Inventaris Hujan Di Hari Ke Dua Ramadan
Inventaris Hujan oleh: nineshadowforces I. Pukul Dua Sebelum mata terbuka, telinga sudah sampai lebih dulu. Ada suara yang tidak bisa kamu buat sendiri, tidak bisa kamu pesan, tidak bisa kamu minta datang lebih awal atau pergi lebih lambat — suara yang jatuh dari langit dengan cara yang selalu terasa seperti bukan urusan siapapun kecuali dirinya sendiri. Rintik itu sudah ada sejak pukul dua, kata seseorang di dalam dadaku yang lebih jaga daripada mataku, dan sekarang kesadaranku menyusul pelan-pelan seperti orang yang terlambat ke pertemuan yang sudah berlangsung tanpa menunggunya. Hujan. Bukan satu suara. Tidak pernah satu suara. Ada yang jatuh ke kanopi baja ringan milik tetangga sebelah — suara itu paling keras, paling tidak sabar, seperti ketukan jari di meja rapat yang ingin segera selesai. Tapi ada juga yang jatuh ke terpal biru yang dipasang di atas genteng sudah beberapa bulan ini, entah karena bocor atau karena antisipasi, dan suara it...