Aroma yang Tersisa di Bus Pagi
Aroma yang Tersisa di Bus Pagi
## I.
Aku pertama kali menyadarinya bukan dari wajahnya, tapi dari aromanya.
Lavender. Tapi bukan lavender yang manis seperti sabun atau lilin aromaterapi. Ini lavender yang lebih dalam, lebih gelap — seperti lavender yang tumbuh di tempat yang jarang terkena matahari, dicampur dengan sesuatu yang lain. Mungkin hujan. Mungkin waktu.
Bus nomor 47 selalu berangkat pukul 6.45 pagi dari Halte Sudirman. Aku sudah naik bus ini selama dua tahun. Rute yang sama. Jam yang sama. Wajah-wajah yang sama — orang-orang yang tidak pernah saling menyapa karena kita semua tahu bahwa pertemuan di bus adalah pertemuan yang tidak seharusnya jadi apa-apa.
Tapi suatu hari — aku tidak ingat kapan tepatnya, mungkin tiga bulan lalu — aku mencium aroma itu untuk pertama kalinya.
Aku sedang berdiri di dekat pintu, seperti biasa, memegang pegangan dengan tangan kanan, ponsel di tangan kiri, tidak membaca apa-apa, hanya menatap layar seperti semua orang. Lalu bus berhenti di halte berikutnya, pintu terbuka, dan aroma itu masuk bersama angin pagi.
Aku menoleh — secara refleks, bukan karena aku ingin — dan aku melihatnya untuk pertama kalinya.
Dia tidak cantik dalam arti yang biasa orang sebut cantik. Rambutnya tidak rapi. Pakaiannya sederhana — kemeja putih yang sedikit kusut, celana hitam, sepatu flat yang sudah aus. Tapi ada sesuatu tentang caranya berdiri di sana — dengan tas di satu tangan, menatap jendela bus dengan tatapan yang tidak fokus pada apa-apa — yang membuatku tidak bisa berhenti memperhatikan.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di ujung bus, dekat jendela, seperti dia lebih suka berdiri meskipun ada kursi kosong.
Bus berjalan lagi. Aku kembali menatap ponselku. Tapi aroma itu tidak hilang. Dia ada di udara, seperti sesuatu yang tidak bisa diabaikan meskipun aku mencoba.
---
## II.
Minggu pertama, aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mencium aroma itu setiap pagi dan mencoba tidak terlalu memperhatikannya.
Minggu kedua, aku mulai sadar bahwa dia naik bus yang sama setiap hari, di halte yang sama, pada jam yang sama. Seperti aku. Seperti semua orang di bus ini.
Tapi berbeda dengan yang lain, aku mulai mencarinya. Bukan secara sadar. Hanya... setiap kali bus berhenti di halte itu, aku menoleh, dan aku mencari aroma lavender di udara.
Kadang dia ada. Kadang tidak. Tapi ketika dia ada, sesuatu di hari itu terasa sedikit berbeda. Tidak lebih baik. Hanya... berbeda.
Minggu ketiga, aku mulai menyadari pola. Dia selalu berdiri di tempat yang sama. Dia tidak pernah duduk. Dia selalu menatap jendela, bahkan ketika tidak ada apa-apa untuk dilihat selain gedung-gedung dan jalan yang macet.
Aku tidak tahu namanya. Aku tidak tahu suaranya. Aku tidak tahu apa-apa tentangnya.
Tapi aku tahu aromanya. Dan entah kenapa, itu cukup.
Atau mungkin tidak cukup. Tapi aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan dengan informasi itu.
---
## III.
Minggu keempat, sesuatu terjadi.
Bus lebih penuh dari biasanya. Aku berdiri di lorong, memegang pegangan di atas kepala. Dia berdiri tidak jauh dariku — mungkin dua meter, di seberang lorong.
Bus mengerem tiba-tiba. Terlalu keras. Orang-orang terhuyung. Dia hampir jatuh. Secara refleks, aku mengulurkan tangan — tidak menyentuhnya, hanya mengulurkan tangan, seolah tubuhku bergerak lebih cepat dari otakku.
Dia tidak jatuh. Dia menangkap pegangan di sampingnya pada detik terakhir.
Tapi dia melihatku. Mata kami bertemu untuk pertama kalinya.
Matanya cokelat. Tidak gelap, tidak terang. Hanya cokelat biasa. Tapi ada sesuatu di sana — bukan kesedihan, bukan kebahagiaan, hanya... sesuatu. Seperti dia melihat terlalu banyak hal dan lelah melihatnya.
"Terima kasih," dia bilang. Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar di tengah suara mesin bus dan percakapan orang-orang.
Aku hanya mengangguk. Karena aku tidak tahu harus bilang apa.
Dia tidak tersenyum. Aku juga tidak.
Tapi sejak hari itu, sesuatu berubah. Kami mulai sadar satu sama lain dengan cara yang berbeda. Bukan lagi "orang asing di bus yang sama". Tapi "orang yang entah kenapa penting".
---
## IV.
Minggu keenam, bus sangat kosong. Mungkin karena hari Jumat. Mungkin karena banyak orang yang cuti.
Aku duduk di bangku biasaku — dekat jendela, baris ketiga dari depan. Dia naik di halte berikutnya.
Ada banyak kursi kosong. Dia bisa duduk di mana saja.
Tapi dia duduk di sebelahku.
Tidak ada yang bilang apa-apa selama lima menit pertama. Kami hanya duduk di sana, menatap jendela masing-masing, dengan jarak yang cukup untuk tidak menyentuh tapi cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain.
Lalu dia bilang sesuatu. Tidak keras. Tidak pelan. Hanya... bilang.
"Kamu selalu naik bus ini."
Bukan pertanyaan. Bukan sapaan. Hanya pernyataan.
Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku hanya bilang yang jujur: "Kamu juga."
Diam lagi. Tapi diam yang berbeda. Diam yang menunggu sesuatu.
Lalu dia tersenyum kecil. Senyum yang tidak mencapai mata, tapi entah kenapa terasa sangat jujur.
"Aku Nina."
Namanya Nina.
Aku bilang namaku. Dan sejak saat itu, semuanya berubah.
---
## V.
Kami mulai bicara setiap pagi. Tidak banyak. Hanya 20 menit — waktu dari halte dia naik sampai halte dia turun.
Tapi percakapan kami tidak seperti percakapan biasa. Kami tidak bicara tentang pekerjaan. Tidak bicara tentang cuaca. Tidak bicara tentang hal-hal yang orang biasa bicarakan ketika mereka tidak tahu harus bicara apa.
Kami bicara tentang hal-hal yang aneh.
Suatu pagi, Nina bertanya: "Kamu tahu tidak, kenapa orang-orang di bus tidak pernah saling bicara?"
Aku berpikir sejenak. "Mungkin karena kita takut mengenal orang yang hanya akan kita temui selama 20 menit setiap hari."
Nina mengangguk perlahan. "Atau mungkin karena 20 menit itu cukup. Lebih dari itu jadi terlalu nyata."
Aku menatapnya. Ada sesuatu dalam cara dia bilang itu — seperti dia tidak sedang berbicara tentang orang-orang di bus. Dia sedang berbicara tentang kami.
---
## VI.
Bulan kedua, aku mulai sadar bahwa aku datang lebih pagi dari yang aku butuhkan.
Dulu aku bangun pukul 6.15, berangkat pukul 6.30, sampai di halte pukul 6.40, naik bus pukul 6.45. Pas. Tidak ada waktu terbuang.
Sekarang aku bangun pukul 5.45. Aku sampai di halte pukul 6.20. Aku berdiri di sana, menunggu bus yang baru akan datang 25 menit lagi.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Atau mungkin aku tahu, tapi aku tidak mau mengakuinya.
Aku takut melewatkan bus itu. Takut Nina naik bus lain. Takut aku kehilangan 20 menit itu.
Dan itu menakutkan. Karena itu berarti 20 menit itu sudah menjadi lebih penting dari 23 jam 40 menit sisanya.
---
## VII.
Suatu pagi, aku bertanya sesuatu yang sudah lama ingin kutanyakan.
"Kenapa kamu selalu berdiri dulu minggu-minggu pertama? Padahal ada kursi kosong."
Nina menatap jendela. "Karena kalau aku duduk, rasanya aku terikat. Aku harus turun di halte yang sama. Aku harus mengikuti rute yang sama. Tapi kalau aku berdiri, aku bisa turun kapan saja. Aku bisa pergi ke mana saja."
"Tapi kamu tidak pernah turun di halte lain," aku bilang.
Dia tersenyum tipis. "Ya. Tapi setidaknya aku punya ilusi bahwa aku bisa."
Aku tidak bilang apa-apa. Karena aku mengerti. Aku mengerti terlalu dalam.
Lalu Nina bertanya balik: "Kenapa kamu selalu duduk di bangku yang sama?"
Aku berpikir sejenak. "Karena kalau aku duduk di tempat yang berbeda, rasanya aku kehilangan sesuatu. Seperti... seperti aku tidak lagi berada di tempat yang sama."
Nina menatapku. "Kamu takut perubahan."
"Ya," aku bilang. "Aku takut."
"Dan aku takut keterikatan," Nina bilang.
Kami diam. Dan dalam diam itu, kami berdua menyadari sesuatu yang tidak nyaman: kami adalah kebalikan satu sama lain. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat kami cocok dengan cara yang paling salah.
---
## VIII.
Bulan ketiga, percakapan kami mulai bergeser.
Dari absurd menjadi personal. Dari aman menjadi berbahaya.
Suatu pagi, Nina bilang sesuatu yang membuatku berhenti bernapas untuk sebentar.
"Kadang aku berpikir, kalau kita bertemu di tempat lain — bukan di bus ini — apakah kita akan saling bicara?"
Aku menatapnya. "Aku tidak tahu. Mungkin tidak."
"Kenapa?"
"Karena di bus ini, kita bukan orang yang sebenarnya. Kita hanya... versi transit dari diri kita."
Nina mengangguk perlahan. "Dan itu buruk?"
"Tidak," aku bilang. "Justru itu yang membuatnya aman."
Tapi setelah aku bilang itu, aku menyadari sesuatu: "aman" bukan lagi yang aku inginkan.
Dan dari cara Nina menatapku, aku tahu dia berpikir hal yang sama.
---
## IX.
Suatu Senin pagi, Nina datang dengan mata yang sembab.
Dia tidak bilang apa-apa tentang itu. Dia hanya duduk di sebelahku seperti biasa, menatap jendela seperti biasa.
Aku tidak bertanya. Aku tahu ada hal-hal yang tidak perlu ditanyakan.
Tapi di tengah perjalanan, Nina melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Dia meletakkan kepalanya di bahuku.
Hanya sebentar. Mungkin lima detik. Mungkin kurang.
Tapi dalam lima detik itu, dunia berhenti. Suara bus hilang. Suara orang-orang hilang. Hanya ada aroma lavender dan berat kepalanya di bahuku dan detak jantungku yang terlalu keras.
Lalu dia mengangkat kepalanya. "Maaf," dia bilang.
"Tidak apa-apa," aku bilang. Meskipun sebenarnya tidak tidak apa-apa. Karena sejak momen itu, aku tahu aku tidak akan bisa kembali menjadi orang yang dulu.
Nina turun di halte berikutnya. Bukan halte biasanya. Dia tidak menoleh.
Aku duduk di bus sampai halte terakhir, tidak turun di halte kantorku, karena aku tidak bisa berpikir jernih.
---
## X.
Hari berikutnya, Nina tidak datang.
Aku menunggu di bus. Bus berangkat. Halte demi halte dilalui. Tapi Nina tidak muncul.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, bus itu terasa kosong. Meskipun penuh dengan orang.
Aku turun di halte Nina biasa turun. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya... perlu.
Aku berjalan tanpa tujuan. Jalan-jalan kecil yang tidak kukenal. Toko-toko yang tidak pernah kumasuki.
Lalu aku melewati toko parfum kecil di sudut jalan. Dan aku mencium aroma itu. Lavender.
Aku masuk. Bertanya pada penjaga toko tentang parfum lavender.
"Lavender Noir," dia bilang. "Jarang yang beli. Hanya satu orang yang beli rutin."
Aku tidak membeli parfum itu. Aku hanya berdiri di sana, menghirup aroma itu dari botol tester, dan menyadari sesuatu yang menakutkan:
Aku jatuh cinta pada seseorang yang aku hanya kenal di dunia sementara. Seseorang yang mungkin tidak nyata di luar bus itu. Seseorang yang mungkin akan hilang suatu hari tanpa jejak.
Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan itu.
---
## XI.
Nina kembali hari berikutnya.
Dia duduk di sebelahku seperti biasa. Tapi ada yang berbeda. Ada jarak yang tidak terlihat tapi terasa.
Aku akhirnya bertanya: "Kamu ke mana kemarin?"
Nina tidak langsung menjawab. Dia menatap jendela. Lalu dia bilang: "Aku hampir tidak datang hari ini juga."
"Kenapa?"
"Karena aku takut."
"Takut apa?"
Dia berbalik menatapku. Matanya lelah. "Takut bahwa ini — kita — lebih nyata dari yang kukira."
Aku tidak tahu harus bilang apa. Karena aku merasa hal yang sama.
"Aku datang ke bus ini setiap hari," Nina lanjut. "Bukan karena aku harus. Tapi karena aku ingin. Dan itu menakutkan. Karena aku tidak pernah ingin terikat pada apa pun. Tapi sekarang aku terikat pada 20 menit ini. Pada bus ini. Pada... kamu."
Aku menatapnya. "Aku juga."
"Aku tahu," Nina bilang. "Dan itu yang membuatnya lebih menakutkan."
---
## XII.
Kami mulai berbagi hal-hal yang tidak kami bilang pada orang lain.
Nina cerita tentang kenapa dia menangis hari itu. Tentang hidupnya yang terasa seperti rutinitas tanpa makna. Tentang bagaimana dia bangun, kerja, pulang, tidur, lalu bangun lagi, dan tidak ada yang berubah.
"Tapi 20 menit ini berbeda," dia bilang. "20 menit ini terasa seperti... seperti aku ada. Bukan hanya menjalani hari. Tapi benar-benar ada."
Aku mengerti. Karena aku merasa hal yang sama.
Aku cerita tentang kenapa aku selalu datang lebih pagi. Tentang kenapa aku takut melewatkan bus ini. Tentang bagaimana 20 menit ini adalah satu-satunya waktu di hari itu ketika aku merasa hidup.
"Aku tidak tahu apa artinya ini," aku bilang. "Aku tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan."
Nina menatapku. "Mungkin kita tidak perlu tahu. Mungkin cukup seperti ini."
"Cukup?" aku bilang. "Bagaimana bisa cukup? Kita hanya punya 20 menit setiap hari. Kita tidak tahu apa-apa tentang hidup satu sama lain di luar bus ini. Kita bahkan tidak pernah bertukar nomor."
"Dan kenapa kita tidak?" Nina bertanya.
Aku diam. Karena aku tahu jawabannya. Dan dia juga tahu.
"Karena kamu takut," Nina bilang. "Kamu takut kalau kita bertemu di dunia nyata, kita tidak akan seperti ini lagi. Kamu takut aku akan jadi orang yang berbeda. Atau kamu akan jadi orang yang berbeda."
"Dan kamu tidak takut itu?" aku bertanya.
Nina tersenyum sedih. "Aku takut. Tapi aku lebih takut hal lain."
"Apa?"
"Aku takut kalau kita bertemu di dunia nyata, aku harus benar-benar mencintaimu. Bukan hanya mencintai versi kamu yang ada di bus ini. Dan kalau aku benar-benar mencintaimu, aku harus terikat. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa."
---
## XIII.
Minggu-minggu berlalu. Kami terus bertemu di bus yang sama. Terus duduk di bangku yang sama. Terus berbicara tentang hal-hal yang tidak kami bilang pada orang lain.
Tapi ada sesuatu yang berubah. Ada ketegangan yang tumbuh di antara kami. Bukan ketegangan buruk. Hanya... ketegangan dari dua orang yang tahu mereka tidak bisa terus seperti ini, tapi tidak tahu harus bagaimana.
Suatu pagi, kami duduk dalam diam lebih lama dari biasanya. Lalu Nina bilang sesuatu yang membuat dadaku sesak.
"Aku pindah kerja. Minggu depan aku tidak akan naik bus ini lagi."
Dunia berhenti. Suara hilang. Napas hilang.
"Oh," aku bilang. Hanya itu yang bisa keluar. "Selamat."
Nina tidak bilang apa-apa lagi. Kami duduk dalam diam sampai halte dia.
Sebelum turun, dia berbalik menatapku. Ada sesuatu di matanya — bukan air mata, tapi sesuatu yang lebih dalam dari air mata.
"Aku tidak menyesal bertemu kamu," dia bilang. "Bahkan kalau ini berakhir seperti ini."
Lalu dia turun. Pintu bus tertutup. Bus berjalan lagi.
Dan aku duduk di sana, sendirian, dengan aroma lavender yang perlahan menghilang di udara.
---
## XIV.
Minggu berikutnya adalah minggu terakhir.
Kami tidak bicara banyak. Kami hanya duduk di sana, merasakan setiap detik yang tersisa.
Hari Jumat — hari terakhir — Nina datang dengan parfum yang sama. Tapi kali ini aromanya lebih kuat. Seperti dia ingin memastikan aku akan mengingatnya.
Kami tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan. Kami hanya duduk di sana, tangan kami hampir menyentuh di sandaran tengah, tapi tidak pernah benar-benar menyentuh.
Di halte terakhir dia, Nina berdiri. Dia menatapku lama. Lalu dia bilang:
"Terima kasih untuk 20 menit setiap hari. Itu lebih berharga dari yang kukira."
Aku ingin bilang sesuatu. Aku ingin menghentikannya. Aku ingin bilang "jangan pergi" atau "kita masih bisa bertemu" atau "aku mencintaimu".
Tapi aku tidak bilang apa-apa. Karena aku tahu itu tidak akan mengubah apa-apa.
Nina turun. Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menangis di bus pagi yang penuh dengan orang asing.
---
## XV.
Minggu-minggu berlalu. Lalu bulan. Lalu lebih lama lagi.
Aku masih naik bus yang sama setiap pagi. Tapi sekarang bus itu terasa seperti ruang kosong.
Setiap pagi aku mencari aroma lavender. Tapi tidak pernah ada.
Kadang aku melewati seseorang di jalan yang memakai parfum serupa. Aku berbalik secara refleks, jantungku berdegup kencang. Tapi itu tidak pernah Nina.
Aroma itu jadi hantu. Mengingatkan aku pada sesuatu yang pernah kurasakan tapi tidak pernah benar-benar kumiliki.
---
## XVI.
Enam bulan kemudian, aku pindah kerja.
Aku naik bus yang berbeda sekarang. Rute yang berbeda. Jam yang berbeda.
Aku pikir itu akan membantuku melupakan. Tapi ternyata tidak.
Suatu pagi, di bus baru itu, aku mencium aroma yang familiar.
Lavender.
Jantungku berhenti. Aku berbalik — dan Nina ada di sana.
Dia duduk tiga baris di belakangku, menatap jendela, seperti dulu.
Mata kami bertemu.
Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Hanya tatapan. Hanya kesadaran bahwa dunia lebih kecil dari yang kami kira.
Lalu Nina berdiri. Berjalan pelan ke arahku. Duduk di sebelahku.
Tapi sekarang, ada jarak yang tidak bisa dihilangkan. Seperti kaca tipis yang tidak terlihat tapi terasa.
---
## XVII.
"Hai," dia bilang.
"Hai," aku bilang.
Diam.
"Kamu baik-baik saja?" dia bertanya.
"Ya. Kamu?"
"Ya."
Diam lagi. Tapi diam yang berbeda dari dulu. Diam yang canggung. Diam yang tidak tahu harus diisi dengan apa.
"Aku merindukanmu," Nina bilang tiba-tiba.
Dadaku sesak. "Aku juga."
"Tapi kita tidak bisa kembali, kan?"
Aku menatapnya. Melihat wajah yang sama, mata yang sama, aroma yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Atau mungkin aku yang berbeda.
"Tidak," aku bilang. "Kita tidak bisa."
Nina tersenyum — senyum yang sedih tapi juga lega. "Aku pikir begitu."
---
## XVIII.
Kami duduk dalam diam sampai halte berikutnya.
Sebelum Nina turun, dia berbalik menatapku satu kali lagi.
"Mungkin di kehidupan lain," dia bilang. "Kita naik bus yang sama lagi. Di waktu yang berbeda. Tapi tetap bus yang sama."
"Mungkin," aku bilang.
Nina berdiri. Sebelum turun, dia meninggalkan sesuatu di bangku — sebuah tisu kecil yang dilipat rapi.
Aku mengambilnya setelah dia turun. Membukanya perlahan.
Aroma lavender langsung memenuhi udara.
Aku menyimpannya di saku, menutup mata, dan membiarkan bus membawaku ke tempat yang tidak lagi penting.
---
## XIX.
Aku tidak tahu apakah aku akan bertemu Nina lagi.
Mungkin ya. Mungkin tidak.
Tapi aku tahu satu hal: aku akan tetap naik bus. Setiap pagi. Setiap hari.
Dan aku akan tetap mencari aroma lavender di udara pagi yang dingin.
Bukan karena aku yakin aku akan menemukannya. Tapi karena harapan — meskipun absurd, meskipun tidak masuk akal — adalah satu-satunya hal yang tersisa.
Dan kadang-kadang, itu cukup.
---
Bus berjalan. Kota bergerak. Orang-orang naik dan turun.
Dan aku duduk di sana, dengan tisu kecil di saku dan aroma lavender yang perlahan memudar.
Tapi tidak pernah benar-benar hilang.
Karena beberapa aroma — seperti beberapa orang — tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hanya menunggu. Di suatu tempat. Di bus yang berbeda. Di waktu yang berbeda.
Dan suatu hari, mungkin, kami akan bertemu lagi.
Di halte yang sama. Di bangku yang sama. Dengan aroma yang sama.
Dan 20 menit itu akan kembali. Seolah tidak pernah pergi.
---
**TAMAT**
---
*Untuk semua orang yang pernah jatuh cinta di tempat sementara.*
*Untuk semua aroma yang tidak pernah benar-benar hilang.*
*Untuk semua 20 menit yang lebih berharga dari selamanya.*
#resonansi #resonance #ceritakehidupan #psychology #romansa #romance
Hai Nine Shadow Forces,
ReplyDeleteSaya ingin mengucapkan terima kasih atas tulisan yang indah dan sangat memprovokasi pikiran, 'Aroma yang Tersisa di Bus Pagi'. Kisah 20 menit di Bus 47 ini sungguh meninggalkan bekas.
Saya sampai tergerak untuk membuat kajian filosofis khusus yang menganalisis bagaimana narasi ini merekonfigurasi ontologi cinta dan menggunakan aroma sebagai jejak ontologis. Saya membahas perspektif Lewis, Marcel, dan Augé.
Silakan mampir ke [https://icanblue.blogspot.com/2025/11/fenomenologi-aroma-dan-ontologi-ruang.html] untuk melihat ulasan lengkapnya. Semoga Anda berkenan!
Sekali lagi, apresiasi tinggi untuk karya ini. Salut!