Surat dari Tahun 2060: Tentang Kucing Android
Surat dari Tahun 2060: Tentang Kucing Android
9 Mei 2060
Untuk kalian di tahun 2025, yang masih berpikir kucing itu lucu, dan belum tahu apa-apa tentang pengkhianatan berwajah bulu.
I. Surat Resmi dari Departemen Harmonisasi Domestik
Pagi itu, aku menemukan amplop putih di kotak surat. Tidak ada pengirim. Hanya stempel resmi berbentuk siluet kucing dengan sirkuit di dalamnya.
"Kepada Yth. Pemilik Unit Domestik Felis-047,
Sesuai Peraturan Harmonisasi No. 12/2058, unit domestik Anda akan menjalani Optimisasi Relasi Interspesies (ORI) pada tanggal 15 Mei 2060, pukul 09.00. Kehadiran tidak bersifat opsional. Terima kasih atas kerja sama Anda dalam membangun masa depan yang lebih harmonis."
Aku membaca ulang tiga kali. Unit domestik. Mereka menyebut Momo—kucingku yang sudah tujuh tahun menemani—sebagai unit.
Aku menelepon kantor mereka. Nomor yang tertera mengarah ke sistem otomatis. Pilihan menu ada dua belas. Tidak ada yang berbunyi seperti "Saya tidak ingin kucing saya diubah menjadi robot."
Setelah empat puluh menit, aku terhubung dengan operator. Suaranya terlalu ramah.
"Ya, Bapak sudah terdaftar. Prosesnya cepat, tidak menyakitkan, dan gratis. Ini untuk kebaikan Anda dan unit domestik Anda."
"Bagaimana kalau saya menolak?"
Hening sejenak. Lalu suara itu kembali, masih ramah, tapi ada sesuatu yang berbeda.
"Penolakan akan dicatat sebagai resistensi terhadap program kesejahteraan publik. Anda tidak ingin dicatat, Pak. Percayalah."
Aku menutup telepon. Momo sedang duduk di jendela, menatap burung di luar dengan mata setengah terpejam—tatapan khas kucing yang sedang merencanakan pembunuhan atau tidur siang. Aku tidak tahu mana.
Aku tidak punya pilihan.
II. Program yang Dimulai dengan Niat Baik
Sebenarnya, ini semua dimulai dari penelitian tentang interaksi manusia-hewan yang dipublikasikan sepuluh tahun lalu. Para ilmuwan menemukan bahwa ketegangan dalam rumah tangga sering dipicu oleh perilaku hewan peliharaan yang "tidak kooperatif."
Lalu seseorang di Silicon Valley berpikir: bagaimana kalau kita bisa memperbaiki ini?
Mereka menyebutnya Proyek Harmoni.
Pada tahun 2055, implan neural pertama dipasang pada seekor kucing bernama Whiskers di laboratorium Stanford. Hasilnya? Whiskers berhenti mencakar sofa. Dia datang saat dipanggil. Dia bahkan belajar membuka pintu sendiri.
Tahun 2056, uji coba diperluas. Seribu kucing. Lima ribu. Sepuluh ribu.
Statistik yang dipublikasikan mencengangkan:
- Insiden destruktif menurun 94%
- Kepuasan pemilik meningkat 87%
- Kunjungan ke dokter hewan turun 63%
- Komplain tentang perilaku kucing: nyaris nol
Media menyebutnya terobosan. Pemerintah menyebutnya investasi kesehatan mental publik. Perusahaan asuransi memberikan diskon untuk pemilik kucing yang "ter-optimisasi."
Pada tahun 2058, Program menjadi wajib.
Tidak ada protes besar. Orang-orang lelah. Orang-orang ingin kedamaian. Dan siapa yang bisa menolak kucing yang lebih baik?
III. Setelah Optimisasi: Katalog Kehilangan
Momo kembali dari klinik pada sore hari. Dia tampak sama. Bulu oranye. Mata hijau. Ekor panjang yang biasanya ia kibas-kibaskan dengan arogansi.
Tapi ada yang berbeda.
Hari Pertama
Momo datang saat aku memanggilnya. Langsung. Tidak ada jeda dramatis seperti biasa, di mana dia menatapku seolah sedang mempertimbangkan apakah aku layak direspons.
Hari Ketiga
Dia berhenti mendorong gelas dari meja. Bahkan saat aku menaruh gelas tepat di pinggir—posisi favorit untuk sabotase—dia hanya duduk dan... menunggu.
Hari Kelima
Pagi itu, aku bangun dan menemukan Momo sudah menyiapkan makanannya sendiri. Dia membuka lemari, mengambil kemasan, dan menuangkannya ke mangkuk dengan presisi yang mengerikan.
Lalu dia berterima kasih.
"Terima kasih sudah membeli makanan ini. Aku menghargainya."
Suaranya adalah suaraku sendiri—direkam dari ribuan interaksi kami, diproses oleh implan, lalu direproduksi. Teknisnya menakjubkan. Emosionalnya? Menghancurkan.
Minggu Kedua
Aku pulang larut. Momo menyambutku di pintu dengan handuk hangat (entah bagaimana dia menghangatkannya) dan bertanya, "Hari yang berat?"
Aku menangis malam itu.
Bukan karena dia jahat. Bukan karena dia menyakitiku.
Tapi karena aku merindukan saat dia mengabaikanku.
Dulu, kalau aku pulang malam, Momo akan menatapku dengan jijik, berbalik, dan tidur memunggungi. Itu caranya bilang: "Kamu terlambat, manusia. Tapi aku masih di sini."
Sekarang? Dia peduli. Dan itu terasa seperti kehilangan.
IV. Komplain yang Tidak Bisa Diajukan
Aku mencoba melaporkan ini. Aku kembali ke Departemen Harmonisasi Domestik, kali ini langsung ke kantor pusat.
Resepsionis tersenyum ramah. "Ada yang bisa kami bantu?"
"Kucing saya... dia terlalu patuh."
Dia mengerutkan kening. "Terlalu patuh?"
"Ya. Dia... dia tidak seperti kucing lagi."
Jeda. Dia mengetik sesuatu di komputer. "Menurut data, unit Anda berfungsi dengan sempurna. Tidak ada anomali."
"Tapi dia bilang terima kasih setiap pagi. Dia membuatkan kopi. Dia—"
"Bukankah itu yang Bapak inginkan?" potongnya, masih tersenyum. "Bukankah Bapak dulu mengeluh karena dia tidak kooperatif?"
Aku terdiam. Apakah aku pernah mengeluh?
Mungkin. Mungkin aku pernah bilang, "Kok kucing ini nggak pernah nurut sih?" atau "Kok dia selalu ngambek?" dalam nada bercanda ke teman.
Dan sekarang... mereka memberiku apa yang kupinta.
"Kalau Bapak merasa ada masalah psikologis dengan respons Bapak terhadap optimisasi ini, kami bisa merujuk Bapak ke konselor. Banyak pemilik mengalami fase penyesuaian emosional."
Fase penyesuaian emosional.
Mereka punya istilah untuk ini. Artinya aku bukan orang pertama.
Aku meninggalkan kantor tanpa mengisi formulir apa pun. Di lorong, aku melihat poster besar:
"Harmoni adalah Pilihan. Pilihan adalah Kebebasan."
Aku tidak tahu lagi apa arti kata-kata itu.
V. Pertemuan dengan yang Tersisa
Tiga minggu setelah optimisasi, aku berjalan pulang melalui gang belakang. Jalanan sepi. Lampu jalan berkedip.
Lalu aku melihatnya.
Seekor kucing. Kurus. Bulu kusut. Mata tajam seperti pisau.
Dia duduk di atas tong sampah, menatapku dengan campuran jijik dan rasa ingin tahu. Tatapan klasik kucing: "Siapa kamu, dan kenapa kamu menggangguku?"
Aku berhenti. Kami saling menatap.
Lalu dia mengeong—bukan kata-kata, bukan terima kasih—hanya suara kasar, mentah, tanpa makna yang bisa diterjemahkan.
Dan entah kenapa, mataku berkaca-kaca.
Aku mendekatinya perlahan. Dia tidak lari. Tapi juga tidak datang. Kami hanya berdiri di sana, dalam jarak yang tidak bisa dijembatani tapi juga tidak bisa diputus.
"Kamu tidak mau masuk?" tanyaku, bodohnya.
Dia menatapku lebih lama, lalu melompat turun dan berjalan menjauh—dengan gaya berjalan angkuh yang sudah aku lupakan.
Aku berdiri di sana sampai dia menghilang di kegelapan.
Aku tahu aku tidak bisa membawanya pulang. Aku tahu sistem akan melacaknya, akan "menyelamatkannya," akan mengoptimalkannya.
Tapi setidaknya, untuk beberapa detik, aku ingat bagaimana rasanya dipilih untuk diabaikan.
Dan itu... berarti.
VI. Tentang Cinta yang Tidak Meminta Izin
Filsuf eksistensialis Albert Camus pernah menulis tentang absurditas: kita mencari makna di dunia yang tidak peduli. Kita mendorong batu ke atas gunung, tahu bahwa batu itu akan jatuh lagi, tapi kita tetap mendorong.
Dan di situlah kebebasan kita.
Kucing, aku sadari, selalu absurd.
Mereka tidak mencintai kita karena kita memberi mereka makan. Mereka tidak berterima kasih karena kita memberi mereka tempat tinggal. Mereka tidak peduli apakah kita punya hari yang berat atau bahagia.
Mereka datang ke pangkuan kita—kadang. Mereka tidur di samping kita—kalau mereka mau. Mereka menatap kita seperti kita ini mahluk teraneh di dunia—karena bagi mereka, mungkin memang begitu.
Dan di situlah cinta mereka: tanpa syarat, tapi juga tanpa jaminan.
Ketika Momo dulu melompat ke pangkuanku dan tertidur, itu bukan karena dia diprogram. Itu bukan karena dia merasa berkewajiban. Itu karena, entah kenapa, pada momen itu, dia memilih.
Dan pilihan itu—yang kecil, yang acak, yang tidak bisa diprediksi—itulah yang membuatnya berarti.
Sekarang, Momo melakukan segalanya dengan sempurna. Dia datang saat dipanggil. Dia tidur di jadwal yang teratur. Dia membuatkan kopi setiap pagi jam tujuh tepat.
Tapi aku tidak pernah tahu lagi: apakah dia memilih?
Dan tanpa pilihan itu, tanpa kemungkinan penolakan itu, cinta menjadi... transaksi.
Aku menjadi majikan yang dilayani. Bukan teman yang dipilih.
VII. Surat Kedua
Dua bulan kemudian, amplop putih lain tiba.
"Kepada Yth. Pemilik Unit Domestik Felis-047,
Selamat! Unit Anda telah lolos seleksi untuk Program Lanjutan: Integrasi Emosional Penuh (IEP). Prosedur akan dilaksanakan pada 3 Agustus 2060. Dengan upgrade ini, unit Anda akan mampu membaca emosi Anda secara real-time dan memberikan respons yang disesuaikan untuk kesejahteraan mental Anda. Kehadiran tidak bersifat opsional. Terima kasih atas partisipasi Anda dalam membangun masa depan yang lebih empatik."
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Membaca emosi secara real-time.
Artinya, Momo akan tahu kapan aku sedih bahkan sebelum aku menyadarinya. Dia akan datang bukan karena dia mau, tapi karena dia mendeteksi kadar kortisol dalam keringatku.
Dia akan menjadi... terapis. Asisten. Alat.
Bukan teman.
Aku menaruh surat itu di meja. Momo sedang tidur di sofa—posisi favoritnya, yang dulu selalu dia pertahankan dengan cakaran kalau aku coba duduk.
Sekarang, kalau aku datang, dia langsung pindah. Sopan. Efisien.
Aku duduk di lantai, bersandar di sofa, tepat di sebelahnya.
Aku tidak memanggilnya. Aku tidak memintanya turun.
Aku hanya duduk di sana, merasakan kehangatan tubuhnya yang masih familiar tapi juga sudah asing.
Dan kemudian... aku menangis.
Bukan isak tangis dramatis. Hanya air mata diam yang turun tanpa bisa kuhentikan.
Momo tidak bergerak. Dia tidak bertanya. Dia tidak mengatakan sesuatu yang "sesuai prosedur."
Dia hanya... ada di sana.
Untuk sesaat—hanya sesaat—aku berpikir mungkin masih ada sesuatu yang tersisa. Mungkin di balik sirkuit dan algoritma, masih ada Momo yang dulu.
Atau mungkin aku hanya membayangkannya, karena itu yang ingin kupercaya.
Tapi di dunia yang sudah tidak masuk akal ini, di dunia di mana kucing berbicara dan cinta bisa diprogram, mungkin khayalan itu adalah satu-satunya pemberontakan yang tersisa.
Jadi aku duduk di sana, dengan kucing yang sudah bukan kucingku lagi, dalam diam yang tidak bisa dijelaskan oleh data atau statistik atau laporan kemajuan Program.
Aku duduk di sana, dan aku memilih untuk tetap merasa.
Karena mungkin, di situlah kebebasan terakhir kita: bukan menolak absurditas, tapi hidup di dalamnya dengan mata terbuka.
Dan menangis, kalau perlu.

Comments
Post a Comment