Inventaris Hujan Di Hari Ke Dua Ramadan

Inventaris Hujan

Inventaris Hujan

oleh: nineshadowforces


I. Pukul Dua

Sebelum mata terbuka, telinga sudah sampai lebih dulu.

Ada suara yang tidak bisa kamu buat sendiri, tidak bisa kamu pesan, tidak bisa kamu minta datang lebih awal atau pergi lebih lambat — suara yang jatuh dari langit dengan cara yang selalu terasa seperti bukan urusan siapapun kecuali dirinya sendiri. Rintik itu sudah ada sejak pukul dua, kata seseorang di dalam dadaku yang lebih jaga daripada mataku, dan sekarang kesadaranku menyusul pelan-pelan seperti orang yang terlambat ke pertemuan yang sudah berlangsung tanpa menunggunya.

Hujan.

Bukan satu suara. Tidak pernah satu suara.

Ada yang jatuh ke kanopi baja ringan milik tetangga sebelah — suara itu paling keras, paling tidak sabar, seperti ketukan jari di meja rapat yang ingin segera selesai. Tapi ada juga yang jatuh ke terpal biru yang dipasang di atas genteng sudah beberapa bulan ini, entah karena bocor atau karena antisipasi, dan suara itu berbeda sama sekali — lebih berat, lebih dalam, seperti orang yang berbicara dengan mulut penuh. Dan kemudian ada sisanya: hujan yang jatuh ke tanah langsung, ke daun-daun yang tidak pernah dihitung siapapun, ke aspal yang sudah hafal bagaimana cara menjadi basah.

Selimut.

Tubuhku tidak ingin kemana-mana.

Di sudut ruangan, atau mungkin dari kamar sebelah, atau mungkin dari dunia lain yang frekuensinya kebetulan mampir malam ini — radio Rodja menyala. Aku tidak tahu sejak kapan. Suara bacaan itu teratur, metodis, tidak terganggu oleh hujan, tidak terganggu oleh jam yang terus berjalan menuju sahur. Ada sesuatu yang aneh tentang dua suara itu berdampingan: kekacauan air yang jatuh dari langit, dan keteraturan kalimat yang naik dari kotak kecil itu. Aku berbaring di antara keduanya dan tidak memilih satupun.

Malam ini adalah malam kedua Ramadan. Aku mengingatnya bukan karena tanggal, tapi karena tubuhku masih sedikit asing dengan jadwal baru ini — perut yang diam lebih lama dari biasanya, pikiran yang entah kenapa justru lebih ramai saat seharusnya istirahat. Di luar, Jakarta terus diguyur. Di dalam, aku menginventaris.


II. Inventaris

Catatan: kenangan hujan tidak datang berurutan. Mereka datang berdasarkan kemiripan bunyi, kemiripan bau, kemiripan rasa di dalam dada — bukan berdasarkan tahun.


Hujan yang pertama kali kusadari sebagai hujan, bukan sekadar air.

Aku tidak ingat berapa umurku. Yang kuingat adalah atap seng — bukan baja ringan seperti milik tetangga sekarang, tapi seng tua yang bergetar lebih ekspresif, yang suaranya seperti seseorang yang menabuh sesuatu dengan semangat tapi tanpa ritme. Aku duduk di lantai, menghadap pintu yang setengah terbuka, dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin hujan berhenti.

Bukan karena hujannya indah. Tapi karena tiba-tiba aku sadar bahwa langit bisa memutuskan sesuatu tanpa bertanya padaku — dan keputusan itu tidak terasa mengancam. Terasa seperti kebebasan yang bukan milikku, tapi bisa kutonton dari dekat.

Itu mungkin awal dari semuanya.


Hujan yang paling menyakitkan.

Bukan hujan deras. Justru gerimis — jenis yang tidak cukup lebat untuk dijadikan alasan berteduh, tapi cukup untuk membuat semuanya terasa lembab dan tidak selesai. Aku sedang berdiri di suatu tempat yang sekarang tidak lagi ada dalam hidupku. Bukan karena tempatnya yang berubah, tapi karena aku yang sudah pergi dari versi diri yang berdiri di sana.

Gerimis itu tidak dramatis. Tidak ada petir, tidak ada angin. Hanya titik-titik kecil yang menempel di jaket dan tidak mau kering. Dan seseorang — atau ketiadaan seseorang, aku tidak lagi yakin mana yang lebih tepat — membuat gerimis itu terasa seperti kalimat yang tidak pernah selesai diucapkan.

Sampai sekarang, gerimis selalu punya rasa yang sedikit berbeda dari hujan. Lebih ragu. Lebih tidak jujur.


Hujan yang paling tenang.

Ini yang paling sulit dijelaskan karena tidak ada ceritanya. Tidak ada orang, tidak ada konflik, tidak ada sebelum dan sesudah yang bisa diceritakan dengan urutan. Hanya sebuah sore, sebuah jendela, dan hujan yang turun dengan cara yang terasa seperti ia tidak sedang mencoba membuktikan apapun.

Aku membaca buku — atau pura-pura membaca, lebih tepatnya. Karena yang sebenarnya kulakukan adalah mendengarkan. Dan hujan itu berbicara dengan cara yang tidak meminta responsiku. Ia bercerita tanpa mengharapkan aku mengerti. Dan justru karena itu, aku merasa sangat dimengerti.


Hujan yang kutunggu tapi tidak datang.

Musim kemarau yang terlalu panjang. Langit yang setiap sore menggelap dan menggantung janji, lalu mengurungkan niatnya. Tanah di halaman retak dengan cara yang pelan, seperti orang yang menahan napas terlalu lama.

Aku belajar sesuatu dari menunggu hujan yang tidak datang: bahwa ada hal-hal yang kehadirannya baru terasa nyata justru saat mereka absen. Hujan adalah salah satunya. Dan mungkin beberapa hal lain juga, tapi itu inventaris yang berbeda, untuk malam yang berbeda.


III. Sahur

Alarm tidak berbunyi. Atau berbunyi tapi sudah kumatikan dalam kondisi setengah sadar — aku tidak bisa membedakan mana yang terjadi. Yang jelas sekarang aku duduk di tepi ranjang, kaki belum sepenuhnya menapak lantai, dan hujan masih turun dengan tekun di luar sana.

Radio Rodja masih menyala.

Aku berdiri. Bergerak ke dapur dengan cara yang pelan — bukan karena mengantuk saja, tapi karena malam ini terasa seperti jenis malam yang tidak perlu ditergesa-gesa. Hujan mengajarkan itu: bahwa ada waktunya sesuatu dibiarkan berlangsung dengan kecepatannya sendiri.

Kompor menyala. Suaranya pun menjadi bagian dari orkestra kecil subuh ini — bersama rintik di kanopi tetangga, bersama suara terpal yang sesekali menggembung tertiup angin kecil, bersama bacaan dari radio yang tidak pernah bertanya apakah ada yang mendengarkan.

Aku memanaskan nasi. Membuka tutup wadah lauk yang sudah disiapkan tadi malam — tempe, telur, sambal yang warnanya merah tua dan baunya cukup untuk membangunkan bagian paling malas dari otak. Ini bukan makan mewah. Ini makan yang jujur. Dan ada sesuatu tentang kesederhanaan sahur sendirian di tengah hujan yang terasa seperti — bukan kesepian, tidak tepat kalau disebut kesepian — lebih seperti kedamaian yang belum punya nama dalam bahasa Indonesia.

Jendela dapur berembun di bagian bawahnya.

Aku tidak menghapusnya.

Di radio, seseorang sedang membacakan sesuatu dengan suara yang tenang. Aku tidak menangkap kata-katanya, tapi intonasinya terasa seperti orang yang tahu betul apa yang ia katakan dan tidak terburu-buru. Suara itu tidak mengajakku berdialog. Ia hanya ada — seperti hujan, seperti malam, seperti Ramadan yang datang lagi tahun ini dengan cara yang persis sama tapi selalu terasa berbeda.

Aku makan perlahan.

Di luar, seekor kucing lewat di bawah kanopi tetangga, berhenti sebentar, lalu memutuskan bahwa lebih baik diam di sana dulu daripada menerobos hujan. Aku mengerti.


IV. Pluviophile

Pluviophile. Dari bahasa Latin: pluvia, hujan. Phile, pencinta. Seseorang yang menemukan ketenangan dan kebahagiaan saat hujan turun.

Tapi definisi itu terlalu rapi. Terlalu selesai.

Karena yang sebenarnya terjadi lebih rumit dari "menemukan ketenangan" — lebih seperti: ada sesuatu dalam diriku yang berhenti berpura-pura saat hujan. Berhenti berpura-pura bahwa segalanya harus produktif, harus menuju suatu tujuan, harus bisa dijelaskan kepada orang lain dengan kalimat yang masuk akal. Hujan memberi izin untuk hanya ada. Untuk duduk dan mendengar. Untuk membiarkan pikiran bergerak ke mana mereka mau tanpa harus mengarahkan mereka pulang sebelum gelap.

Apakah ini pelarian? Mungkin. Tapi semua orang punya sesuatu yang membuatnya merasa sedikit lebih utuh — dan aku tidak cukup malu untuk mengakui bahwa milikku adalah air yang jatuh dari langit tanpa alasan yang pernah bisa kuverifikasi sendiri.

Ada pertanyaan yang kadang datang di antara tidur dan jaga, di antara sahur dan subuh, di antara satu kenangan dan kenangan berikutnya:

Apakah mencintai hujan adalah cara untuk mencintai sesuatu yang tidak bisa pergi meninggalkanmu?

Hujan selalu pergi. Tapi ia selalu kembali. Tidak seperti beberapa hal lain. Dan mungkin di situlah rahasianya — bukan bahwa hujan tidak pernah pergi, tapi bahwa kepergiannya tidak pernah terasa seperti pengkhianatan. Ia pergi karena memang begitu cara kerjanya. Ia kembali karena memang begitu cara kerjanya. Tidak ada yang perlu dijelaskan, tidak ada yang perlu dimaafkan.

Ramadan, pikirku tiba-tiba, juga bekerja dengan cara yang mirip.

Datang. Membawa sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diartikan tapi bisa dirasakan. Pergi. Kembali. Dan setiap kali kembali, rasanya seperti pertemuan dengan sesuatu yang sudah lama dikenal tapi belum pernah sepenuhnya dimengerti.

Malam ini adalah hari kedua Ramadan. Hujan turun sejak pukul dua pagi dan belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Radio Rodja mengalun dari sudut yang tidak kuperiksa. Dan aku duduk di antara semua itu — inventarisku yang tidak berurutan, sahurku yang sudah selesai, pikiranku yang masih ingin kemana-mana — dan menyadari bahwa kesendirian ini bukan sesuatu yang terjadi padaku.

Ini sesuatu yang kupilih. Atau lebih tepatnya — ini sesuatu yang kubiarkan terjadi, yang ternyata sama artinya.


V. Pukul Enam

Langit di luar mulai abu-abu.

Bukan terang. Bukan gelap. Sesuatu di antaranya — warna yang tidak punya nama yang memuaskan dalam bahasa manapun yang kukenal, warna yang hanya ada di jam ini, di antara malam yang belum selesai dan pagi yang belum berani datang sepenuhnya.

Hujan masih turun. Lebih pelan sekarang. Kanopi tetangga tidak lagi riuh seperti tadi — suara baja ringan itu kini lebih seperti bisikan, lebih seperti seseorang yang sudah kehabisan sesuatu untuk dikatakan tapi tidak ingin pergi dulu. Terpal di genteng sesekali berbunyi saat angin kecil lewat, lalu diam lagi.

Adzan Subuh berkumandang.

Bukan dari radio — tapi dari masjid di ujung gang, suaranya menembus hujan dengan cara yang tidak terasa memaksa. Ia hanya tiba. Dan di radio, bacaan yang sudah menemani sejak entah kapan berhenti sebentar — atau mungkin aku yang berhenti mendengar, aku tidak yakin mana yang lebih tepat.

Aku duduk di dekat jendela.

Embun masih ada di kaca bagian bawah. Aku masih tidak menghapusnya.

Di luar, kucing yang tadi berteduh di bawah kanopi tetangga sudah tidak ada. Entah ia sudah memutuskan bahwa hujan tidak sepenting tujuan yang ingin ia capai, atau entah ia menemukan cara lain untuk pergi tanpa basah. Aku tidak tahu. Aku tidak harus tahu.

Ini hari kedua Ramadan. Ini pukul enam pagi. Ini Jakarta yang sedang hujan dengan cara yang tekun dan tidak minta tepuk tangan.

Dan aku di sini, dengan inventarisku yang tidak berurutan, dengan sahurku yang sudah selesai, dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban malam ini — mendengarkan hujan yang jatuh ke kanopi tetangga, ke terpal biru di atas genteng, ke tanah yang sudah hafal bagaimana cara menerima.

Hujan masih turun.

Seperti biasa, ia tidak bertanya apakah ada yang mendengarkan.

Dan seperti biasa, aku di sini.

Mendengarkan.


nineshadowforces | Februari 2026 | Ramadan, hari kedua


Referensi & bacaan lanjutan: Radio Rodja 756 AM · Pluviophile — Merriam-Webster · Sejarah Banjir Jakarta — Wikipedia · On Solitude — Longreads · Loneliness & Solitude: A Reading List — Longreads

Comments

Popular Post

Ciabatta, AI Dan Jam Satu Pagi di Pejaten

Surat Terbuka dari Seorang Pecandu

AKU MASIH KANGEN, MUNGKIN KAMU TIDAK MENYADARINYA