Seberapa Pantas Kau Untuk Kutunggu

Seberapa Pantas Kau Untuk Kutunggu

Seberapa Pantas

Sebuah narasi personal tentang cinta, jarak, dan kekosongan yang intim

Bab 1: Pagi yang Sama

Jam lima pagi, Samarinda masih gelap ketika Mellysa membuka mata. Bukan alarm yang membangunkannya—tidak pernah alarm—melainkan kebiasaan tubuh yang sudah melampaui kesadaran. Enam tahun tubuhnya bangun di jam yang sama, di tempat tidur yang sama, dengan separuh kasur yang selalu rapi. Tidak ada lipatan selimut yang berantakan di sebelahnya. Tidak ada bunyi napas orang lain. Hanya suara hujan Kalimantan yang mulai turun, pelan, seperti sedang ragu-ragu.

Dia berbaring sebentar, menatap kipas angin di langit-langit yang berputar malas. Putaran itu membuatnya pusing kalau dilihat terlalu lama, tapi dia tetap menatap. Ada yang menenangkan dari gerakan melingkar tanpa tujuan. Berputar-putar di tempat yang sama.

Handphone bergetar di nakas.

"Sudah bangun?"

Roger. Jakarta. Tiga jam penerbangan tapi terasa seperti di planet lain.

"Iya," ketiknya. Lalu menambahkan emoji kopi. Bukan karena dia ingin mengirim emoji, tapi karena terasa terlalu dingin kalau cuma "Iya" saja. Enam tahun mengajarkannya untuk memberi jarak pada jarak.

Rutinitas Tanpa Kehadiran

Dia bangkit, kaki menyentuh keramik dingin. Kamar mandi. Air. Wajahnya di cermin terlihat sama seperti kemarin, dan kemarin sebelumnya. Empat puluh tiga tahun, atau empat puluh empat besok lusa—dia lupa. Tidak ada yang istimewa dari wajah ini. Tidak cantik seperti dulu Roger bilang, tapi juga tidak jelek. Hanya... ada. Seperti segala sesuatu yang ada tanpa benar-benar hadir.

Di dapur, dia menyeduh kopi dengan gerakan otomatis. Sendok. Gula. Air panas. Aduk. Suara sendok beradu dengan gelas adalah satu-satunya musik pagi ini. Dulu Roger suka bangun lebih dulu, membuatkan kopi untuknya. Sekarang dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali seseorang membuatkan kopi untuknya.

Hujan bertambah deras.

Mellysa duduk di kursi dekat jendela, memandang Mahakam yang mulai terlihat samar-samar di balik pagi yang basah. Sungai itu selalu ada, mengalir ke mana pun airnya ingin pergi. Tidak pernah bertanya ke mana, tidak pernah ragu. Hanya mengalir. Dia iri pada sungai yang tidak perlu menunggu.

"Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu,"

bisiknya tanpa sadar. Lirik lagu yang dia dengar tadi malam di radio. Atau kemarin. Atau seminggu lalu. Waktu mulai bercampur aduk belakangan ini.

Handphone bergetar lagi.

"Jangan lupa transfer ke ibu ya. Aku lagi meeting seharian."

"Oke," balasnya. Lalu menatap layar. Jari-jarinya mengetik: "Kapan pulang?"

Dia melihat kata-kata itu sebentar. Lalu menghapusnya. Huruf demi huruf mundur, menghilang seperti tidak pernah ada. Seperti pertanyaan yang tidak pernah diajukan karena takut mendengar jawabannya. Atau lebih takut lagi: tidak ada jawaban.

Bab 2: Pasar dan Pertanyaan yang Sama

Pasar pagi berbau ikan segar dan tanah basah. Mellysa berjalan di antara pedagang yang sudah hapal wajahnya. Bu Siti, penjual sayur, tersenyum lebar.

"Bu Mellysa! Pagi-pagi sudah cantik!"

Dia tersenyum kembali, senyum yang sudah jadi refleks. Membeli kangkung, tomat, tahu. Untuk siapa dia masak sebanyak ini, dia tidak tahu. Mungkin karena membeli untuk satu orang terasa terlalu menyedihkan.

"Pak Roger kapan pulang, Bu?" tanya Bu Siti, sambil menimbang sayur.

"Akhir bulan mungkin," jawab Mellysa. Jawaban otomatis yang sudah keluar ratusan kali. Akhir bulan. Atau bulan depan. Atau nanti. Semua kata-kata yang artinya "tidak tahu."

"Lama ya, Bu. Kangen kan?"

Mellysa tersenyum lagi. Tidak menjawab. Karena apa itu kangen? Apakah kangen adalah kekosongan yang sudah jadi kenyamanan? Apakah kangen adalah terbiasa tidur sendirian sampai lupa bagaimana rasanya berbagi selimut? Apakah kangen adalah mengetik "Kapan pulang?" lalu menghapusnya?

Rumah yang Terlalu Luas

Dia berjalan pulang melewati jalan yang sama. Pohon-pohon rindang yang daunnya basah oleh hujan semalam. Kucing-kucing liar yang duduk di pagar rumah kosong. Samarinda pagi hari selalu terasa seperti kota yang setengah tertidur, seperti belum sepenuhnya memutuskan untuk bangun.

Di rumah, dia menaruh belanjaan di meja dapur. Lalu berdiri di tengah ruang tamu yang terlalu luas untuk satu orang. Sofa cokelat yang dulu mereka beli bersama di Balikpapan. Rak buku dengan novel-novel Roger yang tidak pernah diambil waktu pindah. Vinyl player di sudah ruangan yang tidak pernah dia nyalakan karena tidak tahu caranya.

Roger meninggalkan vinyl player itu enam tahun lalu. "Nanti aku ambil kalau pulang," katanya. Tapi koleksi piringan hitam itu masih di sana, berdebu, menunggu tangan yang tidak pernah datang untuk memutarnya.

Mellysa berjalan ke rak vinyl, menyentuh salah satu sampul. Kind of Blue, Miles Davis. Roger suka mendengarkan ini sambil membaca. Dia ingat punggung Roger yang membungkuk di sofa, buku di tangan, musik jazz mengalir pelan seperti air. Itu dulu. Sebelum Jakarta. Sebelum "sementara" berubah jadi permanen tanpa ada yang menyadari.

Bab 3: Percakapan yang Efisien

Siang hari terasa panjang seperti karet yang ditarik. Mellysa duduk di ruang kerja kecilnya, laptop menyala, mengerjakan laporan keuangan untuk kantor. Dia bekerja remote sekarang, sejak pandemi. Atau sebelum pandemi? Dia lupa. Waktu tidak penting lagi ketika setiap hari terasa sama.

Handphone bergetar.

"Mel, tolong transfer 5 juta ke rekening ibu ya. Buat renov pagar."

"Baik."

"AC kamar masih rusak?"

"Sudah diperbaiki kemarin."

"Oke. Nanti malamkan telpon ya."

"Iya."

Kata-kata yang Mengurus Hidup

Percakapan mereka selalu seperti ini. Efisien. Fungsional. Seperti rapat kerja yang tidak pernah selesai tapi juga tidak pernah benar-benar dimulai. Tidak ada "aku rindu." Tidak ada "kamu apa kabar?" Yang ada hanya: transfer, AC, renov, nanti.

Mellysa menatap layar handphone lama setelah chat itu berakhir. Dia scroll ke atas, membaca chat-chat mereka seminggu yang lalu. Sebulan yang lalu. Setahun yang lalu. Semuanya sama. Kata-kata yang mengurus hidup tapi tidak menyentuh kehidupan.

Kapan terakhir kali mereka bicara tentang sesuatu yang bukan tentang tagihan dan perbaikan? Kapan terakhir kali Roger bercerita tentang harinya, bukan cuma laporan kering tentang meeting dan deadline?

Dia membuka galeri foto. Scroll jauh ke belakang. Ada foto mereka di Bali, sepuluh tahun lalu. Roger memeluknya dari belakang, keduanya tertawa ke kamera. Dia tidak ingat apa yang membuat mereka tertawa. Yang dia ingat adalah rasanya dirangkul seperti itu, seperti ada yang memegang supaya tidak jatuh.

Sekarang dia berdiri sendiri. Dan tidak jatuh. Tapi juga tidak yakin apakah dia berdiri atau hanya... melayang.

Bab 4: Malam dan Video Call

Malam datang seperti biasa. Mellysa memasak nasi goreng untuk makan malam, porsi untuk satu orang tapi dibuat di wajan besar karena wajan kecil sudah berkarat di gudang. Dia makan di meja makan yang bisa muat enam orang, duduk di kursi yang sama setiap malam, memandang kursi kosong di depannya.

Dulu Roger duduk di sana. Sekarang di sana ada gelas kosong yang lupa dia cuci sejak pagi.

Setelah makan, dia mencuci piring sambil mendengar suara televisi dari ruang tetangga. Keluarga Pak Hendra sedang menonton kuis, teriak-teriak jawaban sambil tertawa. Suara kehidupan orang lain selalu terasa lebih hidup dari kehidupan sendiri.

Wajah di Layar

Jam sembilan malam, handphone berdering. Video call. Roger.

Dia menekan tombol hijau. Wajah Roger muncul di layar, terlihat lelah, rambut agak berantakan. Di belakangnya, dinding putih apartemen studio di Jakarta yang minimalis sampai terasa hampa.

"Halo," sapa Roger.

"Halo," balas Mellysa.

Keduanya diam sebentar. Tidak canggung, tapi juga tidak nyaman. Seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu tapi lupa bagaimana caranya mulai bicara.

"Kamu sudah makan?" tanya Roger.

"Sudah. Kamu?"

"Tadi beli warteg."

Diam lagi.

"Oh ya, Mel," kata Roger, "aku kemarin lihat sofa bagus di Ikea. Mau aku kirim link? Buat ruang tamu nanti kalau kita renov."

"Iya, boleh."

"Terus aku pikir kita perlu ganti kulkas juga. Yang sekarang udah tua kan."

Bicara Tentang Nanti

Mellysa mengangguk. Mereka bicara tentang renovasi rumah, tentang rencana ganti pintu, tentang cat tembok yang mulai mengelupas. Mereka bicara tentang "nanti," tentang "kalau sudah," tentang masa depan yang tidak pernah tiba.

Tapi tidak ada yang bertanya: Kapan "nanti" itu? Siapa yang akan tidur di sofa baru itu? Untuk siapa kulkas besar itu kalau cuma ada satu orang?

"Roger," panggil Mellysa pelan.

"Ya?"

Dia ingin bertanya banyak hal. Ingin bertanya: Kita ini apa? Kenapa kita bicara tentang renovasi rumah tapi tidak tentang kenapa kamu tidak pernah pulang? Kenapa kita masih menikah kalau hidup seperti orang asing yang kebetulan punya rekening bersama?

Tapi yang keluar dari mulutnya adalah: "Kamu sehat?"

Roger tersenyum tipis. "Sehat. Cuma capek."

"Kamu harus istirahat yang cukup."

"Iya. Kamu juga."

Lalu mereka mengobrol tentang hal-hal kecil lagi. Tentang paket yang belum sampai, tentang tetangga yang pindah, tentang harga bensin yang naik. Hal-hal yang aman. Hal-hal yang tidak perlu dijawab dengan jujur.

Bab 5: Tiket yang Tidak Terpakai

Setelah video call selesai, Mellysa berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Kipas angin berputar. Berputar. Berputar.

"Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu,"

bisiknya lagi.

Tapi dia tahu jawabannya. Jawabannya adalah: sangat pantas. Roger sangat pantas ditunggu. Dia suami yang baik, yang mengirim uang setiap bulan, yang menelepon setiap malam, yang masih ingat ulang tahun mereka walau cuma kirim transfer dengan note "Happy anniversary."

Masalahnya bukan Roger tidak pantas. Masalahnya adalah: apa yang dia tunggu? Pulangnya Roger? Atau pulang ke kehidupan yang sudah tidak ada lagi?

Bukti Niat yang Tidak Pernah Terwujud

Tengah malam, Mellysa tidak bisa tidur. Dia bangkit, pergi ke dapur, membuat teh hangat. Lalu duduk lagi di kursi dekat jendela, memandang Samarinda yang tidur. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang jatuh tapi tidak pernah sampai ke tanah.

Dia membuka laci kecil di nakas, mengeluarkan amplop tua. Di dalam amplop itu ada tiket pesawat. Jakarta - Samarinda. Tanggal keberangkatan: 15 Maret 2022. Nama penumpang: Roger Indarto.

Tiket itu tidak pernah dipakai. Roger bilang ada meeting mendadak. Lalu jadwal diundur. Lalu lupa. Lalu sudah tidak perlu karena toh bulan depan akan pulang juga.

Tapi bulan depan itu tidak pernah datang.

Mellysa memegang tiket itu, kertas tipis yang sudah agak kusut. Dia tidak tahu kenapa menyimpan tiket yang tidak terpakai. Mungkin karena tiket ini adalah bukti bahwa Roger pernah berniat pulang. Pernah merencanakan. Pernah ingin.

Atau mungkin dia menyimpannya untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa niat tidak sama dengan kehadiran.

Tawaran dari Jakarta

Handphone di nakas berbunyi. Notifikasi email.

Subjek: Tawaran Posisi - Senior Finance Manager - Jakarta.

Mellysa membuka email itu. Perusahaan di Jakarta menawarkan posisi untuknya. Gaji lebih tinggi. Benefit lebih baik. Kantor di daerah Sudirman, dekat dengan apartemen Roger.

Dia bisa pindah ke Jakarta. Bisa tinggal bersama Roger lagi. Bisa tidur di tempat tidur yang sama, walau mungkin tetap di separuh kasur masing-masing.

Jari-jarinya melayang di atas keyboard. Mau membalas. Tapi dia tidak tahu mau membalas apa.

Apa dia masih mau? Apa Roger masih menunggunya?

Atau mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah: Apa mereka masih menunggu satu sama lain, atau hanya menunggu keberanian untuk mengakui bahwa mereka sudah berhenti menunggu sejak lama?

Bab 6: Pagi yang Sama Lagi

Pagi datang lagi. Jam lima. Gelap. Hujan. Kopi. Handphone bergetar.

"Sudah bangun?"

"Iya."

Rutinitas yang sama. Seperti kemarin. Dan kemarin sebelumnya.

Tapi hari ini Mellysa tidak langsung menaruh handphone. Dia menatap chat itu lama. Jari-jarinya mengetik.

"Roger, kita perlu bicara."

Dia menatap kalimat itu. Lalu menghapusnya lagi.

Belum. Belum hari ini.

Mungkin besok. Atau lusa. Atau nanti kalau sudah siap.

Menunggu Adalah Bentuk Kebersamaan

Dia minum kopinya pelan, memandang Mahakam yang mulai terlihat di balik pagi. Sungai itu mengalir terus, tidak peduli ke mana, tidak peduli kenapa. Hanya mengalir karena itulah yang sungai lakukan.

Dan dia menunggu. Karena itulah yang dia lakukan. Menunggu Roger pulang. Menunggu keberanian untuk bertanya. Menunggu jawaban untuk pertanyaan yang tidak pernah diajukan.

Menunggu sudah jadi bentuk kebersamaan mereka. Jarak sudah jadi bentuk keintiman mereka. Dan mungkin, mungkin saja, ini adalah cara mereka bertahan.

Bukan dengan pelukan. Bukan dengan kata-kata manis. Tapi dengan diam-diam ada, di kota yang berbeda, di tempat tidur yang berbeda, tapi masih terhubung oleh chat pagi hari yang bertanya "Sudah bangun?"

"Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu,"

bisik Mellysa pada pagi yang mulai terang.

Dan dia tidak tahu apakah itu cinta atau kebiasaan. Atau mungkin keduanya. Mungkin setelah enam tahun, keduanya sudah jadi hal yang sama.

Handphone bergetar lagi.

"Jangan lupa makan siang yang bener ya."

Mellysa tersenyum tipis. Senyum yang tidak ada yang melihat.

"Iya. Kamu juga."

Hari Demi Hari

Lalu dia menaruh handphone, bangkit, dan memulai hari yang sama seperti kemarin.

Karena itulah yang mereka lakukan. Hari demi hari. Terpisah tapi bersama. Jauh tapi dekat. Menunggu tapi tidak tahu apa yang ditunggu.

Dan mungkin, mungkin itu sudah cukup.

Atau mungkin tidak.

Mellysa tidak tahu lagi.

Yang dia tahu adalah: Roger masih mengirim chat setiap pagi. Dan dia masih membalas.

Dan itu, entah kenapa, terasa seperti satu-satunya kepastian yang dia punya.

Epilog: Di Dua Kota

Di Jakarta, di apartemen studio yang dingin, Roger menaruh handphone setelah chat dengan Mellysa. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menatap dinding putih yang kosong.

"Seberapa pantaskah aku untuk ditunggu,"

bisiknya pada ruangan yang tidak menjawab.

Dan di Samarinda, di rumah yang terlalu besar untuk satu orang, Mellysa berdiri di depan jendela, memandang sungai yang mengalir.

Keduanya sendirian.

Tapi entah kenapa, masih bersama.

Dalam bentuk yang tidak ada yang ajarkan caranya. Dalam jarak yang tidak ada yang bilang bagaimana bertahannya.

Mereka bertahan.

Pertanyaan yang Tidak Pernah Terjawab

Dan mungkin itu pertanyaan sebenarnya yang tidak pernah terjawab oleh lagu itu:

Bukan seberapa pantas seseorang untuk ditunggu.

Tapi seberapa lama kita bisa menunggu sebelum menyadari bahwa yang kita tunggu mungkin sudah tidak sama lagi dengan yang kita ingat.

Atau lebih menakutkan lagi: Menyadari bahwa kita tidak sedang menunggu orang itu pulang.

Kita menunggu versi diri kita sendiri yang dulu percaya bahwa menunggu akan berakhir dengan kehadiran.

Bukan dengan kekosongan yang sudah jadi rumah.


— Tamat —

Comments