Kopi yang Dingin
Sudah empat kali minggu ini kami ketemu tanpa janjian. Di kafe berbeda, waktu berbeda, tapi selalu di kursi yang menghadap jendela. Agung bilang itu kebetulan. Aku mulai tidak yakin.
Hari ini, kafe di sudut jalan Sudirman. Aku baru sampai lima menit, masih memilah-milah email kantor di laptop, ketika bayangan seseorang menutupi layar. Aku tidak perlu mendongak untuk tahu siapa.
"Lisa?"
Suaranya selalu seperti itu—setengah kaget, setengah senang. Seolah menemukan sesuatu yang tidak sengaja dicari.
"Agung," aku tersenyum, menutup laptop. "Kebetulan lagi?"
Dia tertawa. Suara itu. "Kayaknya kita harus mulai bikin jadwal. Biar nggak keliatan seperti nguntit."
"Siapa yang nguntit siapa?"
"Mungkin kita saling nguntit tanpa sadar."
Dia duduk tanpa ditanya. Seperti biasa. Seperti dulu.
—
Kami bertemu lagi tiga bulan lalu, di reunian SMA yang sebenarnya tidak ingin kuhadiri. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah orang. Tapi Agung masih Agung. Masih dengan senyum itu, masih dengan cara bicaranya yang santai tapi perhatian, masih memesan kopi yang terlalu manis padahal aku tahu dia sekarang minum hitam.
"Kenapa masih pesan yang ini?" tanyaku saat pertama kali kami ngopi setelah reunian. Di kafe yang sama seperti dulu, meski sekarang interior sudah berbeda dan barista-nya sudah ganti generasi.
Dia menatap cangkir di tangannya, lalu tersenyum. "Kebiasaan. Atau nostalgia. Atau karena dulu kamu yang bilang ini enak."
Aku tidak ingat pernah bilang begitu. Tapi aku tidak membantahnya.
—
Minggu pertama, kami ketemu sekali. Janjian.
Minggu kedua, dua kali. Satu janjian, satu kebetulan.
Minggu ketiga, tiga kali. Semuanya kebetulan.
Sekarang, minggu keempat. Aku sudah berhenti menghitung.
—
"Kamu sibuk?" tanyanya, melirik laptopku.
"Biasa. Proposal project buat klien baru. Deadline Jumat."
"Yang di Bali itu?"
Aku mengangguk. Dia ingat. Tentu saja dia ingat. Agung selalu ingat detail kecil yang bahkan aku sendiri kadang lupa—nama klien, tanggal deadline, bahkan menu yang kupesan minggu lalu.
"Kalau lolos, kamu pindah ke sana?"
Pertanyaan itu menggantung di antara kami seperti asap kopi yang perlahan menghilang. Aku menatap cangkirku. Americano. Tanpa gula. Tidak seperti dulu.
"Mungkin. Tiga bulan pertama. Kalau berjalan baik, bisa jadi permanen."
Dia mengangguk pelan. Tidak bilang apa-apa. Hanya mengangguk. Seperti sedang mencatat sesuatu dalam hati.
"Kamu?" tanyaku. "Usaha kamu gimana?"
"Alhamdulillah jalan. Lagi proses buka cabang kedua. Bulan depan kayaknya mulai."
"Di mana?"
"Bandung."
Aku tersenyum. "Jauh juga."
"Iya," jawabnya. Suaranya datar, tapi matanya tidak.
—
Kami berbincang seperti biasa. Tentang pekerjaan, tentang teman-teman lama, tentang film yang baru ditonton, tentang lagu yang sedang viral. Kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tapi kami juga tidak pernah menyentuh topik yang sebenarnya.
Aku tahu dia tahu. Dan dia tahu aku tahu.
Tapi kami tidak bilang apa-apa.
—
Ada momen di mana tangannya hampir menyentuh tanganku saat meraih gula. Ada saat di mana tatapannya bertahan sedikit lebih lama dari seharusnya. Ada detik di mana aku ingin bertanya, *Kita ini apa?* Tapi pertanyaan itu selalu berhenti di tenggorokan.
Karena aku tahu jawabannya.
Kami adalah dua orang yang hidupnya sedang berjalan ke arah berbeda. Dia ke Bandung, aku mungkin ke Bali. Dia sedang membangun sesuatu yang butuh fokus penuh, aku sedang mengejar sesuatu yang sudah kunanti bertahun-tahun.
Dan cinta, betapapun tulusnya, tidak bisa mengubah arah jalan yang sudah dipilih.
—
"Kopimu dingin," katanya tiba-tiba.
Aku melirik cangkir. Benar. Aku terlalu lama melamun.
"Mau aku pesanin yang baru?"
"Nggak usah. Aku biasa minum yang dingin."
Dia tersenyum. Senyum yang pahit manis. Seperti kopi yang seharusnya hangat tapi dibiarkan terlalu lama.
"Aku tahu."
—
Kami keluar dari kafe saat langit mulai jingga. Jakarta sore itu ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing. Kami berdiri di trotoar, tidak tahu harus berpisah atau jalan bareng sedikit lagi.
"Kamu ke mana?" tanyanya.
"Apartemen. Kamu?"
"Meeting bentar lagi di Senopati."
Arah berlawanan. Seperti biasa.
"Oke. Hati-hati ya."
"Kamu juga."
Kami berdiri di situ sebentar. Terlalu lama untuk sekadar pamit, terlalu sebentar untuk bilang sesuatu yang penting.
Lalu dia tersenyum. "Lisa."
"Ya?"
"Kalau... kalau suatu saat jalan kita ketemu lagi, di waktu yang lebih tepat..."
Kalimatnya menggantung. Seperti semua kalimat kami akhir-akhir ini.
Aku tersenyum. "Aku tahu."
Dan itu cukup.
—
Aku menontonnya berjalan menyeberang jalan. Langkahnya mantap, seperti orang yang tahu ke mana harus pergi. Aku tidak memanggil. Tidak berlari mengejarnya seperti di film-film. Hanya berdiri di situ, merasakan angin sore yang mulai dingin.
Ponselku bergetar. Notifikasi email. Klien Bali balas proposal. Aku buka.
*We'd love to move forward. Can you start next month?*
Aku menatap layar. Lalu menatap punggung Agung yang semakin menjauh di kerumunan.
*Next month.*
Aku mengetik balasan. *Yes, I can start next month.*
Lalu aku berjalan ke arah berlawanan.
—
Malam itu, aku duduk di balkon apartemen dengan secangkir kopi. Kali ini aku biarkan dingin. Entah kenapa, aku mulai terbiasa dengan rasa ini.
Aku membuka chat dengan Agung. Tidak ada pesan baru. Kami jarang chat. Lebih sering ketemu tanpa rencana daripada berkirim kabar.
Jemariku melayang di atas keyboard.
*Aku dapat project Bali. Mulai bulan depan.*
Tapi aku tidak kirim. Hanya mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi.
Karena aku tahu, kalau aku kirim, dia akan balas. Dan kami akan berbincang seperti biasa. Tentang selamat, tentang semangat, tentang semua hal kecuali satu hal yang sebenarnya ingin kami bicarakan.
Jadi aku meletakkan ponsel. Menatap langit Jakarta yang tidak pernah benar-benar gelap.
—
Besoknya, aku tidak ke kafe langganan. Aku sengaja pilih tempat kerja di apartemen. Tapi sorenya, ponselku berdering.
*Kamu di mana? Gue di kafe biasa. Kayaknya sepi tanpa lo.*
Aku tersenyum. Lalu mengetik.
*Lagi di rumah. Deadline padat.*
*Oke. Semangat. Nanti kalau udah beres, ngopi yuk.*
*Oke.*
Tapi aku tahu, *nanti* itu mungkin tidak akan datang. Atau kalau datang, kami sudah ada di kota yang berbeda. Dengan hidup yang berbeda. Dengan cerita yang berbeda.
—
Dua minggu kemudian, aku berangkat ke Bali. Agung tahu. Aku akhirnya bilang lewat chat, di malam terakhir sebelum keberangkatan.
*Besok aku ke Bali. Doakan lancar ya.*
Dia balas cepat. *Pasti lancar. Kamu emang udah siap buat ini.*
Lalu beberapa menit kemudian.
*Nanti kalau balik Jakarta, kita ngopi lagi ya.*
*Pasti.*
Tapi kami berdua tahu, itu hanya cara sopan untuk bilang: *selamat jalan.*
—
Pesawat lepas landas pagi itu dengan langit yang cerah. Aku menatap Jakarta dari jendela. Kota yang ramai, penuh orang dengan cerita masing-masing. Di sana, entah di kafe mana, mungkin Agung sedang memesan kopi yang terlalu manis. Atau mungkin sudah tidak. Mungkin dia sudah mulai minum hitam, seperti yang seharusnya.
Aku memesan kopi di pesawat. Americano. Mereka sajikan hangat, tapi aku biarkan sampai dingin.
Karena aku sudah terbiasa.
—
Tiga bulan di Bali berlalu cepat. Project berjalan lebih baik dari yang kubayangkan. Aku sibuk, tapi bahagia. Hidup terasa punya arah yang jelas.
Tapi kadang, di sela-sela meeting atau saat malam terlalu sepi, aku membuka Instagram. Melihat story Agung. Dia di Bandung sekarang. Usahanya berjalan baik. Ada foto-foto kafe baru, senyumnya yang sama, kadang ada teman-teman lama.
Tidak ada foto perempuan. Tidak ada caption yang menunjukkan dia bersama seseorang.
Atau mungkin dia hanya tidak memposting.
Aku tidak bertanya. Dia tidak menceritakan.
—
Bulan keenam, aku pulang ke Jakarta untuk urusan kantor. Hanya tiga hari. Aku tidak bilang ke siapa-siapa. Tapi di hari kedua, saat sedang makan siang sendiri di kafe dekat kantor, seseorang duduk di depanku.
"Lisa."
Aku mendongak.
Agung.
Senyumnya masih sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang lebih tenang. Lebih dewasa.
"Kebetulan lagi?" tanyaku, mencoba terdengar santai meski jantungku berdebar.
"Kayaknya kita emang ditakdirkan saling nguntit."
Kami tertawa. Dan dalam sekejap, semua terasa seperti dulu. Seperti tiga bulan tidak pernah terjadi. Seperti jarak tidak pernah ada.
Tapi ketika percakapan mulai mengalir, aku tahu—kami sudah berbeda. Dia cerita tentang Bandung, tentang cabang ketiga yang sedang direncanakan, tentang mimpi-mimpi yang mulai jadi nyata. Aku cerita tentang Bali, tentang project besar yang akan datang, tentang kemungkinan buka kantor permanen di sana.
Kami senang mendengar cerita satu sama lain. Tapi kami juga tahu—jalan kami semakin jauh.
—
Saat pamit, kami berdiri di trotoar yang sama seperti dulu. Langit sore itu jingga lagi. Jakarta tidak pernah berubah.
"Kapan balik lagi?" tanyanya.
"Entah. Mungkin bulan depan. Atau dua bulan lagi."
Dia mengangguk. "Kalau ke Bandung, mampir ya. Gue traktir kopi."
"Pasti."
Kami tahu itu tidak akan terjadi. Tapi kami bilang saja.
Lalu, sebelum berbalik, dia bilang—hampir berbisik.
"Lisa, aku… aku senang ketemu kamu lagi. Senang tahu kamu baik-baik aja. Senang tahu kamu… mengejar yang kamu mau."
Aku menatapnya. Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tapi yang keluar hanya:
"Aku juga."
Dan itu cukup.
—
Aku menontonnya berjalan. Kali ini, aku tidak sedih. Hanya… tenang. Seperti melepaskan sesuatu yang memang seharusnya dilepas.
Mungkin cinta tidak selalu harus diucapkan. Mungkin tidak selalu harus jadi milik.
Mungkin cukup aku tahu—pernah ada seseorang yang membuat kopi yang dingin terasa cukup hangat.
Dan mungkin suatu hari, kalau jalan kami bertemu lagi, di waktu yang lebih tepat, kami akan duduk di kursi yang sama. Memesan kopi yang sama. Dan kali ini, kami tidak akan membiarkannya dingin.
Tapi hari ini, cukup aku melepasnya dengan baik.
Cukup aku berjalan ke arah yang benar, meski itu artinya berjalan menjauh.
—
*Di suatu tempat, di antara kopi yang dingin dan jalan yang terpisah, ada bentuk cinta yang tidak butuh kata. Hanya waktu. Dan kepercayaan bahwa jika memang ditakdirkan, jalan itu akan bertemu lagi.*
*Atau mungkin tidak.*
*Dan itu juga tidak apa.*
**TAMAT**
#resonansi #resonance #ceritakehidupan #Romance #romansa
Comments
Post a Comment