Posts

Showing posts from December, 2025

Pukul 18.00, Jumat - Ritual Alina Rahayu

Image
Pukul 18.00, Jumat Ritual Alina Rahayu I. Liturgi Sebelum Fajar Alarm berbunyi pukul 05.15, tapi Alina Rahayu sudah bangun lima menit sebelumnya. Matanya terbuka dalam keremangan—momen transisi antara tidur dan sadar, ketika dunia masih berbisik pelan dan tubuh belum sepenuhnya milik waktu. Ia berbaring sejenak, menatap langit-langit apartemen yang mulai terlihat samar dalam cahaya fajar Jakarta yang merayap masuk lewat celah gorden. Kakinya menyentuh lantai keramik. Dingin. Sentuhan pertama hari ini selalu dingin—seperti bumi mengingatkan bahwa setiap hari dimulai dari nol, dari suhu yang sama, dari titik yang setara. Ia berjalan ke dapur dalam kesunyian, langkah kaki telanjang tidak berbunyi di apartemen satu kamar di lantai tujuh ini. Jendela dapur berkabut embun. Alina menyekanya dengan punggung tangan—sapuan melingkar—dan kota di luar mulai terlihat. Lampu gedung-gedung masih menyala, tapi langit sudah tidak hitam lagi. Abu-abu kebiruan. Warna yang ...

Antara Bangku Kayu dan Nama yang Tak Pernah Kusebut Lagi

Image
I. Penghapus Biru yang Tak Pernah Dikembalikan Ada sebuah penghapus biru di laci mejaku. Sudah sepuluh tahun lebih ia tersimpan di sana, di antara kuitansi lama dan kartu nama yang tak pernah kupakai. Penghapus itu berbentuk persegi panjang, warna birunya sudah memudar menjadi abu-abu kebiruan, seperti langit sebelum hujan. Ujungnya penuh dengan bekas pakai—goresan pensil yang melekat dan tak bisa dihilangkan lagi. Ketika kusentuh, teksturnya kasar. Sudah mengeras dimakan waktu. Bau karetnya masih samar-samar tercium, bercampur dengan aroma kertas lama dan debu. Aku tidak pernah menggunakannya. Bahkan ketika membutuhkan penghapus, aku akan mencari yang lain. Yang ini, entah kenapa, terasa terlalu berharga untuk dipakai. Penghapus ini punya cerita. Atau lebih tepatnya, aku yang membuatnya punya cerita. Aku meminjamnya pada suatu Selasa pagi di bulan Oktober, tahun ketiga S...

Ruang Tujuh: Cerpen Cinta yang Tidak Terwujud

Image
Ruang Tujuh Sebuah kisah tentang jarak dua inci yang tidak pernah terjembatani Dua Inci Dia menggeser kursinya dua inci lebih dekat saat meeting . Aku tahu karena aku menghitung. Dua inci. Jarak yang cukup untuk terasa, tapi cukup kecil untuk tidak terlihat oleh orang lain. Aku benci bahwa aku sadar. Aku benci bahwa aku ingin lebih dekat lagi. "Riska, kamu setuju tidak kalau kita pivot arah campaign -nya?" Suara Agus memecah lamunanku. Aku mengangguk, mencoba fokus pada deck presentasi di layar proyektor, bukan pada bagaimana aromanya—kopi dan sesuatu yang woody , cologne yang sama sejak tiga bulan lalu—mengisi ruang meeting lantai tujuh ini. "Setuju. Angle -nya lebih fresh kalau kita approach dari sisi itu." Dia tersenyum. Senyum kecil yang hanya muncul saat dia tahu idenya jalan. Senyum yang sama sekali tidak boleh mem...

Surat dari Tahun 2060: Tentang Kucing Android

Image
Surat dari Tahun 2060: Tentang Kucing Android Surat dari Tahun 2060: Tentang Kucing Android 9 Mei 2060 Untuk kalian di tahun 2025, yang masih berpikir kucing itu lucu, dan belum tahu apa-apa tentang pengkhianatan berwajah bulu. I. Surat Resmi dari Departemen Harmonisasi Domestik Pagi itu, aku menemukan amplop putih di kotak surat. Tidak ada pengirim. Hanya stempel resmi berbentuk siluet kucing dengan sirkuit di dalamnya. "Kepada Yth. Pemilik Unit Domestik Felis-047, Sesuai Peraturan Harmonisasi No. 12/2058, unit domestik Anda akan menjalani Optimisasi Relasi Interspesies (ORI) pada tanggal 15 Mei 2060, pukul 09.00. Kehadiran tidak bersifat opsional. Terima kasih atas kerja sama Anda dalam membangun masa depan yang lebih harmonis." Aku membaca ulang tiga kali. Unit domestik . Mereka menyebut Momo—kucingku yang suda...