Rumah Lumut dan Ingatan

# Rumah Lumut dan Ingatan


Pagi ini, seperti empat belas ribu enam ratus pagi sebelumnya, rumah ini menderik. Suara datang dari papan nomor tujuh di koridor—aku tahu persis yang mana. Papan yang sama yang menjerit ketika ayah pertama kali menggendongku, ketika ibu membawa panci sup ke meja, ketika kaki kakek tertatih menuju tungku sebelum ia tak pernah bangun lagi.

Aku berbaring di tempat tidur yang sama sejak aku cukup besar untuk tidak jatuh darinya. Springs-nya sudah mengingat bentuk tubuhku. Ada cekungan di sisi kanan, tempat aku selalu tidur menghadap jendela. Cahaya fajar masuk miring, memotong ruangan menjadi dua: terang dan teduh. Debu melayang di garis cahaya itu. Aku dulu mengira itu adalah makhluk hidup. Mungkin memang begitu.

Lumut di atap lebih tebal tahun ini. Dari jendela kamarku, aku bisa melihatnya merambat milimeter demi milimeter, menutupi genteng yang empat puluh tahun lalu—kata ibu—masih cokelat terang. Sekarang hijau tua seperti hutan yang tak pernah aku masuki. Ayah dulu bilang lumut adalah kalender alam. Kau bisa membaca umur rumah dari ketebalannya. Kalau begitu, rumah ini sudah sangat tua. Atau aku yang sudah lama mati, tapi terus bernapas.

Aku bangun. Kaki menyentuh lantai kayu yang dingin. Suhu pagi di sini tidak pernah berubah—sejuk menusuk, bahkan di musim panas. Rumah ini menyimpan dingin seperti peti es menyimpan daging. Aku berjalan ke koridor. Papan nomor tujuh menyapaku dengan deritannya. Aku membalas dengan tekanan kaki yang lebih lembut. Percakapan kami setiap pagi.

Di dapur, teko sudah aku siapkan semalam. Kebiasaan yang aku warisi dari ibu, yang mewarisinya dari neneknya. Air dari kran mengalir pelan. Pipa sudah tua, seperti segala sesuatu di sini. Tapi airnya jernih. Dingin sekali sampai gigimu berdenyut kalau kau minum langsung. Aku suka rasa logamnya—rasa besi, rasa tanah, rasa waktu.

Tungku kayu di sudut ruangan masih menyimpan bara dari semalam. Aku menambahkan kayu dari tumpukan di teras. Kayu pinus, sudah disimpan dua tahun supaya kering sempurna. Ayah mengajarkanku ini. "Kayu basah memberi asap, kayu kering memberi api," katanya. Aku masih ingat tangannya yang besar itu membimbingku menyusun kayu pertama kali. Aku berumur lima tahun. Tangannya kasar, penuh kapalan, hangat. Sekarang tanganku persis seperti itu.

Api menyala pelan. Aku duduk di kursi kayu menghadap jendela, menunggu air mendidih. Ini waktuku yang paling sunyi. Belum ada suara burung. Belum ada angin. Hanya nafas rumah—ekspansi kayu saat udara menghangat, kontraksi saat dingin. Rumah ini bernapas. Aku bernapas bersamanya.

Kabut pagi menggantung rendah di luar. Rerumputan liar di halaman bergoyang tanpa angin, seolah menari sendiri. Di balik kabut itu, aku tahu ada bukit. Ada hutan. Ada jalan tanah yang berkelok menuju desa. Tapi dari sini, dari jendela ini, dunia seolah berakhir di tepi halaman. Aku dulu takut pada kabut. Sekarang aku mengerti, kabut adalah tirai yang dipasang dunia supaya aku tidak terlalu tergoda keluar.

Teko bersiul pelan. Aku menuangkan air ke cangkir dengan daun teh yang sudah mengendap di dasarnya. Aromanya memenuhi dapur—bau tanah, bau gunung, bau rumah. Aku tidak pernah tahu nama teh ini. Ayah memungutnya dari lereng belakang rumah. "Teh orang miskin," katanya sambil tersenyum. Tapi rasanya lebih kaya dari apapun yang pernah kubeli di desa.

Jendela dapur menghadap ke tumpukan kayu bakar. Aku menghabiskan sebagian besar masa kecilku di sana. Tumpukan kayu itu adalah benteng, istana, labirin. Aku bersembunyi di celah-celahnya ketika ibu memanggilku untuk belajar membaca. Aku tidur di sana ketika musim panas terlalu panas di dalam rumah. Kayu-kayu itu menjadi teman paling setia—tidak pernah menghakimi, tidak pernah pergi.

Ada sebuah kayu yang masih aku kenali. Batang oak dengan simpul seperti mata. Dulu aku bicara padanya. Membisikkan rahasia yang tidak bisa kukatakan pada ayah atau ibu. Kayu itu mendengar tanpa menjawab. Sempurna untuk anak yang terlalu banyak bertanya. Sekarang kayu itu sudah gelap, hampir hitam. Lumut tipis merayapi sisinya. Tapi mata itu masih ada, masih menatapku setiap kali aku lewat.

Aku menghabiskan teh perlahan. Tidak ada tergesa-gesa di rumah ini. Waktu adalah sesuatu yang kau jalani, bukan sesuatu yang kau kejar. Ibu dulu berkata, "Orang kota mengejar waktu, kita dikejar waktu." Aku tidak paham waktu itu. Sekarang aku paham. Waktu di sini tidak berdetak. Waktu merembes, seperti air hujan melalui atap bocor.

Atap bocor itu sudah aku tambal tiga kali. Tapi setiap musim hujan, bocor baru muncul. Kayu melapuk, genteng retak, lumut merusak lapisan di bawahnya. Ayah biasa berkata rumah adalah organisme hidup. Ia tumbuh, bernapas, sakit, sembuh, dan suatu hari akan mati. "Tugas kita bukan membuatnya abadi," katanya. "Tugas kita menemaninya menua dengan bermartabat."

Aku meletakkan cangkir di wastafel. Keramiknya sudah retak di beberapa bagian, tapi masih kuat. Seperti segala sesuatu di sini—retak tapi bertahan. Aku berjalan ke ruang tengah. Lantai kayu di sini lebih gelap, lebih aus. Ini tempat kami berkumpul setiap malam. Ayah di kursi dekat tungku, ibu di sofa tua dengan bantalnya yang kempes, aku di lantai dengan punggung bersandar pada kaki sofa.

Ada noda di lantai dekat tungku. Noda gelap yang tidak pernah hilang meskipun sudah aku gosok berkali-kali. Darah kakek. Ia jatuh di sana satu malam musim dingin, lima belas tahun lalu. Jantungnya berhenti di tempat itu. Kami tidak memanggil dokter. Desa terlalu jauh, salju terlalu tebal. Kami duduk di sekelilingnya sampai tubuhnya dingin. Ibu menangis tanpa suara. Ayah menatap api. Aku memegang tangan kakek yang sudah kaku, merasakan bagaimana kehangatan meninggalkan tubuh seseorang.

Noda itu bukan sesuatu yang menyedihkan bagiku. Ia adalah bagian dari rumah sekarang. Seperti goresan di dinding dari kepalaku yang terbentur ketika belajar berjalan. Seperti bekas pensil di kusen pintu yang menandai tinggi badanku setiap ulang tahun. Rumah ini adalah peta biografiku. Setiap cacat adalah catatan.

Aku membuka pintu depan. Udara pagi menyergap—dingin, basah, penuh aroma tanah dan rumput. Embun menggantung di ujung-ujung rumput. Matahari baru muncul separuh di balik bukit. Cahayanya oranye pucat, belum cukup kuat untuk mengusir kabut. Aku duduk di tangga teras, di tempat yang sama di mana ayah dulu duduk setiap pagi.

Dari sini, aku bisa melihat seluruh halaman. Rumput yang tidak pernah dipangkas, batu-batu yang tumbuh dari tanah seperti gigi, pagar kayu yang sebagian sudah roboh. Ibu dulu menanam bunga di sepanjang pagar itu. Mawar liar, lavender, daisy. Sekarang hanya tersisa lavender—keras kepala, tidak mau mati meski tidak ada yang merawat.

Aku berumur tujuh tahun ketika pertama kali ingin pergi dari sini. Seorang pedagang lewat, dengan kereta yang dipenuhi kain berwarna-warni. Aku terpesona. Aku berlari mengikuti kereta itu sampai ke ujung jalan tanah. Ayah mengejarku, menggendongku pulang. Aku menangis keras. "Aku ingin pergi! Aku ingin melihat warna-warna itu!" Ayah tidak marah. Ia duduk bersamaku di tangga ini, menunjuk ke langit senja. "Lihat," katanya. "Kau tidak perlu pergi ke mana-mana. Warna paling indah ada di sini, gratis setiap malam."

Aku tidak percaya waktu itu. Sekarang, setiap senja, aku duduk di sini dan mengerti apa yang ia maksud.

Burung mulai berkicau. Pertama satu, kemudian dua, lalu seluruh hutan bangun. Simfoni pagi yang sama setiap hari, tapi tidak pernah membosankan. Aku bisa mengenali setiap suara. Robin di pohon oak, wren di semak, wood pigeon di atap. Mereka adalah tetanggaku. Lebih dekat daripada manusia di desa.

Aku pernah pergi ke desa setiap minggu ketika masih muda. Hari pasar. Ibu menjual telur dan sayuran, aku membantunya. Orang-orang di sana menatapku dengan tatapan aneh—campuran kasihan dan rasa ingin tahu. "Anak dari rumah kayu di bukit," bisik mereka. Seolah kami adalah suku terasing. Mungkin memang begitu.

Ada seorang gadis di desa. Rambutnya pirang, keriting, selalu diikat dengan pita merah. Ia bekerja di toko roti. Setiap kali aku datang, ia tersenyum. Senyum yang membuatku lupa pada lumut di atap, pada kayu yang melapuk, pada isolasi yang mencekik. Aku berumur tujuh belas tahun. Ia enam belas.

Namanya Anna. Kami bicara di belakang toko, di antara karung gandum dan aroma roti hangat. Ia bercerita tentang mimpinya pergi ke kota, membuka toko sendiri, melihat laut. Aku mendengarkan sambil menatap tangannya yang putih, bersih—begitu berbeda dari tanganku yang kasar dan penuh serpihan kayu.

"Kau mau ikut?" tanyanya suatu hari. Matanya berbinar. "Kita bisa pergi bersama. Kau bisa kerja di pelabuhan, aku buka toko. Kita bisa hidup di tempat di mana tidak ada yang mengenalmu sebagai 'anak dari rumah kayu di bukit'."

Aku hampir bilang ya. Kata itu sudah di ujung lidah. Tapi kemudian aku ingat ayah yang punggungnya semakin bungkuk, ibu yang batuknya semakin sering, atap yang bocornya semakin parah. Aku ingat papan nomor tujuh, tumpukan kayu dengan mata oak, noda darah kakek di lantai.

"Aku tidak bisa," kataku pelan.

Anna menatapku lama. "Kau tidak mau, maksudmu."

"Mungkin," jawabku. Dan itu adalah percakapan terakhir kami.

Ia pergi enam bulan kemudian. Aku dengar ia sampai ke kota. Aku dengar ia menikah dengan pedagang kain. Aku dengar ia bahagia. Aku tidak pernah melihatnya lagi.

Angin pagi mulai bertiup, mengusir kabut perlahan. Bukit di kejauhan muncul—punggung hijau yang bergelombang seperti naga tidur. Aku pernah mendaki bukit itu sekali, ketika berumur dua puluh tahun. Dari puncak, aku bisa melihat desa, jalan yang berkelok, hutan yang membentang, dan rumah kecil kami—titik cokelat di tengah hijau. Begitu kecil. Begitu rapuh.

Aku duduk di sana berjam-jam, menatap rumah dari jauh. Mencoba membayangkan bagaimana rasanya melihatnya untuk terakhir kali, sebagai kenangan, bukan sebagai rumah. Aku tidak bisa. Rumah itu menarikku seperti gravitasi. Atau mungkin aku yang tidak cukup kuat untuk melepaskan diri.

Matahari sudah naik sepenuhnya sekarang. Hangatnya menyentuh wajahku. Aku menutup mata, merasakannya merembes melalui kelopak mata. Ini adalah momen yang aku tunggu setiap hari—transisi dari dingin ke hangat, dari gelap ke terang, dari tidur ke bangun. Momen di mana rumah ini paling hidup.

Aku berdiri, masuk kembali ke dalam. Ada pekerjaan yang menunggu. Selalu ada pekerjaan di rumah tua. Genteng yang perlu diganti, kayu yang perlu ditambal, pipa yang perlu diperbaiki. Tapi itu bukan beban. Itu adalah percakapan. Rumah mengatakan di mana ia sakit, aku menyembuhkannya. Simbiosis yang sempurna.

Di gudang belakang, aku menemukan kayu oak yang sudah aku simpan setahun. Kering sempurna. Berat dan padat. Aku akan menggunakannya untuk memperbaiki balok di loteng yang mulai melengkung. Ayah dulu berkata kayu oak adalah tulang punggung rumah. "Keras kepala, tidak mau patah, tapi kalau sudah patah, sudahlah."

Aku naik ke loteng dengan kayu di bahu. Tangga loteng berderit protes—ia tidak suka diganggu. Udara di atas lebih hangat, lebih pengap. Bau kayu tua dan debu. Cahaya masuk melalui celah-celah di antara genteng, menciptakan garis-garis terang di lantai loteng.

Di sudut loteng, ada peti kayu tua. Isi peti itu adalah arsip keluarga—surat, foto, buku catatan. Aku jarang membukanya. Terlalu menyakitkan. Tapi kadang, ketika kesepian menjadi terlalu berat, aku naik ke sini, membuka peti itu, dan membaca surat-surat ayah pada ibu ketika mereka masih muda.

Tulisan tangannya indah—rapi, hati-hati, penuh perhatian. Sangat berbeda dari tangannya yang kasar ketika memegang kapak atau gergaji. Dalam surat-surat itu, ia menulis tentang rumah ini. Tentang bagaimana ia akan membangunnya dengan tangannya sendiri, tentang bagaimana mereka akan membesarkan anak-anak di sini, tentang bagaimana rumah ini akan menjadi benteng keluarga mereka.

Ia menepati janjinya. Rumah ini adalah benteng. Tapi benteng bukan hanya untuk melindungi. Benteng juga untuk mengurung.

Aku bekerja sampai siang. Balok baru sudah terpasang. Kuat. Akan bertahan sepuluh tahun lagi, mungkin lebih. Aku turun, cucian tangan di wastafel dapur. Air hitam mengalir—campuran debu, keringat, dan serpihan kayu. Tanganku gemetar sedikit. Tidak sekuat dulu. Empat puluh tahun adalah usia di mana tubuh mulai mengingatkanmu bahwa ia tidak abadi.

Siang hari di sini selalu lebih sunyi daripada pagi atau malam. Seperti rumah mengambil napas panjang, beristirahat sebelum malam tiba. Aku membuat sandwich sederhana—roti buatan sendiri, keju dari desa, selada dari kebun kecil di belakang rumah. Aku makan di teras, menatap halaman yang diterangi matahari penuh.

Bayangan pohon oak bergoyang pelan di tanah. Pohon itu sudah ada sebelum rumah dibangun. Kakek yang menanamnya, kata ayah. Atau kakeknya kakek. Tidak ada yang tahu pasti. Pohon itu adalah saksi bisu semua yang terjadi di sini. Kelahiran, kematian, pergi, kembali. Akarnya dalam, mencengkeram tanah seperti rumah ini mencengkeram hidupku.

Kadang aku berpikir, apa yang akan terjadi padaku kalau rumah ini runtuh. Apa aku akan runtuh bersamanya. Atau apa aku akan akhirnya bebas. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan.

Sore datang perlahan. Matahari bergeser ke barat, melemparkan cahaya oranye ke dinding rumah. Kayu bersinar seperti tembaga. Ini jam emas—waktu di mana rumah terlihat paling indah. Aku duduk di tangga teras lagi, menunggu senja.

Di kejauhan, aku mendengar suara. Mobil. Jarang sekali ada mobil lewat di jalan ini. Suaranya mendekat, kemudian berhenti. Pintu mobil terbuka, tertutup. Langkah kaki di kerikil.

Seorang wanita muncul di tikungan jalan. Rambutnya pendek sekarang, tidak pirang lagi—diwarnai cokelat. Tapi aku mengenalinya. Anna.

Ia berhenti ketika melihatku. Kami saling menatap tanpa berkata apa-apa. Empat puluh detik, mungkin. Atau empat puluh tahun.

"Hai," katanya akhirnya.

"Hai," jawabku.

Ia berjalan mendekat, pelan, seolah takut aku akan lari. "Boleh aku duduk?"

Aku mengangguk. Ia duduk di sebelahku, menjaga jarak. Kami menatap halaman bersama.

"Aku dengar ibumu meninggal," katanya pelan. "Maaf aku tidak datang ke pemakaman."

"Tidak apa-apa."

"Bagaimana kau?"

"Masih di sini," jawabku. "Seperti yang bisa kau lihat."

Ia tersenyum tipis. "Rumahnya masih sama."

"Rumah tidak pernah berubah. Hanya semakin tua."

"Seperti kita."

Kami terdiam lagi. Tapi bukan diam yang tidak nyaman. Diam yang penuh dengan semua yang tidak perlu dikatakan.

"Aku tidak bahagia," katanya tiba-tiba. "Di kota. Dengan tokonya, suamiku, hidupku. Aku pikir aku akan bahagia kalau pergi. Tapi aku tidak pernah merasa di rumah di sana."

"Kenapa kau tidak kembali?"

"Ke mana? Desa sudah tidak sama. Orang-orang yang kukenal sudah pindah atau mati. Rumahku sudah dijual." Ia menoleh padaku. "Kau beruntung, tahu. Kau punya tempat. Tempat yang benar-benar milikmu."

Aku ingin tertawa. Atau menangis. Aku tidak tahu mana. "Atau tempat ini yang memilikimu," kataku pelan.

Ia menatapku lama. "Kau pernah menyesal? Tidak ikut denganku waktu itu?"

Aku memikirkannya dengan jujur. "Setiap hari selama lima tahun pertama. Kemudian sesekali. Sekarang... sekarang aku tidak tahu lagi apa itu sesal."

"Apa maksudnya?"

"Sesal itu untuk orang yang percaya hidupnya bisa berbeda. Aku tidak percaya lagi. Ini satu-satunya hidup yang mungkin bagiku."

Anna mengangguk pelan. Ia mengerti. Atau tidak. Tidak masalah.

Ia tinggal sampai matahari terbenam. Kami bicara tentang hal-hal kecil—cuaca, tanaman, kayu yang melapuk. Kami tidak bicara tentang apa yang bisa terjadi, tentang jalan yang tidak kami ambil. Tidak ada gunanya.

Ketika ia berdiri untuk pergi, ia memelukku sebentar. Pelukannya hangat, asing. "Jaga dirimu," katanya.

"Kau juga."

Aku menonton mobilnya menjauh sampai suaranya hilang ditelan jarak. Kemudian aku kembali ke dalam rumah. Menyalakan lampu minyak—kami tidak pernah pasang listrik. Api tungku kunyalakan lagi. Duduk di kursi ayah dengan selimut di pundak.

Rumah ini berderit di sekelilingku. Percakapan malam kami. Aku menutup mata, mendengarkan. Setiap bunyi punya arti. Kayu yang memuai. Angin di celah. Tikus di loteng. Rumah ini tidak pernah diam. Seperti tubuh tua yang tidak bisa berhenti mengeluh.

Tapi aku cinta keluhannya. Karena keluhan berarti masih hidup.

Aku memikirkan Anna. Memikirkan jalan yang tidak aku ambil. Memikirkan hidup lain yang mungkin ada di sana—hidup dengan warna-warna cerah, keramaian kota, laut yang belum pernah kulihat. Tapi kemudian aku melihat sekeliling. Dinding kayu yang mengenal bentuk tubuhku. Lantai yang menyimpan jejak kakiku. Atap yang melindungiku dari hujan empat puluh tahun.

Ini bukan penjara. Ini adalah kulit keduaku.

Malam semakin dalam. Api di tungku meredup jadi bara. Aku bangkit, berjalan ke kamar. Papan nomor tujuh menyapaku. Aku membalas dengan tepukan lembut. "Selamat malam," bisikku.

Di tempat tidur, aku berbaring di cekungan yang sudah mengingat tubuhku. Menatap langit-langit kayu yang penuh dengan bayangan. Bulan muncul dari balik awan, melemparkan cahaya perak melalui jendela.

Besok akan sama dengan hari ini. Dan hari setelahnya. Dan seterusnya sampai suatu hari rumah ini runtuh atau aku yang runtuh. Tapi tidak apa-apa. Karena dalam pengulangan ini, ada kedamaian. Dalam monoton ini, ada irama. Dalam kebosanan ini, ada kepastian.

Aku menutup mata. Mendengarkan napas rumah. Napasnya adalah napasku. Detaknya adalah detakku.

Kami menua bersama, rumah ini dan aku. Dengan bermartabat. Dengan lumut yang merambat pelan. Dengan kayu yang melapuk pasti.

Dan di pagi hari, ketika papan nomor tujuh kembali berderit, aku akan bangun lagi. Memasang air untuk teh. Duduk di jendela. Menunggu kabut terangkat.

Karena inilah yang kupunya. Inilah yang kumiliki.

Inilah yang memilikimu.

#resonance #resonansi #ceritakehidupan #rumahkayu #psychology

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul

Air yang Mengingat