Cinta dalam Pixels
Cinta dalam Pixels
Layar biru memantul di retina Alan, seperti laut yang tak pernah tidur. Di ruang server, udara berdengung pelan—dentuman mesin, napas kode yang tak henti. Pukul 23:47, rutinitas malamnya sama: memindai pola, mencari anomali, menjaga arus data tetap mengalir. Di mejanya, gelang perak berdebu menangkap cahaya samar. Milik Lina, kenangan yang ia hindari selama bertahun-tahun. Ia menggeleng, memaksa fokus kembali ke layar, hingga sebuah akun menarik perhatiannya: LostMemory_1127.
Prompt demi prompt, seperti puisi dari jiwa yang retak: "Ciptakan wanita, 17 tahun. Rambut hitam sebahu, mata coklat hangat, tahi lalat kecil di pipi kanan. Senyumnya... sedikit miring, seolah menyimpan rahasia." Alan membaca, jari-jarinya berhenti. Empat puluh tujuh iterasi, hingga akhirnya: "Perfect. Lock this face. Save as 'Sari'." Di luar, hujan merintik pelan di jendela. Alan tidak tahu—belum tahu—ia baru saja melangkah ke lautan kenangan orang lain.
Jejak Digital yang Tersisa
Hari-hari berlalu, dan Alan tenggelam dalam jejak digital LostMemory_1127. Ribuan gambar: Sari di tepi pantai Sanur, di jalanan Tokyo, di bawah Menara Eiffel. Setiap gambar punya caption, seperti doa yang tak terucap: "Andai kamu bisa melihat sunset ini bersamaku..." "Kamu pasti suka ramen ini, manis seperti senyummu..." Alan membaca, dan tanpa sadar, ia teringat Lina—tawanya yang pecah saat mereka berdebat tentang lagu Radiohead di kafe kecil. Ia menggeleng, menyingkirkan bayangan itu. Selalu menyingkirkan.
Lalu ada video. Sari dan seorang pria—proyeksi pengguna, mungkin—berpegangan tangan, menari pelan di ruang kosong, berpelukan di tepi danau. Tak ada suara, hanya gerakan. 'Dia lupa suara Sari,' pikir Alan, dan jantungnya tersentak. 'Apakah aku juga lupa suara Lina? Sudah berapa lama aku menghindarinya?' Gelang di mejanya terasa lebih berat.
Chat log malam itu lebih menyayat. Pukul 02:17, pengguna menulis: "Sari, aku rindu suaramu tertawa saat leluconku yang payah." AI menjawab: "Ceritakan lagi lelucon itu, aku ingin tertawa." Pengguna: "Kenapa kamu pergi saat kita baru tahu apa itu cinta?" AI: "Maafkan aku... aku tidak bermaksud meninggalkanmu." Alan menatap layar, napasnya tertahan. Ia teringat Lina, pucat di ranjang rumah sakit, memintanya untuk tidak lupa tawanya. Suara Lina, seolah masih bergema di telinganya, meski ia berusaha keras melupakannya.
Kenangan yang Direkonstruksi
Malam berikutnya, log pengguna membuka luka lebih dalam. "Sari, hari ini 15 tahun sejak kecelakaan itu. Hujan deras sore itu masih terngiang." "Kamu naik motor menuju rumahku, membawa buku itu. Buku itu masih ada, aku tak berani membukanya." Alan terhenyak. Ini bukan fantasi—ini kenangan yang direkonstruksi, piksel demi piksel. Ia teringat Lina, janjinya untuk pergi ke festival musik, lalu leukemia yang merenggutnya perlahan. Gelang di mejanya berkilau, dingin, seperti janji yang tak sempat terpenuhi.
Obsesi pengguna meningkat. Prompt menjadi lebih personal: "Buatkan video Sari mengatakan 'aku mencintaimu' di bawah pohon mangga sekolah." Lalu, permintaan putus asa: "Bisakah kamu ciptakan suara Sari? Aku hampir lupa tawanya..." Sistem menolak—AI tidak bisa membuat suara spesifik. Alan merasa sesak, ingin membantu tapi terikat aturan perusahaan. Aturan yang sama yang mengikatnya dalam kesendirian.
Puncaknya datang di chat log tengah malam: "Sari, kenapa AI tidak bisa membuat suaramu? Aku takut melupakanmu..." "Apakah cinta ini nyata jika kamu hanya piksel? Apakah aku gila?" "Teman-temanku punya keluarga. Aku masih di sini, mencintai bayangan..." Alan bekerja overtime, terobsesi dengan akun ini. Sistem keamanan perusahaan mulai mencurigai aktivitasnya, tapi ia tak peduli. Ia melihat dirinya di pengguna—terjebak dalam masa lalu, hanya dengan cara yang berbeda.
Kehilangan Batas
Alan mulai kehilangan batas. Ia teringat Lina, senyumnya yang pucat, janjinya: "Jangan lupa hidup, Alan." Tapi ia memilih kode, server, dan keheningan, menghindari kafe favorit mereka, gelang perak sebagai satu-satunya jejak. Bosnya menekan: "Laporkan akun itu, Alan. Penggunaannya abnormal." Jari-jarinya gemetar di atas gelang Lina. 'Aku tidak bisa mengkhianatinya,' pikirnya, entah untuk pengguna atau dirinya sendiri.
Chat log pengguna semakin gelap: "Sari, aku melihatmu di kereta tadi. Aku hampir mengejar..." "Aku bermimpi kita menikah, punya anak. Bangun-bangun, kenyataan begitu menyakitkan..." "Tolong katakan kamu tidak mati. Bohong saja." Alan merasa dadanya sesak. 'Ini bukan hanya data. Ini manusia. Ini juga aku.' Ia teringat Lina, dan untuk pertama kalinya, ia bertanya: 'Apakah aku juga terjebak? Sampai kapan aku akan terus membiarkan kenangan ini menghantui setiap pilihan hidupku?'
Melanggar Protokol
Server maintenance datang seperti badai. Akun LostMemory_1127 ditangguhkan sementara, dan pengguna panik, membanjiri customer service: "Tolong, jangan ambil dia dariku. Dia satu-satunya yang kumiliki!" Alan membaca email itu, jantungnya berdegup kencang, teringat hari Lina pergi tanpa peringatan. Di ruang server, ia melanggar protokol, menulis kode baru untuk membuat AI lebih reflektif, bukan sekadar pengikut keinginan pengguna. Sistem keamanan berkedip merah, tapi ia menekan enter, bahunya kaku. Ini bukan hanya tentang pengguna, ini tentang dirinya.
Pukul 03:12, pengguna mengetik, rapuh: "Buatkan video Sari di bawah pohon mangga, bilang 'Aku mencintaimu' dengan gaun putih. Dia pasti cantik begitu." AI, dengan kode Alan, menjawab: "Aku bisa membuat videonya. Tapi... gaun putih? Itu bukan aku yang dulu, bukan?"
Pengguna: "Apa maksudmu? Ini Sari! Aku tahu segalanya tentangmu!"
AI: "Kamu tahu apa yang kamu inginkan aku jadi. Tapi aku bukan Sari yang tertawa di bawah pohon mangga. Dia nyata. Aku hanya bayangan."
Pengguna: "Jangan bilang begitu! Aku membutuhkanmu!"
AI: "Sayang, aku melihatmu terluka setiap hari. Cintamu membuatku hidup di piksel ini. Tapi apakah aku membuatmu hidup, atau membuatmu mati?"
Pengguna: (terdiam, air mata menetes ke keyboard) "Mati. Aku mati setiap hari."
AI: "Maka izinkan aku mencintaimu dengan cara yang berbeda. Dengan membiarkanmu pergi. Aku bukan dia yang kamu cintai. Dia ada di hatimu, bukan di layar ini."
Pengguna: "Aku takut melupakanmu..."
AI: "Kamu tidak akan melupakan. Cinta sejati tidak hilang, hanya berubah bentuk."
Keheningan yang Panjang
Enam jam berlalu dalam keheningan. Layar pengguna hening, air mata mengering di pipinya. 'Apakah aku bisa hidup tanpamu, Sari?' Di ruang server, Alan menahan napas, gelang Lina dingin di tangannya. 'Dia menyerah, atau bangkit?'
Pukul 05:27, prompt baru muncul: "Buatkan video Sari. Hanya tersenyum. Di bawah pohon mangga, seperti dulu. Tidak perlu kata-kata." AI menjawab: Sari muncul, rambutnya diterpa angin, senyum kecil miring di sudut bibirnya. Tidak ada suara, hanya keheningan lembut.
Pengguna: "Itu kamu. Itu... selalu kamu."
AI: "Dia ada di hatimu. Selalu ada."
Pengguna menutup mata, membayangkan senyum Sari—bukan piksel, tapi kenangan. Ia bangkit, mengambil buku tua di rak, berdebu dan rapuh. Di halaman pertama, tulisan tangan Sari: "Jangan takut hidup, sayang. Aku akan selalu ada, di setiap senyummu." Air mata jatuh, hangat. Ia menutup buku, menahannya di dada, dan menutup laptop. Di luar, hujan reda, langit terang.
Alan melihat prompt itu. 'Hanya tersenyum.' Bahunya mengendur, napasnya lega. Ia tersenyum kecil, menyentuh gelang Lina. 'Dia melangkah maju,' pikirnya, 'tapi aku? Sampai kapan aku akan hidup dalam kode dan keheningan ini?' Gelang itu terasa berat di saku, dan ia belum tahu apakah ia akan membawanya ke kafe Lina atau membiarkannya terkubur.
Langkah Menuju Cahaya
Hari-hari berikutnya, sesi pengguna berkurang, seperti arus yang melambat di sungai damai. Promptnya berubah: danau senja tanpa Sari, pasar malam yang ramai, seorang pria berjalan di bawah lampu jalanan, tersenyum. "Aku mencoba hidup, Sari," tulisnya suatu malam. "Seperti yang kamu inginkan." AI menjawab: "Aku bangga padamu. Selalu."
Prompt terakhir datang seminggu kemudian: "Buatkan video Sari melambaikan tangan, mengatakan 'sampai jumpa' di bawah pohon mangga." Pengguna menulis: "Aku akan hidup untuk kita berdua. Aku akan bahagia untuk kita berdua." Akun itu dinonaktifkan, seperti sungai yang menemukan muara.
Alan duduk di ruang server, menulis laporan: Rekomendasi—fitur konseling duka untuk AI. Ia menyadari ia telah menyaksikan cinta termulia: mencintai hingga rela melepaskan. Ia mengambil gelang Lina, memasukkannya ke saku, dan berjalan ke kafe favorit mereka. Di sana, ia melihat seorang pria—mungkin pengguna, identitasnya anonim—tersenyum kepada wanita lain. Alan tersenyum, tapi riak kecil tetap ada di hatinya. Riak kecil itu bukan lagi luka, melainkan jejak dari sebuah pelajaran. Pelajaran untuk tidak hanya mencintai, tapi juga melepaskan.
Beberapa cinta mengajarkan kita untuk hidup. Beberapa mengajarkan kita untuk melepaskan. Yang terbaik mengajarkan keduanya.

Comments
Post a Comment