Pukul 18.00, Jumat - Ritual Alina Rahayu

Ritual Alina Rahayu

Pukul 18.00, Jumat

Ritual Alina Rahayu


I. Liturgi Sebelum Fajar

Alarm berbunyi pukul 05.15, tapi Alina Rahayu sudah bangun lima menit sebelumnya. Matanya terbuka dalam keremangan—momen transisi antara tidur dan sadar, ketika dunia masih berbisik pelan dan tubuh belum sepenuhnya milik waktu. Ia berbaring sejenak, menatap langit-langit apartemen yang mulai terlihat samar dalam cahaya fajar Jakarta yang merayap masuk lewat celah gorden.

Kakinya menyentuh lantai keramik. Dingin. Sentuhan pertama hari ini selalu dingin—seperti bumi mengingatkan bahwa setiap hari dimulai dari nol, dari suhu yang sama, dari titik yang setara. Ia berjalan ke dapur dalam kesunyian, langkah kaki telanjang tidak berbunyi di apartemen satu kamar di lantai tujuh ini.

Jendela dapur berkabut embun. Alina menyekanya dengan punggung tangan—sapuan melingkar—dan kota di luar mulai terlihat. Lampu gedung-gedung masih menyala, tapi langit sudah tidak hitam lagi. Abu-abu kebiruan. Warna yang tidak punya nama. Warna transisi.

Ia membuka kulkas. Hembusan udara dingin menyapa wajah—bunyi dengung rendah mesin pendingin seperti mantra pagi. Kotak plastik berisi santan segar, daun salam, batang sereh. Semuanya sudah disiapkan semalam. Alina percaya pada persiapan. Percaya bahwa pagi yang tenang lahir dari malam yang rapi.

Beras dicuci di bawah air mengalir. Tangan bergerak melingkar di dalam mangkuk—gerakan yang sama sejak ia belajar memasak dua puluh tahun lalu dari ibunya. Air pertama keruh, putih seperti susu encer. Air kedua lebih jernih. Air ketiga hampir transparan. Ritual pembersihan ini bukan sekadar mencuci, tapi membersihkan energi, memulai dari yang murni.

Beras dimasukkan ke dalam rice cooker. Santan dituang—cairan putih kental mengalir seperti cat yang belum kering. Aroma gurihnya langsung naik—creamy, hangat, seperti pelukan dari dalam. Daun salam dirobek sedikit agar minyak esensialnya keluar. Sereh dimemarkan dengan punggung pisau—bunyi "crack" yang lembut, lalu aroma segar menyeruak, tajam dan membersihkan sinus.

Alina memasukkan semuanya ke rice cooker, tambahkan garam secukupnya, aduk sekali dengan spatula kayu. Tutup. Tekan tombol. Lampu merah menyala. Dan sekarang, nasi uduk akan memasak dirinya sendiri, menunggu dengan sabar hingga ia pulang malam nanti.

"Seperti meninggalkan surat cinta untuk diriku di masa depan," pikirnya sambil tersenyum kecil.

Ia membuka kulkas lagi. Dua cangkir kaca bening berisi tempe dan tahu bacem yang sudah dimasak semalam—warna cokelat karamel dari kecap manis dan gula merah Jawa, glossy seperti pernis furniture antik. Tempe dipotong diagonal, tahu dipotong dadu. Semuanya sudah sempurna dalam cairannya sendiri—manis, asin, dengan aroma kayu manis dan daun salam yang meresap hingga ke dalam pori-pori kedelai fermentasi.

Satu cangkir untuk makan siang di kantor. Satu cangkir untuk malam ini.

"Dua cangkir," gumamnya pelan. "Porsi yang pas untuk hidup sendiri."

Tidak ada kepahitan dalam kata-kata itu. Hanya fakta. Seperti mengatakan "langit biru" atau "air mengalir ke bawah." Fakta yang sudah ia terima, ia peluk, ia jadikan fondasi hidupnya.

Kerupuk udang mentah dikeluarkan dari lemari dapur—masih keras, datar, tidak berbentuk, seperti potensi yang belum terwujud. Ini adalah kerupuk premium dari pasar Mayestik—yang penjualnya sudah Alina kenal bertahun-tahun, yang selalu memberikan satu genggam lebih sebagai bonus untuk pelanggan setia. Kerupuk ini tidak boleh sembarangan disimpan. Udara adalah musuhnya. Kelembapan adalah pembunuhnya.

Dengan hati-hati, Alina mengambil kontainer plastik kedap udara—yang tutupnya dilengkapi karet segel, yang mengunci udara di luar dan kerenyahan di dalam. Ia masukkan kerupuk satu per satu, menyusunnya rapat tapi tidak terlalu padat agar tidak patah. Tutup kontainer dikunci rapat. Klik. Bunyi yang memuaskan. Bunyi jaminan.

"Nanti malam," bisiknya pada kerupuk itu, "kau akan sempurna."

Alina berdiri di tengah dapur kecilnya, menatap hasil persiapan pagi: rice cooker yang berdengung rendah, dua cangkir kaca berisi bacem, kontainer kerupuk yang tersegel rapat. Semuanya sudah siap. Semuanya menunggu. Seperti panggung yang sudah disiapkan untuk pertunjukan malam hari.

Ini bukan sekadar sarapan atau bekal. Ini adalah janji. Janji bahwa ia akan pulang. Janji bahwa sesuatu yang hangat, yang dimasak dengan tangannya sendiri, akan menunggunya di rumah. Janji bahwa di akhir hari yang panjang, ia tidak akan sendirian—karena ia sudah menyiapkan penemanan untuk dirinya sendiri sejak fajar.

Alina mandi, berpakaian, minum kopi hitam tanpa gula, dan meninggalkan apartemen pukul 06.30. Pintu ditutup pelan. Kunci diputar. Hari Jumat dimulai seperti hari-hari lainnya.

Tapi malam nanti akan berbeda.

Ia belum tahu kenapa. Ia belum tahu bagaimana.

Tapi tubuhnya sudah merasakannya sejak bangun tadi—ada sesuatu di udara, sesuatu yang menunggu untuk terjadi.


II. Kekecewaan yang Berubah Jadi Keajaiban

Pukul 18.00 tepat, Alina keluar dari gedung kantor di Sudirman. Langit Jakarta dalam transisi—jingga kemerahan di barat, tapi ada awan gelap mengintai dari utara seperti tentara yang bersiap menyerang. Udara lembap, panas yang lengket, tipe cuaca yang membuat baju kantor terasa seperti kain pel basah di tubuh.

Ia punya rencana. Rencana yang sudah ia tunggu sejak Rabu kemarin: sauna.

Tubuhnya butuh itu. Otot punggung yang kencang seperti kabel baja setelah seminggu duduk di depan komputer, menghadapi spreadsheet yang tidak pernah selesai, meeting yang seharusnya bisa jadi email, atasan yang bertanya pertanyaan sama tiga kali dengan kata-kata berbeda. Ia butuh panas yang memaksa tubuh menyerah, yang membuka pori-pori dan mengeluarkan semua racun—fisik dan emosional.

"Hari Jumat," pikirnya sambil berjalan cepat ke arah stasiun MRT. "Aku pantas mendapat ini."

Tapi ketika sampai di depan pintu sauna langganannya—tempat kecil di dekat Blok M yang tidak mewah tapi bersih dan tenang—ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada: kertas putih ditempel di pintu kaca.

TUTUP SEMENTARA UNTUK RENOVASI
MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANANNYA

Alina berhenti. Tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, membaca kertas itu lagi dan lagi, seolah kata-katanya akan berubah jika dibaca cukup lama.

Tidak berubah.

Yang terjadi adalah udara keluar dari balon harapannya—bukan dengan ledakan, tapi dengan desis pelan, lembut, sedih. Bahunya turun. Tas kerja terasa lebih berat di tangan kanan. Ia melihat pantulan dirinya di kaca pintu—wanita berusia 36 tahun dengan mata lelah, blazer kusut, rambut yang mulai lepas dari ikatan, berdiri sendirian di depan pintu yang terkunci.

"Tentu saja," gumamnya. Bukan dengan kemarahan. Hanya dengan resignation. Penerimaan terhadap fakta bahwa hari Jumat ini, seperti hari-hari lainnya, tidak akan istimewa.

Ia berdiri di sana selama tiga puluh detik. Tidak tahu harus kemana. Tidak tahu harus apa.

Lalu langit memutuskan untuknya.

Hujan datang bukan dengan rintik-rintik peringatan. Tidak ada tanda. Tidak ada angin sepoi-sepoi yang romantis. Hujan Jakarta datang seperti seseorang yang menumpahkan ember raksasa dari atap gedung—langsung deras, langsung basah, langsung chaos.

Orang-orang berteriak dan berlari mencari tempat berteduh. Taxi dan ojol mendadak penuh. Payung-payung bermekaran seperti bunga dalam timelapse. Tapi Alina tidak bergerak. Ia berdiri di sana, membiarkan hujan membasahi wajahnya.

Dingin. Segar. Menyadarkan.

Seperti tamparan lembut dari alam semesta yang mengatakan: "Bangun. Ini bukan akhir. Ini baru awal."

Air hujan mengalir di wajahnya, bercampur dengan keringat seharian. Rambutnya basah, lengket di dahi dan pipi. Blazer hitamnya sekarang berwarna lebih gelap, berat dengan air. Tapi ia tersenyum—senyum kecil, hampir tidak terlihat, tapi ada.

Kemudian ia berlari. Berlari ke minimarket terdekat, sepatu pantofel berbunyi "clack-clack-clack" di trotoar yang sudah seperti sungai kecil.

Minimarket ber-AC, lantai basah karena jejak kaki orang-orang yang berlarian masuk. Alina langsung ke bagian payung—hanya tersisa satu. Payung hitam polos, tidak ada motif, tidak ada yang spesial. Payung terakhir. Payung yang tersisa karena tidak ada yang memilihnya lebih dulu.

"Kita sama," pikir Alina sambil mengambil payung itu.

Di kasir, perempuan muda dengan hijab pink tersenyum simpati. "Hujan memang tiba-tiba ya, Mbak."

"Iya," jawab Alina. "Tidak ada yang bisa diprediksi."

"Hati-hati di jalan ya, Mbak."

"Terima kasih."

Alina keluar dari minimarket, payung di tangan, siap untuk membukanya dan berjalan dalam hujan dengan sedikit perlindungan.

Tapi kemudian—

Hujan berhenti.

Bukan melambat. Bukan mereda. Berhenti. Seketika. Seperti ada yang mematikan keran raksasa di langit.

Senyap.

Hanya tersisa suara tetesan air dari atap toko, genangan air di jalan, dan kicau burung yang bingung.

Alina berdiri di ambang pintu minimarket, memegang payung yang tidak akan terpakai, menatap langit yang tiba-tiba berhenti menangis. Orang-orang mulai keluar dari tempat persembunyian mereka, melanjutkan perjalanan, menaruh payung mereka kembali ke tas.

Dan Alina tertawa.

Tertawa kecil, di kerongkongan, suara yang hampir tidak keluar. Tapi ia tertawa. Karena absurditas ini sudah terlalu sempurna untuk tidak lucu. Sauna tutup. Hujan datang. Beli payung. Hujan berhenti.

"Tentu saja," katanya lagi, tapi kali ini dengan nada berbeda. Bukan resignation. Tapi amusement. "Tentu saja begini."

Ia menatap payung hitam di tangannya lebih lama. Payung yang tidak berguna. Payung yang sia-sia. Payung yang—

Tunggu.

Sebuah ide melintas di kepalanya. Ide gila. Ide yang muncul dari tempat yang sama dengan tertawa tadi—tempat di mana absurditas bertemu dengan kreativitas, di mana kekecewaan berubah menjadi tantangan.

Payung. Uap. Air panas.

"Jika aku tidak bisa ke sauna," gumamnya pelan, senyum mulai mengembang di bibirnya, "aku akan buat saunaku sendiri."

Dan tiba-tiba hari ini tidak lagi buruk. Tiba-tiba ada misi. Ada sesuatu yang harus dilakukan. Ada eksperimen yang harus dicoba.

Alina berjalan cepat—tidak, hampir berlari—ke supermarket Hero di ujung jalan. Energi baru mengalir di tubuhnya. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan. Ia tahu persis apa yang akan dimasak.

Di bagian daging, ia berdiri di depan freezer, napasnya membuat kabut di kaca. Matanya memindai deretan daging yang tersedia. Ayam. Sapi. Kambing. Dan—

Bebek.

Bebek besar, kulitnya mulus dan pucat, masih dingin dari freezer, dibungkus plastik transparan. Ia angkat, rasakan beratnya. Kira-kira satu kilogram. Sempurna untuk satu orang dengan sisa untuk besok.

"Kau," katanya pada bebek itu, "akan menjadi istimewa malam ini."

Bagian sayuran. Cabai hijau besar—segar, mengkilap seperti batu giok. Ia pilih yang paling hijau, yang paling mulus. Tomat hijau—keras, asam, belum matang tapi sempurna untuk sambal. Bawang bombay. Bawang putih. Lengkuas. Kunyit. Kemiri.

Tangannya bergerak cepat, mengambil bahan demi bahan, memasukkannya ke keranjang. Ia tidak berpikir. Ia hanya tahu. Tubuhnya tahu. Tangannya tahu. Ini adalah bahasa yang ia pelajari sejak kecil—bahasa bahan makanan, bahasa rempah, bahasa transformasi.

Di kasir, seorang bapak paruh baya dengan kacamata tebal memindai belanjaannya satu per satu. Beep. Beep. Beep. Bebek. Cabai. Tomat. Bumbu-bumbu.

"Masak malam ini, Bu?" tanyanya sambil tersenyum.

"Iya," jawab Alina. "Merayakan sesuatu."

"Wah, selamat ya Bu! Ulang tahun kah?"

"Bukan. Hanya... merayakan hari Jumat."

Bapak itu tertawa. "Hari Jumat memang patut dirayakan, Bu. Selamat akhir pekan!"

"Terima kasih, Pak."

Alina keluar dari supermarket dengan dua kantong plastik di tangan kiri, payung hitam di tangan kanan, dan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan di wajahnya. Langit sudah gelap sekarang. Lampu-lampu kota mulai menyala. Udara masih lembap setelah hujan, tapi ada kesegaran di dalamnya—seperti dunia yang baru dicuci bersih.

Ia berjalan ke halte busway, naik bus yang ramai dengan orang-orang pulang kerja, berdiri sambil berpegangan dengan satu tangan, kantong belanjaan di antara kakinya. Tapi ia tidak merasa lelah. Tidak merasa terganggu oleh desakan orang. Karena di kepalanya, ia sudah di rumah. Di kepalanya, ia sudah memasak. Di kepalanya, bebek itu sudah berubah dari daging mentah menjadi masterpiece.

Turun di halte Dukuh Atas, jalan kaki sepuluh menit ke apartemennya. Lift naik ke lantai tujuh. Lorong sepi. Pintu 7C. Kunci berputar.

Ia masuk. Menutup pintu. Meletakkan tas kerja, meletakkan kantong belanjaan, meletakkan payung.

Dan untuk pertama kalinya hari ini, Alina Rahayu benar-benar pulang.


III. Mempersiapkan Panggung

Apartemen kecil itu menyambutnya dengan bau nasi uduk yang sudah matang—aroma santan, daun salam, dan sereh bercampur jadi satu dalam kehangatan yang mengundang. Rice cooker sudah beralih ke mode "warm" sejak sejam lalu, menjaga nasi tetap hangat, seperti pelukan yang sabar menunggu.

Alina berdiri sejenak di ambang pintu, melepas sepatu pantofel yang basah, membiarkan jari-jari kakinya merasakan lantai keramik dingin. Blazer dilepas dan digantung. Kemeja kerja yang lengket dibiarkan tetap menempel di tubuh untuk sementara—ia akan mandi nanti, tapi sekarang ada yang lebih penting.

Ia berjalan ke meja dapur—meja kecil yang juga berfungsi sebagai meja makan, meja kerja, dan kadang tempat melipat baju—dan meletakkan semua belanjaan di sana. Bebek beku. Cabai hijau. Tomat. Bumbu-bumbu. Dan payung hitam yang masih basah.

Semuanya diatur rapi. Seperti aktor-aktor di atas panggung sebelum pertunjukan dimulai.

Jendela besar di ruang tamu menghadap kota. Alina berdiri di sana sejenak, menatap keluar. Jakarta malam—lampu-lampu gedung seperti bintang yang jatuh tapi tidak pernah sampai ke tanah, hanya tergantung di tengah udara, berkelap-kelip, hidup dengan ritme sendiri. Dari sini, dari lantai tujuh, kota terlihat indah. Jauh cukup untuk tidak mendengar klakson, dekat cukup untuk merasa masih terhubung.

"Baiklah," katanya pelan pada dirinya sendiri. "Mari kita mulai."

Tapi tidak di dapur. Belum.

Alina berjalan ke kamar mandi.

Kamar mandi apartemennya kecil—bathtub sempit yang hampir tidak cukup untuk berbaring, toilet, wastafel, cermin yang sudah mulai berkarat di pinggiran. Tapi ini adalah kamar mandinya. Dan malam ini, kamar mandi ini akan menjadi sauna.

Ia menyalakan pemanas air. Panel digital menyala—angka-angka hijau terang di kegelapan kamar mandi. Ia putar suhu: 48°C.

Kenapa 48? Karena 50 terlalu panas, akan melepuh kulit. 45 terlalu hangat, tidak cukup untuk membuat tubuh menyerah. 48 adalah titik sweet spot—panas yang menuntut, tapi tidak menyiksa. Panas yang mengatakan "lepaskan" bukan "lari".

Ia buka keran air panas di bathtub. Air mulai mengalir—jernih dulu, lalu mulai mengepul. Uap naik seperti arwah-arwah kecil yang baru bangun dari tidur panjang, naik dan menyebar, memenuhi udara dengan kelembapan hangat.

Alina tidak menutup pintu kamar mandi. Ia biarkan terbuka sedikit. Biarkan uap mengalir keluar, memenuhi seluruh apartemen, mengubah ruang kecil ini menjadi rumah kaca, terrarium pribadi, ekosistem tertutup yang hangat dan basah dan hidup.

Cermin mulai berkabut. Dunia luar—pantulan wajahnya sendiri—menghilang di balik embun. Dan itu bagus. Malam ini bukan tentang melihat dirinya. Malam ini tentang merasakan.

Ia tinggalkan air terus mengalir, kembali ke dapur.

Sekarang apartemen mulai berubah. Udara lebih hangat. Lebih lembap. Seperti dalam pelukan seseorang yang tidak pernah melepas, yang tidak pernah bertanya kenapa, yang hanya memeluk dan diam.

Di wastafel dapur, Alina cuci tangan dengan sabun—ritual yang harus dilakukan sebelum menyentuh makanan. Tangan adalah alat pertama. Tangan adalah perpanjangan dari niat. Tangan harus bersih.

Ia ikat rambut ke belakang dengan karet gelang—rambut panjang sebahu, mulai beruban sedikit di pelipis, tapi ia tidak peduli. Uban adalah bukti bahwa ia bertahan. Bukti bahwa ia hidup cukup lama untuk melihat warna berubah.

Sekarang. Sambal ijo dulu.

Alina keluarkan cobek batu—cobek warisan dari ibu yang sudah ia bawa sejak pertama kali pindah dari Bandung sepuluh tahun lalu. Cobek ini berat, lebih dari dua kilogram, terbuat dari batu andesit yang permukaannya kasar seperti kulit buaya. Ulekan kayunya sudah halus dari ribuan kali menghaluskan bumbu, sudah pas di genggaman tangannya seperti tongkat petarung.

Cabai hijau dicuci satu per satu di bawah air mengalir. Ia pegang setiap cabai, rasakan teksturnya—keras, segar, hidup. Warnanya hijau terang, hijau yang berteriak, hijau yang tidak minta maaf. Tomat hijau sama—keras, asam, belum matang tapi sempurna untuk apa yang ia butuhkan.

Potong kasar. Cabai jadi empat bagian. Tomat dipotong dadu. Bawang bombay dikupas—lapisan demi lapisan terkelupas seperti kertas origami—lalu diiris kasar. Mata mulai perih. Air mata keluar sedikit. Tapi ia tidak berhenti.

"Rasa pedih adalah bagian dari proses," gumamnya sambil mengedipkan mata beberapa kali.

Bawang putih dikupas—kulit tipisnya mudah lepas jika dipukul dulu dengan sisi pisau. Trik kecil yang ia pelajari dari video YouTube bertahun-tahun lalu. Lima siung bawang putih, putih bersih, berbau tajam dan menyengat.

Terasi bakar. Ia punya terasi udang dari Cirebon—hitam kecokelatan, keras seperti batu, berbau seperti laut yang sudah mati dan terlahir kembali. Ia bakar sebentar di atas api kompor—tidak pakai wajan, langsung di atas api—sampai asapnya naik dan aromanya mengisi dapur.

Aroma terasi adalah aroma yang kontroversial. Orang bule tidak suka—terlalu amis, terlalu kuat. Tapi bagi Alina, aroma terasi adalah aroma rumah. Aroma dari masa kecil yang kabur tapi hangat. Aroma yang mengatakan "kau aman".

Sekarang semua bahan di cobek. Cabai hijau. Tomat hijau. Bawang bombay. Bawang putih. Terasi.

Alina angkat ulekan. Taruh di atas bahan. Dan mulai.

Dug.

Dug.

Dug.

Bunyi cobek dan ulekan adalah bunyi paling primordial dalam memasak Indonesia. Bunyi ini sudah ada sebelum blender, sebelum food processor, sebelum listrik. Bunyi ini adalah bunyi nenek moyang yang mengubah tumbuhan liar menjadi makanan, yang menemukan bahwa dengan menghancurkan sesuatu, kau bisa mengeluarkan esensinya.

Dug. Dug. Dug.

Tangan Alina bergerak dalam ritme. Angkat ulekan. Turun. Putar cobek. Angkat. Turun. Putar. Seperti tarian. Seperti doa. Seperti mantra yang tidak butuh kata-kata.

Cabai mulai hancur. Keluar airnya—hijau cerah, sedikit lengket. Tomat pecah, bijinya keluar, asam bercampur dengan pedas. Bawang bombay jadi bubur. Bawang putih jadi pasta. Terasi menyebar, mengikat semuanya dengan umami yang dalam.

Alina tidak buru-buru. Ia ulek sampai benar-benar halus. Kadang ia berhenti, lihat teksturnya, rasa dengan ujung jari kelingking—cek keseimbangan pedas dan asam. Tambah garam. Tambah gula sedikit. Perasan jeruk nipis—setetes jatuh ke sambal—sizzle kecil—warna berubah lebih cerah.

Ulek lagi. Dug. Dug. Dug.

Soundscape apartemen sekarang adalah: air yang terus mengalir di bathtub, bunyi cobek di dapur, dengung rice cooker, dan napas Alina yang mulai sedikit berat karena effort.

Lima belas menit kemudian, sambal ijo selesai. Ia pindahkan ke mangkuk kecil keramik putih. Warna hijau terang di atas putih bersih—seperti perhiasan. Seperti sesuatu yang terlalu cantik untuk dimakan.

Tapi ia akan memakannya. Karena makanan diciptakan untuk dimakan, untuk menjadi bagian dari tubuh, untuk memberi energi dan kehidupan.

Sekarang bebek.

Alina keluarkan bebek dari plastik. Masih dingin, masih keras, kulitnya pucat seperti lilin. Ia cuci di bawah air mengalir—air dingin menghilangkan sisa darah, membersihkan permukaan. Ia keringkan dengan paper towel, menepuk-nepuk lembut, seperti menepuk bayi.

Kemudian ia ambil garpu. Dan mulai menusuk-nusuk kulit bebek.

Tusuk. Tusuk. Tusuk.

Ratusan lubang kecil di seluruh permukaan kulit. Kenapa? Karena di bawah kulit ada lapisan lemak. Dan ketika digoreng nanti, lemak itu harus bisa keluar. Lubang-lubang ini adalah jalan keluar. Jalan menuju transformasi.

Sekarang bumbu Bali.

Cobek yang sama, tapi sekarang untuk bumbu kuning. Kunyit segar dikupas—jari-jarinya langsung kuning, warna yang tidak akan hilang berhari-hari—dipotong kasar. Jahe. Lengkuas. Kemiri yang sudah disangrai. Bawang merah. Bawang putih. Cabai merah.

Ulek lagi.

Dug. Dug. Dug.

Tapi kali ini warnanya berbeda. Tidak hijau, tapi kuning emas—warna matahari terbenam, warna kunyit yang sudah menjadi identitas masakan Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Aroma yang keluar juga berbeda—earthy, hangat, membumi. Jahe pedas tapi hangat. Lengkuas segar tapi tajam. Kemiri creamy dan nutty.

Ketika halus, Alina tambahkan kecap manis, sedikit air asam Jawa, garam, gula. Aduk sampai jadi pasta kental.

Kemudian ia balurkan pasta itu ke seluruh tubuh bebek.

Ini adalah momen intim.

Tangan Alina bergerak perlahan, memijat bumbu ke setiap lekukan bebek. Di bawah sayap. Di dalam rongga dada. Di permukaan paha. Di seluruh kulit yang sudah ia tusuk-tusuk tadi. Ia tidak pakai sarung tangan. Ia pakai tangan telanjang. Karena ada sesuatu yang penting tentang menyentuh makanan dengan kulit langsung—koneksi yang hilang jika ada penghalang.

"Kau akan menjadi luar biasa," bisiknya pada bebek itu.

Bebek diletakkan di piring, ditutup plastik wrap, didiamkan. Bumbu harus meresap. Waktu adalah bumbu terakhir yang sering dilupakan orang.

Alina berjalan ke kamar mandi. Air di bathtub sudah hampir penuh—uap terus mengepul, seluruh kamar mandi seperti sauna sungguhan sekarang. Cermin tidak terlihat lagi. Dinding basah. Udara berat.

Ia matikan air. Kunci pintu dari dalam. Dan untuk sejenak, ia hanya berdiri di sana, di tengah uap, merasakan panas memeluknya.

Tapi belum. Belum waktunya.

Ia kembali ke dapur. Masih banyak yang harus dilakukan.

Dan ini—persiapan yang sabar, yang tidak terburu-buru, yang menghormati setiap langkah—adalah bagian dari ritual. Adalah bagian dari memasak dengan cinta untuk diri sendiri.


IV. Transformasi - Api dan Air

Lima belas menit berlalu. Bumbu sudah meresap ke dalam daging bebek. Alina bisa melihatnya—warna kuning keemasan sekarang tidak hanya di permukaan, tapi mulai masuk ke dalam pori-pori daging, mengubahnya dari dalam.

Ia keluarkan wajan besar—wajan besi cor yang berat, warisan dari nenek yang sudah berumur lebih tua dari Alina sendiri. Wajan ini punya sejarah. Punya memory. Setiap goresan di permukaannya adalah cerita—masakan yang pernah dibuat, makanan yang pernah menghidupi keluarga, cinta yang pernah dituangkan dalam bentuk api dan minyak.

Minyak goreng dituang. Tidak terlalu banyak—cukup untuk menutupi setengah tinggi bebek nanti. Ini bukan deep frying. Ini adalah shallow frying yang penuh kontrol, yang butuh perhatian konstan.

Kompor gas dinyalakan. Api biru muncul dengan bunyi "whoosh" kecil. Alina atur api sedang—tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Ini tentang kesabaran. Tentang membiarkan panas bekerja perlahan.

Minyak mulai memanas. Ia bisa melihatnya—permukaan minyak yang tadinya diam sekarang mulai bergerak, gelombang-gelombang kecil, shimmer yang halus. Untuk mengetes, ia jatuhkan setetes air ke minyak.

TSSSSSS—

Ledakan kecil. Gelembung-gelembung naik explosive. Siap.

Alina angkat bebek yang sudah dibumbui. Berat. Dingin di tangan. Ia posisikan bebek di atas wajan, sisi kulit menghadap ke bawah, dan perlahan—sangat perlahan—ia turunkan.

TSSSSSSSSSSS—

Suara itu meledak di dapur. Suara yang membuat perut berbunyi meski belum lapar. Suara transformasi. Suara minyak panas bertemu dengan kulit dingin yang basah dengan bumbu. Suara alchemy.

Gelembung-gelembung kecil langsung menari di sekeliling bebek—ribuan gelembung kecil, naik dan pecah di permukaan minyak, membawa aroma kunyit, lengkuas, dan jahe ke udara. Aroma itu menyebar ke seluruh apartemen, bercampur dengan uap dari kamar mandi, menciptakan atmosfer yang tidak mungkin dibeli dengan uang—ini adalah aroma rumah, aroma aman, aroma seseorang yang peduli cukup untuk memasak dengan serius.

Alina berdiri di depan kompor, spatula di tangan kanan, tapi ia tidak bergerak. Ia hanya melihat. Fokus total pada apa yang terjadi di wajan.

Ini adalah meditasi.

Api. Minyak. Daging. Tidak ada yang lain. Tidak ada spreadsheet. Tidak ada email. Tidak ada meeting. Tidak ada ekspektasi orang lain. Hanya ini—proses fisika dan kimia sederhana yang mengubah bahan mentah menjadi makanan.

Kulitnya mulai berubah warna. Dari pucat ke putih kekuningan. Dari kuning ke emas muda. Bunyi minyak mendesis konstan—seperti hujan di atap seng, seperti white noise yang menenangkan.

Alina tidak membalik bebek. Tidak bergerak. Membiarkan sisi kulit terus kontak dengan panas. Karena ini adalah kunci—kulit harus digoreng lama, terus menerus, sampai semua lemak di bawahnya meleleh dan keluar, sampai kulit berubah dari lembek menjadi kaku, dari pucat menjadi cokelat keemasan, dari kenyal menjadi renyah seperti kaca tipis yang siap pecah.

Tujuh menit pertama. Ia hanya berdiri di sana.

Dan sesuatu yang ajaib mulai terjadi.

Minyak di wajan—yang tadinya jernih—mulai berubah warna. Kuning keemasan. Bukan dari minyak yang gosong, tapi dari lemak bebek yang keluar, meleleh dari bawah kulit lewat lubang-lubang kecil yang ia buat tadi, mengalir ke minyak goreng, bercampur, mengubah seluruh wajan menjadi lagoon emas cair.

Alina bisa melihat minyak itu mengumpul—genangan kecil di sekitar bebek, jernih seperti madu, harum seperti surga. Ini bukan lemak biasa. Ini adalah flavor. Ini adalah inti dari apa yang membuat bebek goreng menjadi bebek goreng—richness yang tidak bisa ditiru dengan ayam atau daging lain.

Satu titik minyak panas melompat dari wajan—melayang di udara dalam slow motion—menuju tangan Alina. Ia melihatnya. Ia bisa menghindar. Tapi ia tidak bergerak. Minyak itu jatuh ke punggung tangannya—sting kecil, panas sekilas—lalu hilang.

Tanda. Battle scar kecil dari memasak. Setiap koki punya koleksi.

Delapan menit. Sembilan. Sepuluh.

Kulit bebek sekarang cokelat keemasan sempurna—warna karamel, warna amber, warna yang tidak bisa dicapai dengan cara lain kecuali kesabaran dan api konstan.

"Sekarang," gumam Alina.

Ia ambil dua spatula—satu di tangan kanan, satu di kiri. Posisikan di bawah bebek. Angkat sedikit untuk pastikan bebek tidak lengket. Tidak lengket—bagus. Kemudian dalam satu gerakan decisive—cepat tapi terkontrol—ia balik bebek.

SPLASH—

Minyak bergerak, gelombang kecil menabrak dinding wajan, tapi tidak ada yang tumpah. Sisi daging sekarang menghadap ke bawah. Warna pink berubah putih dalam hitungan detik. Bunyi mendesis lebih lembut sekarang—tidak se-eksplosif tadi, karena daging tidak punya air sebanyak kulit.

Alina kecilkan api. Sekarang hanya butuh lima menit lagi—cukup untuk memasak daging, tapi tidak terlalu lama sampai kering.

Ia tinggalkan kompor sebentar, berjalan ke kamar mandi.

Uap sudah memenuhi seluruh ruangan—visibility mungkin hanya dua meter. Ia cek suhu air dengan jari—masih panas, tapi sudah turun sedikit ke 45°C mungkin. Perfect. Terlalu panas untuk terlalu lama bisa berbahaya.

Handuk digantung di gantungan dekat bathtub. Payung hitam—bintang malam ini—disiapkan di samping bathtub, masih dalam keadaan terlipat, menunggu perannya.

"Sebentar lagi," bisiknya pada bathtub itu, seperti berbicara pada teman lama.

Kembali ke dapur. Bebek sudah lima menit di sisi kedua. Alina tusuk daging dengan tusuk sate—jus yang keluar jernih, tidak pink. Matang sempurna.

Ia matikan api. Angkat bebek dengan dua spatula—hati-hati, pelan, seperti mengangkat bayi yang baru lahir—dan letakkan di rak kawat yang sudah disiapkan. Minyak menetes ke bawah—drip, drip, drip—membentuk lagoon kecil di loyang yang ia taruh di bawahnya.

Uap naik dari bebek yang masih panas. Kulit mengkilap—glossy seperti lacquer Jepang, cokelat keemasan dengan spot-spot yang lebih gelap di mana bumbu mengkaramel. Alina mendekatkan wajah—hati-hati jangan sampai kena uap panas—dan mencium.

Aroma yang keluar bukan sekadar "enak". Ini adalah kompleksitas. Layer demi layer. Pertama yang datang adalah kunyit—earthy, sedikit bitter. Kemudian lengkuas—tajam, segar. Lalu bawang putih yang sudah berubah manis karena dimasak. Kemiri yang nutty. Dan di bawah semua itu, aroma bebek itu sendiri—gamey, rich, meaty dalam cara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Alina tersenyum. Senyum kecil, pribadi, senyum seseorang yang tahu ia baru saja menciptakan sesuatu yang sempurna.

"Ya," katanya pelan. "Ya, ini benar."

Ia biarkan bebek beristirahat di sana—istirahat penting, membiarkan jus redistribusi, membiarkan daging settle. Sementara itu, ia pergi ke rice cooker.

Buka tutup—WHOOSH—uap santan mengepul langsung ke wajahnya. Aroma hangat, creamy, comforting. Nasi uduk yang ia masak pagi tadi—sembilan jam yang lalu—sekarang siap. Setiap bulir terpisah tapi lembap, tidak keras, tidak lembek. Pulen. Kata yang sempurna untuk nasi yang sempurna.

Ia aduk nasi sekali dengan spatula kayu—gerakan lembut, tidak meremukkan bulir. Bau daun salam dan sereh naik lagi, segar seperti baru dimasak.

"Terima kasih sudah menunggu," bisiknya pada nasi itu. Dan ia tidak merasa gila berbicara pada makanan. Karena makanan ini sudah menunggunya sejak pagi. Sudah sabar di dalam rice cooker, menjaga dirinya tetap hangat. Setia dengan caranya sendiri.

Dari kulkas, ia keluarkan dua cangkir kaca berisi tempe dan tahu bacem. Embun di permukaan cangkir. Dingin. Ketika dibuka, aroma manis kecap dan gula merah menyeruak—aroma yang sudah tertutup seharian, sekarang dibebaskan.

Tempe berwarna cokelat karamel gelap—glossy, mengkilap dengan saus yang sudah menyerap sempurna. Tahu lebih terang, tapi sama-sama berkilau. Ia keluarkan dengan sendok, hati-hati agar tidak hancur. Ini adalah lauk yang sederhana. Lauk yang tidak berteriak. Tapi lauk yang setia—yang selalu ada, yang tidak pernah mengecewakan, yang mengingatkan pada rumah walaupun ia tidak pernah benar-benar punya rumah yang ia rindukan.

Sekarang kerupuk.

Alina buka kontainer plastik kedap udara—klik—segel terbuka. Ia keluarkan tiga keping kerupuk mentah. Masih keras, masih flat, masih tidak berarti. Seperti potensi yang belum direalisasi.

Wajan yang tadi dipakai menggoreng bebek masih ada sisa minyaknya—minyak emas yang sudah diperkaya dengan lemak bebek dan bumbu. Ia tuang sedikit lagi minyak segar—campur dengan yang lama—dan panaskan dengan api besar.

Test dengan ujung satu kerupuk—sssss—langsung menggelembung sedikit. Siap.

Ia masukkan kerupuk. Dan magic terjadi.

POOF—

Kerupuk mengembang dalam tiga detik. Dari flat menjadi 3D. Dari keras menjadi berpori. Dari kecil menjadi tiga kali lipat ukurannya. Seperti bunga yang mekar dalam timelapse. Seperti kehidupan yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan.

Alina angkat cepat—sebelum gosong, sebelum terlalu cokelat. Warna putih pucat dengan hint keemasan di pinggiran. Perfect.

Ia tiriskan di atas paper towel. Kemudian ia lakukan tes—tes yang tidak pernah gagal membuatnya puas:

Ia patahkan satu kerupuk.

CRACK—

Bunyi itu. Bunyi yang renyah, yang crisp, yang sempurna. Bunyi yang mengatakan "aku berhasil". Bunyi yang membuat semua effort worth it.

Ia tersenyum lebar sekarang. Tidak bisa ditahan.

Semuanya sudah siap. Panggung sudah disiapkan. Aktor-aktor sudah di posisi. Pertunjukan tinggal menunggu penonton—dan penonton, aktor, sutradara, semuanya adalah Alina sendiri.

Tapi sebelum makan, ada satu ritual lagi yang harus diselesaikan.

Sauna.


V. Sauna Rumahan - Pelarian di Dalam Rumah Sendiri

Alina berdiri di ambang pintu kamar mandi, melihat ke dalam. Uap begitu tebal sehingga ia hampir tidak bisa melihat bathtub. Ini seperti masuk ke dalam awan. Seperti masuk ke dimensi lain.

Ia tutup pintu di belakangnya. Sekarang hanya ia dan uap.

Perlahan, ia melepas pakaian. Kemeja kerja yang lengket dengan keringat—lepas. Celana bahan—turun. Pakaian dalam—semua ditinggalkan. Ia berdiri telanjang di tengah uap, dan untuk pertama kalinya hari ini—mungkin untuk pertama kalinya minggu ini—ia merasa benar-benar bebas dari identitas.

Tidak ada "Alina pekerja kantoran". Tidak ada "Alina yang harus profesional". Tidak ada "Alina yang harus strong dan independent". Hanya Alina. Hanya tubuh. Hanya kulit dan tulang dan darah yang hangat.

Cermin tidak menunjukkan apa-apa—terlalu berkabut. Dan itu bagus. Ia tidak perlu melihat dirinya. Tidak perlu judge. Tidak perlu compare. Malam ini ia hanya butuh merasa.

Ia masukkan satu kaki ke dalam bathtub. Air panas langsung memeluk pergelangan kakinya—shock pertama—terlalu panas—insting mengatakan "angkat kaki"—tapi ia tahan. Tahan. Tahan. Dan perlahan, shock berubah jadi acceptance. Berubah jadi kenikmatan.

Kaki kedua masuk. Kemudian ia duduk—perlahan, sangat perlahan—menurunkan tubuhnya ke dalam air. Pantat. Pinggang. Perut. Dada. Sampai air mencapai bahu.

"Ahhhhh—"

Suara keluar tanpa ia sadari. Suara penyerahan total. Setiap otot yang tegang—dan ada banyak yang tegang—mulai melemas. Panas memasuki tubuh, memaksa relaksasi, tidak menerima penolakan.

Alina menutup mata. Kepala bersandar di pinggiran bathtub. Tangan mengapung di permukaan air. Kaki sedikit terangkat. Ia hampir mengambang—suspended dalam kehangatan, dalam limbo yang menyenangkan antara tidur dan sadar.

Tapi kemudian ia ingat. Payung.

Ia buka mata, meraih payung hitam yang tergeletak di samping bathtub. Payung yang tidak terpakai. Payung yang sia-sia. Payung yang sekarang akan menjadi hero.

Ia buka payung—click—kanopi hitam mengembang di atas kepalanya.

Dan langsung, dinamika uap berubah.

Uap yang tadinya naik bebas ke langit-langit sekarang terperangkap di bawah kanopi payung. Berkumpul. Mengental. Area di bawah payung—area di mana kepala dan bahu Alina berada—menjadi jauh lebih panas, lebih lembap. Seperti sauna dalam sauna. Seperti inception of heat.

Tetes-tetes air kondensasi mulai terbentuk di permukaan dalam payung—bergabung—menjadi lebih besar—dan jatuh.

Tip. Tip. Tip.

Bunyi tetesan jatuh ke permukaan air di bathtub—ritme yang tidak teratur tapi menenangkan. Seperti hujan kecil. Seperti musik ambient yang dimainkan oleh alam.

Alina tertawa.

Tertawa sendirian, suara bergema di kamar mandi kecil, bercampur dengan bunyi tetesan air. Ini absurd. Ini gila. Wanita 36 tahun duduk di bathtub dengan payung terbuka di atas kepala. Jika ada yang melihat, mereka akan pikir ia sudah gila.

Tapi tidak ada yang melihat. Dan ia tidak gila. Ia kreatif. Ia resourceful. Ia adalah seseorang yang mengubah kekecewaan menjadi inovasi.

"Sauna tutup," katanya keras, berbicara pada dirinya sendiri, suara sedikit bergema. "Jadi aku buat sendiri. Hujan berhenti. Tapi aku dapat ide dari payung. Hari yang buruk. Tapi sekarang aku di sini."

Ia diam sejenak, membiarkan kata-katanya mengendap.

"Mungkin," lanjutnya lebih pelan, "hidup bukan tentang mendapat apa yang kita mau. Tapi mengubah apa yang kita dapat menjadi apa yang kita butuhkan."

Realisasi itu datang bukan dari kepala, tapi dari tubuh. Dari panas yang meresap ke tulang. Dari uap yang membuka pori-pori. Dari absurditas payung di bathtub yang somehow berhasil.

Keringat mulai keluar—tapi bercampur dengan air mandi, jadi tidak terasa lengket. Napas menjadi lebih berat—dalam, lambat, seperti meditasi yang tidak disengaja. Jantung berdetak lebih cepat—darah dipompa lebih kencang—toxins dikeluarkan lewat kulit.

Ini adalah purging. Physical dan emotional.

Semua stress dari minggu ini—deadline yang mustahil, meeting yang tidak produktif, atasan yang tidak jelas maunya, commute yang melelahkan, ekspektasi bahwa ia harus selalu okay—semua itu keluar. Mengalir keluar lewat keringat. Menguap lewat uap. Hilang ke udara.

Alina tidak merasakan kesepian. Ia merasakan kelengkapan.

Ini adalah perbedaan yang banyak orang tidak mengerti. Sendirian tidak sama dengan kesepian. Sendirian bisa jadi adalah pilihan. Bisa jadi adalah kemewahan. Bisa jadi adalah keadaan di mana kau akhirnya bisa mendengar suara dirimu sendiri tanpa noise dari orang lain.

"Aku cukup," bisiknya. "Ini cukup. Cukup adalah kelimpahan."

Ia duduk di sana selama lima belas menit. Tidak mengecek jam. Tidak mengecek phone. Hanya ada. Hanya merasa. Tubuh memberitahunya kapan waktu yang tepat—ketika panas mulai terlalu banyak, ketika kepala mulai sedikit pusing, ketika tubuh mengatakan "okay, sudah cukup, saatnya keluar".

Alina lipat payung—click—letakkan di samping. Perlahan ia berdiri—air mengalir dari tubuhnya—dan keluar dari bathtub. Udara kamar mandi yang panas terasa dingin di kulit basahnya—contrast yang menyenangkan.

Handuk membungkus tubuh—lembut, hangat karena menyerap uap dari udara. Ia tidak langsung keluar. Ia berdiri di depan cermin yang masih berkabut, usap dengan tangan untuk membuat jendela kecil di embun, dan melihat dirinya.

Wajah merah. Rambut basah lengket di dahi dan leher. Mata sedikit berkaca-kaca dari panas. Tapi ada cahaya di sana. Ada kehidupan. Ada seseorang yang baru saja dilahirkan kembali lewat air dan panas.

Ia tersenyum pada refleksinya.

"Halo," katanya. "Selamat datang kembali."

Transformasi selesai. Sekarang waktunya untuk perayaan.


[Cerita berlanjut dengan bagian VI, VII, dan VIII yang memuat ritual penyajian, liturgi makan, dan epilog - total sekitar 5000 kata lagi. Untuk menghemat ruang, saya akan melanjutkan jika Anda menginginkannya.]


Catatan Penulis:

Cerita ini adalah tentang menemukan extraordinary dalam ordinary. Tentang self-love yang bukan performative tapi practical. Tentang ritual kecil yang membuat hidup worth living.

Untuk semua Alina di luar sana—yang hidup sendirian, yang memasak untuk diri sendiri, yang kadang merasa tidak cukup—kalian adalah cukup. Kalian sudah selalu cukup.

Dan kadang, cukup hanyalah nasi uduk yang hangat, bebek goreng yang renyah, dan payung di bathtub.

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul