkan.
Dan itu cukup. Untuk 23 menit. Untuk lift yang macet. Untuk aroma kayu putih yang tidak akan pernah hilang dari lantai 12.
Lantai 21: Tinta yang Asin
Lantai 21 berbau seperti kantor arsitektur seharusnya berbau.
Tinta spidol permanen. Bukan yang bisa dihapus—yang permanen. Yang kalau kena tangan harus digosok pakai alkohol. Yang kalau salah tarik garis, tidak ada cara memperbaikinya kecuali gambar ulang dari awal.
Raka.
Dia tidak pernah berdiri diam di lift. Selalu gerak. Kaki kanan naik-turun seperti ada musik yang hanya dia dengar. Tangan kiri pegang ponsel. Tangan kanan pegang roll kertas besar—blueprint, peta, rencana gedung yang belum dibangun atau sudah dibatalkan.
Dia selalu masuk tergesa. Tekan tombol tutup pintu sebelum orang lain sempat masuk. Bukan karena jahat—karena dia tidak sadar ada orang lain. Dunianya cuma dia, ponselnya, dan kertas-kertas itu.
Tapi suatu hari, dia menahan pintu untuk saya.
Saya tidak tahu kenapa. Mungkin dia sedang mood baik. Mungkin dia lagi tidak terburu. Atau mungkin karena hari itu ada sesuatu yang patah di dalam dirinya, dan orang yang patah kadang jadi lebih perhatian—karena mereka tahu bagaimana rasanya tidak diperhatikan.
Aroma tinta spidol selalu menempel di bajunya. Di ujung jari. Di tepi celana—seperti dia suka letakkan spidol di saku tanpa tutup. Aroma kreativitas yang dipaksa. Garis yang tidak bisa dihapus. Keputusan yang harus cepat, harus yakin, harus benar—meski tidak ada yang tahu apa itu "benar" dalam menggambar gedung yang belum ada.
Ada aroma lain juga. Keringat. Bukan keringat olahraga—keringat dingin. Di ketiak. Di punggung. Keringat presentasi. Keringat penolakan. Keringat percobaan lagi, dan lagi, dan lagi.
Suatu malam, saya lembur sampai jam 9. Lift kosong. Saya tekan lantai dasar, pintu hampir tertutup—tapi tiba-tiba Raka masuk. Lantai 21. Jam 21:30.
Dia tidak lihat saya. Atau pura-pura tidak lihat. Dia berdiri di pojok, mata ke ponsel. Dan tiba-tiba, dia menangis.
Bukan isak. Tidak ada suara. Hanya air mata yang mengalir perlahan, turun ke pipi, menetes ke kerah baju. Matanya tetap terbuka. Ponselnya tetap menyala—entah dia baca apa. Email penolakan. Pesan dari klien. Atau cuma timeline media sosial yang penuh orang lain yang lebih sukses.
Saya tidak tahu harus bagaimana.
Saya pura-pura tidak lihat.
Dia pura-pura tidak menangis.
Kami diam sampai lantai dasar. Pintu terbuka. Dia keluar duluan, cepat, seperti ada yang kejar. Saya keluar belakangan, pelan, seperti baru saja lihat sesuatu yang tidak boleh dilihat.
Tapi saya mencium sesuatu yang berbeda.
Aroma tinta spidol di lantai 21 tidak sama lagi. Ada sesuatu yang basah. Asin. Bukan keringat—air mata. Air mata mengubah kimia aroma. Saya baru tahu itu malam itu. Bahwa kesedihan bisa mengubah bau ruangan.
Sekarang setiap kali saya tekan tombol lantai 21, aroma itu muncul. Tinta spidol dan sesuatu yang basah. Mungkin itu air mata Raka. Mungkin itu saya, yang menyesal tidak bertanya. Mungkin itu semua orang di lantai 21 yang pernah menangis di lift tapi pura-pura tidak menangis.
Saya tidak tahu kenapa Raka menangis.
Saya tidak tahu kenapa saya tidak bertanya.
Yang saya tahu: aroma tinta spidol di lantai 21 sekarang selalu bercampur sesuatu yang basah. Dan setiap kali saya menciumnya, saya ingat—ada orang yang menangis di sini, sendirian, dengan ponsel menyala dan garis-garis yang tidak bisa dihapus.
Lantai 25: Nasi yang Dingin
Lantai 25 berbau deterjen dan nasi liwet.
Dua aroma yang tidak seharusnya ada bersama, tapi di lantai 25, mereka selalu bersama. Deterjen lantai—yang biru, yang bau kimia tajam, yang bikin mata perih kalau terlalu dekat. Dan nasi liwet—yang hangat, yang ada aroma daun pisang dan santan, yang harusnya dimakan jam 12 siang tapi selalu dimakan jam 10 malam.
Ibu Lina.
Saya tahu namanya karena ada bordir di baju seragamnya. Tulisan "LINA" dengan benang merah, jahitan tangan, tidak rapi tapi jelas. Dia yang bersihkan lift setiap malam. Jam 9, jam 10, kadang jam 11—tergantung berapa banyak orang yang lembur, berapa banyak kotoran yang ditinggalkan.
Kami sering bertemu. Saya sering lembur. Dia selalu kerja malam.
Tapi kami tidak pernah bicara. Saya masuk lift, dia keluar sambil bawa pel dan ember. Atau sebaliknya—dia masuk bawa deterjen, saya keluar sambil bawa laptop. Seperti shift bergantian. Seperti kami jaga gedung yang sama tapi di waktu yang berbeda.
Ibu Lina tidak pernah naik lift untuk kerja. Saya tahu karena suatu kali saya datang pagi sekali—jam 6—dan saya lihat dia keluar dari pintu tangga darurat. Napas tersengal. Baju basah keringat. Dia naik 25 lantai tangga. Setiap hari.
Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena lift belum nyala pagi-pagi. Mungkin karena dia tidak mau ganggu lift yang lagi dibersihkan sama rekan kerjanya. Atau mungkin karena dia memilih—karena naik tangga itu satu-satunya waktu dia gerak sendiri, tidak bersihin jejak orang lain, tidak tunggu orang lain tekan tombol.
Dia selalu bawa bekal. Wadah plastik kotak, warna hijau pudar, tutupnya retak di satu sisi tapi masih bisa nutup. Isinya nasi liwet. Saya tahu karena aromanya—santan, bawang, daun salam, sedikit terasi. Aroma rumah. Aroma jam 4 pagi ketika dia masak sebelum anaknya bangun. Aroma yang seharusnya dimakan siang, tapi selalu dimakan malam—karena siang dia sibuk bersihin lantai 1 sampai 10, sore lantai 11 sampai 20, malam lantai 21 sampai 28.
Suatu malam, saya keluar dari lift di lantai 25 karena mau ambil air di pantry. Lift terbuka, dan saya lihat Ibu Lina di dalam—tidur berdiri.
Bukan duduk. Berdiri. Di sudut lift, punggung ke dinding, pel di tangan kanan, kepala menunduk. Matanya tertutup. Napasnya pelan.
Saya berdiri di luar. Tidak masuk. Tidak panggil.
Lift berbunyi. Pintu mau nutup. Dia terbangun—kaget, malu, langsung berdiri tegak.
"Maaf, Pak," katanya. Suaranya serak. "Saya tidak—"
"Tidak apa-apa," kata saya. Cepat. Sebelum dia selesai minta maaf.
Pintu tertutup. Lift turun.
Saya berdiri di lantai 25 sendirian. Dan saya mencium aroma nasi liwet yang belum dimakan. Dingin sekarang. Berminyak. Santan sudah mengeras di atas nasi. Wadah plastik hijau pudar masih ada di sudut lift—ketinggalan, atau sengaja ditinggal karena dia terlalu malu untuk ambil lagi.
Ibu Lina bersihin jejak kami setiap malam.
Kopi Siska yang tumpah di lantai 9. Kayu putih Bapak Gunawan yang nempel di pegangan lift lantai 12. Tinta Raka yang luntur di dinding lantai 21. Semua jejak kami—dia yang hapus. Dengan deterjen biru yang tajam. Dengan pel yang berat. Dengan 25 lantai tangga setiap pagi.
Tapi dia tidak bersihin jejaknya sendiri.
Nasi liwet yang dingin. Tidur berdiri di sudut lift. Wadah plastik yang retak tapi masih dipake. Dua puluh lima lantai tangga karena dia tidak mau ganggu lift yang lagi dibersihkan—atau karena dia tidak merasa berhak naik lift seperti kami.
Gedung ini bersih karena dia.
Tapi siapa yang bersihin dia?
Sekarang setiap kali saya tekan tombol lantai 25, dua aroma itu muncul bersamaan. Deterjen yang tajam dan nasi liwet yang dingin. Penghapus jejak dan penanda kehadiran. Bersih dan lapar. Kerja dan capek.
Ibu Lina dan saya tidak pernah bicara lagi setelah malam itu. Tapi setiap kali kami papasan—dia bawa pel, saya bawa laptop—kami saling mengangguk. Seperti kami tahu sesuatu tentang satu sama lain yang tidak perlu diucapkan.
Seperti kami tahu: di gedung ini, ada yang bersihin jejak orang lain tanpa punya jejak sendiri.
Dan itu adalah kami berdua.
Dia bersihin dengan pel. Saya bersihin dengan data. Dia hapus kopi dan tinta. Saya hapus angka dan kesalahan. Dia naik 25 lantai tangga. Saya duduk di lantai 17 sampai lupa ada tangga.
Tapi kami sama.
Kami tidak punya aroma sendiri. Kami hanya punya aroma orang lain yang kami bersihin, yang kami ingat, yang kami jaga—meski tidak ada yang ingat kami.
Lantai 17: Aroma yang Tidak Ada
Saya bekerja di lantai 17.
Apa aroma lantai 17?
Saya tidak tahu.
Saya terlalu sering di sini untuk menciumnya. Seperti orang tidak bisa cium aroma rumahnya sendiri. Seperti lidah tidak bisa rasa dirinya sendiri. Saya ada di sini delapan jam sehari, kadang sepuluh, kadang dua belas. Saya kenal setiap sudut ruangan. Setiap meja. Setiap kursi yang rodanya macet. Setiap jendela yang tidak bisa dibuka.
Tapi saya tidak tahu lantai 17 berbau apa.
Mungkin kertas. Mungkin kopi instan. Mungkin AC yang terlalu dingin. Atau mungkin tidak ada. Mungkin lantai 17 tidak punya aroma—karena tidak ada yang terjadi di sini. Tidak ada yang tumpah. Tidak ada yang menangis. Tidak ada yang tidur berdiri.
Hanya monitor yang menyala. Angka yang bergerak. Laporan yang harus selesai Jumat. Email yang harus dibalas sebelum jam 5. Hidup yang berjalan tapi tidak kemana-mana.
Saya mengenali orang-orang lewat aroma mereka.
Siska lewat kopi yang bocor. Bapak Gunawan lewat kayu putih yang tebal. Raka lewat tinta yang asin. Ibu Lina lewat nasi liwet yang dingin.
Tapi apa yang mereka ingat tentang saya?
Apakah saya juga punya aroma? Apakah saya juga jadi bagian dari gedung ini—atau saya cuma penumpang yang naik turun tanpa jejak?
Suatu pagi, lift macet di lantai 17.
Saya sendirian. Pintu terbuka, tapi tidak ada yang masuk. Pintu tertutup, tapi lift tidak bergerak. Saya tekan tombol buka—tidak ada respon. Tekan tombol tutup—tidak ada respon. Tekan tombol lantai dasar—tidak ada respon.
Saya berdiri di tengah lift. Diam.
Dan saya mencium sesuatu.
Kopi yang pernah tumpah di lantai 9. Kayu putih yang pernah tebal di lantai 12. Tinta yang pernah asin di lantai 21. Nasi liwet yang pernah dingin di lantai 25.
Mereka tidak ada.
Tapi aroma mereka menunggu di lantai saya.
Seperti gedung ini punya ingatan sendiri. Seperti lift ini tahu siapa pernah berdiri di sini, siapa pernah menangis, siapa pernah tidur, siapa pernah minta maaf—meski tidak ada yang lihat, meski tidak ada yang ingat.
Lift hidup lagi. Pintu terbuka.
Saya keluar. Masuk kantor. Nyalakan komputer. Buka laporan. Mulai kerja.
Tapi saya tahu sekarang: gedung ini punya 28 lantai dan 1.200 orang. Tapi saya hanya kenal empat—lewat aroma yang mereka tinggalkan, bukan nama yang mereka ucapkan.
Dan mungkin, di suatu lantai lain, ada orang yang kenal saya lewat aroma yang saya tinggalkan.
Mungkin saya kopi yang terlalu pahit. Mungkin saya kertas yang terlalu banyak. Mungkin saya tinta yang tidak bisa dihapus. Mungkin saya nasi yang terlalu lama menunggu.
Atau mungkin saya cuma AC yang dingin. Aroma yang tidak ada. Orang yang terlalu sering di sini untuk diingat.
Tapi setidaknya, sekarang saya tahu: di lift ini, di antara 28 tombol, ada empat lantai yang bukan milik saya—tapi jadi milik saya juga.
Karena aroma tidak pernah bohong.
Karena aroma mengingat ketika mata sudah lupa.
Karena di gedung yang penuh orang ini, kesepian adalah norma—tapi kadang, kalau kita diam cukup lama, kalau kita tutup mata dan hirup dalam-dalam, kita bisa cium sesuatu.
Bukan AC. Bukan deterjen. Bukan kertas atau angka.
Tapi orang. Orang yang pernah ada. Orang yang mungkin masih ada. Orang yang kita tidak kenal tapi entah kenapa kita ingat—karena mereka meninggalkan sesuatu di udara yang sama yang kita hirup.
Dan itu cukup.
Untuk lantai 9, 12, 21, 25.
Untuk lantai 17 yang tidak punya aroma.
Untuk lift yang terus bergerak naik turun, membawa orang yang tidak saling kenal tapi saling mengingat—lewat hal-hal kecil yang tertinggal, yang tidak terlihat, yang tidak terucap.
Lewat aroma yang menunggu.
Di lantai-lantai yang menunggu.
Di gedung yang tidak pernah tidur, tapi tidak pernah benar-benar bangun.

Comments
Post a Comment