Cahaya yang Kembali
# Cahaya yang Kembali
Pagi ini cahaya datang lebih awal. Aku merasakannya di buluku sebelum membuka mata. Hangat. Seperti lidah yang menjilat, tapi lebih lembut. Kakakku yang putih masih tidur di sampingku. Napasnya pelan, naik turun, naik turun. Adikku—yang putih juga, yang satu lagi—berbaring di ujung sofa, kakinya menyentuh kakiku. Kami selalu tidur begini. Menyentuh. Kehangatan lebih baik kalau dibagi.
Aku meregangkan tubuh. Cakarku keluar, lalu masuk lagi. Sofa ini lembut. Baunya sudah menjadi bauku. Atau bauku sudah menjadi bau sofa. Aku tidak tahu mana yang benar. Yang aku tahu, ini adalah tempatku.
Tapi tidak selalu begini.
---
Aku ingat tempat pertama. Tempat yang keras dan dingin dengan dinding kaca. Ibu bilang—tidak, ibu tidak bilang apa-apa. Ibu hanya menjilat kami. Lidahnya kasar dan basah. Kami berempat berdesakan mencari susu. Hangat. Ibu itu hangat. Tubuhnya besar dan lembut, bulunya berbau seperti semua hal yang aman.
Aku tidak tahu berapa lama kami di sana. Kucing tidak menghitung hari seperti manusia. Kami menghitung kehangatan. Kami menghitung susu. Kami menghitung detak jantung ibu yang pelan, teratur, seperti dunia yang tidak akan pernah berhenti.
Tapi ibu sering pergi. Setiap kali dia pergi, kami menunggu. Kami mengeong kecil-kecil. Suaraku yang paling keras, kata kakakku. Tapi aku tidak tahu apakah itu benar. Kami semua mengeong. Kami semua lapar.
Dia selalu kembali. Sampai suatu hari, dia tidak kembali.
---
Aku mendengar suara dari dapur. Langkah kaki. Berat tapi pelan. Manusia itu bangun. Aku membuka mata. Cahaya sudah memenuhi ruangan. Kakakku menggeliat, lalu melompat turun dari sofa. Adikku mengikuti. Aku duduk sebentar, membersihkan wajahku dengan cakar. Telinga, hidung, pipi. Rutinitas pagi.
Manusia itu berdiri di dapur. Tinggi. Jauh lebih besar dari ibu. Tangannya bergerak, mengambil sesuatu dari atas meja. Bunyi plastik. Aku tahu bunyi itu. Makanan.
Kami bertiga berlari ke dapur. Kakiku ringan di lantai. Aku suka berlari. Suka bagaimana tubuhku bergerak, cepat dan pasti. Di belakangku, kakak dan adikku juga berlari. Kami sampai hampir bersamaan.
Manusia itu menuang makanan ke tiga piring. Satu untukku, satu untuk kakakku, satu untuk adikku. Dia tahu kami berbeda. Dia selalu tahu.
Aku makan. Rasa kering dan renyah. Tidak seperti susu ibu. Tapi ini juga baik. Ini mengenyangkan. Ini membuat tubuhku kuat.
---
Aku ingat hari-hari ketika kami tidak bisa makan. Ibu sudah tidak ada. Kami menunggu. Mengeong. Tubuhku terasa ringan, tapi bukan ringan yang baik. Ringan seperti angin bisa meniupku pergi.
Lalu datang rasa di mulut. Aneh. Cair tapi tidak seperti susu. Manusia itu memegang sesuatu, menekannya ke mulutku. Aku tidak mengerti. Aku mencoba menolak. Tapi dia pelan. Tangannya besar tapi tidak menyakiti. Cairan itu masuk sedikit demi sedikit.
Kakakku yang putih—yang pertama, yang paling kecil—dia muntah malam itu. Aku mendengarnya. Suara kecil, seperti sesak. Tubuhnya gemetar. Kami semua tidur berdesakan di tempat yang keras itu, tapi dia tidak hangat lagi.
Pagi harinya, dia dingin.
Manusia itu mengangkatnya. Tangannya melingkupi tubuh kecil itu dengan hati-hati. Aku melihat wajah manusia itu. Aku tidak mengerti ekspresi manusia. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat aku diam.
Adik bungsuku tidak kembali.
---
Setelah makan, aku pergi ke jendela. Ini tempatku di pagi hari. Cahaya masuk dari sini, hangat di bulu. Aku duduk di ambang jendela, ekorku melingkar di sekitar kakiku. Di luar, ada burung. Kecil. Cepat. Aku menonton mereka terbang dari satu dahan ke dahan lain.
Aku tidak ingin menangkap mereka. Aku hanya ingin menonton.
Kakakku melompat ke jendela, duduk di sampingku. Dia lebih besar dariku. Bulunya putih bersih. Dia menjilat telingaku. Aku membiarkan. Ini yang kami lakukan. Menjilat satu sama lain. Seperti ibu dulu menjilat kami.
Adikku di lantai, bermain dengan sesuatu dan berguling. Aku tidak tahu apa itu. Tapi dia senang. Ekornya tegak, melengkung di ujung.
Manusia itu duduk di kursi besar, di depan meja ada sesuatu yang bercahaya. Tangannya bergerak di atas benda datar yang mengeluarkan bunyi klik-klik-klik. Aku suka bunyi itu. Teratur. Seperti detak jantung.
---
Aku ingat ketika kami mulai makan sendiri. Bukan dari pipet lagi. Manusia itu meletakkan piring dengan makanan kering. Kami menciumnya. Aneh. Tidak seperti susu. Tidak seperti apa pun yang kami tahu.
Kakakku yang putih mencoba pertama. Dia menjilat, lalu mengigit. Renyah. Dia makan lagi. Lalu aku mencoba. Lalu adikku.
Kami belajar. Kami makan sendiri. Kami tidak perlu ibu lagi.
Tapi ada sesuatu yang hilang.
Aku tidak tahu apa itu sampai jauh kemudian. Sampai aku mengerti bahwa ibu tidak akan pernah kembali. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tidak bisa.
Yang hilang adalah kepastian. Kepastian bahwa selalu ada yang kembali. Selalu ada yang hangat. Selalu ada yang aman.
Tapi kemudian, pelan-pelan, kepastian itu datang lagi. Dalam bentuk yang berbeda.
Manusia itu. Dia selalu ada. Setiap pagi, dia bangun. Setiap hari, dia memberi kami makan. Setiap malam, dia duduk di kursi itu, dan kami datang ke dekatnya.
Dia tidak menjilat kami. Dia tidak memberi kami susu dari tubuhnya. Tapi tangannya hangat. Ketika dia mengusap kepalaku, ada sesuatu yang menenangkan. Seperti lidah ibu. Tapi berbeda.
Lebih lembut, mungkin. Atau lebih sabar.
---
Siang ini aku tidur di atas meja. Meja di sudut ruangan yang dekat jendela. Cahaya matahari membuat meja ini hangat. Aku suka tidur di sini. Tubuhku rileks, kakiku terlipat di bawahku.
Aku bermimpi. Kucing bermimpi. Tentang berlari. Tentang melompat. Tentang sesuatu yang lembut dan hangat. Mungkin ibu. Mungkin hanya cahaya.
Aku terbangun karena sentuhan. Tangan manusia itu, mengusap punggungku. Pelan. Dari kepala ke ekor. Aku mengangkat kepalaku sedikit, lalu menurunkannya lagi. Aku mendengkur. Aku tidak bisa menahan dengkuran itu. Itu datang sendiri, dari dalam dadaku, bergetar keluar.
Dia berbicara. Aku tidak mengerti kata-katanya. Tapi aku mengerti nadanya. Lembut. Seperti suara yang mengatakan, "Kamu aman. Kamu aman di sini."
Aku percaya.
---
Aku ingat hari ketika ada cahaya terang. Lebih terang dari matahari. Manusia itu memegang sesuatu di tangannya, mengarahkannya pada kami. Cahaya itu menyilaukan. Aku menyipitkan mata. Kakak dan adikku juga.
Manusia itu tersenyum. Aku tahu dia tersenyum karena wajahnya berubah. Matanya menyempit sedikit. Itu yang manusia lakukan ketika mereka senang.
Dia melihat sesuatu di benda di tangannya. Lalu dia tertawa kecil. Bunyi yang ringan, seperti air.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya senang. Tapi aku senang dia senang.
Nanti aku tahu, dia melihat kami. Dia melihat siapa kami. Atau apa kami. Kami campuran, katanya pada suara di benda itu. Campuran dari banyak hal.
Jackpot, katanya.
Aku tidak tahu apa itu jackpot. Tapi kalau itu berarti dia senang kami ada, maka aku senang itu adalah jackpot.
---
Sore ini awan datang. Cahaya berubah, menjadi lebih lembut, lebih abu-abu. Aku bisa mencium hujan sebelum turun. Baunya basah, segar, berbeda dari bau rumah.
Aku pergi ke sofa. Kakak dan adikku sudah di sana. Kami berkumpul, tubuh kami menyentuh. Ini yang kami lakukan ketika cuaca berubah. Ketika ada suara keras di luar. Ketika ada sesuatu yang membuat kami butuh dekat satu sama lain.
Hujan mulai turun. Bunyi tetesan di atap. Lembut dulu, lalu lebih keras. Aku suka bunyi ini. Bunyi yang menutupi semua bunyi lain. Bunyi yang membuat dunia menjadi kecil, hanya ruangan ini, hanya kami.
Manusia itu datang, duduk di kursi dekatku. Dia tidak menyentuhku. Hanya duduk. Napasnya pelan. Aku bisa mendengarnya. Bisa merasakan kehadirannya.
Ini adalah saat yang aku suka. Ketika tidak ada yang bergerak. Ketika semua hanya ada.
---
Aku ingat menunggu ibu. Berhari-hari. Tubuhku lemas. Adik bungsuku muntah. Adikku menangis dengan suara yang sangat kecil.
Aku pikir kami akan mati. Aku tidak tahu apa itu mati, tapi aku merasakan sesuatu yang menghilang. Kehangatan yang pergi. Cahaya yang redup.
Tapi kemudian ada tangan. Ada suara. Ada sesuatu yang cair di mulutku, meski aku tidak mau. Ada sesuatu yang mengangkatku, meletakkanku di tempat yang lebih hangat.
Ada seseorang yang memilih untuk tidak membiarkan kami mati.
Ibu pergi. Tapi dia meninggalkan kami pada seseorang yang akan tinggal.
Aku tidak tahu apakah ibu tahu ini. Aku tidak tahu apakah dia memilih rumah ini karena dia tahu manusia ini akan menjaga kami.
Tapi aku percaya dia tahu. Entah bagaimana, dia tahu.
---
Malam datang pelan. Cahaya di jendela berubah dari abu-abu menjadi biru gelap, lalu hitam. Hujan masih turun. Lebih pelan sekarang. Seperti berbisik.
Kakakku tidur, kepalanya di atas kakiku. Adikku tidur, tubuhnya hangat menempel di sisiku. Manusia itu masih duduk di kursi. Aku mendengar napasnya. Teratur. Menenangkan.
Aku pikir tentang akuarium. Tentang tempat keras dan dingin itu. Tentang ibu yang hangat. Tentang kakakku yang mati. Tentang hari-hari lapar. Tentang belajar makan. Tentang ruangan ini yang pelan-pelan menjadi milikku.
Tempat ini bukan tempat aku lahir. Tapi tempat ini adalah tempat aku dipilih untuk tinggal.
Ibu membawaku ke dunia. Tapi manusia ini membawaku ke rumah.
Aku tidak tahu banyak kata. Aku tidak mengerti banyak hal. Aku tidak tahu kenapa ibu pergi. Aku tidak tahu kenapa kakakku mati. Aku tidak tahu apa itu jackpot.
Tapi aku tahu ini:
Tubuh hangat di sampingku. Tangan besar yang kadang mengusap kepalaku. Suara hujan di atap. Cahaya yang datang setiap pagi. Piring yang selalu terisi. Tempat yang lembut untuk tidur.
Aku tahu ini adalah cukup.
Aku tahu ini adalah rumah.
Mataku mulai tertutup. Dengkuranku pelan, hanya untuk diriku sendiri. Tubuhku rileks. Kakiku terlipat. Ekorku melingkar.
Hujan berbisik. Kakakku bernapas. Adikku hangat. Manusia itu dekat.
Besok cahaya akan datang lagi.
Dan aku akan di sini.
Selalu di sini.
Di tempat di mana aku dipilih untuk tinggal.
#resonansi #resonance #ceritakehidupan #catlovers #kitten #psychology
Comments
Post a Comment