Empat Cara untuk Tidak Bergerak

Empat Cara untuk Tidak Bergerak


## 1.


Aku bangun pukul enam. Setiap hari pukul enam. Tidak ada alarm. Tubuh sudah tahu.

Aku membuat kopi. Kopi murah dari kaleng. Air panas dari ketel yang sudah berkarat. Tidak ada gula. Tidak ada susu. Hanya kopi hitam di gelas yang sudah retak di bagian pinggir.

Aku duduk di kursi kayu dekat jendela. Jendela menghadap jalan. Jalan selalu ramai. Orang-orang pergi kerja. Orang-orang pulang kerja. Tidak ada yang berubah.

Aku minum kopi. Kopi panas. Membakar lidah sedikit. Aku tidak peduli.

Ini adalah satu-satunya waktu di hari itu ketika aku tidak harus menjadi orang lain.

---

## 2.


Di kantor, aku orang yang berbeda.

Aku datang pukul delapan. Duduk di meja yang sama. Meja sudah tua. Cat sudah mengelupas. Tapi meja masih bisa dipakai. Itu yang penting.

Bos memanggil. Ada masalah. Selalu ada masalah.

"Kamu bisa tangani ini?" dia bertanya.

Aku mengangguk. Selalu mengangguk.

Aku membuka laptop. Membuka spreadsheet. Angka-angka di layar. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Selalu tahu.

Orang-orang bilang aku pintar. Aku tidak pintar. Aku hanya tidak takut pada angka. Angka tidak berbohong. Angka tidak berubah pikiran. Angka adalah satu-satunya hal yang bisa dipercaya.

Aku bekerja sampai siang. Tidak ada istirahat. Tidak perlu istirahat. Pekerjaan harus selesai. Itu yang penting.

Rekan kerja mengajak makan siang. Aku bilang tidak. Aku selalu bilang tidak. Mereka sudah terbiasa.

Aku makan sandwich di meja. Sandwich basi dari minimarket. Roti kering. Isian tidak jelas. Tapi aku makan habis. Tubuh butuh makan. Itu yang penting.

Sore datang. Pekerjaan selesai. Bos bilang bagus. Aku tidak merasa apa-apa.

Aku pulang pukul lima. Jalan kaki. Tidak naik bus. Jalan kaki membantu kepala kosong.

---

## 3.


Di rumah, aku orang lain lagi.

Aku duduk di lantai. Tidak di kursi. Lantai lebih dingin. Lebih nyata.

Aku tidak menyalakan lampu. Cahaya dari jendela cukup. Cahaya oranye dari jalan. Cahaya yang tidak hangat tapi juga tidak dingin.

Aku menatap dinding. Dinding kosong. Cat sudah mengelupas. Ada noda di sudut. Noda dari air hujan yang masuk tahun lalu. Aku tidak pernah memperbaikinya. Tidak perlu.

Aku mendengarkan suara dari luar. Suara mobil. Suara orang berbicara. Suara anak menangis. Suara TV dari apartemen sebelah.

Aku tidak ikut suara-suara itu. Aku hanya mendengar. Seperti radio yang nyala tapi tidak ada yang mendengarkan.

Kadang aku berpikir tentang hal-hal. Hal-hal kecil. Kenapa cat di dinding mengelupas. Kenapa orang berbicara keras-keras. Kenapa anak menangis.

Kadang aku tidak berpikir apa-apa. Hanya duduk. Hanya ada.

Jam menunjukkan pukul sembilan. Atau pukul sepuluh. Aku tidak ingat. Waktu tidak penting ketika tidak ada yang berubah.

---

## 4.


Suatu malam, aku tidak bisa tidur.

Aku bangun pukul tiga. Duduk di lantai lagi. Gelap. Tidak ada cahaya dari jendela. Hanya gelap.

Aku berpikir tentang pekerjaan. Tentang angka-angka. Tentang spreadsheet. Tentang bos yang selalu bertanya.

Aku berpikir: *Apa gunanya semua ini?*

Tidak ada jawaban. Tidak ada yang menjawab. Hanya gelap.

Aku berpikir tentang orang-orang di kantor. Mereka punya keluarga. Mereka punya rencana. Mereka punya alasan.

Aku tidak punya apa-apa. Hanya angka. Hanya dinding. Hanya kopi di pagi hari.

Aku berpikir: *Apa yang aku inginkan?*

Tidak ada jawaban untuk itu juga.

Jam menunjukkan pukul empat. Adzan dari masjid. Suara yang sama setiap hari. Suara yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meskipun aku tidak bergerak.

Aku kembali tidur. Atau pura-pura tidur. Mata tertutup. Tapi kepala tidak tidur. Kepala tidak pernah tidur.

---

## 5.


Di bar, aku orang yang lain lagi.

Aku tidak sering ke bar. Mungkin sekali sebulan. Mungkin kurang.

Aku duduk di kursi paling ujung. Memesan bir. Bir murah. Tidak enak tapi dingin. Itu yang penting.

Ada orang di sebelah. Laki-laki tua. Mungkin lima puluh. Mungkin enam puluh. Susah bilang.

Dia bilang sesuatu. Aku tidak dengar jelas.

"Apa?" aku bertanya.

"Kamu terlihat seperti orang yang punya masalah," dia bilang.

Aku tidak menjawab. Aku minum bir.

"Semua orang punya masalah," dia lanjut. "Tapi kamu terlihat seperti orang yang tidak tahu masalahnya apa."

Aku menatapnya. Dia menatap gelas kosongnya.

"Aku tidak punya masalah," aku bilang.

Dia tertawa. Tawa pendek. Tidak lucu.

"Itu masalahnya," dia bilang.

Bartender datang. Dia pesan bir lagi. Aku tidak pesan apa-apa.

"Kamu pernah ingin sesuatu?" dia bertanya.

Aku berpikir sejenak. "Tidak tahu."

"Itu buruk," dia bilang. "Tidak punya keinginan lebih buruk dari tidak punya apa-apa."

Aku minum bir sampai habis. Meninggalkan uang di meja. Pergi tanpa bilang apa-apa.

Di luar, udara dingin. Jalan sepi. Lampu jalan berkedip. Seperti mata yang lelah.

Aku jalan pulang. Kaki berat. Kepala berat. Semuanya berat.

---

## 6.


Di kantor, ada perempuan.

Dia bekerja di bagian lain. Aku tidak tahu namanya. Aku tidak pernah bicara dengannya. Tapi aku sering lihat dia di lorong.

Dia selalu membawa kopi. Kopi dalam gelas kertas. Bukan kopi dari kantin. Kopi dari luar. Kopi yang enak.

Suatu hari, kami berpapasan di lift. Lift kecil. Cukup untuk empat orang. Hanya kami berdua.

Dia bilang, "Pagi."

Aku bilang, "Pagi."

Lift naik. Dua lantai. Tiga lantai. Empat lantai.

Dia bilang, "Kamu selalu sendiri."

Aku tidak tahu harus bilang apa.

"Aku juga," dia lanjut.

Lift berhenti. Lantai lima. Pintunya terbuka. Dia keluar.

Sebelum pintu tertutup, dia bilang, "Kadang itu lebih mudah."

Pintu tertutup. Aku naik satu lantai lagi. Lantai enam. Lantai kantor.

Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku berpikir tentang itu sepanjang hari.

---

## 7.


Ada hari ketika semuanya terasa berat.

Bukan karena ada yang salah. Tidak ada yang salah. Semuanya sama seperti biasa.

Mungkin itu masalahnya. Semuanya sama.

Aku bangun pukul enam. Kopi. Kantor. Angka. Pulang. Lantai. Gelap. Tidur. Bangun. Kopi. Kantor.

Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang baru.

Aku duduk di meja. Membuka laptop. Spreadsheet sudah terbuka. Angka-angka sudah menunggu.

Tapi aku tidak menyentuh keyboard. Aku hanya menatap layar.

Bos lewat. Dia tidak bilang apa-apa. Dia tahu aku selalu selesai tepat waktu.

Rekan kerja lewat. Dia bilang hai. Aku bilang hai. Dia pergi.

Aku masih menatap layar.

Jam menunjukkan pukul sepuluh. Aku belum mulai kerja. Aku hanya duduk.

Jam menunjukkan pukul sebelas. Masih duduk.

Jam menunjukkan pukul dua belas. Aku mulai kerja. Tangan bergerak otomatis. Otak tidak berpikir. Hanya bergerak.

Pekerjaan selesai pukul empat. Lebih cepat dari biasa. Tapi aku tidak merasa apa-apa.

---

## 8.


Suatu hari, aku menulis sesuatu.

Bukan laporan. Bukan email. Hanya kata-kata. Kata-kata tentang dinding yang mengelupas. Tentang kopi yang dingin. Tentang orang-orang yang berbicara tanpa mengatakan apa-apa.

Aku menulis di kertas. Bukan di komputer. Kertas lebih nyata. Lebih jujur.

Aku menulis sampai kertas penuh. Lalu aku berhenti. Bukan karena sudah selesai. Hanya karena tidak ada kertas lagi.

Aku membaca yang aku tulis. Tidak bagus. Tidak buruk. Hanya ada.

Aku lipat kertas. Taruh di laci. Laci penuh dengan kertas lain. Kertas yang tidak pernah kubaca lagi.

Tapi aku tahu kertas itu ada. Dan itu cukup.

---

## 9.


Ada pertemuan di kantor. Pertemuan besar. Semua orang datang.

Bos bicara tentang target. Tentang pertumbuhan. Tentang masa depan.

Aku duduk di belakang. Mendengar tapi tidak mendengar. Kata-kata masuk tapi tidak tinggal.

Ada orang bertanya. "Apa rencana untuk tahun depan?"

Bos bilang sesuatu. Aku tidak ingat apa.

Ada orang lain bertanya. "Apa yang kita harapkan?"

Bos bilang sesuatu lagi. Masih tidak ingat.

Pertemuan selesai. Orang-orang keluar. Bicara satu sama lain. Tertawa. Seperti pertemuan itu penting.

Aku keluar terakhir. Jalan lambat. Tidak ada yang tunggu.

Di lorong, aku bertemu perempuan dari lift.

Dia bilang, "Pertemuan yang melelahkan."

Aku bilang, "Ya."

Dia bilang, "Kadang aku bertanya-tanya kenapa kita melakukan ini."

Aku tidak bilang apa-apa.

Dia bilang, "Tapi aku rasa semua orang bertanya itu."

Dia pergi. Kopi di tangannya. Langkahnya cepat. Seperti dia tahu ke mana dia pergi.

Aku tidak tahu ke mana aku pergi. Aku hanya kembali ke meja. Duduk. Menatap layar.

---

## 10.


Malam itu, aku tidak pulang langsung.

Aku jalan ke taman. Taman kecil dekat kantor. Tidak ada orang. Hanya bangku dan pohon.

Aku duduk di bangku. Bangku kayu. Sudah tua. Cat sudah hilang. Tapi masih bisa diduduki.

Langit gelap. Tidak ada bintang. Hanya awan.

Aku berpikir tentang empat cara aku hidup.

Di pagi hari, aku orang yang duduk sendiri dengan kopi. Tidak bicara. Tidak berpikir. Hanya ada.

Di siang hari, aku orang yang bekerja dengan angka. Tidak merasa. Tidak bertanya. Hanya selesaikan.

Di malam hari, aku orang yang duduk di lantai. Tidak bergerak. Tidak berharap. Hanya menunggu.

Dan kadang-kadang, aku orang yang marah. Marah pada hal-hal yang tidak adil. Marah pada sistem yang tidak masuk akal. Tapi marah dalam diam. Marah yang tidak keluar.

Empat cara. Satu orang. Atau mungkin empat orang. Aku tidak tahu.

Yang aku tahu hanya ini: tidak ada yang berubah. Tidak peduli bagaimana aku hidup. Semuanya tetap sama.

Kopi tetap dingin. Angka tetap angka. Lantai tetap keras. Marah tetap tersimpan.

Dan aku tetap di sini. Di bangku ini. Di taman ini. Di kota ini.

Tidak bergerak.

---

## 11.


Lalu ada hari ketika semuanya berubah.

Bukan karena sesuatu yang besar. Hanya karena sesuatu yang kecil.

Aku membuka laci. Laci dengan kertas-kertas. Aku ambil satu kertas. Kertas yang aku tulis beberapa bulan lalu.

Aku baca lagi. Masih tidak bagus. Masih tidak buruk.

Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang jujur. Sesuatu yang nyata.

Aku buka laptop. Bukan spreadsheet. Dokumen kosong.

Aku mulai menulis. Bukan tentang angka. Bukan tentang target. Hanya tentang dinding. Tentang kopi. Tentang orang-orang yang berbicara tanpa mengatakan apa-apa.

Aku menulis sampai pukul sebelas malam. Lalu aku berhenti. Bukan karena selesai. Hanya karena lelah.

Aku baca yang aku tulis. Masih tidak sempurna. Tapi ada.

Aku menekan tombol. Publikasi. Tidak di tempat besar. Hanya di blog kecil yang hampir tidak ada yang tahu.

Lalu aku tutup laptop. Matikan lampu. Tidur.

Tidak ada yang berubah. Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Aku tidak tahu apa. Aku hanya tahu bahwa besok, aku akan bangun lagi pukul enam. Akan membuat kopi lagi. Akan duduk di kursi lagi.

Tapi mungkin kali ini, akan ada sesuatu yang sedikit berbeda.

Mungkin.

---

## 12.


Pagi itu, aku bangun pukul enam. Seperti biasa.

Aku membuat kopi. Seperti biasa.

Aku duduk di kursi. Seperti biasa.

Tapi ada email di ponsel. Email dari seseorang yang membaca tulisanku.

Email itu pendek. Hanya tiga kalimat.

*"Aku baca tulisanmu. Aku merasa sama. Terima kasih."*

Aku tidak tahu siapa orang itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Tapi kata-katanya ada. Nyata.

Aku minum kopi. Kopi masih panas. Masih membakar lidah.

Tapi kali ini, aku tidak peduli.

---

## 13.


Di kantor, semuanya sama.

Bos bertanya. Aku mengangguk. Angka-angka menunggu. Aku selesaikan.

Tapi di istirahat makan siang, aku tidak makan sandwich di meja.

Aku pergi ke taman. Taman kecil dekat kantor. Duduk di bangku yang sama.

Perempuan dari lift ada di sana. Dia duduk di bangku lain. Kopi di tangannya.

Dia bilang, "Aku tidak pernah lihat kamu di sini."

Aku bilang, "Aku juga tidak pernah."

Dia tersenyum sedikit. "Tempat yang bagus untuk tidak berpikir."

Aku bilang, "Ya."

Kami duduk dalam diam. Tidak bicara. Tidak perlu bicara.

Setelah sepuluh menit, dia berdiri. Kembali ke kantor.

Aku duduk lima menit lagi. Lalu kembali juga.

Tidak ada yang berubah. Tapi ada sesuatu yang berbeda.

---

## 14.


Malam itu, aku tidak duduk di lantai.

Aku duduk di kursi. Menyalakan lampu. Membuka laptop.

Aku menulis lagi. Bukan karena harus. Hanya karena ingin.

Aku menulis tentang bangku di taman. Tentang perempuan dengan kopi. Tentang email dari orang asing.

Aku menulis sampai larut. Lalu aku publikasi lagi.

Kali ini ada lebih banyak orang yang membaca. Tidak banyak. Mungkin sepuluh. Mungkin dua puluh.

Tapi mereka membaca. Dan itu cukup.

---

## 15.


Beberapa bulan kemudian, aku masih bangun pukul enam.

Masih membuat kopi. Masih duduk di kursi.

Tapi sekarang, ada sesuatu yang menunggu. Bukan pekerjaan. Bukan angka.

Kata-kata.

Kata-kata yang aku tulis. Kata-kata yang orang baca. Kata-kata yang membuat aku merasa seperti ada alasan untuk bangun.

Tidak besar. Tidak dramatis.

Hanya cukup.

---

## 16.


Aku tidak tahu apakah empat cara hidupku akan pernah menjadi satu.

Pagi dengan kopi. Siang dengan angka. Malam di lantai. Marah dalam diam.

Mereka masih ada. Semua masih ada.

Tapi sekarang ada cara kelima.

Cara di mana aku menulis. Cara di mana aku berbagi. Cara di mana aku tidak sendirian.

Tidak sempurna. Tapi nyata.


---

**TAMAT**

#resonansi #ceritakehidupan #resonance #psychology

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul

Air yang Mengingat