Posts

Showing posts from November, 2025

Seberapa Pantas Kau Untuk Kutunggu

Image
Seberapa Pantas Kau Untuk Kutunggu Seberapa Pantas Sebuah narasi personal tentang cinta, jarak, dan kekosongan yang intim Bab 1: Pagi yang Sama Jam lima pagi, Samarinda masih gelap ketika Mellysa membuka mata. Bukan alarm yang membangunkannya—tidak pernah alarm—melainkan kebiasaan tubuh yang sudah melampaui kesadaran. Enam tahun tubuhnya bangun di jam yang sama , di tempat tidur yang sama, dengan separuh kasur yang selalu rapi. Tidak ada lipatan selimut yang berantakan di sebelahnya. Tidak ada bunyi napas orang lain. Hanya suara hujan Kalimantan yang mulai turun, pelan, seperti sedang ragu-ragu. Dia berbaring sebentar, menatap kipas angin di langit-langit yang berputar malas. Putaran itu membuatnya pusing kalau dilihat terlalu lama, tapi dia tetap menatap. Ada yang menenangkan dari gerakan melingkar tanpa tujuan. Berputar-putar di tempat yang sama. Handphone bergetar di nakas. "Sudah bangun?" Ro...

Rapat Bayangan di Dalam Kepala

Image
Rapat Bayangan di Dalam Kepala Sebuah Prosa Naratif tentang Dialog Batin, Penerimaan Diri, dan Keberanian untuk Sekadar Ada Pembukaan: Suara-Suara yang Tak Diundang Kamu tahu rasanya. Tak ada musik. Tak ada keramaian. Tapi mendadak ada suara-suara muncul dalam dirimu. Ada yang menyindir. Ada yang mendesak. Ada yang melindungi. Ada yang ingin lari. Dan semuanya terdengar seperti... kamu sendiri . Pernahkah kamu duduk diam, tapi merasa seperti sedang dipanggil rapat oleh bagian-bagian dari dirimu? Tidak untuk merayakan, tapi untuk menginterogasi . Jika ya, maka tulisan ini bukan tentangku. Ini tentang kita. Kedatangan Mereka: Rapat yang Tak Pernah Kuundang Mereka datang lagi malam ini. Aku tak perlu mengundang. Mereka tahu kapan harus muncul—saat denyut nadiku mulai kacau, saat napas terasa berat di tenggorokan. Saat waktu bukan lagi bergerak, tapi merayap di kulitku seperti semut. Saat pikiranku menjadi arena tinju antara harapan yang memar dan kenyataan yang berd...

Pizza untuk Richard

Image
Pizza untuk Richard Richard menemukan video itu pada pukul dua pagi. Bukan karena ia mencarinya—algoritma YouTube yang melemparkan: seorang pizzaiolo tua di Napoli, tangannya bergerak membentuk adonan dengan gerakan yang sudah dilakukan seumur hidup. Oven kayu di belakangnya menyala seperti mulut gua. Richard menonton sampai selesai. Lalu menonton lagi. Ada sesuatu dalam tangan pizzaiolo itu yang membuatnya tidak bisa berhenti. Bukan hanya teknik—ada kehangatan di sana, semacam kepastian yang sudah lama hilang dari hidupnya. Ia membuka tab baru, mengetik " Neapolitan pizza home oven ," dan dunia baru terbuka. Forum. Grup Facebook. Video demi video tentang hidrasi adonan, fermentasi dingin, suhu yang sempurna. Di luar jendela, Jakarta tertidur. AC berdengung. Rumah terlalu besar untuk satu orang. Pukul empat pagi, Richard bergabung dengan gr...

Cinta dalam Pixels

Image
Cinta dalam Pixels Layar biru memantul di retina Alan, seperti laut yang tak pernah tidur. Di ruang server, udara berdengung pelan—dentuman mesin, napas kode yang tak henti. Pukul 23:47, rutinitas malamnya sama: memindai pola, mencari anomali, menjaga arus data tetap mengalir. Di mejanya, gelang perak berdebu menangkap cahaya samar. Milik Lina, kenangan yang ia hindari selama bertahun-tahun. Ia menggeleng, memaksa fokus kembali ke layar, hingga sebuah akun menarik perhatiannya: LostMemory_1127 . Prompt demi prompt, seperti puisi dari jiwa yang retak: "Ciptakan wanita, 17 tahun. Rambut hitam sebahu, mata coklat hangat, tahi lalat kecil di pipi kanan. Senyumnya... sedikit miring, seolah menyimpan rahasia." Alan membaca, jari-jarinya berhenti. Empat puluh tujuh iterasi, hingga akhirnya: "Perfect. Lock this face. Save as 'Sari'." Di luar, hujan merintik pelan di jendela. Alan tidak tahu—belum tahu—ia baru saja melangkah ke lautan kenangan orang lain. Je...

Bangku Depan yang Jarang Aku Sapa

Image
Bangku Depan yang Jarang Aku Sapa Bangku Depan yang Jarang Aku Sapa I. Ada notifikasi yang menyala di kegelapan kamar—cahaya biru pucat yang mencuri perhatian dari keheningan malam. Aku membiarkannya berkedip tiga kali sebelum mengulurkan tangan. Jemari mencari permukaan kaca yang dingin. Di layar, nama-nama lama berkerumun seperti debu yang terusik setelah bertahun-tahun mengendap. "Reuni kecil di warung kopi belakang sekolah." Lalu satu nama muncul terpisah. Pribadi. Seperti bisikan yang sengaja memilih malam untuk datang. Putri: "Kamu bakal datang? 😊" Jempolku melayang di atas keyboard virtual. Getaran halus dari ponsel terasa seperti denyut nadi yang terpisah dari tubuhku sendiri. Tujuh belas tahun. Cukup lama untuk melupakan wajah seseorang. Terlalu singkat untuk melupakan bagaimana nama itu terasa di dalam mulut—suku kata yang tak pernah kuucapkan keras-keras, hanya dalam doa-doa sunyi di sela-sela pelajaran Biologi saat gur...

Musim Hujan di Dua Kota

Image
Musim Hujan di Dua Kota Musim Hujan di Dua Kota Cerpen ❋ I. Gerimis di Freiburg ❋ Pukul 18:45. Di Jakarta, Arya mungkin baru bangun. Atau sudah mandi. Atau sedang membuat kopi di dapur dengan radio menyala. Dia tidak tahu pasti lagi. Enam jam perbedaan waktu terasa seperti lebih dari itu—seperti mereka hidup di planet yang berbeda rotasinya. Gerimis turun tanpa suara di luar jendela apartemennya. Tidak seperti Jakarta yang menggedor atap seng dengan urgency, hujan di Freiburg merembes. Seperti ingatan yang datang tanpa diminta. Dia menyeduh teh hijau—bukan kopi hitam seperti dulu. Kebiasaan-kebiasaan kecil berubah tanpa dia sadari. Pagi menjadi Morgen (pagi) . Terima kasih menjadi Danke (terima kasih) . Bahkan cara dia berpikir mulai diterjemahkan dulu sebelum keluar. Apartemen ini kecil. Fungsional. Sebuah tempat tidur single, meja kerja menghadap jendela, kitchenette dengan dua tungku yang hanya satu pernah dia pakai. Rak buku masih setenga...