Pizza untuk Richard

Pizza untuk Richard

Pizza untuk Richard

Richard menemukan video itu pada pukul dua pagi. Bukan karena ia mencarinya—algoritma YouTube yang melemparkan: seorang pizzaiolo tua di Napoli, tangannya bergerak membentuk adonan dengan gerakan yang sudah dilakukan seumur hidup. Oven kayu di belakangnya menyala seperti mulut gua.

Richard menonton sampai selesai. Lalu menonton lagi.

Ada sesuatu dalam tangan pizzaiolo itu yang membuatnya tidak bisa berhenti. Bukan hanya teknik—ada kehangatan di sana, semacam kepastian yang sudah lama hilang dari hidupnya. Ia membuka tab baru, mengetik "Neapolitan pizza home oven," dan dunia baru terbuka. Forum. Grup Facebook. Video demi video tentang hidrasi adonan, fermentasi dingin, suhu yang sempurna.

Di luar jendela, Jakarta tertidur. AC berdengung. Rumah terlalu besar untuk satu orang.

Pukul empat pagi, Richard bergabung dengan grup "Pizza Lovers Indonesia."


Ia tidak ingat kapan tepatnya rumah ini mulai terasa asing. Mungkin sejak pasangannya pindah enam bulan lalu. Mungkin sebelum itu—jauh sebelum percakapan terakhir mereka di meja makan, ketika hujan turun dan salah satu dari mereka berkata, "Kita tidak bisa terus begini," dan yang lain hanya mengangguk karena tidak ada lagi yang bisa dibantah.

Mereka tidak bertengkar. Tidak ada drama. Hanya keputusan tenang bahwa hidup bersama sudah tidak mungkin lagi.

Yang tersisa: rumah sederhana di gang kecil dekat Kemang, dua kamar tidur, cat dinding yang mengelupas di beberapa sudut. Kamar satunya—yang dulu dipakai pasangannya untuk bekerja—sekarang jadi gudang: kardus-kardus yang belum dibuka, pakaian yang belum disortir, barang-barang yang tidak tahu harus diapakan.

Richard tidak membuka pintu kamar itu hari ini.


Pesanan dari Tokopedia

Pagi itu ia membuka Tokopedia. Keranjang belanja: tepung Caputo Pizzeria tipo 00 satu kilogram, ragi instan Fermipan, garam laut Maldon, tomat San Marzano kaleng, mozzarella fior di latte, daun basil segar. Pizza steel—lempengan baja tebal yang diklaim bisa meniru panas oven batu.

Same-day delivery. Estimasi tiba pukul empat sore.

Richard adalah pekerja lepas—proyek datang dan pergi, deadline yang fleksibel, bangun siang, tidur larut. Hari-harinya tidak punya ritme tetap. Tapi hari ini ia bangun pukul sembilan. Ia membersihkan dapur dengan teliti, sesuatu yang tidak ia lakukan sejak lama. Mengosongkan meja. Menyiapkan timbangan digital yang biasa ia pakai untuk mengukur kopi.

Ia menonton video lagi sambil menunggu. Seorang pizzaiolo muda di Brooklyn menjelaskan tentang hidrasi adonan dengan aksen yang bersemangat. Enam puluh persen air terhadap tepung untuk Neapolitan klasik. Fermentasi dingin dua puluh empat hingga empat puluh delapan jam. Garam dua persen dari berat tepung. Ragi—hanya satu gram untuk lima ratus gram tepung jika fermentasi dingin.

Richard mencatat di kertas bekas. Tangannya menulis:

500g tepung, 300ml air, 10g garam, 1g ragi

Angka-angka ini memberikan kepastian. Ada aturan. Ada formula. Tidak seperti hal-hal lain dalam hidupnya yang tidak punya jawaban jelas.

Kurir datang pukul setengah lima sore.


Memori Pizza Hut

Richard ingat pizza pertamanya dengan kejernihan yang aneh—seperti foto lama yang tiba-tiba terang. Pizza Hut, tahun sembilan puluh sebelum krisis, ayahnya membawa keluarga makan malam. Richard berumur tujuh atau delapan tahun. Ia duduk di booth merah, menunggu pizza pan dengan tepi tebal yang renyah.

Ketika pizza datang, asapnya mengepul. Keju mozzarella meleleh dalam benang-benang panjang. Richard merasa itu adalah makanan paling sempurna yang pernah ia lihat.

Ia tidak ingat percakapan malam itu. Tidak ingat apa yang dibicarakan ayah dan ibunya—mungkin hal-hal biasa, mungkin masalah uang, mungkin rencana liburan yang tidak pernah terjadi. Tapi ia ingat rasa gigitan pertama: asin, gurih, hangat. Dan perasaan—samar tapi nyata—bahwa dunia, setidaknya untuk beberapa saat, adalah tempat yang aman.


Adonan yang Hidup

Sekarang Richard berdiri di dapur, membuka kemasan tepung Caputo. Warnanya putih pucat, halus seperti bedak. Ia menuangkan lima ratus gram ke mangkuk besar—angka digital di timbangan berkedip: 500.0. Presisi memberikan kenyamanan.

Air tiga ratus mililiter, suhu ruang seperti instruksi video. Ragi dilarutkan terlebih dahulu dalam sedikit air hangat—ia menunggu beberapa menit sampai muncul busa kecil, tanda ragi hidup.

Tangannya mulai mengaduk. Tepung dan air menyatu perlahan, membentuk gumpalan lengket dan basah. Richard menuangkan garam—sepuluh gram, diukur dengan presisi—lalu ragi yang sudah larut dan berbusa. Ia mengaduk lagi.

Adonan lengket di jari-jarinya. Basah. Sulit dikontrol.

Video-video itu membuat semuanya terlihat mudah. Tangan-tangan terlatih yang bergerak dengan kepastian. Tapi tangan Richard—tangan yang biasa mengetik proposal, mengklik mouse, memegang cangkir kopi—tidak tahu bahasa adonan ini.

Ia menguleni. Tangannya menekan, melipat, memutar. Adonan masih lengket. Ia menambahkan sedikit tepung—mungkin terlalu banyak, ia tidak yakin—lalu menguleni lagi. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Lengannya lelah dengan cara yang asing.

Ia berhenti. Nafasnya sedikit tersengal. Adonan di tangannya tidak halus seperti di video. Masih kasar di beberapa bagian, masih lengket di yang lain. Tapi ketika ia menariknya, ada elastisitas. Ada kehidupan—sesuatu yang bernapas, yang berubah, yang tidak akan sama besok.

Richard menutup mangkuk dengan kain bersih, memasukkannya ke kulkas. Dua puluh empat jam. Besok malam ia akan membuat pizza.

Atau mungkin empat puluh delapan jam. Video mengatakan lebih lama lebih baik.

Richard memutuskan empat puluh delapan jam. Ia punya waktu. Ia selalu punya waktu.


Menunggu Jawaban

Malam itu Richard tidak bisa tidur lagi. Ia membuka laptop, scroll grup Facebook sambil berbaring di sofa—posisi yang sudah jadi kebiasaan sejak pasangannya pergi, karena tempat tidur terasa terlalu luas. Seseorang memposting foto pizza dengan cornicione yang mengembang sempurna, bagian tepi adonan yang menggembung seperti awan. Komentar-komentar: "Mantap bro," "Berapa lama fermentasi?" "Oven apa ini?"

Richard mengetik:

"Untuk yang pakai oven listrik, ada tips biar hasilnya lebih dekat dengan oven kayu?"

Ia menunggu. Jari-jarinya di atas keyboard, bersiap mengetik lagi, lalu berhenti. Ada sesuatu yang rapuh dalam menunggu jawaban dari orang asing di internet pada pukul dua pagi.

Tiga menit kemudian, balasan pertama: "Pizza steel penting. Panaskan maksimal 30 menit. Letakkan di rak paling atas."

Balasan kedua: "Jujur bro, oven listrik ada batasnya. Tapi tetap bisa enak kok."

Balasan ketiga: "Kalau mau sempurna ya harus oven kayu."

Richard menutup laptop. Kata "sempurna" menggantung di udara.


Hari Pembuatan

Empat puluh delapan jam kemudian—hari Rabu sore, langit Jakarta mendung—Richard membuka kulkas. Adonan sudah mengembang memenuhi mangkuk, permukaannya halus dan sedikit mengkilap, seperti sesuatu yang hidup. Ia mengeluarkannya dengan hati-hati, membiarkan suhu kembali ke ruang. Menurut video, adonan harus "istirahat" tiga puluh menit.

Richard menyalakan oven, suhu maksimal. Pizza steel sudah ia letakkan di rak paling atas sejak pagi—mengikuti instruksi dari grup Facebook dengan ketaatan yang hampir religius. Tiga puluh menit pemanasan.

Ia membuka kaleng tomat San Marzano. Tomat utuh, merah cerah dalam jus kental, impor dari Italia. Richard menghancurkannya dengan tangan—seperti yang dilakukan pizzaiolo di video—merasakan tekstur lembut tomat di antara jari-jarinya. Dingin. Sedikit asam. Ia menambahkan sejumput garam, sedikit minyak zaitun. Saus sederhana. Tidak perlu dimasak.

Ada kepuasan dalam kesederhanaan ini. Empat bahan: tomat, garam, minyak, waktu.

Mozzarella fior di latte ia potong kasar—potongan tidak teratur, tidak seperti foto-foto di internet, tapi cukup. Daun basil ia cuci, air menetes dari daunnya yang hijau gelap dan harum.

Oven berbunyi. Sudah mencapai 250 derajat Celsius.

Di video-video, oven kayu menyala pada 485 derajat. Perbedaan 235 derajat. Perbedaan antara sempurna dan cukup baik.


Momen Kritis

Richard membagi adonan menjadi dua bola. Ia mengambil satu, menekan tengahnya dengan jari, membiarkan tepi tetap tebal untuk cornicione. Tangannya mencoba meniru gerakan di video—menarik, memutar, membentuk lingkaran dengan gravitasi, bukan dengan rolling pin.

Adonan robek di satu bagian. Richard berhenti. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—reaksi yang tidak proporsional untuk adonan robek, ia sadar, tapi tetap nyata.

Ia memperbaikinya. Menempelkan kembali dengan lembut, menekan dengan jari. Adonan memaafkan. Adonan menyatu lagi.

Hasilnya tidak bundar sempurna. Lebih seperti oval dengan satu sisi lebih tebal dari yang lain.

Richard menuangkan saus tomat di tengah, menyebarkannya dengan punggung sendok dalam gerakan spiral. Mozzarella ia susun—tidak terlalu banyak, video bilang less is more. Daun basil segar di atas, hijau kontras dengan merah dan putih.

Ia menatap pizza ini—belum dimasak, belum sempurna, tapi sudah ada. Sudah real.

Richard membuka oven. Panas menyerang wajahnya seperti tamparan. Ia menggeser pizza dari talenan kayu ke pizza steel dengan gerakan yang ia sudah latih dalam imajinasi puluhan kali—tapi realitas berbeda dari imajinasi. Pizza sedikit terlipat di satu sisi saat masuk, mozzarella bergeser, tapi masuk.

Ia menutup oven.

Empat menit, ia putuskan. Video bilang sembilan puluh detik untuk oven kayu. Tapi ini bukan oven kayu. Ini oven listrik Electrolux di rumah sederhana Jakarta Selatan.

Richard berdiri di depan oven, menonton melalui kaca. Adonan mulai mengeras. Keju meleleh perlahan—tidak dramatis, tidak eksplosif seperti di video, tapi perlahan, jujur. Basil layu, menghitam di beberapa bagian.

Tidak ada leopard spotting—bintik-bintik hitam di crust yang datang dari panas ekstrem. Tidak ada cornicione yang mengembang ke langit-langit. Crust tetap agak pucat.

Timer berbunyi.

Richard membuka oven. Mengangkat pizza dengan spatula kayu—tangannya gemetar sedikit, bukan karena berat pizza, tapi karena sesuatu yang lain.

Pizza jadi.

Tidak sempurna. Crust sedikit pucat. Keju meleleh tapi tidak charred. Basil layu tapi masih hijau di beberapa bagian. Bentuknya oval, tidak bundar.

Tapi jadi.


Gigitan Pertama

Richard duduk di meja makan—meja yang sama tempat percakapan terakhir dengan pasangannya enam bulan lalu. Pizza di hadapannya masih berasap. Ia tidak mengambil foto untuk grup Facebook. Tidak ada yang perlu dibuktkan pada orang asing di internet.

Ia memotong sepotong. Pisau melewati crust dengan sedikit perlawanan—tidak renyah sempurna, tapi juga tidak lembek. Keju meregang, membentuk benang tipis yang putus.

Richard mengangkat potongan itu. Mengamatinya sebentar—lapisan-lapisan: crust, saus, keju, basil. Sederhana. Jujur.

Ia menggigit.

Rasa tomat San Marzano meledak pertama—asam dan manis sekaligus, kompleks dalam kesederhanaannya. Lalu mozzarella, creamy dan asin, masih hangat dan lembut. Basil memberikan aroma segar yang tajam, hampir pedas. Dan adonan—meski crust lebih tebal dari yang ia inginkan, meski tidak crispy sempurna—punya rasa fermentasi yang kompleks. Sedikit asam. Sedikit manis. Rasa waktu.

Richard berhenti mengunyah.

Ini bukan pizza Neapolitan sejati. Tidak akan pernah bisa dengan oven listrik 250 derajat di rumah sederhana Jakarta Selatan, tanpa oven kayu, tanpa tangan yang sudah membuat ribuan pizza. Tapi ini pizza yang ia buat sendiri. Dengan tangannya yang tidak terlatih. Dengan kesabaran menunggu empat puluh delapan jam. Dengan trial and error yang akan terus berlanjut—karena ia sudah tahu ia akan mencoba lagi besok, lusa, minggu depan.


Penerimaan

Richard makan perlahan. Mengunyah setiap gigitan dengan perhatian penuh—sesuatu yang tidak ia lakukan untuk makanan dalam waktu lama. AC masih berdengung. Rumah masih terlalu besar untuk satu orang. Kamar kedua masih penuh kardus yang belum dibuka.

Tapi untuk pertama kali dalam enam bulan, kesunyian itu terasa berbeda. Bukan kosong. Hanya sunyi.

Ia ingat Pizza Hut masa kecilnya—booth merah, asap mengepul, perasaan aman. Ia ingat percakapan terakhir dengan pasangannya—hujan di luar, keputusan tenang, tidak ada yang bisa dibantah lagi. Ia ingat semua keputusan yang membawanya ke titik ini: empat puluh enam tahun, sendirian, membuat pizza yang tidak sempurna di dapur pada Rabu malam.

Richard tidak tahu apakah ini healing atau hanya cara lain untuk mengisi waktu. Ia tidak tahu apakah pizza ini—atau pizza-pizza berikutnya yang akan ia buat—akan membuat hidupnya lebih baik atau hanya membuat hari-hari berlalu lebih mudah.

Yang ia tahu: pizza ini enak. Tidak sempurna, tapi enak. Dan ia yang membuatnya. Dengan tangannya sendiri. Dengan kesabaran yang tidak ia tahu ia punya.

Richard mengambil potongan kedua. Lalu ketiga. Ia makan sampai habis—sesuatu yang jarang ia lakukan untuk makanan apapun sejak pasangannya pergi.

Ketika pizza habis, ia duduk sebentar. Tangan-tangannya masih berbau ragi dan tepung. Piring di hadapannya kosong kecuali remah-remah dan sedikit minyak.

Di layar laptopnya yang terbuka, video pizzaiolo Napoli masih berhenti di frame terakhir: tangan tua yang penuh tepung, tersenyum pada pizza yang baru keluar dari oven—senyum seseorang yang sudah melakukan hal yang sama ribuan kali dan masih menemukan keajaiban di dalamnya.

Richard menutup laptop. Ia mencuci piring dengan pelan. Membersihkan meja. Menyimpan sisa adonan kedua di kulkas untuk besok.

Besok ia akan mencoba lagi. Mungkin dengan hidrasi lebih rendah. Mungkin dengan teknik berbeda yang ia baca di forum. Mungkin dengan hasil yang lebih baik, mungkin tidak.

Tapi ia akan mencoba lagi.

Dan untuk malam ini—untuk Rabu malam di rumah yang terlalu sunyi, di kota yang terlalu besar, di hidup yang tidak berjalan sesuai rencana—itu cukup.


[Akhir]

Jumlah kata: 3.996

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul

Air yang Mengingat