Zenith
# Zenith
## I
Arjuna membeku. Bayangannya, yang tadi masih berupa genangan kelabu memendek, kini tak lebih dari kabut tipis yang menempel di kakinya, lalu lenyap sama sekali.
Pukul sebelas lewat dua puluh empat menit. Matahari berdiri tegak di puncak langit Yogyakarta seperti paku yang menancap sempurna. Arjuna menatap aspal di bawah kakinya—kosong, bersih, seolah ia tidak pernah ada. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi tidak ada garis hitam yang mengikuti tubuhnya. Hanya permukaan jalan yang memantulkan cahaya seperti cermin yang terlalu jujur.
Seorang bocah lewat sambil menendang-nendang bola plastik. "Lihat, Ma, aku terbang!" teriaknya. Ibunya menarik tangannya tanpa menoleh. Kehidupan terus berjalan di Jalan Malioboro, seolah kehilangan bayangan adalah hal yang biasa terjadi setiap hari Kamis pagi.
Arjuna justru merasakan kehampaan yang dalam. Sebuah jangkar yang selama ini menahannya di bumi telah terlepas, dan ia kini melayang tanpa arah ke angkasa yang terik. Tanpa bayangan, tubuhnya terasa seperti kalimat tanpa tanda baca—terus menerus tanpa jeda untuk bernapas.
Kakinya terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti berjalan di atas air, atau di atas ketiadaan. Kulitnya memanas dengan cara yang aneh—bukan hanya terbakar, tapi terpapar, telanjang, seolah lapisan pelindung yang tak terlihat telah dikupas paksa. Ia mengangkat tangannya, membalikkan telapaknya, dan memperhatikan bagaimana cahaya menembus kulit tipisnya tanpa menyisakan jejak di mana pun.
*Aku sedang menghilang.*
Pikiran itu datang tiba-tiba, dingin di tengah panas yang menusuk. Bukan pikiran yang dramatis atau puitis, hanya sebuah kesadaran yang sederhana dan mengerikan.
Tiga hari yang lalu, Arjuna duduk di meja kerjanya di Perpustakaan Kota, membaca arsip tentang kulminasi utama Matahari. Sebuah catatan dari BMKG yang ditempel di papan pengumuman: *13 Oktober 2025, pukul 11:24 WIB, Yogyakarta akan mengalami fenomena hari tanpa bayangan*. Ia tersenyum sinis saat membaca itu. *Fenomena astronomi*, pikirnya waktu itu, *bukan puisi*.
Tapi pagi tadi, saat ia bangun di apartemen kecilnya yang menghadap Benteng Vredeburg, ada pesan suara dari ibunya di Semarang. Suara itu gemetar, tua, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.
*"Jun, Bapakmu sudah setahun pergi. Arsip-arsipnya masih di gudang. Apa kamu mau mengambilnya? Atau ibu buang saja?"*
Arjuna tidak membalas pesan itu. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya yang retak, mengikuti garis-garis putih yang membelah plafon seperti peta jalan yang tidak menuju ke mana-mana. Ayahnya—seorang juru arsip seperti dirinya—meninggal setahun lalu tanpa meninggalkan apa-apa kecuali kardus-kardus penuh dokumen yang tidak ada yang peduli.
*Jejak tanpa makna*, pikir Arjuna saat itu. *Seperti hidupku.*
Dan sekarang, berdiri di tengah Malioboro dengan bayangan yang lenyap, Arjuna merasa seperti kardus-kardus itu. Penuh, tapi kosong. Ada, tapi tidak berarti.
"Kamu juga kehilangan punyamu?"
Arjuna menoleh. Seorang perempuan muda berdiri di sampingnya, kamera DSLR tua tergantung di lehernya. Rambutnya diikat asal dengan karet gelang, wajahnya dipenuhi tahi lalat kecil, dan matanya—matanya bersinar seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.
"Sari," katanya, mengulurkan tangan. Telapaknya kasar, penuh dengan noda tinta dan bekas luka kecil. "Fotografer. Atau dulunya. Sekarang aku tidak tahu lagi apa gunanya kamera kalau yang aku ambil hanya... cahaya."
Arjuna menjabat tangannya. Sentuhan itu nyata, hangat, berbeda dengan perasaan melayang yang ia rasakan. "Arjuna."
"Arjuna," ulang Sari, dan ada sesuatu dalam caranya mengucapkan nama itu—seperti mengenali seseorang dari cerita lama. "Seperti wayang itu. Yang selalu bingung siapa dirinya sebenarnya."
Arjuna tidak menjawab. Sari sudah berjongkok, menyentuh aspal dengan ujung jarinya, seperti sedang membaca braille di permukaan jalan.
"Lihat," katanya, menunjuk ke relief di dinding gedung VOC di seberang jalan. "Biasanya relief itu punya bayangan yang indah—seperti lukisan yang terpahat di dinding. Sekarang... datar. Seolah sejarah kota ini juga ikut menguap."
Arjuna mengikuti pandangannya. Benar. Relief singa dan lambang kolonial yang biasanya menciptakan permainan cahaya dan gelap kini hanya potongan batu yang datar, kehilangan dimensinya. Kota tua ini—dengan semua gedung-gedung bersejarahnya, tiang-tiang marmer, gerbang-gerbang besi tempa—terlihat telanjang. Seperti panggung tanpa pertunjukan.
"Kamu senang?" tanya Arjuna, mencoba memahami senyum lebar di wajah Sari.
Sari berdiri, menepuk tangannya yang berdebu. "Senang? Entahlah. Tapi aku merasa... bebas. Bayangan itu seperti tag Instagram yang tidak bisa kamu hapus. Selalu mengikutimu, mengingatkanmu pada setiap versi dirimu yang ingin kamu tinggalkan. Setiap kesalahan. Setiap momen memalukan. Setiap orang yang kamu lukai." Suaranya menurun, kehilangan kilau tadi. "Hari ini, untuk beberapa menit, aku bisa melupakan semua itu."
Arjuna menatapnya. Ada luka di sana—di balik mata yang bersinar itu—luka yang sudah lama, tapi belum sembuh. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Setiap orang punya bayangan mereka sendiri, baik yang terlihat maupun yang tidak.
Detik-detik bergerak seperti sirup. Waktu tidak berhenti, tapi melambat dengan cara yang tidak alamiah. Arjuna merasakan dadanya sesak—bukan karena panas, tapi karena perasaan bahwa ia sedang memudar, bahwa tanpa bayangan, ia bukan siapa-siapa. Ia ingat sebuah kalimat dari buku puisi yang pernah ia arsipkan: *Kita tidak eksis karena kita bernapas. Kita eksis karena dunia menyaksikan kita.*
Tapi sekarang, tidak ada yang menyaksikan. Bahkan bumi di bawah kakinya tidak mengakui keberadaannya.
"Ayo ke museum," ajak Sari tiba-tiba. "Pak Hasan pasti sedang menunggu. Orang tua itu selalu tahu kapan dunia sedang... tidak pada tempatnya."
## II
Museum Sonobudoyo berdiri seperti candi kecil yang lupa waktu. Atapnya yang berbentuk joglo melindungi artefak-artefak dari terik yang tidak wajar. Bau kayu tua, kemenyan samar, dan kertas yang sudah membusuk menyambut mereka di koridor yang sejuk.
Pak Hasan duduk di depan etalase kaca yang berisi wayang kulit. Ia tidak terkejut melihat mereka masuk. Seolah sudah menunggu. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, tangannya yang keriput membelai permukaan etalase seperti membaca tulisan yang tidak terlihat.
"Kalian kehilangan jejak kalian," katanya tanpa menoleh. Bukan pertanyaan.
"Bayangan hilang," kata Sari, langsung duduk di lantai marmer yang dingin. "Seperti... lenyap begitu saja."
Pak Hasan mengangguk perlahan. Ia melepas kacamatanya, menggantungnya di saku kemeja batiknya, lalu menatap mereka dengan mata yang terlalu tajam untuk orang seusianya. "Kulminasi utama Matahari. Terjadi dua kali setahun di wilayah kita. Hari ini, pukul 11:24, Matahari tepat di zenith—titik tertinggi di langit. Bayangan menghilang. Tapi kalian sudah tahu itu, kan? Yang ingin kalian tahu adalah *kenapa* ini terasa seperti kehilangan."
Arjuna mendekat. "Kenapa bayangan terasa seperti... seperti bagian dari kita?"
Pak Hasan tersenyum, kali ini lebih lebar. Ia berdiri perlahan, sendinya berbunyi, lalu berjalan ke etalase lain yang berisi wayang Arjuna—pahlawan dengan dua istri, panah sakti, dan jiwa yang terus menerus terpecah antara tugas dan cinta.
"Lihat ini," kata Pak Hasan, menunjuk wayang itu. "Dalam tradisi wayang, pertunjukan tidak terjadi di panggung. Pertunjukan terjadi di bayangan. Dalang duduk di belakang layar, memainkan wayang, dan yang penonton lihat adalah bayang-bayangnya—siluet yang hidup, bercerita, bertarung, mati, dan kadang, hidup lagi."
"Jadi bayangan adalah... jiwa?" tanya Sari.
"Bayangan adalah cara kita ada di dunia," koreksi Pak Hasan. "Manusia bukan hanya tubuh. Manusia adalah tubuh, cahaya yang menyentuh tubuh itu, dan jejak yang ditinggalkannya. Bayangan adalah bukti bahwa kita pernah berdiri di bawah matahari. Tanpa bayangan, kita hanya... cahaya yang lewat."
Arjuna merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Ia memikirkan ayahnya—seorang juru arsip yang hidupnya dihabiskan untuk mengkatalogkan jejak orang lain, tapi tidak pernah meninggalkan jejak sendiri yang berarti. Kardus-kardus di gudang rumah ibunya. Dokumen-dokumen yang tidak ada yang peduli. *Cahaya yang lewat.*
"Pak Hasan," kata Arjuna pelan, suaranya parau, "apa yang terjadi kalau... kalau kita tidak pernah meninggalkan bayangan yang berarti? Kalau selama ini kita hanya... mengikuti bayangan orang lain?"
Pak Hasan menatapnya lama. Terlalu lama. Lalu ia berjalan ke pojok museum, ke sebuah meja kecil di mana blencong—lampu minyak tradisional untuk pertunjukan wayang—diletakkan. Ia menyalakan blencong itu dengan korek api, dan ruangan yang sudah sejuk menjadi lebih hangat dengan cahaya yang bergoyang.
"Mari saya tunjukkan sesuatu," kata Pak Hasan. Ia mengambil sebuah wayang kecil—bukan tokoh utama, hanya wayang punakawan, pelayan—dan meletakkannya di depan blencong. Bayangan wayang itu jatuh di dinding putih di belakangnya, besar, menakjubkan.
"Lihat," kata Pak Hasan. "Wayang ini kecil. Tidak penting. Tapi bayangannya... bayangannya bisa mengisi seluruh dinding. Bayangan tidak selalu mencerminkan ukuran tubuh kita. Bayangan bergantung pada di mana kita berdiri dan dari mana cahaya datang."
Arjuna menatap bayangan itu. Besar. Penuh. Hidup.
"Kamu pikir hidupmu tidak berarti karena kamu mengikuti orang lain," kata Pak Hasan, kali ini lebih lembut. "Tapi mungkin kamu hanya belum berdiri di tempat yang tepat. Mungkin kamu hanya belum menemukan cahaya yang membuatmu... besar."
Sari berdiri, mendekat ke blencong. Ia mengangkat tangannya di depan cahaya, dan bayangan tangannya jatuh di dinding—besar, melambai, seperti sayap burung.
"Tapi bayangan juga bisa menipu," katanya pelan. "Bayangan bisa membuat sesuatu yang kecil terlihat besar. Atau sesuatu yang besar terlihat kecil. Lima tahun lalu, aku mengambil foto seorang politisi korup. Foto itu viral. Kariernya hancur. Dia bunuh diri." Suaranya gemetar. "Aku pikir aku pahlawan. Aku pikir aku sedang menerangi kegelapan. Tapi ternyata... aku hanya membuat bayangan yang salah. Aku membuat monster dari manusia yang memang bersalah, tapi masih manusia."
Pak Hasan tidak menjawab. Ia hanya menatap Sari dengan mata yang penuh pengertian.
"Bayangan bukan benar atau salah," katanya akhirnya. "Bayangan adalah... interpretasi. Cara kita melihat diri sendiri, cara orang lain melihat kita. Dan kadang, cara kita melihat salah. Tapi itu tidak berarti kita harus takut pada bayangan kita. Kita hanya harus... menerima bahwa bayangan itu kompleks."
Arjuna merasakan sesuatu bergeser di dadanya. Seperti pintu yang perlahan terbuka. Selama ini ia menganggap hidupnya sebagai bayangan yang gagal—selalu mengikuti, tidak pernah memimpin. Tapi mungkin, mungkin ia salah. Mungkin masalahnya bukan pada bayangan, tapi pada cahaya yang ia pilih untuk berdiri di bawahnya.
"Pak," kata Arjuna, "kalau bayangan kita kembali nanti, apakah kita harus kembali menjadi orang yang sama?"
Pak Hasan tersenyum. "Bayangan selalu berubah, Arjuna. Setiap hari bentuknya berbeda. Pagi, siang, sore. Setiap sudut cahaya mengubahnya. Kamu tidak harus menjadi siapa-siapa. Kamu hanya harus berdiri."
## III
Di luar museum, kota mulai bergerak lagi. Suara klakson dari becak wisata, tawa turis, panggilan pedagang kaki lima. Arjuna dan Sari berjalan perlahan di sepanjang trotoar. Pola bayangan dari pohon asam yang biasanya menghiasi jalanan kini hilang—jalanan terlihat asing, seperti kota yang baru pertama kali mereka kunjungi.
Mereka berhenti di depan warung kopi kecil yang terjepit di antara toko batik. Sari memesan dua es kopi, dan mereka duduk di kursi plastik yang goyah di pinggir jalan.
Dan kemudian, Arjuna melihatnya.
Sebuah garis tipis. Hampir transparan. Muncul di bawah kakinya seperti lukisan arang di atas kertas putih.
"Lihat," bisik Sari. Bayangannya juga mulai muncul, samar-samar seperti hantu yang perlahan mengambil bentuk.
Arjuna menggerakkan tangannya. Garis itu bergerak bersamanya, seperti tarian yang sudah lama ia lupakan. Jantungnya berdegup—bukan karena takut, bukan karena gembira—tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Relief.
Bayangan kembali. Perlahan. Menggelap. Mengikuti kontur tubuhnya dengan setia, seperti teman lama yang datang setelah perjalanan panjang.
Tapi ada yang berbeda.
Bayangan itu terasa... lebih gelap. Lebih padat. Seolah, dalam ketiadaannya, ia menjadi lebih nyata.
"Kamu tahu," kata Sari pelan, matanya masih tertuju pada bayangannya sendiri, "aku pikir aku salah tadi. Aku bilang aku merasa bebas tanpa bayangan. Tapi sekarang ia kembali... aku merasa lebih bebas. Karena aku tahu aku bisa kehilangannya dan tetap... ada. Aku bukan bayanganku. Tapi aku juga tidak lengkap tanpa bayangan itu."
Arjuna mengangguk. Ia mengerti. Bayangan bukan penjara. Bayangan adalah bukti. Bukti bahwa kamu pernah berdiri di bawah matahari. Bukti bahwa kamu pernah ada, bahkan ketika dunia terlalu terang atau terlalu gelap untuk melihatmu.
"Sari," kata Arjuna, "apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
Sari memikirkannya. "Mungkin aku akan memotret lagi. Tapi kali ini, bukan untuk menghakimi. Hanya untuk... menyaksikan. Untuk merekam bayangan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana aku pikir seharusnya."
Arjuna tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa... ringan. Bukan melayang seperti tadi—tapi ringan dengan cara yang baik. Seperti beban yang sudah lama ia pikul perlahan turun dari bahunya.
"Aku akan ke Semarang," katanya. "Mengambil arsip ayahku. Mungkin... mungkin ada sesuatu di sana yang layak disimpan. Atau mungkin tidak. Tapi aku ingin melihatnya sendiri. Aku ingin tahu bayangannya."
Mereka duduk di sana sampai bayangan mereka benar-benar utuh. Menggelap di atas aspal yang masih hangat. Suara kota kembali penuh. Gamelan dari keraton berhenti, digantikan oleh lagu dangdut dari toko sebelah.
Dunia berputar seperti biasa. Tapi sesuatu di dalam Arjuna berubah.
Ia melihat bayangannya—lebih gelap dari sebelumnya, lebih tajam—dan ia tidak takut lagi.
*Aku bukan bayangan orang lain. Aku adalah cahaya yang menciptakan bayangan sendiri.*
## IV
Malam itu, Arjuna tidak kembali ke perpustakaan. Ia berjalan ke stasiun Tugu, membeli tiket kereta malam ke Semarang. Di dalam gerbong yang sepi, ia duduk di dekat jendela, menatap bayangan tubuhnya yang terpantul di kaca—buram, tidak jelas, tapi tetap ada.
Ia memikirkan ayahnya. Pria itu tidak pernah berbicara banyak. Seumur hidupnya dihabiskan di antara arsip-arsip—dokumen kelahiran, akta kematian, surat tanah, kontrak lama. Jejak-jejak kehidupan orang lain yang ia jaga dengan setia. Tapi jejaknya sendiri? Tidak ada yang tahu. Bahkan Arjuna tidak tahu.
*Mungkin itu sebabnya aku menjadi seperti dia*, pikir Arjuna. *Aku takut meninggalkan jejak karena aku tidak tahu jejak seperti apa yang layak ditinggalkan.*
Kereta melaju menembus malam. Di luar jendela, lampu-lampu desa berkedip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Bayangan Arjuna bergerak di kaca, mengikuti guncangan kereta, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti sedang mengikuti. Ia merasa seperti... bergerak.
Ketika kereta tiba di Stasiun Semarang Tawang pukul dua pagi, hujan gerimis turun. Arjuna berjalan keluar dengan tas punggung kecilnya, menatap kota kelahirannya yang basah dan sunyi. Bayangan dari tiang lampu jalan jatuh panjang di atas trotoar, dan Arjuna berjalan melewatinya satu per satu, seperti melintasi gerbang-gerbang menuju sesuatu yang belum ia pahami.
Rumah ibunya terletak di gang kecil dekat Kota Lama. Ketika ia mengetuk pintu, ibunya membuka dengan mata berkantung dan senyum lelah.
"Jun," katanya, dan memeluknya tanpa kata-kata lain.
Pagi harinya, Arjuna turun ke gudang. Kardus-kardus ayahnya tersusun rapi di pojok, ditutupi terpal plastik. Ia membuka satu kardus. Di dalamnya: dokumen-dokumen tua, foto-foto keluarga yang tidak ia kenal, surat-surat tulisan tangan.
Dan di dasar kardus, sebuah buku catatan.
Arjuna membukanya. Tulisan tangan ayahnya—rapi, metodis, seperti daftar katalog. Tapi ini bukan arsip orang lain. Ini adalah arsip ayahnya sendiri. Catatan harian. Sederhana. Singkat. Tapi ada.
*15 Agustus 1985. Arjuna lahir hari ini. Aku tidak tahu cara jadi ayah yang baik. Tapi aku akan mencoba meninggalkan sesuatu untuknya. Mungkin tidak besar. Tapi sesuatu.*
*22 Desember 1997. Arjuna bertanya kenapa aku suka bekerja dengan dokumen. Aku tidak bisa menjelaskan. Bagaimana aku bilang bahwa jejak orang lain membuatku merasa tidak sendirian?*
*10 Mei 2020. Aku sakit. Dokter bilang tidak lama lagi. Aku harap Arjuna tidak mengikuti jejakku. Aku harap dia menemukan cahayanya sendiri.*
Arjuna menutup buku itu. Tangannya gemetar. Matanya basah—bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang lebih kompleks. Ayahnya tidak meninggalkan jejak besar. Tidak ada monumen, tidak ada karya agung.
Tapi ada jejak ini. Kecil. Sederhana. Tapi cukup.
Arjuna membawa buku itu keluar dari gudang, ke beranda rumah. Matahari pagi muncul di ufuk timur, dan bayangannya jatuh panjang di lantai keramik. Ia melihat bayangan itu—gelap, jelas, nyata—dan tersenyum.
*Aku tidak perlu meninggalkan jejak yang besar*, pikir Arjuna. *Aku hanya perlu berdiri di tempatku dan membiarkan cahaya menemukanku.*
## Epilog
Di suatu tempat di Yogyakarta, seorang dalang tua menyalakan blencong untuk pertunjukan malam. Wayang-wayang diletakkan di depan cahaya, dan bayangan mereka menari di layar putih—besar, dramatis, penuh kehidupan.
Penonton duduk di bawah pohon beringin, menatap pertunjukan dengan mata yang terpesona. Mereka tidak melihat wayang itu sendiri. Mereka hanya melihat bayangannya.
Tapi bayangan itu cukup.
Bayangan itu hidup.
Dan di atas mereka semua, bintang-bintang bersinar di langit malam—titik-titik cahaya kecil yang meninggalkan jejak di retina kita, meskipun kita tahu mereka sudah mati jutaan tahun yang lalu.
Cahaya yang lewat. Tapi jejak yang tinggal.
---
**Akhir**
#resonansi #resonance #ceritakehidupan #zenith #psychologi
Comments
Post a Comment