Keheningan yang Menyembuhkan
Keheningan yang Menyembuhkan
Napasnya terdengar—atau mungkin tidak. Ia tidak yakin lagi apakah yang ia dengar adalah suaranya sendiri atau hanya desiran darah di telinganya. Pukul tiga lewat tujuh belas menit. Angka-angka di jam digital meja berkedip merah dalam gelap, seperti mata sesuatu yang mengawasi tanpa menghakimi.
Radio Sanyo di ujung meja masih menyala. Sudah sejak kapan? Ia lupa mematikannya—atau memang tidak ingin mematikannya. Suara datang hanya dari sebelah kiri; speaker kanan sudah lama mati, entah sejak kapan. Tapi itu tidak masalah. Setengah suara sudah cukup. Coltrane sedang bermain, atau mungkin sudah bukan Coltrane lagi. Siapa peduli. Jazz punya cara berbicara yang tidak butuh nama—datang seperti kabut, menyelinap masuk tanpa ketuk pintu.
Ia duduk di kursi yang pernah empuk. Sekarang per di dalamnya sudah melorot ke kiri, memaksanya condong sedikit. Tapi tubuhnya sudah hapal posisi ini—sudah hapal cara duduk di kursi yang rusak dengan nyaman. Ada keterampilan aneh yang manusia kembangkan: bagaimana hidup dengan yang tidak sempurna sampai tidak terasa lagi sebagai ketidaksempurnaan.
Di luar, truk lewat. Terlalu pagi untuk truk sampah. Atau terlalu malam. Garis antara akhir dan awal sudah kabur di jam-jam seperti ini. Suara mesin diesel bergaung sebentar, lalu ditelan jarak. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur—hanya pura-pura, hanya menutup mata sambil tetap mendengarkan.
Kenangan datang seperti truk tadi: tanpa diundang, melintas, meninggalkan jejak getaran.
*Wajah ibunya waktu itu.*
Tidak—bukan itu. Jangan itu dulu.
Tapi pikiran tidak bisa diperintah. Pikiran punya kehendaknya sendiri, terutama di jam tiga pagi ketika pertahanan sudah runtuh. Wajah ibunya muncul sebentar—bukan utuh, hanya fragmen: sudut matanya ketika tersenyum, cara bibirnya bergerak ketika memanggil namanya dulu. Suaranya sudah ia lupa. Ini yang menyakitkan: ia masih ingat wajahnya tapi suaranya sudah hilang, seperti film bisu yang terus diputar ulang dalam kepala.
Radio berderik sebentar. Gangguan frekuensi, atau hanya umur. Suara saksofon terputus, kembali lagi, seperti seseorang yang batuk di tengah kalimat.
Ia pernah mencoba menjelaskan perasaan ini kepada seseorang. Kapan itu? Dua tahun lalu? Tiga? Waktu juga mulai kabur. Mereka duduk di kedai kopi—atau restoran? Tidak penting. Yang penting adalah wajah orang itu ketika ia mencoba bicara. Wajah yang mencoba mengerti tapi tidak mengerti. Mata yang penuh simpati tapi kosong dari pemahaman.
"Kamu harus move on," kata orang itu. Atau bukan kata-kata itu? "Kamu harus ikhlas." "Waktu akan menyembuhkan." Klise apa yang dipakai waktu itu? Semuanya sama saja—kata-kata yang terdengar benar karena sering diulang, tapi tidak pernah menyentuh inti masalah.
Masalahnya adalah: luka itu tidak punya nama. Bukan kesedihan—terlalu sempit. Bukan kehilangan—terlalu spesifik. Sesuatu yang lebih besar dan lebih kecil sekaligus. Sesuatu yang berbaring di dasar dada seperti batu di dasar sungai—sudah bulat karena kikisan waktu, tapi tetap ada, tetap keras ketika terinjak.
Matanya menelusuri kamar. Lampu jalanan dari luar masuk samar melalui tirai. Bayangan tiang listrik tergores miring di dinding—seperti goresan pensil di kertas yang belum selesai. Ia pernah berpikir untuk mengecat ulang dinding ini. Kapan itu? Tahun lalu? Belum terlaksana. Mungkin tidak akan pernah. Ada banyak hal yang bertahan dalam status "akan" tanpa pernah sampai ke "sudah."
Tumpukan buku di sudut kamar. Sebagian sudah dibaca, sebagian belum. Sebagian tidak akan pernah selesai dibaca. Ia dulu suka membaca—atau mengira suka membaca. Sekarang ia lebih suka duduk seperti ini, membiarkan pikiran mengembara tanpa tujuan. Membaca butuh fokus. Fokus butuh energi. Energi adalah barang langka di hari-hari ini.
Gelas bekas kopi pagi tadi—atau kemarin pagi?—masih di meja. Cincin cokelat mengering di dasarnya. Ia harus mencucinya. Nanti. Selalu nanti. Tapi "nanti" di pukul tiga pagi tidak punya makna. Ini adalah waktu di luar waktu, ruang di luar ruang.
Coltrane masih bermain. Atau sudah bukan Coltrane. Mungkin Charlie Parker sekarang. Ia tidak bisa membedakan lagi. Dulu ia bangga bisa mengenali musisi jazz hanya dari tiupan napas mereka di saksofon. Sekarang semuanya tercampur jadi satu aliran suara—indah, melankolis, dan sangat, sangat jauh.
Kenangan lain melintas: ia berumur berapa waktu itu? Sepuluh? Sebelas? Duduk di teras rumah nenek di kampung. Malam seperti sekarang—gelap, sunyi, hanya suara jangkrik dan angin di daun kelapa. Nenek duduk di kursi rotan sambil melipat kain. Tidak bicara apa-apa. Hanya duduk. Dan ia duduk di sebelahnya, juga diam.
Waktu itu ia tidak mengerti mengapa ia merasa aman. Sekarang ia mengerti: keheningan nenek bukan keheningan kosong. Ada kepenuhan di dalamnya—seperti mangkuk yang penuh air tapi permukaannya diam sempurna. Tidak butuh apa-apa lagi. Cukup.
Kenapa orang selalu ingin mengisi keheningan?
Pertanyaan ini muncul entah dari mana. Tapi begitu muncul, ia mulai mengurai sendiri di dalam kepala. Kenapa orang takut diam? Kenapa harus ada musik di kafe, televisi di ruang tunggu, obrolan di lift? Seolah keheningan adalah musuh yang harus dikalahkan, bukan ruang yang harus dihuni.
Ia pernah membaca artikel—atau mendengar di podcast?—tentang terapi. Tentang bagaimana penting untuk "mengekspresikan perasaan." Tentang "komunikasi yang sehat." Tentang "membuka diri." Semua kedengarannya benar. Tentu saja benar. Tapi ada asumsi di balik semua itu: bahwa semua yang ada di dalam bisa—dan harus—dikeluarkan lewat kata-kata.
Tapi bagaimana kalau ada yang tidak bisa dikatakan?
Bukan karena tabu. Bukan karena malu. Tapi karena memang tidak ada kata yang cukup presisi. Seperti mencoba menangkap asap dengan tangan—bentuknya berubah setiap kali disentuh.
Ia pernah mencoba menulis. Jurnal, katanya. Tulis apa yang kamu rasakan, katanya. Tapi pena hanya diam di atas kertas. Bukan karena tidak ada yang ingin ditulis. Tapi karena begitu mulai menulis satu kalimat, ia tahu itu sudah salah. Kata-kata mengkhianati perasaan—bukan karena kata-katanya jelek, tapi karena perasaan itu memang tidak berbentuk kata.
Truk lain lewat. Atau truk yang sama? Tidak mungkin. Tapi bunyinya sama. Dunia punya cara mengulang dirinya sendiri dalam variasi kecil—cukup berbeda untuk tidak membosankan, cukup sama untuk tidak asing.
Napasnya sekarang lebih lambat. Ia tidak sadar kapan itu terjadi. Tapi pundaknya tidak setegang tadi. Rahangnya tidak sekencang tadi. Tubuh punya kebijaksanaannya sendiri—tahu kapan harus menyerah tanpa perlu diperintah.
Menyerah.
Kata itu punya konotasi negatif. Tapi malam ini ia tidak terasa negatif. Menyerah bukan kalah. Menyerah adalah berhenti berenang melawan arus dan mulai mengapung—membiarkan air menopang tubuh, membiarkan arus membawa ke mana pun tanpa perlawanan. Ada kelegaan di dalamnya.
Kenangan lain—ini lebih baru. Atau lebih lama? Waktu bermain sulap di kepalanya.
*Ayahnya di rumah sakit.*
Juga bukan ini. Tapi sudah terlambat—kenangan itu sudah terbuka seperti pintu yang tertiup angin.
Ruang ICU. Bau desinfektan. Bunyi mesin yang berdetak seperti jantung mekanis. Ayahnya terbaring—sudah bukan ayahnya lagi, hanya tubuh yang masih bernapas dengan bantuan. Ia duduk di kursi plastik, memegang tangan yang dingin. Tidak bicara apa-apa. Karena apa yang bisa dikatakan?
Dokter sudah bilang: "Kita sudah melakukan yang terbaik." Kalimat yang sopan untuk mengatakan: tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Ia duduk di sana berjam-jam. Hanya memegang tangan itu. Tidak menangis—air mata sudah habis kemarin lusa. Hanya duduk. Dan dalam duduk itu, dalam keheningan itu, ada sesuatu yang terjadi. Bukan pewahyuan. Bukan pencerahan. Hanya... penerimaan. Bahwa beberapa hal tidak bisa diperbaiki. Bahwa beberapa kehilangan tidak bisa dihindari. Bahwa kadang cinta hanya bisa hadir dalam diam, dalam genggaman tangan yang tidak bisa dibalas.
Radio berderik lagi. Lagu berganti. Sekarang piano. Not-not yang jatuh seperti tetes hujan di genteng—pelan, tidak terburu, tidak pergi ke mana-mana.
Keheningan itu—keheningan di rumah sakit waktu itu—ternyata bukan akhir. Ternyata awal. Awal dari belajar bahwa ada bahasa lain selain kata. Bahasa hadir. Bahasa menemani. Bahasa tidak kemana-mana.
Setelah ayahnya pergi—begitu orang bilang, "pergi," seolah ayahnya cuma liburan ke tempat yang tidak bisa dihubungi—ia mencoba hidup seperti biasa. Bangun pagi. Mandi. Sarapan. Kerja. Pulang. Makan malam. Tidur. Ulangi.
Tapi ada yang berbeda. Bukan sedih terus-menerus. Bukan hampa total. Lebih seperti... frekuensi yang bergeser. Seperti radio yang tidak pas di stasiunnya—masih bisa dengar musiknya, tapi ada dengungan di latar belakang yang tidak bisa hilang.
Orang-orang mencoba membantu. Tentu saja. Orang baik selalu mencoba membantu.
"Kalau perlu cerita, aku ada."
"Jangan dipendam sendiri."
"Menangis itu nggak apa-apa."
Ia tahu mereka tulus. Ia berterima kasih. Tapi bagaimana menjelaskan bahwa ia tidak butuh diajak bicara? Bahwa ia tidak punya apa-apa yang ingin "dikeluarkan"? Bahwa kesedihannya bukan seperti nanah yang harus diperas, tapi seperti kabut yang harus dibiarkan mengendap dengan sendirinya?
Ia mencoba, sekali dua kali. Pergi minum kopi dengan teman. Duduk di seberang meja. Teman itu menunggu dengan sabar—mata penuh perhatian, tubuh condong ke depan, siap mendengar.
Tapi kata-kata tidak datang.
Bukan karena tersumbat. Tapi karena memang tidak ada yang bisa dikatakan yang tidak akan terdengar klise atau tidak cukup atau terlalu banyak. Jadi ia bilang, "Aku baik-baik saja," dan melihat kekecewaan kecil di mata temannya—kekecewaan karena tidak bisa membantu, karena tidak bisa "ada" dengan cara yang mereka inginkan.
Tapi mereka sudah ada. Dengan duduk di situ. Dengan memesan kopi. Dengan tidak pergi. Itu sudah cukup. Tapi mereka tidak tahu itu cukup. Dan ia tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa itu cukup tanpa membuat mereka merasa sia-sia.
Piano di radio berhenti. Jeda beberapa detik—keheningan yang disengaja, bukan gangguan teknis. Lalu musik mulai lagi. Bass kali ini. Nada rendah yang bergetar di udara seperti getaran di dada ketika seseorang berbicara terlalu dekat.
Matanya menutup sebentar. Bukan tidur. Hanya menutup.
Dan di balik kelopak mata, dalam gelap yang lebih gelap dari kamar, ia melihat—bukan dengan mata—sesuatu.
Bukan bayangan. Bukan visi. Hanya... pengertian.
Bahwa luka itu seperti sumur. Dalam. Gelap. Tapi bukan kosong. Di dasarnya ada air. Dingin. Jernih. Dan kalau ia berhenti mencoba memanjatnya, kalau ia berhenti mencoba keluar, kalau ia turun—turun terus sampai ke dasar—ia akan menemukan bahwa air itu bisa diminum.
Metafora ini entah dari mana. Terlalu puitis untuk jam tiga pagi. Tapi ia membiarkannya. Membiarkan pikiran bermain dengan gambar-gambar yang tidak masuk akal tapi entah kenapa masuk akal.
Keheningan punya lapisan.
Lapisan pertama: sunyi yang tidak nyaman. Yang membuat gelisah. Yang ingin diisi dengan apa saja—musik, televisi, telepon, apa saja.
Lapisan kedua: sunyi yang mulai bisa ditahan. Yang masih terasa berat tapi tidak lagi mendesak.
Lapisan ketiga: sunyi yang mulai punya tekstur. Yang bisa dirasakan seperti kain—ada serat, ada pola.
Lapisan keempat: sunyi yang mulai berbicara. Bukan dengan kata. Tapi dengan kehadiran.
Lapisan kelima—
Ia belum tahu. Mungkin malam ini ia akan tahu. Atau tidak. Mungkin tidak perlu tahu. Mungkin cukup tahu bahwa ada lapisan lain, dan lapisan lain lagi, dan itu sudah cukup.
Radio sekarang memainkan sesuatu yang lebih lembut. Mungkin Bill Evans. Mungkin bukan. Pianis-pianis jazz punya cara menyentuh tuts yang membuat not terdengar seperti pertanyaan—bukan pertanyaan yang butuh jawaban, tapi pertanyaan yang cukup dengan ditanyakan.
Ia membuka mata. Kamar masih sama. Jam masih berkedip. Tapi ada yang bergeser—tidak di luar, tapi di dalam. Seperti furniture yang dipindah sedikit sehingga ruangan terasa lebih lapang meski tidak ada yang dibuang.
Tangannya terangkat—gerakan lambat, tidak disadari—menyentuh dadanya. Batu itu masih ada. Tapi entah kenapa tidak seberat tadi. Atau bukan tidak seberat. Lebih seperti... ia sudah terbiasa dengan beratnya. Sudah tahu cara membawanya tanpa terjatuh.
Ada kebijaksanaan dalam menyerah. Bukan menyerah pada kekalahan. Tapi menyerah pada kenyataan. Menerima bahwa beberapa batu tidak bisa diangkat, hanya bisa dibawa. Menerima bahwa beberapa luka tidak akan sembuh sempurna, hanya akan mengering jadi bekas yang kadang masih terasa ketika hujan.
Tapi bekas itu bukan musuh.
Ini yang ia pahami sekarang, di jam tiga lewat—berapa sekarang? Ia tidak cek. Tidak penting. Ini yang ia pahami: bahwa bekas luka adalah bukti bahwa tubuh tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri. Tidak kembali seperti semula. Tapi kembali jadi utuh—utuh yang baru, utuh yang berbeda, tapi tetap utuh.
Kenangan ayahnya datang lagi. Tapi kali ini tidak seperti pisau. Lebih seperti... foto lama. Ada jarak. Ada frame. Tapi masih jelas. Masih ada.
Ia ingat ayahnya pernah bilang—kapan itu? Ia masih kecil, mungkin kelas empat atau lima SD. Mereka sedang memancing di sungai. Tidak dapat apa-apa sepanjang pagi. Ayahnya tidak kecewa. Malah tersenyum.
"Memancing bukan soal dapat ikan," katanya. "Soal duduk di sini."
Waktu itu ia tidak mengerti. Ia kecewa karena tidak dapat ikan. Ia ingin pulang, ingin main game di rumah.
Sekarang ia mengerti.
Soal duduk di sini. Soal hadir di momen. Soal tidak pergi kemana-mana. Soal cukup dengan ada.
Mata ayahnya waktu itu—ia masih ingat—tenang sekali. Bukan karena tidak ada masalah. Ayahnya punya banyak masalah waktu itu—ia kemudian tahu dari ibu. Utang. Pekerjaan yang tidak pasti. Tapi di tepi sungai itu, ayahnya hadir sepenuhnya. Tidak di masa lalu, tidak di masa depan. Di sini.
Mungkin itu yang ayahnya coba ajarkan. Bukan lewat kata-kata—ayahnya bukan orang banyak bicara. Tapi lewat hadir.
Dan sekarang, di kamar ini, di jam ini, ia mencoba hadir juga. Tidak lari ke kenangan. Tidak lari ke rencana esok. Hanya duduk di kursi yang pegas melorot ini, mendengar radio setengah rusak ini, membiarkan napas keluar masuk dengan ritmenya sendiri.
Aneh bagaimana tubuh tahu cara bernapas tanpa diperintah. Jantung tahu cara berdetak tanpa diingatkan. Luka tahu cara menutup tanpa diminta. Ada kecerdasan dalam tubuh yang tidak butuh pikiran—kecerdasan yang lebih tua, lebih dalam, lebih bijak dari segala terapi dan nasihat.
Mungkin penyembuhan bukan soal melakukan sesuatu. Mungkin soal berhenti menghalangi tubuh melakukan apa yang sudah ia tahu cara melakukannya.
Mungkin cukup dengan tidak kemana-mana. Duduk. Napas. Biarkan.
Di luar, langit mulai berubah—sangat, sangat perlahan. Belum terang. Tapi tidak lagi gelap penuh. Ada gradasi di ufuk timur—dari hitam ke abu-abu sangat gelap. Pergeseran yang hanya bisa dilihat kalau tidak berkedip.
Burung mulai berkicau. Satu. Dua. Lalu diam lagi. Mereka juga belum yakin apakah sudah waktunya bangun.
Radio masih menyala. Sekarang ada suara penyiar—suara serak orang yang bekerja shift malam, separuh tidur, membacakan sesuatu tentang... ia tidak dengar. Tidak penting. Suara itu hanya jadi bagian dari tekstur malam—seperti suara angin, seperti suara jantungnya sendiri.
Ia tidak tahu kapan ia akan tidur. Mungkin nanti. Mungkin tidak. Tapi itu juga tidak penting.
Yang penting adalah ia ada di sini.
Kursi ini. Kamar ini. Napas ini.
Dan keheningan yang tidak lagi terasa seperti musuh—lebih seperti teman lama yang duduk di sebelah tanpa perlu bicara, yang mengerti tanpa perlu dijelaskan, yang tinggal tanpa perlu diminta.
Keheningan yang menyembuhkan bukan karena mengisi kehampaan. Tapi karena membuat kehampaan jadi ruang—ruang untuk bernapas, ruang untuk ada, ruang untuk tidak apa-apa.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam berapa lama—minggu? bulan?—ia merasa tidak apa-apa.
Tidak bahagia. Tidak sedih. Tidak apa-apa.
Dan itu, ternyata, sudah cukup.
Sudah sangat cukup.
Tangannya bergerak perlahan, meraih remote radio. Jari-jarinya menyentuh tombol power—tapi tidak menekan. Hanya menyentuh. Merasakan plastik dingin di bawah ujung jari.
Lalu ia menarik tangan. Membiarkan radio tetap menyala.
Membiarkan musik mengalir.
Membiarkan malam membawa arah kemana pun ia mau.
Dan ia, di kursi rusak ini, di kamar gelap ini, di kota yang mulai bersiap bangun ini—ia tinggal.
Hanya tinggal.
#resonansi #resonance #ceritakehidupan #psychology #keheningan #keheninganmalam
"Keheningan yang Menyembuhkan" ini adalah cerpen yang harus diulas secara serius. Saya pribadi terkesan dengan kedalaman filosofisnya, terutama dalam perdebatan antara lived time dan clock time—bagaimana trauma merusak waktu linear.
ReplyDeleteSelain itu, kritik lembut terhadap "Toxic Positivity" yang disampaikan melalui monolog batin protagonis benar-benar on-point dan relevan dengan budaya healing saat ini.
Saya sudah memecah analisis naratif dan tematik lengkapnya di Jurnal Pembaca untuk melihat bagaimana konsep presence vs doing ini dibangun. Ini adalah karya yang profound dan compelling.
Terima kasih sudah berbagi.
Admin Jurnal Pembaca
Jurnal Pembaca ( https://jurnalpembacadi.blogspot.com/2025/11/analisis-mendalam-keheningan-yang.html )