AKU MASIH KANGEN, MUNGKIN KAMU TIDAK MENYADARINYA

# AKU MASIH KANGEN, MUNGKIN KAMU TIDAK MENYADARINYA


---

Notifikasi datang pukul sepuluh malam.

Budi sedang berbaring di kasur, masih mengenakan kemeja kerja yang sudah kusut, celana bahan yang dilonggarkan karena ikat pinggang sudah dilepas sejak tiga jam lalu. Telepon genggam di tangannya, jempol menggerakkan layar tanpa tujuan—kebiasaan buruk yang ia kembangkan sejak pandemi, ketika hari-hari terasa terlalu panjang dan malam-malam terlalu sepi.

Facebook. Aplikasi yang sudah jarang ia buka. Tapi malam ini ia membukanya, entah kenapa. Mungkin karena Instagram sudah ia scroll sampai habis. Mungkin karena ia tidak ingin tidur terlalu cepat, karena tidur cepat berarti bangun terlalu pagi, dan bangun terlalu pagi berarti menunggu terlalu lama sampai waktu kerja tiba.

Lalu ia melihat namanya.

**Yuni Kartika menyukai postingan Anda.**

Jantungnya berhenti. Benar-benar berhenti—atau setidaknya terasa seperti itu. Ia duduk, punggung tegak, seolah ada yang menarik tali invisible di tengkuknya.

Yuni.


Tiga tahun. Tiga tahun sejak terakhir kali mereka bicara. Tiga tahun sejak ia memutuskan—tidak, bukan memutuskan. Ia yang mengakhiri. Ada perbedaan di sana. Memutuskan terdengar seperti ada pilihan. Mengakhiri terdengar seperti sesuatu yang harus dilakukan meski tidak ingin.

Ia membuka profilnya. Foto profilnya masih sama—foto di depan Kota Tua, memakai topi jerami, matahari sore membuat wajahnya bercahaya. Foto itu diambil tahun 2019. Ia ingat karena ia yang memotretnya. Atau mungkin ia hanya ingin percaya ia yang memotretnya. Memori kadang berbohong ketika kita terlalu sering mengulanginya dalam kepala.

Postingan yang Yuni sukai adalah kutipan sederhana yang ia bagikan kemarin sore:

*"Kadang kamu tidak sadar kamu sudah berubah sampai kamu bertemu seseorang dari masa lalumu, dan menyadari: orang yang dulu mereka kenal sudah tidak ada lagi."*

Ia tidak tahu kenapa ia memposting itu. Mungkin karena kemarin ia bertemu teman lama di supermarket, dan mereka berdua canggung, tidak tahu harus bicara apa. Atau mungkin karena ia sudah lama ingin menulis sesuatu tentang waktu, tentang bagaimana manusia berubah tanpa izin, tentang bagaimana masa lalu adalah negara asing yang tidak bisa kita kunjungi lagi.

Tapi Yuni menyukainya.

Dan itu berarti sesuatu. Atau mungkin tidak berarti apa-apa. Atau mungkin ia yang terlalu banyak berpikir.

Tangannya bergerak sebelum otaknya sempat menghentikan. Ia membuka Messenger. Mengetik.

**"Lama tidak jumpa."**

Delete.

**"Hai, apa kabar?"**

Delete.

**"Terima kasih sudah like postingan saya."**

Bodoh. Delete.

Akhirnya ia menulis:

**"Kopi?"**

Jari mengambang di atas tombol kirim. Satu kata. Satu pertanyaan. Tapi di balik kata itu ada tiga tahun pertanyaan lain yang tidak pernah ia tanyakan. 

Ia menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.

Status pesan berubah menjadi "Terkirim". Lalu "Dibaca".

*Typing...*

Indikator itu muncul. Berhenti. Muncul lagi. Berhenti.

Budi menahan napas. Sepuluh detik terasa seperti sepuluh menit.

Lalu pesan masuk:

**"Boleh. Kapan?"**

---

Yuni menatap layar telepon genggamnya.


Kamarnya gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari layar dan lampu jalan yang masuk lewat celah tirai. Ia bisa mendengar suara televisi dari ruang tamu—ibunya masih menonton drama malam. Suara itu familiar, menenangkan dalam cara yang membosankan.

Ia membaca ulang pesannya sendiri. "Boleh. Kapan?"

Dua kata. Terlalu singkat? Terlalu dingin? Atau sudah tepat—tidak terlalu antusias, tidak terlalu menolak?

Ia tidak tahu kenapa ia menyukai postingan Budi. Tangannya bergerak sendiri ketika melihat kutipan itu di beranda. Mungkin karena sudah malam, dan tengah malam membuat orang melakukan hal-hal yang siang hari tidak akan mereka lakukan. Atau mungkin karena kutipan itu benar—tentang berubah, tentang tidak mengenali diri sendiri ketika bercermin ke masa lalu.

Tiga tahun.

Tiga tahun sejak Budi bilang, "Aku pikir kita perlu waktu sendiri-sendiri."

Waktu untuk apa? Ia tidak pernah benar-benar mengerti. Tapi ia mengangguk waktu itu, karena mengangguk lebih mudah daripada bertanya "Kenapa?" dan mendengar jawaban yang mungkin lebih menyakitkan daripada kepergiannya.

Sekarang ia tiga puluh lima tahun. Usia yang sama dengan Budi. Usia di mana teman-temannya sudah menikah, punya anak, sibuk dengan kehidupan yang terasa sangat jauh dari kehidupannya. Ia masih tinggal dengan ibunya di rumah kontrakan di kawasan Tomang, masih naik angkot ke kantor setiap pagi, masih memasak nasi untuk dua orang setiap malam.

Tidak ada yang salah dengan hidupnya. Tapi tidak ada yang istimewa juga.

Telepon bergetar. Pesan baru.

**"Besok setelah kerja? Aku jemput kamu."**

Yuni menatap pesan itu lama. Jempol mengambang di atas keyboard.

**"Oke. Jam enam di lobby kantor."**

Kirim.

Ia meletakkan telepon di meja samping tempat tidur, membalikkan layarnya menghadap ke bawah. Tapi jantungnya masih berdetak terlalu cepat. Ia menatap langit-langit kamarnya—cat yang sudah mengelupas di pojok, bekas rembesan air hujan yang tidak pernah diperbaiki.

Besok ia akan bertemu Budi.

Dan ia tidak tahu apakah itu ide yang baik atau kesalahan yang sudah menunggu untuk terjadi.

---

Jakarta Barat di sore hari adalah neraka kecil yang sudah akrab.


Budi duduk di mobilnya—Toyota Avanza 2015 yang sudah ia miliki sejak sebelum bertemu Yuni, yang sudah melewati servis berkala, yang setirnya sudah aus di bagian yang sering ia pegang—terjebak di Jalan S Parman. Macet dari Grogol ke arah Slipi, seperti biasa. Seperti selalu.

Jam menunjukkan pukul 17.45. Ia berjanji menjemput Yuni jam enam. Kantornya di kawasan Kebon Jeruk, tidak jauh dari sini, tapi dengan kecepatan lalu lintas seperti ini, lima belas menit bisa jadi tiga puluh menit.

Ia menyalakan AC lebih kencang. Udara Jakarta sore ini panas, lengket. Langit berwarna jingga kotor, polusi bercampur senja. Dari jendela ia bisa melihat gedung-gedung tinggi di kejauhan, mall-mall dengan lampu neon yang mulai menyala, pedagang kaki lima yang mulai membuka lapak di trotoar.

Tangannya mengetuk setir. Kebiasaan lama ketika gugup.

Ia tidak gugup. Atau ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak gugup.

Ini hanya kopi. Hanya makan malam. Hanya dua orang lama yang tidak bertemu yang sekarang akan bertemu dan bicara tentang hal-hal yang tidak penting dan kemudian pulang dan melanjutkan hidup mereka yang terpisah.

Sederhana.

Tapi tangannya terus mengetuk setir.

Lalu lintas bergerak. Lima meter. Berhenti lagi. Lampu merah. Lampu hijau. Lima meter lagi.

Pukul 17.58, ia tiba di depan gedung kantor Yuni. Gedung tiga belas lantai dengan kaca gelap, logo perusahaan konsultan di depan yang sudah pudar. Ia parkir di pinggir jalan, menyalakan lampu hazard, mengambil telepon genggam.

**"Aku sudah sampai."**

Kirim.

Tiga menit kemudian—tiga menit yang terasa seperti tiga puluh—ia melihatnya keluar dari pintu putar kaca.

Dan jantungnya berhenti lagi.

---

Yuni melihat mobil Avanza putih di pinggir jalan. Plat nomor yang familiar—B 1447 SHJ. Ia ingat karena dulu ia sering bercanda tentang nomor itu. "SHJ—Sayang Hati Juga," katanya waktu itu. Budi tertawa, bilang itu kode acak dari Samsat, bukan kode rahasia alam semesta.

Tapi ia ingat.

Ia berjalan pelan ke mobil, tas kerja di bahu, sepatu hak rendah yang sudah ia pakai seharian terasa berat di kaki. Rambutnya ia ikat cepol—praktis untuk kerja, tapi sekarang ia menyesal tidak sempat merapikan. Tidak sempat ganti baju. Masih mengenakan kemeja putih dan rok hitam, seragam kantor yang sudah kusut setelah sembilan jam di ruangan ber-AC.

Budi turun dari mobil, membukakan pintu untuk Yuni.

"Hai," katanya.

"Hai," jawab Yuni.

Mereka berdiri di trotoar, dua orang dewasa tiga puluh lima tahun yang tidak tahu harus berbuat apa dengan tangan mereka.

Budi terlihat... sama. Tapi juga berbeda. Rambutnya lebih pendek, lebih rapi. Dulu ia membiarkan rambutnya agak panjang, menutupi telinga. Sekarang dipotong pendek, seperti orang kantoran yang serius. Ia memakai kemeja biru muda—lengan digulung sampai siku, seperti kebiasaannya. Jam tangan di pergelangan tangan kiri—jam tangan baru. Dulu ia pakai Casio hitam sederhana. Sekarang sesuatu yang lebih mahal, lebih dewasa.

"Kamu..." Budi mulai, lalu berhenti. "...terlihat baik."

Yuni tersenyum kecil. "Terima kasih. Kamu juga."

Jarak di antara mereka adalah satu meter. Satu meter yang terasa seperti satu kilometer.

"Masuk yuk," kata Budi, membukakan pintu mobil lebih lebar.

Yuni masuk. Bau mobil masih sama—pengharum ruangan aroma kopi, sedikit debu, sedikit bau bensin. Kursi penumpang depan masih sedikit miring ke kanan, seperti dulu. Ia ingat kursi ini. Ia ingat sore-sore pulang kantor, ketika Budi menjemputnya, dan mereka akan jalan-jalan dulu sebelum pulang, tidak ada tujuan, hanya berkeliling Jakarta sambil mendengarkan radio.

Budi masuk, menutup pintu, menyalakan mesin.

"Aku sudah pilih tempat," katanya sambil memasang sabuk pengaman. "Tidak jauh. Di Tanjung Duren. Kamu suka ayam, kan?"

Yuni mengangguk. "Masih."

"Oke. Bagus."

Mereka diam. Mesin mobil bergumam pelan. AC menyala, udara dingin mulai mengisi kabin. 

Budi memasukkan gigi, mobil mulai bergerak.

Dan Yuni menyadari tangannya gemetar sedikit. Ia meletakkan tas di pangkuannya, kedua tangan memegang tali tas, seolah butuh sesuatu untuk dipegang.

Dari sudut matanya, ia melihat Budi mengetuk-ketuk setir dengan jari telunjuk.

Kebiasaan lama.

Ia ingat kebiasaan itu.

---

Macet dari Kebon Jeruk ke Tanjung Duren.


Tentu saja macet. Ini Jakarta. Ini sore hari. Ini hari Rabu—bukan Jumat yang paling parah, tapi bukan Senin yang relatif lancar juga.

Budi menyalakan radio. Volume rendah. Lagu Indonesia, tapi ia tidak fokus pada liriknya. Hanya background noise untuk mengisi keheningan yang terlalu keras.

"Kamu masih di konsultan yang sama?" tanya Budi, matanya fokus ke jalan. Pertanyaan aman. Pertanyaan pembuka.

"Masih," jawab Yuni. "Sudah delapan tahun sekarang."

"Lama juga."

"Iya. Sudah nyaman, sih. Gajinya juga oke."

"Bagus. Itu bagus."

Hening lagi.

Lampu merah. Mobil berhenti. Budi melirik sebentar ke Yuni. Ia sedang menatap jendela, memperhatikan pedagang asongan yang menawarkan kacamata hitam, tisu, mainan anak-anak. Wajahnya tenang, tapi tangannya masih memegang tali tas erat-erat.

"Kamu?" tanya Yuni tiba-tiba, masih menatap jendela. "Masih di perusahaan yang sama?"

"Pindah. Dua tahun lalu. Sekarang di startup teknologi. Lebih kecil, tapi lebih menantang."

"Kamu suka?"

Budi berpikir sebentar. "Iya. Sebagian besar iya."

Lampu hijau. Mobil bergerak lagi.

"Sebagian besar?" Yuni menoleh, alis terangkat sedikit.

Budi tersenyum—senyum kecil, sedikit pahit. "Kerjaan itu tidak pernah seratus persen sempurna, kan?"

Yuni mengangguk. "Itu benar."

Mereka melewati deretan ruko di Jalan Tanjung Duren. Toko elektronik, toko kain, warung makan dengan spanduk besar bertuliskan "Bebek Goreng H. Slamet". Budi memperlambat mobil, mencari tempat parkir.

"Ini tempatnya," katanya, menunjuk sebuah warung makan di pojok. Bangunan sederhana, dinding setengah terbuka, atap seng, meja plastik dengan taplak kotak-kotak. Tidak mewah. Tapi lampu-lampu di dalam redup, hangat. Tidak terang seperti restoran cepat saji. Lebih intim.

Mereka turun dari mobil. Udara malam Jakarta menyambut—panas, lembap, bau knalpot bercampur aroma makanan dari puluhan warung di sekitar.

Yuni berdiri di trotoar, menatap warung itu.

"Kamu pernah ke sini?" tanya Budi.

"Tidak. Tapi sepertinya enak."

"Teman kantor yang rekomendasikan. Katanya bebek dan ayam gorengnya juara."

Mereka berjalan masuk. Seorang pelayan perempuan paruh baya menyambut, membawa mereka ke meja di pojok, dekat jendela tapi tidak terlalu kena angin malam. Meja untuk dua orang.

Mereka duduk berhadapan. Jarak tiga puluh sentimeter—lebar meja standar warung makan.

Tiga puluh sentimeter.

Tapi rasanya seperti jurang.

---

Yuni membaca menu. Tidak benar-benar membaca—huruf-hurufnya blur, otaknya tidak memproses. Ia hanya butuh sesuatu untuk dilihat selain wajah Budi.

Wajah yang masih familiar. Wajah yang sudah ia lihat dalam ribuan konteks—saat tersenyum, saat marah, saat tertidur di sofa sambil menonton film, saat berkeringat setelah main futsal, saat menatapnya dengan mata yang bilang "aku sayang kamu" tanpa perlu mengucapkan kata-kata.

Wajah yang sekarang terasa asing karena sudah tiga tahun ia tidak melihatnya dari jarak sedekat ini.

"Kamu mau pesan apa?" tanya Budi.

"Ayam goreng saja. Dan es teh."

"Oke. Aku juga sama."

Budi memanggil pelayan, memesan. Dua ayam goreng, dua nasi putih, dua es teh. Sederhana.

Pelayan pergi. Mereka berdua sendirian lagi.

Budi meletakkan tangannya di meja, lalu menariknya kembali, lalu meletakkan lagi di sisi piring. Gugup. Ia gugup. Yuni bisa melihat itu.

Entah kenapa, mengetahui Budi juga gugup membuat Yuni sedikit lebih tenang.

"Jadi," kata Budi, suaranya pelan, hati-hati, "sudah lama ya kita tidak ketemu."

Yuni tersenyum kecil. "Tiga tahun."

"Tiga tahun," ulang Budi, seolah mencoba merasakan angka itu di lidahnya. "Lama."

"Iya."

Hening.

Yuni mendengar suara dari dapur—wajan menggoreng, minyak mendesis, pisau memotong di atas talenan. Suara orang-orang di meja lain—keluarga dengan anak kecil, pasangan muda yang tertawa, sekelompok teman kantor yang ramai.

Tapi di meja mereka, hanya hening.

"Kenapa kamu like postingan saya?" tanya Budi tiba-tiba.

Yuni terkejut. Pertanyaan langsung. Tidak ada basa-basi lagi.

"Aku..." Ia berhenti. Kenapa ia like? "Aku melihatnya di beranda. Dan... entah. Aku setuju dengan kutipan itu."

"Tentang berubah?"

"Iya. Tentang... tidak mengenali diri sendiri lagi."

Budi mengangguk pelan. Matanya menatap Yuni—intens, tapi tidak menuduh. Hanya... ingin tahu.

"Kamu merasa seperti itu?" tanyanya.

Yuni menghela napas. "Kadang. Kamu?"

"Setiap hari."

Jujur. Terlalu jujur untuk menit kelima belas pertemuan mereka.

Makanan datang. Ayam goreng dengan bumbu kuning, nasi putih panas, lalapan, sambal. Es teh dengan es batu yang sudah setengah mencair. Pelayan meletakkan semuanya di meja, tersenyum, lalu pergi.

Mereka mulai makan. Ritual yang familiar—sendok, garpu, nasi, ayam. Mekanis.

Tapi setelah suap pertama, Yuni menyadari: ia lapar. Ia tidak makan siang tadi. Terlalu sibuk. Atau terlalu gugup tentang malam ini.

"Enak," katanya.

"Iya," jawab Budi. "Bumbunya pas."

Mereka makan dalam diam selama beberapa menit. Diam yang tidak sepenuhnya nyaman, tapi juga tidak sepenuhnya canggung. Suatu tempat di tengah.

Lalu Budi berkata, "Aku rindu ngobrol sama kamu."

Sendok Yuni berhenti di udara. Ia menatap Budi.

"Maksudku," Budi melanjutkan cepat, seolah takut ia salah bicara, "aku rindu ngobrol. Tentang apa saja. Tentang kerjaan, tentang film, tentang hal-hal kecil yang tidak penting. Kamu... kamu satu-satunya orang yang benar-benar mendengar aku."

Yuni meletakkan sendoknya pelan. "Dulu," katanya, suaranya lembut tapi tegas. "Dulu aku orang yang mendengar kamu."

Budi terdiam.

"Sekarang," lanjut Yuni, "kita bahkan tidak tahu lagi cerita hidup satu sama lain selama tiga tahun terakhir."

Budi mengangguk perlahan. "Kamu benar. Maaf. Aku... aku tidak bermaksud seolah-olah kita masih seperti dulu."

"Lalu kenapa kamu ajak aku ketemu?"

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut.

Budi tidak langsung menjawab. Ia menatap piringnya, ayam yang sudah setengah habis, nasi yang dingin.

"Karena aku melihat namamu," katanya akhirnya, "dan aku menyadari aku kangen. Aku kangen suaramu. Aku kangen caramu ketawa. Aku kangen caramu cerita tentang atasan kantor yang menyebalkan. Aku kangen... kamu."

Yuni merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Hangat. Sakit. Keduanya sekaligus.

"Itu tidak adil," bisiknya.

"Aku tahu."

"Kamu yang putuskan kita harus pisah. Kamu yang bilang kita butuh waktu sendiri-sendiri. Dan sekarang, tiga tahun kemudian, kamu bilang kamu kangen?"

Budi mendongak, menatap Yuni. Matanya... sedih. Benar-benar sedih.

"Aku tahu itu tidak adil," katanya. "Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak tahu apakah aku boleh nge-chat kamu. Aku tidak tahu apakah kamu akan marah. Aku tidak tahu apakah kamu sudah move on dan punya orang lain dan..."

"Aku tidak punya orang lain," potong Yuni.

Budi berhenti.

"Aku tidak punya orang lain," ulang Yuni, lebih pelan. "Sejak kamu, tidak ada orang lain."

Hening.

Hening yang berat, padat, penuh dengan hal-hal yang tidak dikatakan.

"Kenapa?" tanya Budi, suaranya hampir tidak terdengar.

Yuni tersenyum pahit. "Karena aku bodoh. Karena aku masih membandingkan setiap orang dengan kamu. Dan tidak ada yang... tidak ada yang sama."

Air mata mulai berkumpul di sudut matanya. Ia mengedipkan mata cepat, mengusapnya dengan ujung jari. Tidak menangis. Ia tidak akan menangis di sini.

Budi meraih tangannya—gerakan refleks, cepat. Tapi begitu tangannya menyentuh tangan Yuni, ia berhenti. Seolah tersengat.

Yuni menatap tangan mereka. Kulit Budi hangat. Familiar. Asing.

Perlahan, ia menarik tangannya.

"Maaf," kata Budi cepat.

"Tidak apa-apa," jawab Yuni. Tapi suaranya bergetar.

Mereka kembali makan. Tapi ayam goreng sekarang terasa hambar. Es teh terlalu manis. Ruangan terlalu panas meski AC menyala.

Yuni ingin pulang. Yuni ingin tetap di sini. Yuni tidak tahu apa yang ia inginkan.

---

Satu jam berlalu seperti sepuluh menit. Atau sepuluh tahun. Budi tidak bisa memutuskan.


Mereka bicara tentang hal-hal aman: pekerjaan, keluarga, teman-teman lama. Tidak menyentuh topik "kita". Tidak bicara tentang kenapa mereka putus. Tidak bicara tentang tiga tahun yang hilang.

Tapi di setiap jeda, di setiap keheningan di antara kalimat, pertanyaan itu ada: *Kenapa kita di sini?*

Makanan habis. Mereka pesan kopi. Kopi instan dalam gelas plastik, tapi hangat, pahit, membuat mereka terjaga.

"Kamu ingat waktu kita ke Ancol?" tanya Budi tiba-tiba. "Tahun... 2019, kalau tidak salah. Kita naik sepeda keliling, terus hujan."

Yuni tersenyum—senyum pertama yang genuinely mencapai matanya malam ini.

"Iya. Kita basah kuyup. Dan sepeda sewanya rusak."

"Gara-gara kamu kayuh terlalu kencang."

"Bohong. Kamu yang bawa sepeda ke got."

Mereka tertawa. Pelan. Tapi tawa yang asli.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—jarak tiga puluh sentimeter itu terasa lebih dekat.

"Aku kangen itu," kata Yuni pelan. "Aku kangen... santai. Seperti dulu."

"Aku juga."

Mereka menatap satu sama lain. Cahaya lampu redup membuat bayangan di wajah mereka, tapi mata mereka bertemu. Dan di mata itu, ada sesuatu yang tidak berubah.

Tapi juga ada sesuatu yang sudah hilang.

"Budi," kata Yuni, suaranya hati-hati, "kenapa kita putus?"

Pertanyaan yang sudah menggantung sejak awal malam. Akhirnya diucapkan.

Budi menghela napas panjang. "Karena aku takut."

"Takut apa?"

"Takut aku tidak cukup. Takut aku tidak bisa kasih kamu hidup yang kamu layak dapat. Waktu itu aku baru pindah kerja, gaji pas-pasan, utang masih banyak. Dan kamu... kamu sudah stabil. Aku merasa aku hanya menahan kamu."

Yuni menggeleng. "Aku tidak pernah merasa seperti itu."

"Aku tahu. Tapi aku yang merasa seperti itu. Dan aku pikir... aku pikir kalau aku lepas kamu, kamu bisa cari orang yang lebih baik."

"Tapi aku tidak mau orang yang lebih baik. Aku mau kamu."

Suara Yuni retak di kata terakhir.

Budi menutup matanya. "Aku tahu. Aku tahu sekarang. Tapi waktu itu aku terlalu bodoh untuk mengerti."

"Dan sekarang?" tanya Yuni. "Sekarang kamu sudah tidak takut?"

Budi membuka matanya. "Sekarang aku takut hal lain."

"Apa?"

"Takut kalau ini cuma nostalgia. Takut kalau kita kangen bukan karena kita masih saling cinta, tapi karena kita kangen masa lalu. Takut kalau kita coba lagi dan ternyata kita sudah berubah terlalu banyak."

Yuni diam lama.

Lalu ia berkata, "Aku juga takut itu."

Dan di situlah mereka terdampar—dua orang yang masih punya perasaan, tapi tidak yakin perasaan itu cukup.

---

Pukul sembilan malam, mereka keluar dari warung.


Udara Jakarta malam lebih dingin dari sore, tapi masih lembap. Langit gelap, tidak ada bintang—hanya cahaya gedung-gedung dan lampu jalan.

Mereka berjalan ke mobil dalam diam. Budi membuka pintu untuk Yuni. Ia masuk. Budi masuk.

Mesin menyala. AC menyala. Radio menyala—lagu slow, instrumental, tidak ada lirik.

"Aku antar kamu pulang," kata Budi.

Yuni mengangguk.

Perjalanan dari Tanjung Duren ke Tomang tidak jauh. Lima belas menit tanpa macet. Malam ini jalanan lebih lengang.

Mereka tidak bicara. Hanya duduk, menatap jalan, mendengar musik yang tidak mereka dengar.

Yuni melirik Budi dari sudut mata. Tangannya di setir, tidak mengetuk lagi. Wajahnya tenang, tapi ada garis kecil di antara alisnya—tanda ia sedang berpikir keras.

Ia ingin bilang sesuatu. Ia ingin bilang: *Aku masih cinta sama kamu.*

Tapi ia takut. Takut kalau ia bilang itu, Budi akan bilang hal yang sama, dan besok mereka akan menyesalnya. Takut ini hanya malam yang membuat segalanya terasa lebih intens dari seharusnya. Takut besok pagi, ketika matahari terbit dan kehidupan normal kembali, perasaan ini akan menguap seperti kabut.

Mereka tiba di depan kontrakan Yuni. Gang kecil di Tomang, rumah-rumah rapat berdempetan, motor parkir di trotoar, warung kecil di ujung gang yang masih buka.

Budi mematikan mesin. Tapi tidak membuka pintu.

Mereka duduk dalam keheningan. Hanya suara AC yang perlahan mati, desisan terakhir udara dingin.

"Terima kasih untuk malam ini," kata Yuni akhirnya.

"Terima kasih sudah mau datang," jawab Budi.

Formal. Terlalu formal.

Yuni membuka sabuk pengaman. Tangannya sudah di pegangan pintu. Tapi ia tidak membukanya.

"Budi," katanya tanpa menoleh, "kalau... kalau aku like postingan kamu lagi, kamu akan ajak aku ketemu lagi?"

Pertanyaan yang sama seperti di outline. Tapi sekarang, setelah tiga jam bersama, pertanyaan itu terasa berbeda. Lebih berat.

Budi terdiam. Lalu ia berkata, pelan, "Iya."

"Kalau aku tidak like?"

"Aku akan mengerti."

Yuni mengangguk perlahan. "Oke."

Ia membuka pintu, kaki sudah menyentuh aspal. Udara malam masuk—bau gorengan dari warung, bau knalpot, bau Jakarta.

Tapi sebelum keluar sepenuhnya, ia berhenti. Menoleh kembali.

"Hati-hati di jalan," katanya.

"Kamu juga. Maksudku... istirahat yang cukup."

Yuni tersenyum—senyum kecil, sedih. "Kamu juga."

Ia turun. Menutup pintu. Berdiri di trotoar sebentar, tas di bahu, menatap mobil.

Budi menatap balik dari balik kaca.

Tiga puluh sentimeter tadi di restoran. Sekarang dua meter. Besok mungkin dua kilometer. Atau dua ratus kilometer. Atau tidak akan pernah bertemu lagi.

Yuni berbalik, mulai berjalan ke gang.

Budi tidak menyalakan mesin. Ia menunggu sampai Yuni masuk ke gang, sampai siluetnya hilang di balik tembok kontrakan.

Baru ia menghela napas panjang, meletakkan kepala di setir.

"Bodoh," bisiknya pada dirinya sendiri. "Bodoh."

Tapi ia tidak tahu ia menyesali apa—mengajak Yuni ketemu, atau membiarkannya pergi lagi.

---

Yuni berbaring di kasur, menatang langit-langit kamarnya.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Ibunya sudah tidur. Rumah sunyi, hanya suara sesekali motor lewat di gang.

Telepon genggam di tangannya. Layar menyala, menampilkan profil Facebook Budi.

Ia sudah scroll ke bawah, melihat postingan-postingan lama. Foto-foto. Status. Tidak ada yang terlalu personal. Hanya curhatan tentang pekerjaan, quote-quote motivasi, foto makanan, foto pemandangan.

Tidak ada foto orang lain. Tidak ada foto perempuan. Tidak ada status yang mengindikasikan ia punya seseorang.

Tapi itu tidak berarti apa-apa. Budi tidak pernah suka posting tentang kehidupan pribadinya. Bahkan dulu, ketika mereka masih bersama, ia jarang posting foto mereka berdua.

Jari Yuni hover di atas postingan terbaru Budi—postingan yang ia like kemarin malam, yang memulai semua ini.

Ia bisa like postingan lainnya. Itu akan jadi sinyal. Sinyal bahwa ia mau bertemu lagi. Sinyal bahwa pintu masih terbuka.

Tapi ia tidak yakin ia mau membuka pintu itu.

Karena membuka pintu berarti mengambil risiko terluka lagi. Berarti mungkin akan ada pertemuan kedua, ketiga, keempat—sampai akhirnya salah satu dari mereka menyadari ini tidak akan berhasil, dan harus melepaskan lagi. Dan melepaskan untuk kedua kalinya selalu lebih sakit dari yang pertama.

Atau mungkin mereka akan berhasil. Mungkin mereka akan kembali bersama, perlahan, hati-hati, membangun sesuatu yang baru dari reruntuhan yang lama.

Tapi mungkin juga tidak.

Dan tidak tahu itu yang paling menakutkan.

Yuni lock teleponnya. Meletakkan di meja samping tempat tidur, layar menghadap ke bawah.

Ia menutup mata, mencoba tidur.

Tapi yang ia lihat di balik kelopak mata adalah wajah Budi. Cara ia menatapnya di restoran. Cara tangannya hampir menyentuh tangannya. Cara ia bilang "aku kangen kamu" dengan suara yang retak di ujung.

Dan Yuni menyadari: ia juga kangen.

Tapi kangen itu cukup?

---

Budi duduk di balkon apartemennya—apartemen kecil satu kamar di kawasan Kemanggisan yang ia sewa sendirian sejak dua tahun lalu.

Ia merokok. Kebiasaan buruk yang ia ambil setelah putus dengan Yuni. Sebelumnya ia tidak pernah merokok. Tapi setelah itu, ia butuh sesuatu untuk mengisi kekosongan. Rokok terasa seperti pilihan yang tidak merusak seperti alkohol.

Tapi malam ini rokoknya tidak tersentuh. Hanya duduk di tangan, abu memanjang, bara mati perlahan.

Telepon genggam di tangannya yang lain. Chat dengan Yuni terbuka. Percakapan terakhir mereka:

**Budi:** Aku sudah sampai rumah. Terima kasih untuk malam ini.

**Yuni:** Sama-sama. Hati-hati istirahat.

Dua belas kata. Tidak lebih. Tidak ada yang mengatakan apa yang sebenarnya ingin mereka katakan.

Jari Budi mulai mengetik.

**"Aku senang bisa ketemu kamu lagi."**

Delete.

**"Apa kita bisa ketemu lagi minggu depan?"**

Delete.

**"Aku masih—"**

Delete.

Ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Atau ia tahu, tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa terdengar desperate, tanpa terdengar seperti ia tidak move on, tanpa terdengar seperti ia masih berharap pada sesuatu yang mungkin sudah tidak ada lagi.

Tiga tahun. Tiga tahun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa memutuskan Yuni adalah keputusan yang benar. Bahwa ia melakukannya untuk kebaikan mereka berdua. Bahwa Yuni layak dapat seseorang yang lebih baik, lebih stabil, lebih... cukup.

Tapi sekarang, duduk di balkon dengan rokok mati di tangan dan hati yang terasa kosong, ia bertanya: siapa yang ia bohongi waktu itu? Yuni atau dirinya sendiri?

Ia menutup chat. Membuka Facebook. Scroll ke profil Yuni.

Foto profilnya masih sama. Kota Tua. Topi jerami. Senyum yang membuat matanya menyipit.

Ia ingat hari itu. Minggu pagi, mereka bangun pagi sekali—hal yang jarang mereka lakukan karena weekend biasanya untuk tidur sampai siang. Tapi hari itu Yuni ingin ke Kota Tua, bilang ia belum pernah ke sana meski sudah tinggal di Jakarta bertahun-tahun.

Mereka naik KRL, jalan kaki dari stasiun, mampir kafe murah untuk sarapan. Cuaca cerah, tidak terlalu panas. Yuni memakai dress putih dengan bunga-bunga kecil, topi jerami yang ia beli di toko aksesoris pinggir jalan.

"Foto aku," katanya, berdiri di depan gedung tua dengan cat yang mengelupas.

Budi memotret. Satu kali. Dua kali. Sepuluh kali. Karena Yuni tidak puas dengan hasilnya, terus bilang, "Sekali lagi, yang ini aku keliatan gendut," atau "Yang ini kepala aku kepotong."

Akhirnya mereka dapat yang pas. Foto yang sekarang jadi foto profil Yuni.

Dan Budi tersenyum ketika melihat foto itu. Bukan senyum sedih. Tapi senyum... hangat. Kenangan yang tidak menyakitkan, hanya manis.

Tapi lalu ia ingat: mereka putus tiga bulan setelah hari itu.

Dan senyumnya pudar.

Ia lock telepon. Meletakkan di lantai balkon. Menatap langit Jakarta—gelap, tidak ada bintang, hanya cahaya polusi.

"Aku kangen kamu," bisiknya ke kekosongan. "Tapi aku tidak tahu apakah itu cukup."

Angin malam bertiup, membawa abu rokok yang sudah mati.

---

Keesokan harinya adalah hari biasa.


Yuni bangun jam enam, mandi, sarapan nasi goreng sisa semalam yang ia panaskan di microwave, naik angkot ke kantor. Macet seperti biasa. Panas seperti biasa. Kantor seperti biasa.

Tapi ada yang berbeda.

Setiap kali telepon genggamnya bergetar—notifikasi email, notifikasi grup kantor, notifikasi apapun—jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Mengharapkan nama Budi muncul di layar.

Tapi tidak pernah.

Jam makan siang, ia duduk sendirian di pantry kantor, makan nasi kotak sambil scroll telepon. Buka Facebook. Profil Budi tidak ada update baru.

Ia membuka postingan lama—postingan tentang perubahan, postingan yang ia like kemarin lusa.

Sudah tujuh puluh tiga orang yang like sekarang. Tapi namanya masih di sana, di antara daftar panjang itu.

Jarinya hover di atas postingan terbaru Budi. Foto cangkir kopi di atas meja kayu, caption: "Senin lagi."

Postingan membosankan. Postingan yang tidak berarti apa-apa.

Tapi kalau ia like, itu berarti sesuatu.

Ia tidak like.

Ia lock telepon. Makan nasi kotak yang sudah dingin. Kembali kerja.

---

Budi juga bekerja seperti biasa.

Meeting jam sembilan. Review proposal jam sebelas. Makan siang di meja sambil cek email. Meeting lagi jam dua. Pulang jam enam.

Rutinitas yang sama. Tapi pikirannya di tempat lain.

Ia cek telepon terlalu sering. Setiap jam. Setiap tiga puluh menit. Setiap lima belas menit.

Tidak ada pesan dari Yuni.

Tidak ada like di postingannya.

Tidak ada sinyal apapun.

Dan ia tidak tahu apakah itu berarti Yuni tidak tertarik, atau Yuni sama takutnya seperti ia.

Sore hari, ia duduk di mobil setelah pulang kantor. Macet di Jalan S Parman lagi—tempat yang sama seperti kemarin, ketika ia menjemput Yuni.

Tapi hari ini ia sendirian.

Dan mobil terasa lebih besar. Lebih kosong.

Ia meraih telepon. Membuka chat dengan Yuni. Mengetik.

**"Hai. Apa kabar?"**

Jempolnya di atas tombol send.

Tapi ia tidak send.

Karena kalau ia send sekarang, itu terlihat seperti ia terlalu eager. Seperti ia tidak bisa menunggu. Seperti ia desperate.

Dan ia tidak mau terlihat desperate.

Meski ia memang desperate.

Ia delete pesan. Lock telepon. Melempar telepon ke kursi penumpang.

"Bodoh," katanya lagi. "Bodoh."

---

Hari-hari berlalu.


Kamis. Jumat. Sabtu.

Tidak ada kontak.

Yuni membuka Facebook setiap malam, melihat profil Budi. Tidak ada postingan baru. Terakhir posting tentang kopi hari Rabu. Sekarang sudah Sabtu.

Mungkin ia sibuk. Mungkin ia sedang piknik akhir pekan. Mungkin ia sedang dengan orang lain.

Atau mungkin ia, seperti Yuni, hanya duduk di kamar, menatap telepon, bertanya-tanya apakah ia harus reach out duluan atau menunggu.

Minggu sore, Yuni duduk di teras rumah kontrakan. Ibunya sedang memasak di dapur, aroma rendang memenuhi udara. Tetangga sebelah menonton televisi keras-keras—sinetron sore yang ramai dengan teriakan dramatis.

Yuni membuka Facebook. Scroll. Berhenti di postingan Budi.

Kopi. Senin lagi.

Jarinya hover di atas tombol like.

Hanya satu klik. Satu gerakan jempol.

Dan itu akan jadi sinyal. Sinyal bahwa ia mau lanjut. Sinyal bahwa ia masih... apa? Tertarik? Peduli? Cinta?

Atau hanya kangen?

Ia tidak jadi like.

---

Budi duduk di balkon apartemennya lagi. Minggu malam. Besok Senin—minggu baru, rutinitas baru, hari-hari yang sama seperti minggu lalu dan minggu sebelumnya.

Ia membuka chat dengan Yuni. Masih stuck di pesan terakhir mereka Rabu malam lalu.

**Yuni:** Sama-sama. Hati-hati istirahat.

Empat hari. Sudah empat hari.

Dan tidak ada follow up.

Mungkin itu jawaban. Mungkin diam adalah cara Yuni bilang: malam itu menyenangkan, tapi itu cukup. Kita tidak perlu lanjut. Kita bisa simpan itu sebagai kenangan manis dan lanjut hidup kita masing-masing.

Mungkin itu yang terbaik.

Tapi kenapa terasa sangat salah?

Jarinya mengetik lagi—kebiasaan buruk yang sudah dilakukan puluhan kali minggu ini.

**"Aku kangen kamu."**

Tiga kata. Sederhana. Jujur.

Tapi terlalu jujur. Terlalu telanjang. Terlalu berisiko.

Ia delete lagi.

Lalu ia menulis yang lain:

**"Kalau kamu mau ngopi lagi, aku selalu available."**

Lebih casual. Lebih aman. Memberi Yuni pilihan tanpa pressure.

Jempolnya di atas tombol send.

Lima detik. Sepuluh detik. Tiga puluh detik.

Ia tidak send.

Ia delete lagi.

Menutup chat. Meletakkan telepon di lantai.

"Kalau dia mau ketemu, dia akan reach out," katanya pada dirinya sendiri. "Kalau dia tidak reach out, berarti dia tidak mau."

Logika yang sederhana.

Tapi hati tidak bekerja dengan logika.

---

Minggu malam, Yuni tidak bisa tidur.


Ia berbaring di kasur, menatap langit-langit, mendengar suara ibunya mendengkur pelan di kamar sebelah.

Jam dua belas lewat tiga puluh. Lewat satu. Lewat dua.

Ia ambil telepon. Buka Facebook. Profil Budi.

Postingan terakhir masih tentang kopi.

Tidak ada yang baru. Tidak ada yang berubah.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Yuni.

Atau mungkin tidak berubah—mungkin hanya lebih jelas sekarang, setelah empat hari diam, setelah empat hari menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Ia masih kangen Budi.

Tapi kangen itu sendiri tidak cukup untuk membangun sesuatu. Kangen adalah emosi pasif. Kangen adalah menatap belakang. Dan hubungan butuh gerak maju.

Ia tidak like postingan Budi.

Tapi ia juga tidak close aplikasi.

Ia hanya menatap layar, jempol di atas tombol like, jantung berdetak terlalu keras untuk jam dua pagi.

Dan ia bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya ia inginkan?

Ia ingin Budi. Itu jelas.

Tapi apakah ia ingin Budi yang sekarang, atau Budi yang dulu?

Apakah ia ingin membangun sesuatu yang baru, atau ia hanya ingin kembali ke masa lalu?

Dan apakah Budi ingin hal yang sama?

Pertanyaan tanpa jawaban.

Ia lock telepon. Meletakkan di meja samping tempat tidur.

Menutup mata.

Mencoba tidur.

Tapi tidur tidak datang.

---

Senin pagi, Budi bangun jam lima.


Tidak bisa tidur nyenyak. Mimpi-mimpi aneh tentang hal-hal yang tidak masuk akal—Yuni ada di mimpinya, tapi wajahnya blur, suaranya jauh, dan setiap kali ia mencoba mendekati, jaraknya semakin jauh.

Ia mandi, sarapan seadanya—roti tawar dengan selai kacang, kopi instan. Bersiap kerja.

Di mobil, macet seperti biasa. Senin pagi adalah hari terburuk untuk lalu lintas Jakarta. Semua orang kembali dari weekend, kembali ke rutinitas, kembali ke kehidupan yang membosankan tapi familiar.

Teleponnya berbunyi.

Pesan masuk.

Jantungnya melompat.

Ia ambil telepon—tidak peduli seharusnya tidak pegang telepon saat nyetir, tidak peduli macet berarti mobil tidak bergerak.

Tapi bukan dari Yuni.

Dari teman kantor. Tanya tentang file meeting hari ini.

Ia balas singkat. Meletakkan telepon di dashboard.

Menghela napas panjang.

"Ini bodoh," katanya pada dirinya sendiri. "Ini sangat bodoh."

Tapi ia tidak bisa berhenti berharap.

---

Selasa. Rabu. Kamis.

Minggu kedua sejak pertemuan mereka.

Masih tidak ada kontak.

Yuni mulai menerima: mungkin memang seperti ini. Mungkin pertemuan itu adalah closure yang mereka butuhkan. Momen untuk sadar bahwa apa yang mereka punya dulu sudah berlalu, dan mencoba menghidupkannya kembali hanya akan menyakiti mereka berdua.

Mungkin diam adalah jawaban terbaik.

Tapi di malam-malam sepi, ketika ia berbaring sendirian di kasur, ia masih membuka profil Budi. Masih melihat foto-foto lama. Masih mengingat cara ia tertawa, cara ia bicara, cara ia menatapnya seolah ia adalah satu-satunya orang di dunia.

Dan ia bertanya: apakah melepaskan itu berarti melupakan?

Atau apakah ia bisa mengingat dengan lembut, tanpa sakit, tanpa berharap?

Ia tidak tahu.

---

Jumat malam, minggu kedua.


Budi duduk di bar kecil dekat apartemennya. Sendirian. Memesan bir—satu gelas, tidak lebih. Ia bukan peminum berat. Hanya butuh keluar dari apartemen yang terlalu sunyi.

Di sebelahnya, pasangan muda tertawa. Perempuan menyandarkan kepala di bahu laki-laki. Laki-laki mengusap rambut perempuan dengan lembut.

Budi memalingkan wajah.

Teleponnya di atas meja bar, layar menghadap ke bawah. Ia tidak mau cek lagi. Sudah cek sejuta kali minggu ini. Tidak ada gunanya.

Tapi kemudian telepon bergetar.

Notifikasi.

Ia ambil telepon. Buka.

Facebook. Seseorang menyukai postingan Anda.

Jantungnya berdetak cepat.

Tapi bukan Yuni. Hanya teman kantor yang like postingan lama tentang coffee shop rekomendasi.

Ia meletakkan telepon lagi. Minum birnya. Pahit. Dingin.

"Sudah waktunya move on," bisiknya pada dirinya sendiri.

Tapi hati tidak mendengar.

---

Sabtu pagi, Yuni pergi ke pasar dengan ibunya.

Pasar Tomang, ramai dengan ibu-ibu membeli sayur, daging, ikan. Bau ikan segar bercampur bau sampah, panas, hiruk pikuk pedagang menawarkan harga, pembeli menawar.

Yuni membawa kantong belanja, mengikuti ibunya dari kios ke kios. Pikirannya melayang.

"Kamu kenapa akhir-akhir ini?" tanya ibunya tiba-tiba. "Sering melamun."

Yuni tersenyum—senyum yang tidak sampai mata. "Tidak kenapa-kenapa, Bu. Cuma capek kerja."

Ibunya menatapnya—tatapan ibu yang tahu anaknya berbohong tapi tidak mau mendesak.

"Kalau ada masalah, cerita sama Ibu," katanya pelan.

Yuni mengangguk. "Iya, Bu."

Tapi ia tidak cerita. Karena bagaimana ia bisa jelaskan? Bagaimana ia bisa bilang: aku ketemu mantan aku minggu lalu, dan sekarang aku tidak tahu apakah aku harus reach out atau membiarkannya pergi lagi?

Ibunya tidak akan mengerti. Atau mungkin ibunya akan mengerti terlalu baik—dan itu yang Yuni takutkan.

Mereka pulang dengan kantong belanja penuh. Yuni masak makan siang—tumis kangkung, ayam goreng sederhana, sambal terasi. Rutinitas Sabtu yang tidak pernah berubah.

Setelah makan, ia duduk di teras. Panas sore membuat kepalanya pusing. Atau mungkin bukan panas—mungkin hanya pikiran yang terlalu penuh.

Ia ambil telepon. Buka Facebook.

Profil Budi.

Masih tidak ada postingan baru sejak Senin lalu.

Jarinya scroll turun. Melihat postingan-postingan lama. Foto. Status. Quote.

Lalu ia berhenti di satu postingan. Postingan dari dua minggu lalu—sebelum mereka ketemu.

Foto sunset dari jendela apartemen. Caption sederhana: "Kadang yang kita cari ada di tempat yang sama dengan yang kita tinggalkan."

Yuni menatap caption itu lama.

*Kadang yang kita cari ada di tempat yang sama dengan yang kita tinggalkan.*

Apakah itu tentang dia? Atau ia hanya paranoid, mengartikan setiap kata seolah itu pesan tersembunyi untuknya?

Jarinya hover di atas tombol like.

Tapi kemudian ia ingat: ini postingan lama. Dua minggu lalu. Sebelum mereka ketemu. Kalau ia like sekarang, Budi akan tahu ia stalking profil-nya.

Ia tidak like.

Tapi ia screenshot postingan itu. Menyimpannya di galeri telepon.

Entah kenapa.

---

Minggu malam, Budi tidak bisa lagi menahan diri.


Tiga minggu sejak pertemuan mereka. Tiga minggu diam yang membunuhnya perlahan.

Ia harus tahu. Ia harus tahu apakah ada kemungkinan, atau apakah ia hanya membuang waktu berharap pada sesuatu yang sudah mati.

Ia buka chat dengan Yuni. Jari bergetar sedikit di atas keyboard.

Kali ini ia tidak mengetik panjang. Tidak mengetik hal yang complicated.

Hanya:

**"Hai."**

Satu kata. Sederhana. Pintu yang terbuka sedikit, memberi Yuni pilihan untuk masuk atau menutupnya.

Ia menekan send sebelum sempat berubah pikiran.

Pesan terkirim.

Status berubah: Dibaca.

Jantungnya berdetak keras.

*Typing...*

Yuni sedang mengetik.

Budi menatap layar, napas tertahan.

Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tiga puluh detik.

*Typing...* masih muncul.

Lalu menghilang.

Lalu muncul lagi.

Lalu menghilang.

Lalu pesan masuk:

**"Hai."**

Satu kata. Sama seperti Budi.

Budi menatap layar. Lalu ia tersenyum—senyum kecil, pahit, tapi ada kehangatan di sana.

Karena "Hai" adalah jawaban. Bukan "Ya", bukan "Tidak". Tapi "Mungkin".

Dan "Mungkin" lebih baik dari "Tidak".

Ia mengetik lagi:

**"Apa kabar?"**

Kirim.

Yuni membalas tiga menit kemudian:

**"Baik. Kamu?"**

**"Baik juga."**

Percakapan paling basic di dunia. Tapi entah kenapa, terasa sangat penting.

Mereka chat sampai tengah malam. Tentang pekerjaan. Tentang cuaca. Tentang film yang baru ditonton. Hal-hal kecil. Hal-hal tidak penting.

Tapi di antara kata-kata itu, ada sesuatu yang lebih—subtext yang tidak diucapkan.

*Aku kangen kamu.*

*Aku juga kangen kamu.*

*Tapi aku tidak tahu harus bagaimana.*

*Aku juga tidak tahu.*

*Tapi mungkin kita bisa coba pelan-pelan.*

*Mungkin.*

Tidak ada yang mengucapkan itu dengan jelas. Tapi keduanya merasakan.

Pukul satu pagi, Yuni mengetik:

**"Aku harus tidur. Besok kerja."**

**"Oke. Selamat tidur."**

**"Kamu juga."**

Lalu setelah satu menit, Yuni menambahkan:

**"Terima kasih sudah chat."**

Budi tersenyum.

**"Terima kasih sudah balas."**

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, Budi tidur dengan perasaan sedikit lebih ringan.

---

Tidak ada ending yang pasti.


Tidak ada resolusi besar, tidak ada konfesi dramatis, tidak ada pelukan di bawah hujan.

Hanya chat sporadis. Kadang setiap hari. Kadang dua hari sekali. Kadang seminggu tidak ada kontak, lalu tiba-tiba Yuni kirim meme lucu, atau Budi kirim foto makanan dengan caption, "Inget kamu suka ini."

Mereka tidak ketemu lagi—belum. Mungkin akan. Mungkin tidak.

Mereka tidak bilang "Aku cinta kamu" atau "Ayo kita coba lagi."

Mereka hanya... ada. Di pinggiran kehidupan satu sama lain. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Dan mungkin itu cukup. Untuk sekarang.

Atau mungkin tidak.

Atau mungkin suatu hari, salah satu dari mereka akan brave enough untuk bilang: "Aku masih kangen. Apa kamu juga?"

Dan yang lain akan jawab: "Iya. Aku juga."

Dan mereka akan coba lagi—pelan, hati-hati, takut-takut. Membangun sesuatu dari reruntuhan yang lama.

Atau mungkin mereka tidak akan pernah coba lagi. Mungkin mereka akan tetap seperti ini—dua orang yang pernah sangat dekat, sekarang hanya teman jauh yang sesekali chat, sesekali ingat, sesekali rindu.

Tidak ada yang tahu.

Bahkan mereka sendiri tidak tahu.

Tapi malam ini, ketika Yuni berbaring di kasurnya, menatap layar telepon dengan chat dari Budi—"Selamat tidur. Mimpi indah."—ia tersenyum.

Dan di apartemennya, ketika Budi menatap chat yang sama, ia juga tersenyum.

Bukan senyum bahagia. Bukan senyum sedih.

Hanya senyum seseorang yang masih berharap—meski tidak tahu pada apa.

---

Dua bulan kemudian, Yuni sedang makan siang di pantry kantor ketika teleponnya bergetar.

Pesan dari Budi.

**"Kamu ingat tempat kita makan waktu itu? Yang di Tanjung Duren?"**

Yuni menatap pesan itu. Tentu ia ingat. Ia ingat setiap detail malam itu—lampu redup, ayam goreng dengan bumbu kuning, jarak tiga puluh sentimeter di antara mereka yang terasa seperti jurang.

Ia mengetik:

**"Ingat. Kenapa?"**

**"Aku mau ke sana lagi. Tapi kalau sendirian rasanya aneh."**

Jeda panjang. Lalu:

**"Mau ikut?"**

Yuni menatap pesan itu lima menit penuh.

Teman kantornya lewat, bertanya, "Kenapa bengong? Ada apa?"

"Tidak ada," jawab Yuni cepat, meletakkan telepon layar menghadap ke bawah.

Tapi setelah temannya pergi, ia ambil telepon lagi.

Jarinya mengetik:

**"Kapan?"**

**"Jumat malam?"**

**"..."**

Yuni menatap keyboard. Jempol hover di atas huruf.

Ini bukan pertama kalinya. Ini sudah kedua kali. Dan kalau ia bilang ya, mungkin akan ada ketiga kali. Keempat. Kelima.

Dan pada titik mana "ketemu kadang-kadang" berubah jadi sesuatu yang lebih?

Atau mungkin tidak akan pernah berubah. Mungkin mereka akan stuck di limbo ini selamanya—terlalu dekat untuk move on, terlalu takut untuk commit.

Tapi ia juga tahu: kalau ia bilang tidak, ia akan menyesal. Ia akan berbaring di kasur malam Jumat, menatap langit-langit, bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau ia bilang ya.

Dan penyesalan selalu lebih berat dari ketakutan.

Ia mengetik:

**"Oke. Jam berapa?"**

---

Jumat malam, mereka bertemu lagi.


Di tempat yang sama. Restoran bebek dan ayam dengan lampu redup, meja plastik dengan taplak kotak-kotak.

Tapi kali ini berbeda.

Kali ini, mereka tidak canggung. Kali ini, mereka tertawa lebih mudah. Kali ini, ketika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil sambal, tidak ada yang menarik tangan dengan terburu-buru.

Mereka bicara tentang hal-hal yang lebih dalam—tentang mimpi yang belum tercapai, tentang penyesalan, tentang apa yang mereka inginkan di lima tahun ke depan.

"Aku mau punya rumah sendiri," kata Yuni. "Tidak perlu besar. Cukup dua kamar. Satu untuk aku, satu untuk Ibu. Dan punya taman kecil di belakang."

Budi mengangguk. "Itu bagus. Itu... itu impian yang baik."

"Kamu?" tanya Yuni.

Budi berpikir. "Aku mau... aku mau merasa cukup."

"Cukup gimana?"

"Cukup untuk diri sendiri. Cukup untuk orang yang aku sayangi. Cukup untuk tidak merasa aku selalu kurang."

Yuni menatap Budi. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat—benar-benar melihat—luka yang membuat Budi melepaskannya tiga tahun lalu.

Bukan karena ia tidak cinta. Tapi karena ia tidak cinta pada dirinya sendiri.

Dan ia tidak tahu apakah itu sudah berubah. Tapi setidaknya, sekarang Budi sadar.

"Kamu sudah cukup," kata Yuni pelan. "Kamu selalu cukup."

Budi tersenyum—senyum sedih. "Aku harap aku bisa percaya itu."

Mereka makan dalam diam yang nyaman. Bukan diam yang canggung seperti pertemuan pertama. Tapi diam yang familiar.

Setelah selesai, mereka duduk dengan secangkir kopi masing-masing—kopi yang tidak enak, terlalu manis, tapi hangat.

"Budi," kata Yuni tiba-tiba, "apa yang kita lakukan ini?"

Budi menatapnya. "Maksudmu?"

"Ini. Kita. Ketemu begini. Chat kadang-kadang. Apa... apa ini ada artinya? Atau kita cuma... nostalgia?"

Pertanyaan yang sudah menggantung sejak pertemuan pertama. Akhirnya diucapkan lagi. Tapi kali ini dengan nada berbeda—bukan menuduh, hanya ingin tahu.

Budi menghela napas panjang. "Aku tidak tahu. Jujur, aku tidak tahu. Tapi aku tahu ini: aku senang waktu aku sama kamu. Dan aku tidak mau berhenti senang."

"Tapi senang itu cukup?"

"Aku tidak tahu. Mungkin tidak. Mungkin kita butuh lebih dari sekadar senang. Tapi... apa salahnya mulai dari senang dulu?"

Yuni menatap kopi di tangannya. Uap masih mengepul meski sudah agak dingin.

"Aku takut," katanya pelan.

"Aku juga."

"Aku takut kalau kita coba lagi dan ternyata sama seperti dulu. Atau lebih buruk."

"Aku juga takut itu."

"Tapi aku juga takut kalau aku tidak coba dan selamanya bertanya-tanya 'bagaimana kalau'."

Budi mengangguk. "Aku juga."

Mereka diam lama.

Lalu Budi berkata, "Bagaimana kalau kita tidak pakai label dulu? Kita tidak bilang 'kita pacaran' atau 'kita balikan'. Kita cuma... kita. Ketemu kalau mau ketemu. Chat kalau mau chat. Tidak ada tekanan. Tidak ada ekspektasi. Cuma... lihat aja nanti gimana."

Yuni mempertimbangkan. Itu bukan jawaban yang ia mau. Ia mau kepastian. Ia mau tahu: apakah mereka akan berhasil atau tidak? Apakah ini akan jadi sesuatu atau tidak?

Tapi hidup tidak pernah memberikan jawaban sebelum pertanyaannya dijalani.

"Oke," katanya akhirnya. "Kita coba pelan-pelan."

"Pelan-pelan," ulang Budi.

Dan mereka saling tersenyum—senyum yang tidak menjanjikan apa-apa, tapi juga tidak menutup kemungkinan.

---

Mereka tidak jadian malam itu.


Mereka tidak berjanji untuk bertemu minggu depan.

Mereka hanya pulang—Budi mengantar Yuni seperti terakhir kali, berhenti di depan gang kontrakan, mengucapkan selamat malam dengan canggung tapi lebih hangat dari sebelumnya.

Dan kali ini, ketika Yuni turun dari mobil, ia tidak langsung jalan.

Ia berhenti. Menoleh.

"Terima kasih," katanya.

"Untuk apa?"

"Untuk... tidak menyerah pada kita. Meski kita tidak tahu ini mau ke mana."

Budi tersenyum. "Terima kasih juga. Untuk kesempatan kedua. Atau... kesempatan yang tidak jelas ini."

Yuni tertawa kecil. "Sampai nanti."

"Sampai nanti."

Ia jalan ke gang. Kali ini ia menoleh sekali sebelum hilang di balik tembok.

Dan Budi melambai—lambai kecil, canggung.

Tapi ada kehangatan di sana.

---

Kehidupan berlanjut.


Yuni masih bekerja, pulang ke rumah kontrakan, masak untuk ibunya, rutinitas yang tidak berubah.

Budi masih di apartemennya, kerja di startup, pulang larut, duduk di balkon sambil merokok atau tidak merokok, bergantung mood.

Tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda.

Ada chat yang masuk kadang-kadang. Kadang setiap hari. Kadang seminggu sekali. Kadang cuma meme lucu. Kadang percakapan panjang sampai tengah malam.

Ada janji ketemu yang tidak selalu terealisasi—"Ayo ketemu minggu ini," lalu tiba-tiba ada lembur, ada urusan keluarga, ada alasan lain. Tapi tidak apa-apa. Karena tidak ada tekanan.

Ada momen-momen kecil—Budi tiba-tiba kirim foto sunset dari jendela apartemennya dengan caption "Kamu suka sunset kan?" atau Yuni kirim foto makanan dengan caption "Aku masak rendang. Aku ingat kamu suka."

Tidak ada yang besar. Tidak ada yang dramatis.

Tapi ada.

Dan "ada" itu berarti sesuatu.

---

Enam bulan kemudian, mereka sedang makan di warung yang sama—ketiga kalinya mereka ke sana.

Sudah jadi tempat mereka sekarang. Bukan tempat khusus. Tapi tempat yang familiar.

"Kamu tahu," kata Yuni sambil mengaduk es teh, "aku sudah tidak takut lagi."

Budi menoleh. "Takut apa?"

"Takut ini tidak berhasil. Takut kita cuma buang waktu. Takut... semua yang aku takutkan dulu."

"Kenapa?"

Yuni berpikir sebentar. "Karena aku sadar: meski ini tidak berhasil, aku tidak akan menyesal. Karena setidaknya aku coba. Dan aku senang. Dan... itu cukup."

Budi tersenyum—senyum yang mencapai matanya kali ini.

"Aku juga sudah tidak takut," katanya.

"Kenapa?"

"Karena aku sadar: aku tidak perlu jadi orang yang sempurna untuk layak dicintai. Aku cukup jadi diriku. Dan kalau kamu mau terima aku apa adanya, itu... itu lebih dari cukup."

Yuni meraih tangan Budi di atas meja.

Kali ini ia tidak menarik.

"Aku terima kamu apa adanya," katanya.

Budi membalas genggaman.

"Aku juga."

Dan di warung ayam dan bebek dengan lampu redup itu, dengan meja plastik dan taplak kotak-kotak, dengan bau goreng dan sambal, mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka cari tapi selalu mereka butuhkan:

Bukan kepastian.

Bukan jaminan masa depan yang cerah.

Tapi saling menerima—dengan semua luka, semua ketakutan, semua ketidaksempurnaan.

Dan mungkin itu, lebih dari cinta romantis yang dramatis, adalah fondasi yang sebenarnya mereka butuhkan.

---
**TAMAT**
#resonansi #ceritakehidupan #resonance #romansa #romance #kangen

Comments

Popular Post

Ciabatta, AI Dan Jam Satu Pagi di Pejaten

Surat Terbuka dari Seorang Pecandu

Inventaris Hujan Di Hari Ke Dua Ramadan