Yang Selalu Ada


Yang Selalu Ada


## I.


Meja panjang itu selalu sama. Taplak batik biru yang sama. Kursi plastik warna-warni yang sama. Dan orang-orang yang duduk di sana juga selalu sama—hanya cerita mereka yang berganti.

Raka duduk di ujung meja, kaki pendeknya belum sampai ke lantai, ayun-ayunan pelan sambil main mobil-mobilan biru di bawah meja. Suara orang dewasa berdengung di atas kepalanya seperti radio yang volumenya naik-turun. Kadang keras, kadang pelan, tapi tidak pernah diam.

"Wah, Om Wisnu naik jabatan lagi ya? Kepala cabang sekarang?" Suara Tante Nurul, nyaring, penuh kagum.

"Ah, biasa aja kok. Kebetulan aja." Om Wisnu tertawa, tapi nadanya tidak terdengar seperti "biasa aja". Lebih seperti orang yang sedang menunggu ditanya lebih banyak.

"Kebetulan gimana, Mas? Kan pasti kerja keras! Mobil dinasnya yang baru itu ya? Wah, mewah banget!"

Raka nggak terlalu ngerti apa itu "kepala cabang", tapi dia tahu dari nada suara orang-orang: itu hal yang penting. Hal yang bikin orang lain manggut-manggut sambil senyum lebar.

"Trus Tante Diah, anakmu Reyhan kan juara olimpiade matematika kemarin?" 

"Iya, Alhamdulillah. Dia emang dari kecil suka ngitung-ngitung. Sekarang lagi diprospek sama sekolah favorit di Jakarta."

Semua orang tepuk tangan. Raka ikut tepuk tangan juga, meski dia nggak kenal Reyhan. Dia cuma pernah lihat sekali—cowok tinggi yang sibuk main HP, nggak pernah ngajak main.

"Pakde Arif juga kan baru beli mobil? Yang putih itu ya? Keren!"

"Hahaha, iya lumayan. Kredit sih, tapi ya lumayan lah buat keluarga."

Lagi-lagi, semua orang heboh. Ngomongin merek, ngomongin harga, ngomongin warna interior.

Raka bosan. Dia geser sedikit, ngintip ke arah dapur.

Di sana, Bulek Tini sibuk sendiri. Rambutnya diikat asal, kerudung birunya agak miring, tangannya basah karena baru cuci piring. Dia tuang air teh ke teko besar, lalu jalan pelan ke meja—hati-hati, jangan sampai tumpah. Dia isi gelas-gelas kosong satu per satu.

Tidak ada yang melihatnya.

Atau lebih tepatnya: tidak ada yang berhenti bicara saat dia lewat.

"Makasih, Mbak Tin," kata Tante Nurul sambil terima gelas, matanya masih menatap Om Wisnu yang lagi cerita soal rapat penting di kantor pusat.

Bulek Tini cuma senyum kecil, lalu balik lagi ke dapur.

Paklik Sentot—suami Bulek Tini—duduk di pojok, diam. Dia makan pelan, nggak banyak bicara. Sekali-sekali dia bantu angkat kursi tambahan kalau ada tamu datang. Atau beresin gelas kosong. Atau ambil krupuk di dapur.

Raka perhatikan dia. Paklik Sentot itu tinggi, tapi tubuhnya agak bungkuk. Seperti orang yang sudah lama capek tapi nggak pernah bilang.

Saat acara selesai, saat semua orang mulai pulang satu per satu dengan perut kenyang dan senyum puas, Raka masih duduk di teras. Dia lihat Bulek Tini dan Paklik Sentot di dapur—masih beresin piring, masih lap meja, masih sapu lantai.

Tidak ada yang tinggal untuk bantu.

Raka nggak ngerti kenapa. Tapi dia merasa ada yang aneh.

Seperti... sesuatu yang hilang. Tapi dia nggak tahu apa.

---

## II.


Raka ingat ulang tahunnya yang ketujuh.

Yang datang pertama kali pagi-pagi buta—jam enam, sebelum matahari benar-benar terang—adalah Bulek Tini dan Paklik Sentot. Mereka bawa kardus besar berisi kue tart buatan sendiri. Bentuknya nggak sempurna seperti yang di toko—krim putihnya agak miring, tulisan "Happy Birthday Raka" di atasnya nggak rapi—tapi Bulek Tini senyum bangga waktu naruh kue itu di meja.

"Ini Bulek bikin sendiri, Nak. Kamu suka coklat kan?"

Raka angguk semangat. Dia suka. Dia suka banget.

Paklik Sentot bantu Ibu pasang balon. Naik tangga lipat, iket benang balon ke langit-langit ruang tamu. Bulek Tini bantuin nyiapin makanan, motong-motong kue bolu, susun di piring.

Jam sepuluh, tamu-tamu mulai datang. Teman-teman sekolah Raka, tetangga, keluarga.

Om Wisnu datang siang—sekitar jam sebelas. Dia turun dari mobil hitam mengkilat, pake kemeja lengan panjang meski hari panas, senyum lebar sambil bawa amplop tebal.

"Ini buat Raka, ya. Om ada meeting sore, jadi nggak bisa lama-lama."

Raka terima amplop itu. Dalamnya ada uang—Raka nggak tahu berapa, tapi Ibu bilang "banyak banget". Om Wisnu peluk Raka sebentar, foto bareng, lalu duduk bentar sambil ngobrol sama Bapak. Setengah jam kemudian, dia pamit.

"Makasih ya udah datang, Mas," kata Ibu.

"Iya, sama-sama. Maaf ya nggak bisa lama. Kerjaannya lagi numpuk banget."

Setelah Om Wisnu pergi, Bulek Tini yang beresin meja. Yang ambil piring bekas kue. Yang lap tumpahan sirup di lantai. Paklik Sentot yang bantu turunin balon setelah acara selesai, iket plastik sampah yang sudah penuh.

Malam itu, sebelum tidur, Ibu tanya: "Raka senang nggak hari ini?"

Raka angguk. Dia senang. Tapi ada yang mengganjal.

"Om Wisnu baik ya, kasih hadiah banyak," kata Ibu sambil belai rambut Raka.

Raka diam. Dia ingat wajah Om Wisnu yang cuma ada setengah jam. Lalu dia ingat Bulek Tini yang dari pagi sampai malam masih di rumah—bantu beresin, bantu cuci piring, bahkan bantuin Ibu mandiin adik bayi Raka yang rewel.

Raka nggak tahu mana yang lebih "baik".

Tapi dia tahu mana yang lebih lama ada.

---

Tiga bulan kemudian, Ibu Raka masuk rumah sakit.

Tengah malam. Perut Ibu sakit banget—usus buntu, kata dokter nanti. Harus operasi.

Bapak panik. Dia telepon sana-sini. Suaranya gemetar, tangannya gerak-gerak nggak karuan.

Raka duduk di sofa, sendirian, takut. Dia nggak ngerti apa yang terjadi, tapi dia tahu Ibu kesakitan. Dia denger Ibu nangis di kamar.

Jam dua dini hari, pintu rumah diketok.

Bulek Tini masuk, nafasnya ngos-ngosan, rambutnya berantakan. Dia langsung peluk Raka.

"Udah, nggak papa. Bulek di sini."

Paklik Sentot ikut masuk, bawa tas besar. Dalamnya ada baju ganti buat Ibu, ada termos air hangat, ada roti buat Bapak yang belum makan dari sore.

Mereka semua pergi ke rumah sakit. Raka nggak boleh masuk ruang operasi, jadi dia duduk di kursi tunggu bareng Bulek Tini. Bulek Tini pegang tangan Raka, bisik-bisik cerita lucu biar Raka nggak takut.

Bapak bolak-balik urus administrasi, isi formulir, bayar uang muka.

Paklik Sentot jagain di luar, beli kopi buat Bapak, beli susu kotak buat Raka.

Pagi-pagi, grup WA keluarga rame.

**Om Wisnu:** *"Wah, turut prihatin ya. Semoga cepat sembuh. Aku transfer buat bantu biaya."*

**Tante Diah:** *"Innalillahi, semoga diberi kesabaran ya. Nanti aku kirim makanan."*

**Pakde Arif:** *"Kalo butuh apa-apa kabarin ya. Aku lagi di luar kota tapi bisa bantu transfer."*

Tapi yang duduk di kursi lipat sampai pagi. Yang begadang sampai mata merah. Yang beliin bubur buat Ibu setelah operasi selesai.

Bulek Tini dan Paklik Sentot.

Raka lihat mereka berdua—capek, kusut, tapi tetap ada.

Dan dia mulai mengerti sesuatu. Sesuatu yang belum bisa dia bilang dengan kata-kata.

---

Lebaran tahun itu, acara di rumah Mbah Kakung lagi. Meja panjang lagi.

Raka duduk di kursi plastik warna merah. Dia nggak main mobil-mobilan lagi. Dia cuma duduk, dengerin.

"Wah, Om Wisnu baru pulang umroh ya? Masyaallah, pasti khusyuk banget!"

"Alhamdulillah, iya. Pengalaman yang luar biasa. Nanti aku sharing foto-fotonya di grup ya."

"Tante Diah, anakmu Reyhan diterima di SMAN 8 Jakarta kan? Wah, sekolahnya anak pinter semua tuh!"

"Iya, Alhamdulillah. Dia emang rajin belajar. Kita sewa kos deket sekolah biar dia nggak capek."

Semua orang heboh lagi. Ngomongin umroh, ngomongin sekolah favorit, ngomongin prestasi.

Raka lihat ke dapur.

Bulek Tini lagi motong tumpeng. Paklik Sentot lagi beresin sampah di tong besar di belakang.

Tidak ada yang nanya: "Bulek Tini gimana kabarnya?"

Tidak ada yang bilang: "Makasih ya Bulek udah bantuin masak dari pagi."

Mereka cuma ada. Diam. Bergerak tanpa suara.

Seperti bayangan.

---

## III.


Pakde Arif kena stroke.

Raka nggak terlalu ngerti apa itu stroke, tapi dia tahu Pakde Arif—yang biasanya suka ketawa keras, yang punya mobil putih itu—sekarang terbaring lemah di rumah sakit. Setengah badannya nggak bisa gerak. Bicaranya pelo.

Grup WA keluarga meledak.

**Tante Nurul:** *"Ya Allah, Pakde Arif kenapa? Semoga cepat sembuh. Aamiin."*

**Om Wisnu:** *"Innalillahi. Butuh bantuan apa? Aku transfer ya buat biaya RS."*

**Tante Diah:** *"Aku doain terus. Nanti kalau sempat aku dateng."*

**Pakde Hendra:** *"Semoga diberi kesabaran. Kalau butuh apa-apa kabarin."*

Tapi yang datang ke rumah sakit setiap hari. Yang tidur di kursi lipat di samping kasur Pakde Arif. Yang gantian jaga pagi-siang-malam.

Bulek Tini, Paklik Sentot, dan Ibu Raka.

Raka ikut. Dia bosan di rumah sendirian, jadi Ibu bawa dia ke RS. Dia duduk di pojok ruang tunggu, baca komik bekas, sesekali ngintip ke ruang rawat.

Dia lihat Bulek Tini suapin Pakde Arif makan bubur—sendok demi sendok, pelan-pelan, sabar. Pakde Arif makan susah, bibirnya gemetar, kadang bubur tumpah.

Bulek Tini lap dengan tisu. Senyum. "Pelan-pelan ya, Pakde."

Dia lihat Paklik Sentot ganti sprei kasur, angkat Pakde Arif dengan hati-hati biar nggak kesakitan. Paklik Sentot lap badan Pakde pake handuk hangat—punggung, tangan, kaki.

Sore itu, Om Wisnu datang.

Dia bawa buah—anggur mahal dalam keranjang bagus. Dia masuk dengan senyum, peluk istri Pakde Arif, ngobrol sebentar.

"Gimana Pakde? Udah mendingan?"

"Alhamdulillah, pelan-pelan membaik," jawab istrinya.

Om Wisnu duduk lima belas menit. Ngobrol soal asuransi, soal dokter spesialis, soal referensi fisioterapi bagus. Lalu dia lihat jam tangan.

"Aduh, maaf ya aku nggak bisa lama-lama. Besok pagi rapat penting banget. Tapi kalau butuh apa-apa langsung WA aja ya."

Dia pamit. Buah anggurnya ditaruh di meja—masih dalam plastik, belum dibuka.

Setelah Om Wisnu pergi, Bulek Tini yang kupas anggur itu, suapin Pakde Arif satu-satu.

Raka duduk di kursi sebelah Ibu. Dia tanya pelan: "Bu, kenapa Om Wisnu nggak bisa lama-lama di sini?"

Ibu jawab sambil senyum capek: "Om Wisnu kan sibuk, Nak. Kerjaannya banyak."

Raka diam.

Tapi dalam hatinya dia bertanya: *Kalau Bulek Tini nggak sibuk, berarti dia nggak penting?*

---

Malam itu, Raka nggak bisa tidur di kursi tunggu. Dia jalan-jalan kecil di koridor rumah sakit. Sepi. Dingin. Lampu neon putih bikin matanya perih.

Dia lihat Bulek Tini duduk sendiri di kursi panjang deket tangga darurat. Dia megang HP, tapi nggak di-scroll. Dia cuma megang. Matanya merah.

Raka diam-diam mendekat.

Bulek Tini kaget, langsung lap mata cepat-cepat, senyum. "Raka belum tidur? Ayo masuk, dingin."

Raka nggak masuk. Dia duduk di sebelah Bulek Tini.

"Bulek nangis?"

Bulek Tini diam sebentar. Lalu dia angguk pelan. "Iya. Bulek capek, Nak."

Raka nggak tahu harus bilang apa. Dia cuma pegang tangan Bulek Tini—kecil, hangat.

Mereka duduk diam. Lama.

Lalu Raka tanya: "Bulek kenapa nggak cerita ke yang lain? Ke Om Wisnu atau Tante Diah?"

Bulek Tini senyum—senyum yang sedih. "Nggak papa, Nak. Bulek biasa aja kok."

Raka dengar kalimat itu. Dan dia merasa ada yang salah.

*Biasa aja.*

Kenapa orang yang paling capek selalu bilang "biasa aja"?

---

## IV.


Tiga bulan kemudian, Mbah Kakung meninggal.

Serangan jantung. Mendadak. Pagi-pagi, pas lagi sholat Subuh, dia ambruk.

Tidak sempat bilang apa-apa.

Rumah Mbah Kakung langsung penuh orang. Keluarga besar datang dari mana-mana. Tetangga, teman lama, kenalan jauh. Semua orang pakai baju hitam, wajah sedih, suara bisik-bisik.

Yang atur semuanya dari awal: Bulek Tini.

Dia yang telepon ustaz buat ngurus jenazah. Dia yang atur konsumsi—pesan nasi kotak, siapa yang masak, siapa yang belanja. Dia yang terima tamu satu per satu—salam, peluk, bisik terimakasih.

Paklik Sentot bantu angkat keranda. Atur parkir mobil yang semrawut. Pandu orang-orang yang bingung mau duduk di mana.

Om Wisnu datang sore. Masih pakai kemeja kantor—putih, rapi, kerah kaku. Dia peluk Mbah Putri yang nangis, duduk sebentar, lalu berdiri lagi karena harus terima tamu penting yang datang—teman bisnis Mbah Kakung dulu.

Tante Diah datang pagi, tapi cuma dua jam. "Anakku ada les penting, Mbak. Ntar aku balik lagi ya." Dia nggak balik sampai sore.

Pakde Arif datang sebentar—masih lemah, duduk di kursi, diam. Istrinya yang dampingi. Setengah jam kemudian mereka pulang.

Tapi Bulek Tini tidak pernah duduk.

Dia terus bergerak. Nyiapin kopi. Beresin piring. Nemenin Mbah Putri yang nangis di kamar. Ganti taplak yang kotor. Sapu lantai yang becek karena hujan.

Raka lihat semuanya. Dia duduk di pojok ruang tamu, diam, perhatiin orang-orang yang datang-pergi seperti ombak.

Malam harinya, setelah semua tamu pulang—setelah rumah kembali sepi dan gelap—Raka keluar ke teras belakang.

Dia lihat Bulek Tini duduk sendirian di sana. Di tangannya ada foto Mbah Kakung—foto lama, hitam putih, Mbah Kakung masih muda, senyum lebar.

Bulek Tini nangis diam-diam. Bahu nya bergetar.

Raka berdiri di ambang pintu, nggak berani maju. Tapi Bulek Tini dengar suara kakinya. Dia langsung lap air mata cepat, senyum paksa.

"Raka belum tidur? Ayo masuk, dingin."

Raka maju pelan. Duduk di sebelah Bulek Tini.

"Bulek sedih?"

Bulek Tini angguk pelan. Dia pegang foto Mbah Kakung erat-erat. "Bulek sayang sama Mbah Kakung, Nak. Beliau baik."

Raka diam.

Lalu dia tanya: "Kenapa Bulek nggak cerita sama yang lain?"

Bulek Tini senyum lagi—senyum yang makin sedih. "Nggak papa, Nak. Bulek biasa aja kok."

Lagi.

Kalimat itu lagi.

Dan Raka mulai mengerti: orang yang paling sedih, paling capek, paling butuh dipeluk—justru orang yang paling jarang ditanya kabarnya.

---

## V.


Dua bulan kemudian, sepupu Raka—Reyhan, anak Om Wisnu—kecelakaan motor.

Patah kaki. Harus operasi.

Om Wisnu lagi di luar kota—dinas kerja. Istrinya sendirian di rumah sakit, panik, nggak tahu harus gimana.

Dia telepon Bulek Tini.

Jam sembilan malam, Bulek Tini dan Paklik Sentot datang ke RS. Bulek Tini peluk istri Om Wisnu yang nangis, tenangkan dia, bantuin urus administrasi. Paklik Sentot bawa makanan, jagain di luar ruang operasi.

Operasi berjalan sampai tengah malam.

Om Wisnu baru datang pagi—naik kereta malam dari kota sebelah. Dia turun dari taksi dengan wajah kusut, tas ransel di punggung, mata merah.

Dia langsung peluk istrinya. Peluk Reyhan yang udah selesai operasi, masih bius setengah sadar.

Lalu Om Wisnu lihat Bulek Tini—duduk di kursi tunggu, capek, rambut berantakan.

Om Wisnu jalan pelan ke arahnya. Dia berdiri di depan Bulek Tini. Diam sebentar.

Lalu dia bilang, suaranya serak: "Makasih ya, Mbak Tini. Aku... aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Mbak."

Bulek Tini senyum—kali ini senyum yang lebih tulus. "Nggak papa, Mas. Keluarga kan."

Om Wisnu angguk. Matanya berkaca-kaca. Dia peluk Bulek Tini sebentar—cepat, canggung, tapi tulus.

Raka melihat semuanya dari jauh—dia ikut Ibu yang juga datang pagi itu.

Dan Raka lihat sesuatu di mata Om Wisnu.

Seperti... rasa bersalah.

Atau malu.

Atau mungkin baru sadar.

Tapi cuma sebentar.

Karena besoknya, Om Wisnu sudah balik sibuk lagi. Kerja. Meeting. Laporan.

---

## VI.


Setahun kemudian. Acara syukuran lagi. Meja panjang lagi.

Raka sekarang sembilan tahun. Dia nggak main mobil-mobilan lagi. Dia duduk di kursi, mendengarkan.

Pembicaraan masih sama.

"Wah, Om Wisnu naik jabatan lagi? Regional manager sekarang?"

"Alhamdulillah, rejeki aja."

"Tante Diah, Reyhan kan sekarang ranking satu ya di sekolahnya?"

"Iya, Alhamdulillah. Dia rajin belajar."

"Pakde Arif udah bisa jalan lagi? Wah, luar biasa! Fisioterapinya pasti mahal ya?"

"Iya lumayan, tapi Alhamdulillah ada asuransi."

Semua orang heboh lagi. Tepuk tangan. Ketawa. Kagum.

Dan Bulek Tini masih di dapur.

Paklik Sentot masih diam di pojok, bantu-bantu angkat barang.

Tapi ada yang berbeda kali ini.

Raka lihat Mbah Putri—yang sekarang tinggal sendirian di rumah besar itu—sesekali ngelirik ke arah dapur. Ke arah Bulek Tini. Tatapannya sulit dijelaskan.

Seperti... terimakasih.

Atau mungkin penyesalan.

Raka nggak tahu.

Tapi dia tahu: Mbah Putri lebih sering bicara sama Bulek Tini sekarang. Lebih sering pegang tangannya. Lebih sering bilang "terimakasih" dengan nada yang berbeda—bukan sekadar sopan, tapi... tulus.

Malam itu, saat acara selesai, Raka duduk di teras rumahnya sendiri. Sendirian. Main bola kecil, tendang-tendang pelan.

Dari dalam, dia dengar Bapak dan Ibu ngobrol—suara mereka samar, tapi cukup keras buat Raka dengerin.

"Bulek Tini capek kayaknya, tapi dia nggak pernah ngeluh," kata Ibu.

"Ya gimana, dia kan orangnya begitu. Baik," jawab Bapak.

Hening sebentar.

"Tapi kok kayaknya... kita jarang ngasih perhatian ke dia ya?" Ibu lagi.

Bapak diam.

Lama.

"...Iya juga ya."

Raka dengar itu semua.

Dia berhenti main bola. Dia lihat ke langit malam—bintang banyak, tapi gelap.

---

## VII.


Raka nggak ngerti semua hal yang dia lihat. Tapi dia tahu satu hal:

Di keluarga besarnya, yang paling sering diomongin bukan yang paling sering ada.

Yang datang saat malam. Yang jagain waktu sakit. Yang nangis diam-diam di teras. Yang senyum meski capek.

Mereka nggak pernah cerita di meja panjang.

Dan Raka bertanya-tanya—suatu hari nanti, kalau dia besar—

*Apakah dia akan jadi seperti Om Wisnu? Atau seperti Bulek Tini?*

Dan pertanyaan yang lebih besar lagi:

*Kalau dia jadi seperti Om Wisnu, apakah dia akan bahagia?*

*Kalau dia jadi seperti Bulek Tini, apakah dia akan dihargai?*

Raka nggak tahu jawabannya.

Mungkin nggak ada yang tahu.

Tapi malam itu, sambil lihat bintang dan dengar suara jangkrik, Raka buat janji sama dirinya sendiri:

Suatu hari nanti, kalau ada yang butuh bantuan—

Dia akan datang.

Bukan cuma kirim pesan. Bukan cuma transfer uang.

Tapi datang.

Hadir.

Karena mungkin, yang paling berarti dalam hidup bukan seberapa sering namamu disebut di meja panjang.

Tapi seberapa sering tanganmu digenggam saat seseorang butuh pegangan.

---

**Tamat.**

#resonansi #resonance #ceritakehidupan #psychology #keheningan #keluarga

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul

Air yang Mengingat