Antara Bangku Kayu dan Nama yang Tak Pernah Kusebut Lagi
I. Penghapus Biru yang Tak Pernah Dikembalikan
Ada sebuah penghapus biru di laci mejaku. Sudah sepuluh tahun lebih ia tersimpan di sana, di antara kuitansi lama dan kartu nama yang tak pernah kupakai. Penghapus itu berbentuk persegi panjang, warna birunya sudah memudar menjadi abu-abu kebiruan, seperti langit sebelum hujan. Ujungnya penuh dengan bekas pakai—goresan pensil yang melekat dan tak bisa dihilangkan lagi.
Ketika kusentuh, teksturnya kasar. Sudah mengeras dimakan waktu. Bau karetnya masih samar-samar tercium, bercampur dengan aroma kertas lama dan debu. Aku tidak pernah menggunakannya. Bahkan ketika membutuhkan penghapus, aku akan mencari yang lain. Yang ini, entah kenapa, terasa terlalu berharga untuk dipakai.
Penghapus ini punya cerita. Atau lebih tepatnya, aku yang membuatnya punya cerita.
Aku meminjamnya pada suatu Selasa pagi di bulan Oktober, tahun ketiga SMA. Langit mendung, kelas berbau kapur dan kertas basah. Guru Matematika sedang menulis soal integral di papan tulis dengan huruf-huruf yang rapi dan membosankan. Aku duduk di barisan ketiga dari depan, dekat jendela. Tempat favoritku, karena dari sana aku bisa melihat halaman sekolah dan langit yang berubah-ubah.
Dia duduk dua baris di depanku, agak ke kiri. Posisi yang sempurna untuk diamati tanpa terlihat terlalu mencolok. Rambutnya selalu diikat setengah, dan ada satu helai yang selalu jatuh ke pipi kanannya. Aku tahu ini karena aku menghafalnya. Menghafalnya seperti menghafalkan rumus Matematika yang tidak pernah benar-benar kupaham.
"Ada penghapus?" tanyanya tiba-tiba, menoleh ke belakang.
Jantungku berhenti sedetik. Atau mungkin lebih lama. Waktu terasa melambat seperti adegan di film.
"Ada," jawabku, dengan suara yang kusadari terlalu cepat. Aku mengambil penghapus biru itu dari kotak pensilku dan memberikannya padanya. Jari-jari kami sempat bersentuhan. Hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat telapak tanganku berkeringat.
"Terima kasih," katanya, tersenyum sedikit. Senyum yang tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk membuat hari itu terasa berbeda.
Dia tidak pernah mengembalikannya. Atau mungkin aku yang tidak pernah memintanya kembali. Bagaimana bisa? Meminta penghapus kembali berarti mengakhiri satu-satunya alasan untuk berbicara dengannya lagi.
Tapi seminggu kemudian, penghapus itu ada lagi di mejaku. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Dia hanya menaruhnya di sana saat aku sedang keluar kelas, dan aku menemukannya ketika kembali. Seperti rahasia kecil yang hanya kami berdua yang tahu—meskipun aku tidak yakin dia mengingatnya sebagai sesuatu yang istimewa.
Sejak itu, aku menyimpan penghapus itu. Tidak pernah kupakai. Tidak pernah kubuang.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: kapan tepatnya perasaan itu mulai? Apakah saat dia meminjam penghapus itu? Atau jauh sebelumnya, di hari-hari yang bahkan tidak kusadari sedang mencatatnya dalam ingatan?
II. Geometri Perasaan yang Tak Terucap
Ada ritual kecil yang kulakukan setiap pagi. Aku akan sampai di kelas lima belas menit lebih awal, menaruh tas di bangku, lalu berpura-pura membaca buku atau merapikan catatan. Padahal yang sebenarnya kulakukan adalah menunggu.
Menunggu dia masuk kelas.
Dia selalu datang sepuluh menit sebelum bel—tidak terlalu pagi, tidak terlalu mepet. Tepat waktu, seperti karakternya yang teratur dan bisa diprediksi. Aku bisa mendengar langkah kakinya dari koridor, meski suara itu bercampur dengan puluhan langkah lain. Entah bagaimana, telingaku sudah terlatih mengenali ritme jalannya.
Ketika dia masuk, udara di kelas terasa berbeda. Mungkin ini hanya sugesti. Mungkin ini hanya diriku yang terlalu banyak membaca novel remaja. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang bergeser—halus, tak terlihat, tapi nyata.
"Pagi," sapanya pada teman sebangkunya.
Suaranya rendah, sedikit serak di pagi hari. Aku pura-pura tidak mendengar, pura-pura sibuk dengan buku Biologi di tanganku yang bahkan kubuka terbalik.
Suatu kali, guru Fisika membuat kami berpasangan untuk praktikum. Dia memasangkan kami secara acak berdasarkan nomor absen. Dan entah karena keberuntungan atau kutukan, namaku dipanggil bersamaan dengan namanya.
"Kamu dengan Dinda. Silakan ke meja nomor tiga."
Dinda. Namanya Dinda.
Aku sudah tahu namanya sejak lama, tentu saja. Tapi mendengarnya dipanggil guru, dalam konteks yang menempatkan kami berdua dalam satu kalimat, terasa surreal. Seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata, tapi kau tidak siap untuk itu.
Kami berjalan ke meja praktikum. Aku membawa buku catatan. Dia membawa pensil dan kalkulator. Kami berdiri bersebelahan, jarak antara kami mungkin hanya dua puluh sentimeter, tapi terasa seperti jurang yang tidak bisa kuseberangi.
"Kamu yang catat, ya? Aku yang hitung," katanya, praktis.
"Oke."
Kami bekerja dalam diam yang canggung. Sesekali tangannya menyentuh tanganku saat mengambil alat. Sesekali dia bertanya, dan aku menjawab dengan kalimat-kalimat pendek yang kuharap terdengar normal.
"Hasilnya berapa?" tanyanya.
"9,8 m/s²."
"Gravitasi ya. Oke, tulis."
Begitu saja. Percakapan yang sangat biasa. Sangat fungsional. Tidak ada yang istimewa. Tapi aku mengingatnya seperti mengingat puisi—setiap kata, setiap intonasi, setiap jeda.
Ketika praktikum selesai, dia tersenyum padaku. Senyum kecil, sopan, seperti yang diberikan pada teman sekelas yang kebetulan bekerja denganmu. Tidak lebih.
"Makasih ya. Kamu rapih catatannya."
"Sama-sama."
Lalu dia kembali ke tempatnya. Dan aku berdiri di sana beberapa detik lebih lama, merasakan hangat yang tersisa dari senyumnya, seperti sisa matahari di sore hari.
Aku mulai memperhatikan detail-detail kecil. Cara dia menggulung lengan baju saat ulangan. Cara dia menggigit ujung pulpen saat berpikir. Cara dia tertawa—tidak terlalu keras, tapi tulus, dari dada. Dia suka mencoret-coret margin bukunya dengan pola geometris: segitiga-segitiga kecil, berjajar rapi.
Suatu ketika, aku menemukan selembar kertas di lantai dekat bangkunya. Kertas kecil, sobek dari buku catatan. Di sana ada coretan—segitiga-segitiga kecil yang sama. Aku mengambilnya. Menyimpannya di saku. Merasa seperti pencuri yang mencuri sesuatu yang tidak berharga bagi orang lain, tapi sangat berharga bagiku.
Aku tidak pernah bilang apa-apa.
Menurut penelitian psikologi dari American Psychological Association, cinta pertama pada masa remaja menciptakan jejak emosional yang sangat kuat karena otak kita masih dalam tahap perkembangan. Intensitas perasaan itu nyata—bukan hanya drama remaja yang dibesar-besarkan. Tapi nyata dengan caranya sendiri.
Yang tidak dijelaskan oleh penelitian itu adalah: bagaimana caranya bilang? Bagaimana kau mengubah perasaan yang begitu besar menjadi kata-kata yang cukup kecil untuk diucapkan?
Aku tidak pernah menemukan jawabannya.
Waktu terus berjalan. Hari-hari berlalu dalam rutinitas yang sama: datang pagi, duduk di tempat yang sama, meliriknya dari sudut mata, lalu pulang dengan perasaan yang tidak pernah berubah. Kadang kami berbicara—percakapan-percakapan kecil tentang tugas, ujian, atau guru killer. Tidak pernah lebih dari itu.
Sampai suatu hari, aku melihatnya berjalan bersama seseorang. Laki-laki dari kelas sebelah. Mereka tertawa. Dia terlihat nyaman. Lebih nyaman daripada saat bersamaku di praktikum Fisika itu.
Dan aku mengerti. Aku hanya teman sekelas yang kebetulan pernah meminjamkan penghapus. Tidak lebih.
III. Mencari Jawaban di Tempat yang Sama
Sepuluh tahun kemudian, aku melewati sekolah itu lagi.
Tidak sengaja. Aku sedang mengunjungi kota lama untuk urusan pekerjaan, dan aplikasi GPS membawaku melewati jalan yang dulu kulewati setiap hari. Sekolah itu masih berdiri di tempat yang sama. Gedungnya sudah dicat ulang—dulu krem, sekarang putih bersih. Tapi bentuknya masih sama. Gerbangnya masih sama. Halaman basket masih di sana.
Aku memarkirkan mobil dan keluar. Tidak ada rencana. Hanya dorongan tiba-tiba untuk masuk, untuk melihat lagi.
Penjaga sekolah memandangku curiga.
"Ada perlu apa?"
"Saya alumni. Boleh lihat-lihat sebentar?"
Dia mengangguk, tidak terlalu peduli.
Aku berjalan masuk. Koridor masih berbau sama—kapur, pembersih lantai, dan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan tapi sangat familiar. Bau masa lalu. Bau memori yang tersimpan dalam arsip otak yang jarang dibuka.
Kelasku dulu ada di lantai dua, ujung koridor. Aku menaiki tangga perlahan. Setiap anak tangga terasa seperti melangkah mundur dalam waktu. Tiba di depan pintu kelas, aku berhenti.
Kelas itu sekarang dipakai oleh siswa lain. Mereka sedang istirahat. Beberapa anak duduk di bangku, mengobrol, tertawa. Ada yang main game di ponsel. Dunia mereka berbeda dari duniaku dulu, tapi esensinya sama: remaja yang sedang mencari tahu siapa mereka, sambil berpura-pura sudah tahu segalanya.
Aku mencari bangkuku. Barisan ketiga dari depan, dekat jendela. Sekarang ada anak perempuan duduk di sana, sedang mencoret-coret bukunya. Mungkin dia juga punya seseorang yang diam-diam diperhatikan. Mungkin dia juga menyimpan sesuatu yang tidak berarti bagi orang lain, tapi sangat berarti baginya.
Aku tidak masuk. Hanya berdiri di ambang pintu, melihat.
Lalu aku ke perpustakaan. Perpustakaan sekolah kami kecil, hanya satu ruangan dengan rak-rak kayu tua dan meja panjang. Aku sering ke sana dulu, bukan untuk belajar, tapi karena dia sering ke sana. Dia anggota klub literasi, dan setiap Jumat sore dia akan datang untuk membaca atau mengurus peminjaman buku.
Perpustakaannya masih sama. Bahkan penjaganya masih orang yang sama—Bu Ratna, perempuan paruh baya dengan kacamata tebal.
"Selamat siang, Bu."
Dia mengangkat kepala dari komputernya, memicingkan mata.
"Kamu... siapa ya? Seperti kenal."
"Alumni, Bu. Angkatan 2015."
"Oh! Sudah lama sekali. Ada yang bisa dibantu?"
"Boleh lihat-lihat, Bu?"
"Silakan."
Aku berjalan ke rak buku di pojok. Dulu di sinilah aku sering berpura-pura mencari buku, sambil sesekali melirik ke arahnya yang sedang membaca di meja. Aku mengambil satu buku acak—Laskar Pelangi. Buku yang sama yang pernah kulihat dia baca.
Di halaman pertama, ada cap perpustakaan dan daftar peminjam. Aku membolak-balik halaman itu, mencari nama. Dan di sana, di urutan kelima dari atas, tertulis namanya dalam tulisan tangan yang rapi: Dinda Saraswati - X IPA 2.
Namaku tidak ada di sana. Tentu saja. Aku tidak pernah benar-benar meminjam buku itu.
Tapi melihat namanya di sana terasa seperti menemukan bukti bahwa dia pernah nyata—bukan hanya konstruksi imajinatif dari ingatanku yang romantis.
Aku duduk di meja yang sama. Meja panjang di tengah ruangan. Dari sini, aku bisa melihat jendela yang menghadap ke taman belakang. Pohon flamboyan di sana sudah lebih besar. Bunganya sedang mekar—oranye terang, seperti api yang tidak pernah padam.
Aku teringat satu sore di musim hujan. Aku sedang menunggu hujan reda di perpustakaan. Dia ada di sana juga, duduk di meja ini, membaca. Aku duduk tiga kursi darinya, berpura-pura mengerjakan PR yang sebenarnya sudah selesai.
Kemudian dia bicara, tiba-tiba, tanpa mengangkat kepala dari bukunya.
"Kamu suka hujan?"
Aku tersentak. Tidak menyangka dia berbicara padaku.
"Eh... iya. Kenapa?"
"Kamu selalu lihat ke jendela kalau hujan. Aku perhatiin."
Jantungku berdebar. Dia memperhatikanku?
"Oh. Iya, suka aja. Suaranya... menenangkan."
"Sama."
Lalu dia kembali membaca. Dan aku kembali menatap jendela, tapi kali ini dengan perasaan yang berbeda. Perasaan bahwa mungkin, hanya mungkin, aku tidak sepenuhnya tidak terlihat baginya.
Tapi itu hanya mungkin.
Beberapa minggu setelah percakapan itu, aku mencoba lagi. Mencoba membuka percakapan yang lebih panjang. Tapi setiap kali, kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Takut. Takut salah bicara. Takut dia tidak merespons. Takut ekspektasiku hancur.
Menurut artikel dari Greater Good Science Center UC Berkeley, ketakutan akan penolakan adalah salah satu rasa takut paling primitif manusia. Secara evolusioner, penolakan sosial bisa berarti kematian—karena manusia adalah makhluk sosial yang bergantung pada kelompok untuk bertahan hidup. Jadi rasa takut itu masuk akal. Tapi tetap saja, pengetahuan itu tidak membuatnya lebih mudah.
Dan sebelum aku menemukan keberanian, waktu sudah habis. Tahun ajaran berakhir. Ujian nasional selesai. Kami lulus. Kami berpisah.
Tidak ada perpisahan dramatis. Tidak ada pernyataan cinta di bawah pohon atau surat yang dilipat rapi. Hanya... berakhir. Seperti buku yang ditutup tanpa epilog.
Sekarang, duduk di perpustakaan yang sama sepuluh tahun kemudian, aku menyadari bahwa aku datang ke sini mencari jawaban. Mencari penutupan. Mencari sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa perasaan itu masih ada, samar-samar, seperti luka lama yang sudah sembuh tapi meninggalkan bekas.
Tapi tidak ada jawaban di sini. Hanya meja kayu, buku-buku lama, dan jendela yang menghadap pohon flamboyan yang terus mekar setiap tahun, tidak peduli siapa yang melihatnya.
IV. Menerima Pertanyaan Tanpa Jawaban
Aku meninggalkan sekolah itu sore hari. Langit mulai berubah warna—dari biru terang menjadi jingga lembut. Awan bergerak perlahan, seperti tidak terburu-buru ke mana pun.
Di perjalanan pulang, aku berhenti di sebuah taman kecil. Taman yang pernah kami lewati saat jalan pulang bersama—aku, dia, dan beberapa teman sekelas lainnya. Kami tidak pernah jalan berdua. Selalu ada orang lain. Jarak selalu dijaga, entah oleh siapa.
Aku duduk di bangku taman, merasakan angin sore yang sejuk. Ada pasangan muda sedang berjalan, tertawa, bergandengan tangan. Ada ibu-ibu sedang mengobrol sambil mengawasi anak-anak mereka bermain. Hidup terus berjalan. Cerita-cerita baru terus ditulis.
Dan ceritaku dengan Dinda? Cerita yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai?
Mungkin itu bukan cerita yang perlu diselesaikan. Mungkin tidak semua cerita punya akhir yang jelas. Mungkin beberapa cerita memang hanya fragmen—potongan-potongan perasaan yang tersimpan dalam ingatan, tidak lengkap, tidak sempurna, tapi tetap nyata.
Aku pernah membaca bahwa dalam sastra Jepang, ada konsep bernama mono no aware—kesadaran akan ketidakkekalan segala sesuatu, dan kesedihan lembut yang muncul dari kesadaran itu. Bukan kesedihan yang pahit, tapi kesedihan yang indah. Kesedihan yang mengingatkan kita bahwa justru karena segalanya sementara, maka segalanya berharga.
Mungkin cinta pertamaku adalah mono no aware itu. Indah justru karena tidak pernah terwujud. Berharga justru karena tetap utuh dalam ingatan, tidak pernah ternoda oleh kekecewaan atau akhir yang buruk.
Aku tidak tahu apakah Dinda pernah tahu. Tidak tahu apakah dia pernah merasakan hal yang sama. Tidak tahu apakah percakapan kecil kami di perpustakaan itu berarti sesuatu baginya, atau hanya small talk yang terlupakan keesokan harinya.
Dan mungkin memang tidak perlu tahu.
Beberapa pertanyaan memang tidak butuh jawaban. Beberapa perasaan memang harus dibiarkan mengambang, seperti daun yang jatuh ke sungai dan terbawa arus—pergi entah ke mana, tapi bebas.
Aku menutup mata, menghirup udara sore yang berbau tanah dan rumput. Di kejauhan, ada suara lonceng gereja. Suara yang sama yang dulu terdengar dari sekolah kami setiap sore.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku merasa damai. Bukan karena aku mendapat jawaban. Tapi karena aku menerima bahwa tidak semua hal perlu dijawab.
Cinta pertama itu bukan tentang ending. Bukan tentang bahagia atau sedih. Cinta pertama itu tentang awal—tentang pertama kalinya kau merasakan sesuatu yang begitu besar sampai tidak muat di dada. Tentang pertama kalinya kau menyadari bahwa dunia ini lebih luas dari yang kau kira, karena ada seseorang yang membuat warnanya berbeda.
Dan itu cukup. Itu sudah lebih dari cukup.
V. Penghapus Biru yang Masih Ada
Malam itu, sampai di rumah, aku membuka laci meja lagi. Penghapus biru itu masih di sana. Masih di tempat yang sama. Sudah sepuluh tahun lebih, tapi belum juga kubuang.
Aku mengambilnya, menggenggamnya di tangan. Masih terasa kasar. Masih berbau samar karet lama. Tidak ada yang berubah dari bendanya. Yang berubah hanya aku—dan cara aku melihat benda itu.
Dulu, penghapus ini adalah simbol harapan. Harapan bahwa suatu hari aku akan punya keberanian untuk bilang. Harapan bahwa mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Harapan yang tidak pernah terbukti, tapi juga tidak pernah benar-benar mati.
Sekarang, penghapus ini adalah bukti. Bukti bahwa aku pernah merasakan sesuatu yang tulus. Bukti bahwa di antara semua kepura-puraanku, ada satu hal yang tidak pernah kupura-purakan: perasaan itu nyata.
Aku pernah berpikir untuk membuangnya. Berkali-kali. Tapi setiap kali, aku tidak jadi. Bukan karena aku masih berharap. Bukan karena aku belum move on. Tapi karena membuangnya terasa seperti mengingkari bagian dari diriku sendiri. Bagian yang naif, takut, tapi jujur.
Aku menaruh penghapus itu kembali ke laci. Tidak di depan. Tidak di belakang. Hanya di sana, di antara benda-benda lain yang tidak terlalu penting tapi tidak ingin dibuang.
Mungkin suatu hari nanti, aku akan benar-benar melepasnya. Atau mungkin tidak. Mungkin dia akan tetap di sana sampai aku tua, sampai laci ini penuh dengan memori-memori lain, sampai aku lupa kenapa aku menyimpannya.
Tapi untuk sekarang, dia tinggal. Seperti ingatannya yang tinggal. Seperti namanya yang masih ada di suatu sudut pikiranku, tidak kusebut lagi, tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Dinda Saraswati. Cinta pertama yang tidak pernah tahu bahwa dia dicintai. Atau mungkin tahu, tapi memilih diam. Atau mungkin tidak peduli.
Dan semua kemungkinan itu... baik-baik saja.
Aku menutup laci, mematikan lampu, dan berbaring. Di luar, hujan mulai turun. Suaranya lembut, menenangkan, seperti lagu pengantar tidur.
Seperti hujan di sore itu di perpustakaan. Seperti hujan yang selalu kubilang menenangkan.
Dan mungkin memang begitu. Menenangkan. Karena hujan tidak bertanya kenapa dia turun. Tidak meminta pembenaran. Dia hanya turun, membasahi tanah, lalu berhenti ketika waktunya tiba.
Seperti perasaan. Seperti kenangan. Seperti cinta pertama yang tersimpan dalam penghapus biru di laci.
Ada di sana. Tidak dipakai. Tidak dibuang. Hanya... ada.
Dan mungkin memang begitu seharusnya.

Comments
Post a Comment