Roti Jam Lima Pagi
# Roti Jam Lima Pagi
Pak Budi bangun jam 02.45 tanpa alarm. Tubuh sudah tahu—sudah tiga puluh delapan tahun tahu—kapan harus membuka mata. Dia duduk di tepi ranjang beberapa detik, membiarkan gelap menyesuaikan diri dengan penglihatannya. Di luar, Jatibening masih tidur. Hanya suara anjing menggonggong jauh, sesekali motor lewat.
Dia berdiri, berjalan ke kamar mandi. Air dingin di wajah—shock kecil yang menyenangkan, seperti ditampar lembut oleh pagi. Cermin menunjukkan wajah tua, rambut putih yang acak-acakan, mata yang lelah tapi jernih. Dia tersenyum kecil pada bayangan itu. "Selamat pagi," bisiknya. Pada dirinya sendiri. Pada hari yang belum dimulai.
Lorong dari rumah ke toko hanya lima meter. Gelap. Dingin. Lantai keramik licin di bawah sandal jepit. Dia nyalakan lampu toko—fluorescent tua yang berkedip dua kali sebelum menyala penuh. Cahaya putih mengisi ruang kecil ini: rak roti kosong, counter kayu tua yang sudah dua generasi dia pakai, tungku besar di sudut, oven modern di sebelahnya, kulkas yang dengungnya seperti mantra.
Dia cuci tangan di ember. Air dingin lagi—lebih dingin dari air wajah tadi. Tangannya merah, jari-jari kaku. Arthritis sudah mulai. Tapi dia gerakkan pelan, buka tutup telapak, sampai sendi-sendi mengingat bagaimana rasanya lentur. "Ayo," bisiknya pada tangan. "Hari ini juga. Seperti kemarin. Seperti besok."
Gas oven dia nyalakan. Bunyi mendesis, kemudian woof—api menyala biru. Panas mulai mengisi ruangan. Dia suka momen ini. Momen ketika dunia masih dingin tapi dia sudah membuat kehangatan. Seperti menyalakan matahari kecil di tokonya sendiri.
---
Tepung. Ragi. Gula. Garam. Air. Telur. Mentega.
Dia tidak perlu resep. Tangan sudah tahu. Takaran sudah masuk ke otot, ke tulang. Dia tuang tepung ke mangkuk besar—awan putih naik, halus di udara. Ragi dia larutkan di air hangat—bau manis, sedikit asam, bau kehidupan yang bangun. Gula. Garam. Telur dipecahkan—kuning jatuh sempurna, tidak ada cangkang. Dia aduk pelan.
Adonan mulai terbentuk. Kental, lengket, belum menjadi apa-apa. Dia tuang ke meja marmer—dingin di bawah telapak tangannya. Kemudian dia mulai menguleni.
Ini bagian favoritnya.
Tangan bergerak ritmis—tekan, lipat, putar. Tekan, lipat, putar. Adonan melawan dulu, keras, kaku. Tapi perlahan dia menyerah. Menjadi lembut. Menjadi elastis. Menjadi hidup.
Pak Budi ingat istrinya dulu bilang, "Kamu menguleni kayak orang main piano." Dia tidak pernah jadi pianis. Tapi mungkin ini piano-nya—adonan yang bernyanyi di bawah tangannya, ritme yang sama setiap hari tapi tidak pernah membosankan.
Sepuluh menit. Lima belas. Adonan berubah—halus, kenyal, tidak lengket lagi. Dia bentuk jadi bola, taruh di mangkuk, tutup dengan kain lembab. Sekarang tunggu.
Dia duduk di bangku kayu, tuang kopi dari termos. Pahit. Panas. Tidak pakai gula—dia suka rasa asli, rasa yang jujur. Jam menunjuk 04.15. Di luar, adzan subuh mulai—pertama dari Masjid Al-Ikhlas, kemudian Masjid Jami, kemudian yang kecil di ujung gang. Tiga suara, tidak sinkron, tapi entah kenapa harmonis. Seperti percakapan antara langit dan bumi.
Pak Budi tidak salat di masjid lagi—kakinya sudah tidak kuat jalan jauh. Tapi dia salat di sini, di sudut toko, di atas sajadah lusuh yang sama sejak dia buka toko ini. Setelah salat, dia duduk sebentar. Hanya duduk. Mendengar dunia di luar mulai bergerak—motor, burung, angin di daun pohon rindang depan toko.
Ada kedamaian di jam ini. Kedamaian yang tidak bisa dijelaskan. Seperti dia satu-satunya yang terjaga, tapi tidak kesepian. Seperti dia punya rahasia kecil dengan pagi, dan pagi menjaganya.
---
Jam 04.30 dia buka tutup adonan.
Dan dia tersenyum.
Adonan sudah naik—dua kali lipat dari tadi. Mengembang sempurna, permukaan halus, sedikit berkilau. Dia tekan pelan dengan jari telunjuk—adonan perlahan kembali, seperti napas, seperti sesuatu yang hidup.
"Bagus," bisiknya. "Hari ini juga bagus."
Ini tidak pernah membosankan. Setiap hari dia buat adonan, setiap hari dia tidak tahu pasti apakah akan mengembang sempurna. Suhu bisa salah. Ragi bisa mati. Air bisa terlalu panas atau terlalu dingin. Tapi hari ini—hari ini berhasil. Dan setiap kali berhasil, ada kepuasan kecil yang mengisi dada, hangat, seperti minum teh manis setelah hujan.
Dia kempeskan adonan—udara keluar dengan bunyi kecil, lembut. Kemudian dia bagi jadi porsi-porsi kecil, timbang satu per satu. Enampuluh gram. Enampuluh gram. Enampuluh gram. Semuanya harus sama—ini soal keadilan, kata istrinya dulu. Setiap roti harus punya kesempatan yang sama untuk sempurna.
Dia bentuk bulat-bulat kecil, taruh di loyang. Dua puluh empat bola dalam satu loyang. Empat loyang. Sembilan puluh enam roti. Cukup untuk pagi ini.
Pintu belakang terbuka—Mas Hendra masuk, masih ngantuk, mata sembab, tapi tersenyum.
"Pagi, Pak."
"Pagi. Kamu telat tiga menit."
Hendra tertawa. "Bapak lebih akurat dari jam."
"Jam bisa rusak. Aku tidak bisa." Pak Budi tersenyum. "Cuci tangan dulu. Roti cokelat harus digulung."
Mereka bekerja berdampingan. Tidak banyak bicara—tidak perlu. Hendra sudah tiga tahun di sini, sudah tahu ritme, sudah tahu kapan Pak Budi butuh pisau, kapan butuh loyang, kapan butuh diam.
Roti cokelat—adonan dipipihkan, olesan cokelat di tengah, digulung, dipotong jadi spiral. Roti keju—parutan keju di atas, banyak, sampai menutupi semua permukaan. Roti kelapa—kelapa parut dicampur gula, dibungkus di dalam adonan seperti rahasia manis.
Jam 05.00 batch pertama masuk oven.
Pak Budi tutup pintu oven, atur timer. Dua puluh menit. Dia berdiri di depan oven, lihat melalui kaca—adonan mulai mengembang, permukaan mulai kecokelatan. Ada keajaiban kecil di sini. Sesuatu yang mati jadi hidup. Sesuatu yang dingin jadi hangat. Sesuatu yang mentah jadi matang.
"Bapak suka nonton oven ya?" Hendra bilang sambil tersenyum.
"Kamu tidak?"
"Saya suka. Tapi tidak sesuka Bapak."
"Karena kamu belum cukup tua untuk tahu bahwa hal kecil itu yang paling indah."
Hendra tidak menjawab. Hanya tersenyum. Anak muda, pikir Pak Budi. Masih pikir kebahagiaan itu di tempat besar, di kota besar, di mimpi besar. Belum tahu bahwa kebahagiaan itu di sini—di oven yang panas, di adonan yang mengembang, di pagi yang datang lagi.
---
Jam 05.15 timer berbunyi.
Pak Budi buka oven—gelombang panas menyerang wajah, aroma manis mengisi seluruh toko. Roti cokelat keemasan, permukaan mengkilap, sempurna.
Dia angkat loyang dengan lap tebal. Roti masih mendesis, masih hidup. Dia ketuk bagian bawah satu roti dengan buku jari—bunyi kopong, ringan. Sempurna.
Dia tertawa—bunyi kecil yang keluar tanpa izin, bunyi yang jarang dia buat, tapi keluar hari ini. Entah kenapa hari ini dia bahagia. Atau setiap hari dia bahagia, hanya kadang lupa menyadarinya.
"Mas, coba kamu cium."
Hendra mendekat, tarik napas dalam. "Wangi banget, Pak."
"Bukan wangi biasa. Ini wangi yang tepat. Lihat warnanya—tidak terlalu gelap, tidak terlalu terang. Ini..." Pak Budi berhenti. Tidak tahu bagaimana menjelaskan. "Ini hari yang baik."
Hendra mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti. Tidak apa-apa. Suatu hari dia akan mengerti. Suatu hari ketika dia sudah buat roti seribu kali, sepuluh ribu kali, dan masih merasa bahagia setiap kali roti keluar sempurna.
---
Jam 05.20 lampu toko dia nyalakan. Pintu dia buka. Udara luar masuk—dingin, lembab, bau embun dan asap motor. Langit masih gelap, tapi ada garis tipis oranye di timur. Pagi akan datang. Pagi selalu datang.
Lima menit kemudian, Mbak Sari masuk. Pelanggan pertama, seperti biasa.
"Pagi, Pak Budi!"
Dan Pak Budi merasa dada menghangat. Suara itu—suara yang sama setiap pagi, suara yang bilang "dunia masih baik, orang masih ramah, hari masih dimulai dengan senyum."
"Pagi, Mbak Sari. Yang biasa?"
"Iya, Pak. Dua puluh roti manis."
Pak Budi bungkus satu per satu dengan kertas cokelat. Tangannya bergerak cepat—lipat, masukkan roti, lipat lagi, lakban. Dua puluh bungkus rapi dalam lima menit.
"Hari ini wangi sekali, Pak," kata Mbak Sari sambil bayar.
"Sama seperti biasa kok, Mbak."
"Atau mungkin saya yang hari ini lebih bahagia." Mbak Sari tersenyum lebar. "Anak saya kemarin bilang, roti dari Pak Budi paling enak. Dia bilang, 'Ibu, besok beli lagi ya.' Padahal biasanya dia susah makan pagi."
Pak Budi merasa sesuatu mengembang di dada—bukan bangga, lebih dari itu. Seperti tahu bahwa apa yang dia buat pagi-pagi buta ini, di toko kecil di Jatibening ini, sampai ke mulut anak kecil yang tidak dia kenal, dan membuat anak itu tersenyum.
"Terima kasih, Mbak. Hati-hati di jalan ya. Masih gelap."
"Iya, Pak. Sampai besok!"
Mbak Sari pergi. Pak Budi berdiri di pintu, lihat dia naik motor, nyalakan lampu, pergi ke arah pasar. Dunia mulai bergerak. Dan dia bagian dari gerakan itu—kecil, tapi nyata.
---
Jam 06.00 Pak Joko datang. Pensiunan guru, rambut putih rapi, baju koko bersih. Dia beli satu roti tawar dan satu kopi susu, kemudian duduk di bangku kayu di teras toko—tempat yang sama setiap pagi.
Pak Budi bawakan kopi. Duduk sebentar di sebelahnya.
"Pagi, Pak Joko."
"Pagi, Budi."
Mereka diam. Tidak perlu banyak kata. Pak Joko minum kopi pelan, lihat jalan yang mulai ramai—motor, angkot hijau kuning, ojol dengan jaket oren dan hijau, orang jalan kaki ke halte TransJakarta.
"Kamu ingat tidak," kata Pak Joko tiba-tiba, "dulu kita SMP satu sekolah?"
"Ingat, Pak. Bapak ketua kelas. Saya anak yang suka bolos."
"Kamu bolos les musik. Padahal kamu jago main keyboard."
Pak Budi tersenyum. "Iya. Dulu saya mau jadi musisi."
"Terus kenapa malah jadi tukang roti?"
Pak Budi diam sebentar. Pertanyaan ini pernah membuat dia sedih. Dulu. Dua puluh tahun lalu. Sepuluh tahun lalu. Tapi sekarang tidak.
"Karena hidup punya rencana sendiri, Pak. Dan ternyata rencana itu lebih baik dari rencana saya."
Pak Joko mengangguk. "Musik dan roti sama-sama soal ritme ya?"
"Iya. Sama-sama soal sabar. Sama-sama soal cinta."
Mereka diam lagi. Hening yang nyaman. Hening teman lama yang tidak perlu isi setiap detik dengan kata. Pak Joko habiskan kopi, ketuk meja dua kali—kode "terima kasih, sampai besok"—kemudian pergi.
Pak Budi duduk sendirian di bangku itu beberapa menit lagi. Matahari mulai muncul—cahaya oranye lembut menyentuh atap rumah seberang, kemudian pohon, kemudian jalan. Dia tarik napas. Udara masih dingin, tapi tidak sedingin jam tiga tadi. Angin bergerak pelan, bawa aroma roti dari tokonya bercampur aroma nasi goreng dari warung sebelah.
Hari baik, pikirnya. Hari yang sangat baik.
---
Jam 06.15 Dinda datang. Anak SMP, seragam putih biru, tas ransel besar di punggung, rambut dikuncir tinggi. Dia selalu beli roti cokelat keju—tidak pernah yang lain.
"Pagi, Pak," katanya pelan. Anak ini pendiam, tapi sopan.
"Pagi, Dinda. Yang biasa?"
Dia mengangguk. Pak Budi ambil roti paling bagus—yang cokelatnya paling banyak, kejunya paling melimpah—bungkus dengan rapi.
"Semangat sekolahnya ya."
"Terima kasih, Pak." Dinda tersenyum kecil—senyum yang jarang, tapi kalau keluar, bikin hari lebih cerah.
Dia pergi. Pak Budi lihat dia jalan ke arah halte, ransel besar membungkuk, tapi langkah ringan. Dia ingat Ratih—anaknya—dulu juga begini. SMP, beli roti sebelum sekolah, senyum malu-malu, dunia masih sederhana.
Sekarang Ratih sudah dewasa. Sudah punya anak. Sudah punya hidup di kota yang lebih besar. Jarang pulang. Tapi tidak apa-apa. Dia bahagia. Dan Pak Budi bahagia karena dia bahagia.
---
Jam 07.00 telepon berdering. Pak Budi angkat dengan tangan masih penuh tepung.
"Halo?"
"Pa, ini Ratih."
Suara anaknya. Hangat. Sedikit serak—baru bangun mungkin.
"Ratih. Kamu sudah bangun? Kan masih pagi."
"Iya, Pa. Kezia bangun pagi hari ini. Udah sehat, Pa. Kemarin sempat demam, tapi sekarang udah main lagi."
Pak Budi tarik napas lega. Cucu. Kezia. Tiga tahun. Anak yang dia baru lihat tiga kali karena Ratih sibuk, karena Jakarta jauh dari Bekasi meski sebenarnya dekat.
"Syukur deh kalau udah sehat."
"Pa, maaf ya jarang pulang. Kerjaan lagi banyak. Tapi akhir bulan kami pulang. Kezia minta roti buatan Kakung."
Kakung. Sebutan Jawa untuk kakek. Pak Budi bukan Jawa, tapi Ratih suka sebutan itu—katanya lebih hangat dari "Kakek".
"Iya, pulang aja. Bapak buatin roti cokelat keju. Kezia suka kan?"
"Suka banget, Pa. Dia bilang, roti Kakung paling enak sedunia." Ratih tertawa. "Mungkin karena belum coba roti tempat lain."
"Atau mungkin karena dibuat pakai cinta," kata Pak Budi pelan.
Hening sebentar di seberang.
"Pa... terima kasih ya. Udah sabar sama Ratih yang jarang pulang."
"Tidak apa-apa, Nak. Bapak ngerti. Kamu lagi bangun hidup kamu sendiri. Bapak dulu juga begitu."
"Tapi Bapak tidak pernah ninggalin Kakek sendirian."
"Kakek saya tinggal di rumah ini. Kamu tinggal di Jakarta. Beda. Tapi tidak apa-apa. Yang penting kamu bahagia."
"Ratih bahagia, Pa."
"Kalau kamu bahagia, Bapak bahagia."
Setelah tutup telepon, Pak Budi duduk sebentar di kursi belakang counter. Menatap langit-langit toko—eternit tua, ada bekas bocor di sudut. Tangannya dia lipat di dada. Ada rasa penuh di sana. Bukan sedih. Bukan rindu. Penuh. Seperti cangkir yang diisi air sampai hampir tumpah, tapi tidak tumpah.
Ratih bahagia. Kezia sehat. Mereka akan pulang. Dia akan buat roti untuk mereka.
Ini cukup. Ini lebih dari cukup.
---
Jam 07.30 matahari sudah tinggi. Cahaya oranye keemasan masuk dari jendela timur, menerangi toko dengan warna hangat. Tepung yang berterbangan di udara jadi seperti salju emas. Pak Budi berhenti sebentar—tangan masih menguleni adonan batch kedua—dan hanya melihat cahaya itu.
Tidak ada pikiran. Hanya sensasi.
Hangat matahari di kulit tangan. Cahaya yang bikin tepung jadi berkilau. Warna cokelat madu di dinding kayu tua. Suara burung tekukur di pohon depan. Dengung kulkas. Napas Hendra di sebelahnya. Dunia bergerak tapi dia diam, dan dalam diam itu ada kedamaian yang tidak bisa dijelaskan.
"Pak Budi senyum-senyum sendiri," kata Hendra.
"Iya?"
"Iya. Kenapa, Pak?"
"Tidak kenapa. Hanya... hari ini baik."
"Bukannya setiap hari baik, Pak?"
Pak Budi tertawa. "Iya juga ya."
Tapi ada perbedaan antara tahu secara pikiran dan rasakan di tubuh. Hari ini dia rasakan. Hari ini dia sadar. Hari ini dia tidak lupa untuk bahagia.
---
Jam 08.00 toko penuh. Pelanggan datang silih berganti—ibu-ibu beli roti untuk sarapan anak, bapak-bapak beli roti buat bekal kerja, anak kecil diantar kakek nenek beli roti cokelat. Pak Budi dan Hendra bergerak cepat—bungkus, terima uang, kembalian, senyum, "Terima kasih, hati-hati di jalan."
Tangan Pak Budi mulai sakit. Arthritis. Sendi jari kanan kaku, susah ditekuk. Dia berhenti sebentar, pijat pelan.
"Pak, istirahat dulu?" kata Hendra.
"Sebentar aja."
Dia duduk di kursi belakang, gerakkan jari-jari pelan. Sakit iya, tapi masih bisa. Besok mungkin lebih sakit. Lusa mungkin tidak bisa lagi menguleni. Tapi hari ini—hari ini masih bisa.
Dan dia bersyukur. Bersyukur untuk tangan yang sakit tapi masih berfungsi. Bersyukur untuk tubuh yang lelah tapi masih berdiri. Bersyukur untuk mata yang kabur tapi masih bisa lihat matahari. Bersyukur untuk jantung yang tua tapi masih berdetak tanpa diminta.
Dia berdiri lagi. "Ayo, Mas. Lanjut."
---
Jam 20.00 toko tutup. Pelanggan terakhir sudah pulang. Lampu jalan sudah menyala—oranye pucat yang bikin bayangan panjang. Pak Budi matikan lampu toko satu per satu. Bersihkan counter. Lap meja. Sapu lantai. Ritual penutup yang sama setiap hari.
Mas Hendra sudah pulang. Sekarang dia sendirian.
Dia duduk di bangku teras—tempat Pak Joko tadi pagi. Lihat Jalan Raya Jatibening yang masih ramai. Motor, angkot, ojol, orang pulang kerja. Langit sudah gelap, tapi kota masih terang—lampu dari ruko, lampu jalan, lampu motor yang lalu lalang.
Tangannya sakit. Kakinya pegal. Punggungnya kaku. Tapi dia tersenyum kecil.
Dia ingat hari ini:
Adonan mengembang sempurna. Roti matang dengan warna yang tepat. Mbak Sari bilang anaknya suka roti dia. Pak Joko duduk di teras seperti biasa. Dinda tersenyum. Ratih telepon—Kezia sehat, mereka akan pulang. Matahari terbit indah. Tangan masih bisa bergerak meski sakit. Toko penuh. Orang datang, orang pergi, orang tersenyum.
Hari ini baik.
Dia tarik napas dalam. Udara malam Bekasi—knalpot, gorengan, asap, tapi juga angin yang sedikit sejuk. Napas masuk. Napas keluar. Masuk. Keluar.
Besok dia harus bangun jam 02.45 lagi. Besok tangannya mungkin lebih sakit. Besok Ratih mungkin tidak telepon. Besok matahari mungkin tertutup mendung. Besok pelanggan mungkin sepi. Besok entah apa yang akan terjadi.
Tapi besok belum datang.
Hari ini sudah lewat. Dan hari ini baik. Sangat baik.
Dia masuk ke dalam. Matikan lampu terakhir. Toko jadi gelap. Tapi di dalam dada ada kehangatan—kecil, tapi nyata. Seperti bara yang tidak padam. Seperti oven yang masih menyimpan panas meski sudah dimatikan.
Dia berbaring di ranjang. Menatap langit-langit kamar yang retak. Menutup mata. Dan sebelum tidur, dia bisik—sangat pelan, hampir tidak terdengar—"Terima kasih."
Pada siapa? Pada Tuhan. Pada hidup. Pada hari ini. Pada tangan yang sakit tapi masih bisa bergerak. Pada mata yang lelah tapi masih bisa lihat. Pada jantung yang tua tapi masih berdetak.
Terima kasih untuk hari ini. Untuk setiap hari sebelumnya. Dan untuk esok—entah seperti apa—yang akan datang lagi, seperti matahari, seperti adonan yang mengembang, seperti roti yang matang, seperti pagi yang tidak pernah lupa datang.
Dia tertidur dengan senyum kecil di wajah.
Senyum yang tidak ada yang lihat.
Tapi ada.
#resonansi #resonance #psychology #ceritakehidupan #rumahkayu
Comments
Post a Comment