Rapat Bayangan di Dalam Kepala
Rapat Bayangan di Dalam Kepala
Sebuah Prosa Naratif tentang Dialog Batin, Penerimaan Diri, dan Keberanian untuk Sekadar Ada
Pembukaan: Suara-Suara yang Tak Diundang
Kamu tahu rasanya.
Tak ada musik. Tak ada keramaian. Tapi mendadak ada suara-suara muncul dalam dirimu. Ada yang menyindir. Ada yang mendesak. Ada yang melindungi. Ada yang ingin lari. Dan semuanya terdengar seperti... kamu sendiri.
Pernahkah kamu duduk diam, tapi merasa seperti sedang dipanggil rapat oleh bagian-bagian dari dirimu? Tidak untuk merayakan, tapi untuk menginterogasi.
Jika ya, maka tulisan ini bukan tentangku. Ini tentang kita.
Kedatangan Mereka: Rapat yang Tak Pernah Kuundang
Mereka datang lagi malam ini.
Aku tak perlu mengundang. Mereka tahu kapan harus muncul—saat denyut nadiku mulai kacau, saat napas terasa berat di tenggorokan. Saat waktu bukan lagi bergerak, tapi merayap di kulitku seperti semut. Saat pikiranku menjadi arena tinju antara harapan yang memar dan kenyataan yang berdarah.
Mereka bukan makhluk gaib. Mereka bukan penyakit.
Mereka adalah aku.
Potongan-potongan jiwaku yang duduk mengelilingi meja bundar penuh goresan—bekas kuku, bekas tinju, bekas air mata yang tak pernah sepenuhnya mengering. Ruangannya selalu sama: dinding abu-abu pucat dengan satu lampu neon yang berkedip-kedip gugup. Seperti jantungku.
Satu membawa papan strategi penuh coretan yang tak pernah selesai. Satu membawa cermin retak dengan bingkai tajam. Satu membawa setangkai bunga yang layu tapi masih harum. Dan satu lagi—yang matanya selalu nyalang—membawa bensin serta korek api.
Sang Perencana: Suara Logika yang Menusuk
"Kita kehilangan waktu lagi hari ini," kata Sang Perencana—suaraku yang bicara dalam angka dan hasil. Tenangnya menusuk seperti jarum dingin.
"Bangun siang. Tugas tertunda. Fokusmu hilang seperti—"
"Seperti selalu," potong Sang Pengkritik tak sabar.
Perencana menghela napas, membuka map biru yang kusam. Selalu map yang sama sejak aku berumur—berapa? Empat belas? Lima belas? Saat pertama kali menyadari bahwa tidak semua usaha berbuah hasil.
"Lihat data ini. Kamu tahu harusnya bisa lebih dari ini."
Sang Pengkritik: Luka yang Berbicara dengan Marah
Tenggorokanku tercekat. Bahkan sebelum aku sempat menelan ludah, Sang Pengkritik—versi diriku yang menyimpan semua kemarahan dan rasa malu—membanting telapak tangannya ke meja. Getarannya terasa di dadaku.
"Hah! Bisa lebih? Dia bahkan tak tahu lagi kenapa dia bangun pagi. Setiap niatnya separuh hati, setiap langkahnya diiringi alasan. Capek, overthinking, 'lagi butuh ruang'—klasik!"
Ia menyodorkan cermin retak tepat ke wajahku.
"Kamu ingin simpati? Lihat. Lihat wajahmu. Lihat mata yang menghindar itu. Kamu bahkan tak cukup berani untuk jujur mengakui kalau ini semua karena kamu ma-las!"
Kata-katanya menancap di dada, membuatku tersentak mundur. Napasku tertahan tanpa sadar. Di cermin, aku melihat kilasan diriku—usia 12 tahun—menangis di pojok kelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan guru matematika. Suara tawa anak-anak masih menggema.
Sang Penyayang: Pelukan di Tengah Badai
Tapi sebelum tubuhku sempat melawan, sebuah tangan hangat—sedikit gemetar—menyentuh pundakku.
"Cukup," kata Sang Penyayang—bagian diriku yang percaya bahwa aku tetap pantas dicintai meski tak produktif. Suaranya lembut seperti selimut yang dipakai terlalu lama—tipis tapi familiar.
"Dia memang gagal. Tapi dia tidak berhenti. Kamu—kamu tak tahu seberapa berat untuk tetap bernapas ketika isi kepalanya seperti..." Ia terdiam, mencari kata yang tak pernah cukup. "...seperti ini."
Ia menggenggam tanganku. Jari-jarinya hangat meski sedikit bergetar.
"Dia mencoba. Tiap hari. Dengan sisa-sisa energi yang bahkan tak terlihat. Tapi kalian lebih sibuk menu—"
"Mencoba? MENCOBA?" Pengkritik memotong kasar. "Duduk melamun sambil menatap layar itu 'mencoba'? Menunda sampai menit terakhir itu 'mencoba'? Kalau itu standarmu untuk—"
"DIAM!" Penyayang berteriak—suatu keajaiban yang membuatku dan semua suara lain terhenyak. Tangannya yang gemetar kini mengepal. Air mata menggenang di sudut matanya.
Pengkritik mendengus kasar, Perencana menunduk dalam—jari-jarinya mulai mengetuk meja dengan ritme cemas.
Sang Pembangkang: Api yang Menawarkan Pelarian
Lalu, suara yang membuat ruangan terasa dingin dan panas sekaligus: tawa rendah dari Sang Pembangkang.
"Kalian semua..." ia berhenti untuk menghisap rokok imajiner yang entah bagaimana baunya terasa nyata—seperti api yang nyaris membakar meja. "...begitu lucu. Terlalu sibuk mengatur atau mengampuni. Tapi tak satu pun dari kalian bertanya: 'Apa kamu masih mau hidup seperti ini?'"
Ia berdiri tiba-tiba, kursinya berderit mundur. Setiap gerakannya seperti binatang yang terlalu lama dikurung—tajam, berbahaya, tapi anehnya memikat.
"Dia bosan. Bukan gagal. B-O-S-A-N. Bosan jadi proyek, jadi eksperimen, jadi bahan evaluasi abadi. Kapan—" ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, mata kami hanya berjarak sejengkal, "—kapan terakhir kali kamu bebas tanpa rencana? Tanpa rasa bersalah yang menempel di kulitmu seperti keringat dingin?"
Ia menatapku, matanya nyalang seperti api. Napasnya beraroma kebebasan yang hampir terlupakan.
"Mungkin yang kamu butuh bukan perbaikan. Bukan ampunan. Tapi... pelarian."
Dadaku terasa sesak. Keputusasaan dan godaan bercampur seperti selimut basah—berat, dingin, tapi anehnya nyaman karena familiar.
Sang Penonton: Kesadaran yang Akhirnya Bersuara
Lalu, dari sudut tergelap ruangan—yang bahkan tak kusadari ada di sana—suara yang paling jarang bicara, akhirnya terdengar.
"Cukup."
Suaranya tenang seperti air danau di pagi buta. Tak mendesak, tak menyalahkan. Sang Penonton—bagian dari diriku yang selama ini hanya menyimak. Yang hadir sebagai kesadaran murni, mencatat tanpa menghakimi. Yang tahu segalanya, melihat segalanya, tapi tak pernah ikut memukul. Mata yang selalu terbuka bahkan ketika yang lain sibuk berteriak.
"Dia tidak perlu menyelesaikan semua malam ini. Dia tidak perlu menang malam ini. Dia hanya perlu diizinkan... ada."
Semua mata beralih padanya—sosok yang selalu hadir tapi jarang diperhatikan.
"Tapi bukankah itu masalahnya?" Perencana angkat bicara lagi, suaranya lelah. "Kita selalu 'ada' tapi tidak pernah cukup 'menjadi'?"
Penonton tersenyum tipis. "Mungkin karena kita terlalu takut untuk sekedar 'ada' tanpa nilai, tanpa tujuan, tanpa—"
"Jangan mulai dengan omong kosong filosofismu," potong Pengkritik. "Dia butuh tindakan, bukan renungan!"
"Dia butuh kelembutan," bantah Penyayang.
"Dia butuh kebebasan," Pembangkang menyalak.
Dan mereka mulai berdebat lagi, suara-suara saling tumpang tindih—berbicara tentangku seolah aku tak ada di ruangan yang sama.
Refleksi di Tengah Badai: Aku Masih di Sini
Aku memeluk tubuhku sendiri, merasakan tekanan ribuan kata menghantam telingaku seperti hujan deras pada atap seng. Sungguh aneh bagaimana semua suara ini adalah milikku, namun terus mengungkapkan pemikiran yang tak pernah berani kukatakan terang-terangan.
"Tidakkah kalian lelah?" bisikku, lebih kepada diriku sendiri. "Tidakkah kalian lelah bertengkar setiap malam?"
Tapi mereka tak mendengar. Atau pura-pura tak mendengar. Perencana terus membuka lembaran berikutnya dari map, Pengkritik menunjuk-nunjuk dengan jari menuding, sementara Penyayang mencoba menutupi telingaku dengan tangannya yang lembut namun tak mampu memblokir suara-suara.
Aku menutup mata sejenak. Merasakan getaran dari setiap kata yang diucapkan, bagaimana mereka bergetar dalam tubuhku seperti gema dalam gua. Bagaimana kata-kata yang sama selalu kembali: gagal, coba, bisa, harusnya.
Ketika membuka mata, kulihat Pembangkang menatapku langsung—satu-satunya yang menyadari bahwa aku masih di sini, masih mendengarkan, masih merasakan setiap sayatan.
Pukul 03.17: Keputusan untuk Berhenti Bertarung
Jam di dinding—yang entah kapan muncul—menunjukkan pukul 03.17.
Aku masih utuh, meski nyaris tidak. Kepalaku berdenyut. Mataku perih. Tenggorokanku kering.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menyelamatkan diriku. Aku tidak ingin memperbaiki diriku. Aku hanya ingin... membiarkan diriku ada. Dengan semua retakan. Dengan semua ketidaksempurnaan yang terasa seperti lubang hitam dalam dada.
Aku berdiri dari kursi yang tak ada. Kutatap mereka satu per satu, merasakan punggungku perlahan menegak, jari-jariku berhenti gemetar—perubahan kecil yang bahkan mereka tak sadari.
Mereka tetap di sana. Akan tetap datang lagi, mungkin besok malam. Mungkin dalam mimpi. Mungkin saat aku berdiri di depan cermin.
Tapi malam ini...
"Sudah cukup."
Kalimat itu keluar bukan sebagai teriakan, tapi bisikan yang entah bagaimana terdengar lebih keras dari semua argumentasi di ruangan. Suara-suara lain perlahan memudar, meninggalkan sunyi yang asing namun melegakan.
Kurasakan perubahan kecil dalam diriku—seperti air yang lama beriak mulai tenang. Bukan kedamaian yang sempurna, tapi jeda dalam badai. Jantungku masih berdegup cepat, tapi napasku mulai menemukan ritmenya kembali. Bahu yang sejak tadi tegang mulai turun perlahan.
Entah dari mana, muncul kesadaran sederhana: aku tidak harus menemukan jawaban malam ini. Aku tidak harus menyelesaikan perang ini dalam sekali pertempuran.
Penutup: Malam Ini, Aku Cukup
Aku mematikan lampu. Bukan karena segalanya selesai. Bukan karena aku telah menemukan jawaban. Tapi karena tidak semua luka perlu sembuh hari ini.
Tidak semua suara harus dijawab.
Tidak semua malam harus dimenangkan.
Aku kembali memasuki tubuhku—bukan sebagai penjara, bukan sebagai musuh, tapi sebagai rumah yang sedang dalam perbaikan. Rusak di sana-sini, tapi masih berdiri.
Kutarik selimut sampai ke dagu, merasakan beratnya seperti pelukan yang tak sempat kudapatkan hari ini. Kuhirup aromanya—campuran debu dan pelembut pakaian yang tak pernah terasa cukup—dan untuk sekali ini, itu terasa seperti cukup.
Menutup mata terasa seperti menyerah dan bertahan hidup di saat yang sama.
Aku tak jadi versi terbaik dari diriku malam ini.
Aku bahkan tak jadi versi yang cukup baik.
Tapi aku hidup. Dadaku naik turun. Napasku hangat menyapu punggung tanganku.Dan malam ini... untuk pertama kalinya, itu benar-benar cukup.
Tulisan ini dipersembahkan untuk siapa pun yang pernah merasa lelah menjadi proyek perbaikan tanpa akhir. Kamu tidak sendirian.

Comments
Post a Comment