Ruang Tujuh: Cerpen Cinta yang Tidak Terwujud

Sebuah kisah tentang jarak dua inci yang tidak pernah terjembatani

Ruang Tujuh

Sebuah kisah tentang jarak dua inci yang tidak pernah terjembatani

Dua Inci

Dia menggeser kursinya dua inci lebih dekat saat meeting. Aku tahu karena aku menghitung. Dua inci. Jarak yang cukup untuk terasa, tapi cukup kecil untuk tidak terlihat oleh orang lain.

Aku benci bahwa aku sadar. Aku benci bahwa aku ingin lebih dekat lagi.

"Riska, kamu setuju tidak kalau kita pivot arah campaign-nya?"

Suara Agus memecah lamunanku. Aku mengangguk, mencoba fokus pada deck presentasi di layar proyektor, bukan pada bagaimana aromanya—kopi dan sesuatu yang woody, cologne yang sama sejak tiga bulan lalu—mengisi ruang meeting lantai tujuh ini.

"Setuju. Angle-nya lebih fresh kalau kita approach dari sisi itu."

Dia tersenyum. Senyum kecil yang hanya muncul saat dia tahu idenya jalan. Senyum yang sama sekali tidak boleh membuatku merasa seperti ini.

Pukul Tujuh Malam

Meeting berakhir pukul tujuh malam. Semua orang sudah keluar—Dimas dari tim digital, Sari dari design, Bayu dari planning. Hanya aku dan Agus yang tertinggal, masih menatap layar laptop masing-masing.

Ini bukan pertama kalinya.

"Kamu belum pulang?" tanyanya tanpa mengalihkan pandang dari layar.

"Mau revisi deck dulu. Besok pagi client call."

"Aku temani."

Jantungku berdetak lebih cepat. Aku seharusnya bilang tidak usah. Aku seharusnya bilang aku bisa sendiri. Tapi yang keluar dari mulutku adalah:

"Oke."

Kami bekerja dalam diam. Sesekali ada pertanyaan, sesekali ada diskusi kecil. Tapi sebagian besar waktu hanya diisi oleh suara keyboard dan AC yang terlalu dingin.

Pukul sembilan, Agus berdiri, meregangkan badan. "Aku ambil kopi dulu. Kamu mau?"

"Americano, tanpa gula."

Dia mengangguk. "Aku ingat."

Tentu saja dia ingat.

Sofa Sudut

Saat dia kembali dengan dua cangkir plastik, kami duduk di sofa sudut ruangan—bukan di meja meeting. Ini lebih santai. Atau lebih berbahaya. Aku tidak yakin mana yang benar.

"Capek tidak sih kamu?" tanyanya tiba-tiba.

"Apanya?"

"Kerja terus. Aku notice kamu akhir-akhir ini sering lembur."

Aku menatap cangkirku. "Project lagi banyak."

"Atau kamu lagi mengindari sesuatu?"

Aku mendongak cepat. Tatapan kami bertemu. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuatku merasa telanjang, seolah dia bisa melihat semua yang kusembunyikan.

"Tidak," jawabku, terlalu cepat. "Memangnya kenapa?"

Dia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Cuma… kadang aku merasa kamu seperti sedang lari dari sesuatu."

Atau aku lari menuju sesuatu yang seharusnya tidak kukejar.

Tapi aku tidak bilang itu. Aku hanya mengangkat bahu. "Kamu pikir terlalu banyak."

"Mungkin."

Kami diam lagi. Tapi kali ini, keheningannya terasa lebih berat. Seperti ada kata-kata yang mengambang di udara, mencari celah untuk keluar tapi tidak menemukan jalan.

Lalu Agus bicara—suaranya pelan, hampir ragu.

"Kamu… kamu tahu aku bulan depan nikah, kan?"

Aku mengangguk. Seluruh kantor tahu. Undangannya sudah disebar minggu lalu. Aku dapat satu, dalam amplop krem dengan nama calonnya tercetak rapi: Agus & Dita.

"Selamat," kataku. Suaraku terdengar datar di telingaku sendiri.

"Terima kasih." Dia menatap cangkirnya, lama. Ibu jarinya mengusap tepi plastik, berulang-ulang. "Aku… aku kadang merasa… entahlah."

Aku tidak bertanya apa yang dia rasakan. Karena aku takut jawabannya akan sama dengan yang aku rasakan.

Pukul Sebelas

Malam itu, aku pulang pukul sebelas. Fikri—pacarku—sudah tidur saat aku sampai apartemen. Aku duduk di tepi ranjang, menatapnya dalam gelap.

Napasnya teratur. Damai. Tangannya terlipat di dada, seperti anak kecil. Di meja samping tempat tidur, ada buku tentang teknologi finansial yang setengah terbaca—dia selalu berusaha upgrade skill-nya, bahkan sebelum tidur.

Fikri itu baik. Stable. Dia programmer di startup fintech, kerja sembilan sampai lima, pulang selalu tepat waktu, akhir pekannya untukku. Kami sudah tiga tahun bersama. Kami nyaman. Kami… aman.

Tapi aku tidak merasakan apa yang kurasakan setiap kali Agus menggeser kursinya dua inci lebih dekat.

Aku menatap Fikri yang tidur. Di dada, ada sesuatu yang mengerat—bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku tidak cukup mencintainya. Dan itu lebih kejam dari perselingkuhan.

Dua Minggu Kemudian

Saat undangan pernikahan mulai beredar di kantor—amplop krem di setiap meja, orang-orang berbisik tentang venue dan catering—kami meeting lagi di ruang tujuh. Kali ini untuk final presentation sebelum pitch ke klien besar. Tim lengkap hadir—sepuluh orang, ruangan penuh, suasana profesional.

Tapi aku tetap sadar saat Agus duduk persis di seberangku. Aku tetap sadar saat matanya sesekali melirik ke arahku saat dia bicara. Aku tetap sadar saat tangannya hampir menyentuh tanganku saat kami berdua meraih remote presentasi yang sama.

Tangannya hangat. Atau mungkin tanganku yang terlalu dingin.

"Maaf," katanya.

"Tidak apa-apa."

Dua detik. Hanya dua detik tangan kami hampir bersentuhan. Tapi cukup untuk membuatku kehilangan fokus selama sisa meeting.

Setelah meeting selesai, semua orang keluar kecuali kami berdua. Lagi. Seperti biasa.

Agus berdiri di dekat jendela, memandang Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu gedung bertingkat mulai menyala satu per satu, seperti bintang yang turun ke bumi. Aku membereskan laptop, berusaha terlihat sibuk.

"Riska."

Aku berhenti. Suaranya berbeda. Lebih berat.

"Ya?"

Dia tidak berbalik. Hanya berdiri di sana, punggungnya menghadapku. Bahunya tegang.

"Aku… aku tahu ini salah." Suaranya pelan, hampir putus. "Aku tahu aku tidak boleh bilang. Tapi aku senang kerja sama kamu."

Ruangan itu tiba-tiba terasa kekurangan oksigen. Aku dengar AC yang mendengung, tapi udaranya tidak bergerak. Tanganku dingin. Lima meter jaraknya, tapi aku bisa menghitung napasnya yang tidak teratur.

"Maksudmu?"

Sekarang dia berbalik. Tatapannya intens, terlalu jujur. Seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk melompat dari tebing—ketakutan, tapi sudah tidak peduli lagi.

"Kamu tahu maksudku."

Aku tahu. Tentu saja aku tahu.

Tapi aku tidak bisa bilang apa-apa. Karena kalau aku bilang, kalau aku akui—semua akan runtuh. Komitmenku dengan Fikri. Pernikahannya dengan Dita. Profesionalisme kami. Semuanya.

Jadi aku hanya bilang—dengan suara yang hampir tidak terdengar:

"Aku juga."

Kami berdiri di situ. Lima meter jaraknya. Seperti dua slide presentasi yang tidak akan pernah bisa ditampilkan dalam satu layar—masing-masing punya konteks sendiri, dan menggabungkannya hanya akan membuat keduanya tidak terbaca.

Agus yang pertama bergerak. Dia ambil tasnya, berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sebentar.

"Aku harap kamu datang ke pernikahanku."

Lalu dia pergi.

Dan aku berdiri sendirian di ruang tujuh, napas tercekat, air mata mengalir tanpa izin.

Yang Tidak Kukatakan pada Fikri

Aku tidak bilang ke Fikri tentang malam itu. Bagaimana aku bisa? "Hei, aku tidak selingkuh secara fisik, tapi aku rasa aku jatuh cinta sama atasanku yang mau nikah"?

Tapi Fikri bukan orang bodoh.

"Kamu kok akhir-akhir ini jauh banget sih, Risk?"

Kami sedang makan malam di apartemenku. Aku masak carbonara—favorit Fikri. Dia selalu memotongnya menjadi potongan kecil-kecil sebelum makan—habit dari masa kecil saat ibunya mengajarkan tata krama makan. Malam itu, aku memperhatikan tangannya yang sabar memotong, dan merasa seperti monster.

"Jauh bagaimana?"

"Ya… jauh. Kamu di sini, tapi rasanya kamu tidak di sini."

Aku menatap piring. Garis-garis garpu di carbonara membentuk pola yang tidak beraturan.

"Kerjaan lagi banyak."

"Selalu kerjaan." Suaranya tidak marah. Hanya… lelah. Seperti orang yang sudah terlalu lama menunggu kereta yang tidak kunjung datang. "Aku merasa seperti kamu tidak effort lagi, Risk."

Aku ingin membantah. Tapi aku tidak bisa. Karena dia benar.

Fikri meraih tanganku di atas meja. Tangannya hangat. Familiar. Seperti selimut tua yang sudah kusut tapi masih nyaman.

"Aku cuma mau kamu jujur. Kalau kamu sudah tidak cinta, bilang saja. Aku tidak akan marah."

Air mataku jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Jatuh ke piring carbonara yang belum kusentuh.

Seminggu Sebelum

Project kami selesai tepat seminggu sebelum pernikahan Agus. Klien approved, campaign launched, semua sukses. Kami meeting terakhir kali di ruang tujuh—closing meeting, hanya formalitas.

Tapi saat semua orang keluar, Agus bilang, "Riska, tunggu sebentar."

Aku tahu ini adalah momen terakhir. Setelah dia nikah, dinamika kami akan berubah—harus berubah.

Kami berdiri berhadapan. Tidak ada yang bicara dulu. Hanya saling menatap—dan di tatapan itu, ada semua yang tidak pernah kami ucapkan.

"Terima kasih sudah bantu project ini," katanya akhirnya.

"Sama-sama. It's my job."

Dia tersenyum pahit. "Yeah. Job."

Lalu dia melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Aku bisa melihat detail di wajahnya—garis halus di sudut matanya, bekas luka kecil di dagu, cara bibirnya sedikit bergetar seperti ingin bilang sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

"Riska, kalau… kalau aku tidak akan nikah. Kalau kamu tidak punya Fikri. Kamu pikir—"

"Jangan," potongku. Suaraku gemetar. Seperti kaca yang retak tapi belum pecah. "Jangan bilang."

"Kenapa?"

"Karena kita berdua tahu jawabannya. Dan itu tidak akan mengubah apa-apa."

Dia menatapku lama. Lalu mengangguk pelan.

"Kamu benar."

Kami berdiri di situ sebentar lagi. Lalu Agus mundur selangkah. Dua langkah. Tiga.

"Semoga kamu bahagia, Risk."

"Kamu juga."

Dia berbalik dan keluar dari ruang tujuh untuk terakhir kalinya.

Dan aku membiarkan dia pergi.

Sabtu Pagi di Kemang

Hari pernikahan Agus adalah Sabtu pagi di sebuah ballroom hotel di Kemang. Aku datang sendirian—Fikri ada acara keluarga, dan jujur, aku lega dia tidak ikut.

Ruangan itu indah. Dekorasi putih-gold, bunga segar di mana-mana, musik klasik yang lembut. Dan Agus—dia berdiri di altar dengan jas abu-abu, tersenyum pada Dita yang berjalan mendekat dalam gaun putih.

Dita cantik. Rambutnya dikuncir low bun dengan beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah—effortless elegant, seperti model di majalah pernikahan. Saat mereka berhadapan, saat Agus mengucap janji, aku melihat—dia terlihat bahagia.

Atau setidaknya, dia berusaha.

Saat sesi foto bareng, aku ikut berdiri di barisan rekan kantor. Agus dan Dita ada di tengah, dikelilingi puluhan orang.

Aku berdiri di pojok. Tapi entah bagaimana, saat kamera klik untuk foto kedua, Agus melirik ke arahku—hanya sedetik.

Matanya mengatakan: Terima kasih sudah datang.

Mataku menjawab: Selamat. Sungguh.

Lalu momen itu hilang.

Aku pulang lebih awal, sebelum resepsi selesai. Duduk di mobil sendirian di parkiran hotel, aku menangis—bukan karena kehilangan Agus, tapi karena kehilangan kemungkinan itu.

Kehilangan "what if" yang tidak akan pernah terjawab.

Dua Minggu Setelah Honeymoon

Agus kembali kerja. Honeymoon selesai. Kehidupan normal dimulai lagi.

Kami ada meeting—bukan di ruang tujuh, tapi di ruang meeting lantai lima. Tim baru, project baru.

Aku duduk di seberangnya, seperti biasa. Tapi kali ini berbeda.

Chemistry yang dulu intens—yang membuat udara terasa listrik setiap kali kami satu ruangan—sekarang hilang.

Dia bicara tentang brief project. Aku jawab dengan profesional. Kami diskusi. Kami setuju. Kami selesai.

Tidak ada lagi tatapan yang bertahan terlalu lama. Tidak ada lagi jeda yang terasa charged. Tidak ada lagi jarak dua inci yang berarti.

Semuanya… normal.

Dan aku tidak tahu apa yang kurasakan—lega, kecewa, atau hanya kosong.

Sebulan Kemudian

Aku dan Fikri putus.

Bukan karena Agus. Bukan karena aku masih punya perasaan. Tapi karena aku sadar—aku tidak bisa commit sepenuhnya pada Fikri selama aku belum selesai dengan diriku sendiri.

"Aku mengerti," kata Fikri saat aku bilang. Suaranya tenang, meski matanya sedih. Kami duduk di taman dekat apartemenku—tempat yang sama di mana dia pertama kali bilang cinta tiga tahun lalu. "Aku sudah merasa dari dulu, sih. Kamu tidak pernah sepenuhnya ada."

"Maaf."

"Aku juga. Maaf aku tidak bisa jadi orang yang kamu butuhkan."

Kami berpisah baik-baik. Tidak ada drama. Hanya dua orang yang sadar, kadang cinta tidak cukup kalau timing-nya salah.

Tiga Bulan Kemudian

Aku lewat koridor lantai tujuh—tidak sengaja, hanya kebetulan.

Ruang meeting tujuh pintunya terbuka. Ada tim lain di sana, sedang brainstorm, papan tulis penuh dengan sketsa dan post-it notes.

Aku berhenti sebentar. Menatap ruangan itu.

Dulu, ini adalah ruang kami.

Tapi sekarang, it's just another meeting room.

Aku berbalik untuk pergi, dan hampir menabrak seseorang.

Agus.

Dia berdiri di situ, baru keluar dari pantry dengan cangkir kopi di tangan. Cincin kawinnya berkilau—emas putih, sederhana, seperti brand identity yang minimalist tapi memorable.

"Oh. Riska. Hai."

"Hai."

Kami berdiri di situ sebentar. Awkward. Seperti dua orang asing yang kebetulan bertemu.

"Kamu… kamu baik-baik?" tanyanya.

"Baik. Kamu?"

"Baik juga."

Silence.

Lalu dia tersenyum—senyum tipis, sopan. Bukan senyum yang dulu.

"Oke. Aku duluan ya. Meeting."

"Oke."

Dia berjalan melewatiku. Tidak ada lagi listrik. Tidak ada lagi gravitasi yang menarik kami satu sama lain.

Hanya dua rekan kerja yang sopan.

Malam Itu

Aku duduk di balkon apartemen dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Menatap Jakarta yang tidak pernah tidur. Lampu-lampu gedung membentuk konstelasi artifisial—lebih terang dari bintang, tapi tidak pernah memberikan arah.

Aku tidak tahu apakah aku pernah benar-benar mencintai Agus, atau hanya jatuh cinta pada sesuatu yang tidak bisa kumiliki. Yang aku tahu, perasaan itu nyata saat itu terjadi—meski sekarang sudah pudar.

Dan mungkin itu tidak apa-apa.

Mungkin beberapa perasaan memang indah karena tidak pernah terjadi. Karena tetap jadi kemungkinan, bukan kenyataan yang harus dihadapi dengan segala kompleksitasnya.

Aku mengangkat cangkir kopi yang dingin itu. Meminumnya perlahan.

Rasanya pahit. Tapi aku sudah terbiasa.

Enam Bulan Kemudian

Aku resign dari agency itu. Bukan karena Agus—kami sudah jarang ketemu, beda project, beda klien. Tapi karena aku dapat tawaran lebih baik di tempat lain.

Hari terakhir kerja, aku membereskan meja. Beberapa rekan datang pamit, ada yang bawa kue, ada yang peluk, ada yang janji keep in touch.

Agus datang juga. Sebentar. Hanya kasih kartu ucapan selamat—generic, seperti yang dia kasih ke orang lain yang resign.

"Good luck, Riska. Semoga sukses di tempat baru."

"Terima kasih, Agus. Kamu juga."

Kami jabat tangan. Profesional. Sopan.

Dan itu saja.

Sore itu, sebelum keluar dari gedung untuk terakhir kalinya, aku naik ke lantai tujuh.

Ruang meeting tujuh pintunya tertutup. Dari jendela kecil di pintu, aku bisa lihat ruang meeting itu—kursi-kursi tersusun rapi, proyektor sudah dimatikan, papan tulis bersih. Seperti tidak pernah ada apa-apa.

Aku menekan tombol lift. Turun.

Di saku mantelku, ada kartu ucapan dari Agus—generic, seperti yang dia kasih ke orang lain. Aku belum membacanya. Mungkin tidak akan pernah.

Tapi aku tidak membuangnya.

Setidaknya, belum.

Kadang, cukup kita tahu—bahwa pernah ada momen di mana dunia terasa berhenti, meski hanya dua inci jaraknya.

Comments

Popular Post

Pukul 18.00, Jumat - Ritual Alina Rahayu

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul