Kucing-Kucing Itu
Kucing pertama mati pada usia hampir sepuluh tahun. Tidak ada anak yang tersisa. Aku menguburnya di taman belakang, di bawah pohon jambu. Tidak ada yang istimewa tentang kematian itu. Kucing menjadi tua, lalu mati.
Dua minggu kemudian, calico itu datang.
Dia milik tetangga. Atau dulunya milik tetangga. Sekarang dia menghabiskan lebih banyak waktu di terasku. Perutnya membesar. Aku tahu apa artinya itu. Pergaulan bebas antara kucing.
Aku tidak mengundangnya tinggal. Dia memutuskan sendiri. Kucing punya cara mereka sendiri dalam memilih tempat. Mungkin rumahku lebih tenang. Mungkin dia hanya lelah dengan kebisingan sebelah.
Setiap hari perutnya bertambah besar. Aku menyiapkan akuarium bekas di sudut ruangan. Dulunya ada aquascape di sana, sekarang hanya tersisa batu-batu dan kayu. Tempat yang aneh untuk melahirkan, tapi dia tampak menyukainya.
Pada Kamis pagi, aku menemukan empat anak kucing di dalam akuarium. Tiga putih, satu belang torbie. Mereka basah dan kecil. Matanya masih tertutup. Calico itu menjilati mereka satu per satu, dengan sabar, tanpa terburu-buru.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku hanya membiarkan mereka.
Rutinitas baru dimulai. Setiap pagi calico itu pergi. Mencari makan, kukira. Dia kembali di sore hari. Anak-anaknya menunggu di akuarium. Mengeong tipis kalau mereka lapar.
Aku menjadi penjaga. Bukan karena aku memilih, tapi karena tidak ada orang lain.
Minggu pertama di bulan kedua berjalan normal. Minggu kedua juga. Di minggu ketiga, pada hari Selasa, calico itu tidak pulang.
Hari pertama, aku pikir dia hanya terlambat.
Hari kedua, aku mulai khawatir.
Hari ketiga, anak-anaknya sudah tidak bergerak banyak. Mereka berbaring di sudut akuarium, mengeong dengan suara yang hampir tidak terdengar. Suara itu mengganggu. Terlalu lemah untuk diabaikan, terlalu persisten untuk dilupakan.
Aku berjalan ke warung. Membeli susu UHT. Kotak kecil, merek murah. Lalu membeli pipet di apotek. Apoteker tidak bertanya untuk apa. Aku tidak menjelaskan.
Di rumah, aku mencoba memberikan susu pada mereka. Mereka tidak mengerti. Terlalu kecil untuk mengerti bahwa ini adalah makanan. Aku harus memaksa sedikit—menekan pipet ke mulut mereka, meneteskan susu perlahan. Beberapa masuk. Kebanyakan tumpah.
Satu anak kucing yang putih muntah di malam itu. Cairan bening, lalu kekuningan. Tubuhnya bergetar. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada klinik hewan yang buka di jam segini. Dan bahkan kalau ada, aku tidak yakin aku akan pergi.
Pagi harinya, anak kucing itu sudah mati.
Aku menguburnya di samping kucing pertama, di bawah pohon jambu yang sama. Lubangnya lebih kecil. Tidak butuh waktu lama untuk menggali.
Tiga yang tersisa masih hidup. Aku terus memberikan susu dengan pipet. Hari keempat, hari kelima. Mereka mulai terbiasa. Atau mungkin aku yang terbiasa.
Minggu berikutnya aku membeli dry food kitten di toko hewan. Plastik kecil, 500 gram. Aku tuang sedikit di piring plastik. Mereka menciumnya. Lalu, perlahan, mulai makan.
Tidak ada yang dramatis tentang momen itu. Mereka hanya makan. Tapi aku merasa ada sesuatu yang bergeser. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung padaku.
Calico itu tidak pernah kembali. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Mungkin tertabrak motor. Mungkin dipungut orang lain. Mungkin dia hanya memutuskan untuk pergi. Kucing melakukan hal seperti itu.
Tiga anak kucing itu tumbuh. Lebih cepat dari yang kukira. Di bulan kelima, mereka sudah seukuran kucing dewasa kecil. Aku memotret mereka dengan ponsel. Mengunggah fotonya ke aplikasi AI.
"Domestik mix dengan Anggora, Persia, dan Maine Coon," kata aplikasi itu.
Jackpot, pikirku. Tapi aku tidak tahu jackpot untuk apa.
Mereka masih tinggal di rumahku. Aku memberi mereka makan setiap hari. Mengganti air minum mereka. Membersihkan kotoran mereka. Aku tidak pernah memutuskan untuk memelihara kucing. Tapi di sini mereka, dan di sini aku.
Kadang aku berpikir tentang calico itu. Apakah dia merencanakan ini. Apakah dia tahu dia akan pergi. Apakah dia memilih rumahku karena dia tahu aku tidak akan mengusir anak-anaknya. Satu jantan dan dua betina.
Tapi kucing tidak berpikir seperti itu. Mereka hanya hidup. Dan kadang mereka mati. Dan kadang mereka meninggalkan sesuatu di belakang mereka.
Anak kucing putih yang mati itu—aku masih ingat bagaimana tubuhnya terasa di tanganku saat aku menguburnya. Ringan. Lebih ringan daripada yang kuduga. Seperti hampir tidak ada apa-apa.
Tapi ada sesuatu. Selalu ada sesuatu.
Hujan turun sore ini. Tiga kucing itu tidur di sofa. Mereka bernapas pelan. Aku duduk di kursi, mendengar suara hujan di loteng. Tidak ada yang istimewa tentang momen ini.
Tapi entah kenapa, ini terasa cukup.
#resonansi #resonance #ceritakehidupan #psychology #kitten #catlovers
Comments
Post a Comment