Surat Terbuka dari Seorang Pecandu
# Surat Terbuka dari Seorang Pecandu: "Kami Bukan Monster, Kami Sakit"
*Untuk Anda yang melihat kami dengan mata penuh jijik di jalanan, yang menyebut kami "sampah masyarakat," yang bertanya mengapa kami tidak bisa "berhenti saja"—ini adalah jawaban yang mungkin tidak pernah Anda dengar.*
---
## Kepada Yang Terhormat, Masyarakat yang Menghakimi
Nama saya Dian. Saya berusia 28 tahun. Saya lulusan S1 Teknik dari universitas negeri. Dulu saya punya pekerjaan, rumah kontrakan yang rapi, dan cita-cita seperti Anda.
Sekarang saya menulis ini dari sebuah panti rehabilitasi, untuk yang ketiga kalinya dalam dua tahun terakhir. Ya, saya relapse dua kali. Ya, saya "gagal" sembuh berkali-kali.
Dan sebelum Anda melanjutkan membaca dengan pikiran "dasar pecandu pembohong," izinkan saya bertanya satu hal: **pernahkah Anda sakit flu berat sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur selama berhari-hari?**
Ingat rasanya? Badan pegal, kepala pusing, tenggorokan sakit, demam tinggi? Bayangkan rasa sakit itu dikalikan sepuluh, berlangsung berminggu-minggu, dan satu-satunya obat yang bisa menyembuhkannya adalah hal yang membunuh Anda perlahan-lahan.
**Itulah yang kami rasakan setiap hari.**
---
## "Kenapa Nggak Berhenti Aja Sih?"
Pertanyaan ini yang paling sering saya dengar. Dari keluarga, teman, bahkan dokter. Seolah berhenti dari fentanyl itu seperti berhenti merokok atau diet.
Mari saya jelaskan apa yang terjadi ketika saya "coba berhenti aja."
### Jam Ke-6 Tanpa Fentanyl: Ketika Tubuh Mulai Berteriak
Pagi itu saya bangun dengan tekad bulat. "Hari ini saya berhenti. Saya tidak akan menyentuh fentanyl lagi."
Jam 6 pagi masih semangat. Jam 12 siang, hidung mulai berair seperti pilek. "Mungkin masuk angin," pikir saya.
Jam 6 sore, seluruh tubuh mulai terasa tidak nyaman. Seperti ada yang salah, tapi saya tidak tahu apa. Seperti seseorang menggerakkan semua furniture di rumah, tapi rumah tetap terlihat sama.
**Jam 8 malam**: Tangan mulai bergetar. Keringat dingin mulai keluar meski AC menyala. Perut mual seperti mau muntah, tapi tidak ada yang keluar.
**Jam 10 malam**: Kaki gelisah, tidak bisa diam. Seperti ada ribuan semut merayap di bawah kulit. Saya berjalan bolak-balik di kamar, tapi tidak ada posisi yang nyaman.
**Jam 12 malam**: Ini dia yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata.
Bayangkan Anda sangat haus di tengah gurun pasir, dan ada segelas air jernih di depan mata, tapi Anda tidak boleh meminumnya. Rasa hausnya bukan hanya di tenggorokan, tapi di setiap sel tubuh. **Itulah craving.**
Tapi ini bukan haus biasa. Ini adalah haus yang membuat Anda rela membunuh untuk seteguk air.
### Hari Ke-2: Ketika Jiwa Berteriak Lebih Keras dari Tubuh
Pagi hari kedua, saya bangun dalam genangan keringat. Seprai basah kuyup seolah saya habis berenang. Badan gemetar tidak terkontrol.
**Diare tidak berhenti**: Setiap 15 menit saya harus ke toilet. Tubuh membuang semua cairan yang tersisa. Saya dehidrasi, tapi minum air langsung dimuntahkan.
**Kram perut**: Seperti ada yang meremas usus dengan tang. Nyeri datang dalam gelombang, setiap gelombang lebih sakit dari yang sebelumnya.
**Yang paling mengerikan**: **Pikiran saya mulai tidak waras.**
Otak saya berbisik terus-menerus:
- "Satu pil saja. Hanya satu. Rasa sakit langsung hilang."
- "Kamu tidak akan mati kalau pakai sekali lagi."
- "Lihat, kamu sudah tahan 2 hari. Itu sudah hebat. Sekarang reward diri sendiri."
**Dan yang paling berbahaya**: "Kamu memang tidak bisa sembuh. Kamu memang lemah. Mending mati sekalian."
### Hari Ke-3: Ketika Setan Berbicara Dengan Suara Sendiri
Hari ini saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tapi karena setiap gerakan seperti ada ribuan jarum yang menusuk otot.
**Otak saya sudah tidak bisa berpikir jernih.** Yang ada hanya satu obsesi: fentanyl.
Saya tahu nomor telepon dealer di luar kepala. Saya tahu di mana dia biasa nongkrong. Saya tahu persis berapa lama waktu tempuh dari rumah ke tempatnya.
**Yang paling menyakitkan**: Saya tidak lagi memikirkan efek "high" dari fentanyl. Saya hanya ingin berhenti merasa sekarat.
Bayangkan Anda tenggelam di laut, dan seseorang menjanjikan oksigen. Anda tidak peduli siapa orangnya, tidak peduli harus bayar berapa, tidak peduli apa konsekuensinya. **Anda hanya ingin bernapas.**
Itulah yang saya rasakan terhadap fentanyl. Bukan karena saya ingin "high," tapi karena saya ingin berhenti merasa seperti mau mati.
---
## Mengapa Kami Relapse: Cerita yang Tidak Pernah Diceritakan
### Relapse Pertama: "Hanya Sekali, untuk Menghentikan Sakitnya"
Hari keempat putus obat, saya menyerah.
Bukan karena saya lemah. Bukan karena saya tidak punya tekad. **Tapi karena rasa sakit fisik dan mental sudah melampaui batas kemampuan manusia normal.**
Saya menelepon dealer dengan tangan bergetar. Suara saya serak karena terus muntah dan menangis.
"Satu aja," kata saya. "Saya cuma butuh satu."
**30 menit setelah memakai fentanyl**: Semua rasa sakit hilang dalam sekejap. Diare berhenti. Keringat dingin berhenti. Tangan tidak bergetar lagi. Saya bisa berpikir jernih untuk pertama kalinya dalam 4 hari.
**Dan di momen itu, saya menangis.**
Bukan karena bahagia, tapi karena sedih. Sedih karena saya "gagal" lagi. Sedih karena saya mengecewakan keluarga. Sedih karena saya membuktikan bahwa orang-orang yang bilang "pecandu itu lemah" mungkin benar.
**Tapi yang tidak mereka tahu**: **Saya tidak relapse karena ingin "high." Saya relapse karena ingin hidup.**
### Relapse Kedua: Ketika Stigma Membunuh Lebih Cepat dari Narkoba
Tiga bulan kemudian, saya coba berhenti lagi. Kali ini saya bertahan 2 minggu. Saya bangga dengan pencapaian ini.
Tapi dunia tidak melihatnya sebagai pencapaian.
Ketika saya melamar pekerjaan, HR bertanya: "Apakah Anda pernah menggunakan narkoba?"
Saya jujur. Dan CV saya langsung dibuang.
Ketika saya cari kos-kosan, pemilik bertanya hal yang sama. Pintu ditutup di muka saya.
Ketika saya bercerita kepada teman lama, mereka bilang: "Wah, jangan-jangan tas saya hilang."
**Stigma itu membunuh harapan.**
Setiap hari saya bertanya pada diri sendiri: "Untuk apa saya berjuang sembuh kalau dunia sudah menganggap saya sampah?"
Dan suatu malam, ketika kesepian dan putus asa mencapai puncaknya, saya menelepon dealer lagi.
Kali ini bukan karena sakit fisik. Kali ini karena **sakit jiwa yang lebih dalam.**
---
## Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Kami
Mari saya jelaskan apa yang terjadi di kepala kami dengan analogi yang mudah dipahami.
### Otak Normal vs Otak Pecandu
**Bayangkan otak seperti jungkat-jungkit:**
**Otak normal**: Jungkat-jungkit seimbang. Kadang naik ke sisi "senang" (makan enak, ketawa dengan teman), kadang turun ke sisi "sedih" (kena macet, ditegur bos), tapi selalu kembali ke tengah.
**Otak pecandu setelah pakai fentanyl**: Jungkat-jungkit terlempar ekstrem ke sisi "senang." Tapi fisika tidak bisa dibohongi—dia akan terbanting balik ke sisi "sedih" dengan kekuatan sama.
**Yang lebih parah**: Setelah berkali-kali terlempar ekstrem, jungkat-jungkit rusak. Titik tengahnya bergeser. Yang dulu disebut "normal" sekarang terasa seperti depresi berat.
**Jadi ketika kami tidak pakai fentanyl**, kami tidak kembali ke "normal" seperti Anda. Kami jatuh ke tingkat kesakitan yang tidak pernah Anda bayangkan.
### Mengapa "Cukup Kemauan" Tidak Cukup
Orang sering bilang: "Pakai kemauan aja, pasti bisa berhenti."
Mari saya tanya: bisakah Anda menahan napas dengan "kemauan" selama 10 menit? Bisakah Anda tidak tidur selama seminggu hanya dengan "kemauan"?
**Tidak bisa, karena itu melawan biologi dasar.**
Begitu juga dengan kecanduan. Fentanyl sudah mengubah kimia otak kami. Dia sudah merampas kontrol kami terhadap sistem reward dan punishment.
**Ketika kami craving**, bukan seperti Anda ngidam es krim. Ini seperti:
- Seseorang yang tenggelam ngidam oksigen
- Orang diabetes ngidam insulin
- Bayi yang kelaparan ngidam ASI
**Ini adalah kebutuhan biologis yang diciptakan oleh obat itu sendiri.**
### Memori yang Tidak Bisa Dihapus
Yang paling menyiksa: **otak kami mengingat dengan sempurna betapa "indahnya" saat pertama kali pakai fentanyl.**
Setiap kali stress, sedih, marah, atau bahkan bosan, otak kami berbisik: "Ingat kan dulu pakai fentanyl semua masalah langsung hilang?"
**Dan yang mengerikan**: Bisikan itu terdengar seperti suara kita sendiri. Seperti pikiran kita sendiri.
Bayangkan ada orang yang terus berbisik di telinga Anda 24 jam sehari: "Makan racun aja. Enak lho. Cuma sekali." Dan suara itu persis seperti suara Anda sendiri.
**Berapa lama Anda bisa bertahan melawan suara itu?**
---
## Mengapa Kami Berbohong (Dan Mengapa Itu Bukan Karena Jahat)
### "Uang Ini Buat Beli Makan, Kok"
Saya tahu Anda pernah dengar kami berbohong. Di traffic light, di depan musholla, di mana-mana. "Bang, saya lapar. Minta uang buat beli nasi."
Padahal uangnya buat beli fentanyl.
**Dan Anda marah. Anda merasa dibohongi.**
Mari saya jelaskan mengapa kami berbohong:
**Bukan karena kami jahat.** Tapi karena kami tahu kalau kami jujur, Anda tidak akan kasih uang.
Coba bayangkan: mana yang akan Anda kasihani?
1. "Bang, saya lapar, minta uang buat makan"
2. "Bang, saya sakaw, minta uang buat beli fentanyl biar tidak mati kesakitan"
Tentu yang pertama, kan?
**Kami berbohong karena kami putus asa.** Karena jujur tentang kondisi kami hanya akan membuat Anda menjauhi kami lebih jauh.
### "Saya Sudah Berhenti, Kok"
Kebohongan lain yang sering kami ucapkan: "Saya sudah berhenti pakai."
Kami bilang begitu ke keluarga, teman, petugas, siapa saja yang bertanya.
**Kenapa kami berbohong?**
Karena kami **benar-benar ingin** sudah berhenti. Kami **berharap** suatu hari nanti kalimat itu akan menjadi kenyataan.
Setiap pagi kami bangun dengan niat berhenti. Setiap malam kami tidur dengan penyesalan karena gagal lagi.
**Kebohongan kami adalah cermin dari harapan kami.**
---
## Kami Juga Punya Keluarga yang Menangis
### Surat untuk Ibu
*"Ma, Dian minta maaf.*
*Setiap kali Mama nangis, Dian juga nangis. Setiap kali Mama bilang 'kenapa anak Mama jadi begini,' hati Dian hancur.*
*Mama pikir Dian tidak sayang sama Mama? Salah, Ma. Justru karena terlalu sayang, Dian tidak berani pulang. Dian tidak mau Mama lihat Dian dalam kondisi seperti ini.*
*Dian tahu Mama capek. Dian tahu Mama malu kalau tetangga tanya 'anakmu mana?' Dian tahu Mama sering nangis diam-diam.*
*Tapi Ma, Dian juga sakit. Bukan pura-pura sakit. Sakit beneran. Sakit yang bikin Dian rela mati kalau bisa hilang.*
*Dian pengen sembuh, Ma. Bukan karena orang lain suruh, tapi karena Dian kangen pelukan Mama. Dian kangen masak bareng Mama. Dian kangen jadi anak yang Mama banggain.*
*Doain Dian ya, Ma. Jangan menyerah sama Dian.*
*Anakmu yang sakit, tapi masih sayang Mama."*
### Yang Tidak Pernah Kami Ceritakan ke Keluarga
Kami tidak pernah cerita betapa sering kami berpikir untuk bunuh diri.
Bukan karena kami ingin mati. Tapi karena hidup seperti ini terlalu menyakitkan untuk keluarga.
**Kami pikir**: "Mungkin keluarga akan lebih bahagia kalau saya mati. Tidak perlu malu lagi. Tidak perlu khawatir lagi."
Tapi kemudian kami ingat: kalau kami mati karena bunuh diri, keluarga akan merasa bersalah seumur hidup.
**Jadi kami tetap hidup.** Bukan untuk diri kami, tapi untuk mereka.
**Dan itu yang membuat perjuangan kami lebih berat**: Kami harus sembuh bukan hanya untuk diri kami, tapi untuk orang-orang yang masih menyayangi kami meski kami sudah mengecewakan mereka berkali-kali.
---
## Ketika Dunia Menutup Pintu, Narkoba Membuka Lengan
### Mengapa Kami Sulit Lepas dari Lingkungan Narkoba
Orang sering bertanya: "Kenapa nggak bergaul sama orang baik-baik aja?"
**Mari saya tanya balik**: mau bergaul dengan siapa?
**Keluarga?** Mereka sudah lelah dengan drama kami.
**Teman lama?** Mereka menghindari kami karena takut ketularan atau dicuri.
**Teman kerja?** Kami tidak punya pekerjaan karena tidak ada yang mau menerima mantan pecandu.
**Tetangga?** Mereka berbisik-bisik kalau kami lewat.
**Yang tersisa cuma sesama pecandu.**
Dan tahukah Anda? **Sesama pecandu tidak menghakimi kami.**
Ketika kami cerita tentang betapa sakitnya sakaw, mereka mengerti. Ketika kami menangis karena gagal berhenti lagi, mereka tidak bilang "dasar lemah." Mereka bilang: "Gua juga pernah gitu. Lu nggak sendiri."
**Ironinya**: Orang yang seharusnya menjadi support system kami malah menolak kami. Orang yang seharusnya kami jauhi malah yang menerima kami apa adanya.
### Dealer: Musuh yang Menjadi Sahabat
Yang paling menyedihkan: **dealer sering lebih baik kepada kami daripada masyarakat "normal."**
Ketika kami tidak punya uang, dia kasih hutang. Ketika kami sakaw parah, dia kasih gratis. Ketika kami ditolak di mana-mana, dia menerima kami.
**Tentu saja dia tidak tulus.** Dia cuma mau keuntungan. Tapi bagi kami yang sudah ditolak di mana-mana, sedikit "kebaikan" palsu terasa seperti oasis di gurun.
**Dan itu yang membuat lingkaran setan ini sulit diputus.**
Orang baik menolak kami, orang jahat menerima kami. Pilih mana?
---
## Apa yang Sebenarnya Kami Butuhkan
### Bukan Ceramah, Tapi Empati
**Yang TIDAK kami butuhkan:**
- "Udah, tobat aja!"
- "Ingat Tuhan!"
- "Kasihan keluarga lu!"
- "Dasar pecandu nggak tahu diri!"
**Kami sudah tahu semua itu.** Kami sudah mendengarnya ribuan kali. Dan setiap kali mendengarnya, kami makin tenggelam dalam rasa bersalah dan putus asa.
**Yang kami BUTUHKAN:**
- "Gua nggak ngerti apa yang lu rasain, tapi gua mau dengerin."
- "Lu nggak sendiri. Gua di sini."
- "Gua bangga lu masih bertahan sampai hari ini."
- "Gagal berkali-kali nggak apa-apa. Yang penting lu masih mau coba."
### Kesempatan Kedua (dan Ketiga, dan Keempat...)
**Kami tidak minta istimewa.** Kami cuma minta diperlakukan seperti manusia.
Ketika kami melamar pekerjaan, jangan langsung tolak karena ada riwayat narkoba. Tanyakan: "Apa yang sudah Anda lakukan untuk recovery? Apa rencana Anda ke depan?"
**Berikan kami kesempatan membuktikan bahwa kami lebih dari sekadar label "mantan pecandu."**
### Support System yang Tidak Menghakimi
**Kami butuh orang yang:**
- Tidak menutup pintu ketika kami relapse
- Merayakan pencapaian kecil kami (1 hari bersih, 1 minggu bersih)
- Memahami bahwa recovery bukan linear
- **Melihat kami sebagai manusia yang sakit, bukan kriminal yang jahat**
---
## Recovery: Mungkin, Tapi Tidak Mudah
### Mengapa 3 Kali Masuk Rehab Bukan Berarti Gagal
Saya sekarang di rehab untuk ketiga kalinya. Dan kali ini saya tidak malu lagi.
**Relapse bukan kegagalan.** Relapse adalah bagian dari proses recovery yang normal.
Bayangkan seseorang yang belajar naik sepeda. Dia jatuh berkali-kali. Apakah setiap jatuh disebut "gagal"? Tidak. Itu disebut "belajar."
**Begitu juga dengan recovery.** Setiap relapse mengajarkan kami sesuatu:
- Relapse pertama: Saya belajar bahwa putus obat sendiri hampir mustahil
- Relapse kedua: Saya belajar bahwa stigma masyarakat bisa jadi trigger
- Sekarang: Saya belajar bahwa recovery butuh support system yang kuat
### Yang Berubah dalam Diri Saya
**Rehab pertama**: Saya masuk karena dipaksa keluarga. Saya marah, denial, tidak kooperatif.
**Rehab kedua**: Saya masuk karena takut mati. Saya kooperatif, tapi belum benar-benar committed.
**Rehab ketiga (sekarang)**: Saya masuk karena ingin hidup. Bukan hanya bertahan, tapi benar-benar hidup.
**Perbedaannya?**
Sekarang saya tidak lagi malu menjadi "mantan pecandu." Sekarang saya bangga menjadi "survivor."
Sekarang saya tidak lagi fokus pada "berapa lama saya bersih," tapi pada "apa yang bisa saya kontribusikan hari ini."
**Sekarang saya tahu**: **Saya bukan didefinisikan oleh addiction saya, tapi oleh recovery saya.**
---
## Pesan Terakhir: Kami Masih Manusia
### Untuk Masyarakat
Suatu hari nanti, Anda mungkin bertemu kami di jalan. Mungkin kami sedang mencari pekerjaan. Mungkin kami sedang mencoba memulai hidup baru.
**Jangan lihat kami dengan mata penuh praduga.**
**Lihat kami sebagai:**
- Seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit
- Anak dari seseorang yang menangis setiap malam
- Manusia yang masih punya hati nurani
- **Survivor dari neraka yang mungkin tidak bisa Anda bayangkan**
### Untuk Sesama Pecandu
**Untuk kalian yang masih di luar sana**, yang masih berjuang sendirian:
**Kalian tidak sendirian.** Saya mengerti rasa sakit kalian. Saya mengerti putus asa kalian. Saya mengerti kenapa kadang rasanya lebih mudah menyerah.
**Tapi jangan menyerah.**
Setiap hari kalian bertahan adalah kemenangan. Setiap kali kalian memilih tidak pakai, meski cuma 5 menit, itu adalah keajaiban kecil.
**Recovery adalah possible.** Saya buktinya. Ribuan orang lain buktinya.
**Tidak mudah, tapi possible.**
### Untuk Keluarga Pecandu
**Untuk keluarga yang masih setia menunggu kami pulang:**
Terima kasih. Terima kasih karena tidak menyerah sama kami meski kami sudah berkali-kali mengecewakan.
**Cinta kalian adalah yang membuat kami tetap hidup** di saat-saat tergelap.
**Maafkan kami.** Tidak untuk semua kesalahan kami—karena beberapa mungkin tidak bisa dimaafkan. Tapi maafkan kami karena sakit, dan maafkan kami karena butuh waktu untuk sembuh.
---
## Satu Permintaan Terakhir
**Sebelum Anda menutup artikel ini**, saya minta satu hal:
**Lain kali ketika Anda melihat pecandu di jalan, jangan langsung menghakimi.**
Mungkin dia adalah seseorang yang sedang berjuang hari ini. Mungkin dia sudah bersih selama seminggu tapi terpaksa relapse karena sakit fisik yang tidak tertahankan. Mungkin dia adalah anak dari ibu yang menangis setiap malam.
**Mungkin dia adalah saya.**
**Kami bukan monster. Kami sakit. Dan kami butuh pengobatan, bukan penghakiman.**
---
*Ditulis dengan air mata dan harapan,*
**Dian**
*Hari ke-43 di rehabilitasi*
*Masih berharap, masih berjuang*
---
**P.S.** Jika tulisan ini menyentuh hati Anda, tolong share. Tidak untuk saya, tapi untuk ribuan pecandu lain yang masih berjuang sendirian, yang masih berharap bahwa suatu hari nanti dunia akan melihat mereka sebagai manusia.
**Hotline Crisis**:
- Suicide Prevention: 119 ext 8
- BNN Hotline: 184
- Atau hubungi puskesmas terdekat
**Ingat**: Setiap pecandu yang diselamatkan adalah keluarga yang utuh kembali.
#resonansi #ceritakehidupan #Fentanyl #FentanylAwareness #narkotika #resonance
Comments
Post a Comment