Musim Hujan di Dua Kota
Musim Hujan di Dua Kota
Cerpen
❋ I. Gerimis di Freiburg ❋
Pukul 18:45. Di Jakarta, Arya mungkin baru bangun. Atau sudah mandi. Atau sedang membuat kopi di dapur dengan radio menyala. Dia tidak tahu pasti lagi. Enam jam perbedaan waktu terasa seperti lebih dari itu—seperti mereka hidup di planet yang berbeda rotasinya.
Gerimis turun tanpa suara di luar jendela apartemennya. Tidak seperti Jakarta yang menggedor atap seng dengan urgency, hujan di Freiburg merembes. Seperti ingatan yang datang tanpa diminta.
Dia menyeduh teh hijau—bukan kopi hitam seperti dulu. Kebiasaan-kebiasaan kecil berubah tanpa dia sadari. Pagi menjadi Morgen (pagi). Terima kasih menjadi Danke (terima kasih). Bahkan cara dia berpikir mulai diterjemahkan dulu sebelum keluar.
Apartemen ini kecil. Fungsional. Sebuah tempat tidur single, meja kerja menghadap jendela, kitchenette dengan dua tungku yang hanya satu pernah dia pakai. Rak buku masih setengah kosong. Dia belum memutuskan apakah ini rumah atau hanya tempat singgah yang berkepanjangan.
Ponselnya menyala. WhatsApp. Dua centang biru di bawah pesannya dari enam jam lalu: "Sudah makan?" Arya sudah membaca. Tidak membalas.
Dia ingat percakapan terakhir mereka, seminggu lalu. Suara Arya terdengar dekat tapi sekaligus jauh, seperti radio yang sinyalnya lemah.
"Cuaca di sana gimana?"
"Dingin. Mulai musim gugur."
"Di sini panas."
"Sudah mulai hujan?"
"Belum. Sebentar lagi."
Keheningan tiga detik. Koneksi yang lag, atau mereka yang kehabisan kata?
"Kerjaan sibuk?"
"Lumayan. Kamu?"
"Biasa."
Percakapan mereka sekarang seperti formulir yang diisi: pertanyaan standar, jawaban standar. Tidak ada yang berani keluar dari naskah.
Dia meletakkan ponsel, membuka laptop. Email lama dari Arya, tiga bulan lalu, hari pertama dia tiba di Jerman: "Aku baru saja sampai. Apartemennya kecil tapi cukup. Ada jendela besar. Aku akan foto nanti. Kamu pasti suka pemandangannya."
Dia tidak pernah mengirim foto itu.
Hujan di luar semakin deras. Langit Freiburg berwarna abu-abu tua, seperti langit Jakarta menjelang maghrib. Arya pernah bilang, dulu, ketika mereka masih percaya pada hal-hal seperti ini: "Kalau hujan turun bersamaan di tempat kita, artinya alam semesta sedang memikirkan kita."
Dia tersenyum tipis. Hujan di Freiburg tidak tahu apa-apa tentang Jakarta.
Layar laptop memantul di jendela basah. Wajahnya sendiri, transparan, bercampur dengan tetesan air di kaca. Dia menutup laptop. Mematikan lampu. Duduk di gelap, mendengarkan hujan yang jatuh tanpa kata-kata.
* * *
❋ II. Pukul Satu Dini Hari di Jakarta ❋
Arya tidak bisa tidur. Ini sudah kebiasaan—berbaring sampai pukul satu atau dua dini hari, menatap langit-langit, mendengar suara Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur. Motor lewat. Anjing menggonggong. Sesekali klakson dari jalan raya.
Ponselnya menyala di samping bantal. Chat dari dia: "Sudah makan?" Dibaca pukul 00:47. Arya mengetik: "Sudah. Kamu?" Lalu menghapus. Mengetik lagi: "Belum sempat. Nanti saja." Menghapus lagi.
Akhirnya dia tidak membalas apa-apa.
Dia bangun, menyalakan rokok di balkon. Ini kebiasaan baru—merokok. Dimulai sebulan setelah dia berangkat. Dia tidak pernah tahu Arya merokok sekarang.
Langit Jakarta mendung. Akan hujan sebentar lagi. Arya bisa merasakannya dari cara angin bergerak, membawa bau tanah basah yang belum basah.
Di dalam rumah, dua gelas masih berdiri di rak pengering piring. Dia mencuci dua gelas setiap hari. Kebiasaan. Meskipun hanya satu yang terpakai.
Meja kerjanya berantakan dengan blueprints (cetak biru) proyek baru—kompleks apartemen di Tangerang. Klien menginginkan sesuatu yang "modern tapi hangat". Arya tidak yakin dia masih tahu perbedaan antara keduanya.
Dia ingat hari terakhir di bandara. Mereka tidak berpelukan. Hanya berdiri di depan pintu keberangkatan internasional, dengan orang-orang bergerak di sekitar mereka seperti air mengalir mengitari batu.
"Telpon aku."
"Ya."
"Jangan lupa makan."
"Kamu juga."
"Jaga kesehatan."
"Kamu juga."
Instruksi-instruksi praktis. Seperti menulis daftar belanjaan. Mereka tidak mengatakan hal-hal yang seharusnya dikatakan di bandara—dalam novel, dalam film, dalam lagu-lagu. Mereka hanya berdiri sampai pengumuman terakhir, lalu dia berbalik dan pergi, dan Arya menonton punggungnya menghilang melewati imigrasi.
Hujan mulai turun. Keras. Jakarta tidak pernah setengah-setengah soal hujan.
Arya membuka ponsel, mengetik pesan panjang: "Aku tadi mimpi kita di Ancol. Kamu pakai dress biru itu. Yang kamu beli di Tanah Abang tapi nggak pernah kamu pakai karena katamu terlalu terang. Dalam mimpi itu kamu pakai dress itu dan kita makan jagung bakar dan langit mendung tapi nggak jadi hujan. Aku bangun terus langit beneran mendung. Sekarang hujan. Aku jadi mikir apakah kamu—"
Dia menghapus semuanya. Mengetik: "Hujan."
Menunggu. Satu menit. Lima menit. Tidak ada balasan.
Arya mematikan rokok, masuk ke dalam, berbaring di sofa dengan TV menyala tanpa suara. Cahaya biru dari layar memantul di wajahnya. Ponsel di atas dada, menunggu getar yang tidak datang.
Di luar, hujan terus menampar atap dengan marah, seolah menuntut jawaban yang tidak punya pertanyaan.
* * *
❋ III. Supermarket di Hari Sabtu ❋
Edeka tutup pukul delapan malam. Dia datang pukul tujuh lewat, ketika toko sudah sepi. Lebih mudah seperti ini—tidak perlu menyingkir dari ibu-ibu Jerman dengan troli besar, tidak perlu tersenyum pada kasir yang bertanya "Wie geht's?" (apa kabar?) dengan nada otomatis.
Dia berhenti di rak bumbu Asia. Mencari kecap manis. Yang ada hanya kecap Kikkoman—Jepang, bukan Indonesia. Rasanya hampir sama, tapi tidak persis. Seperti mendengar lagu familiar yang dimainkan dengan instrumen berbeda.
"Nggak ada ya, kecap Bango?"
Dia menoleh. Perempuan Indonesia, mungkin mahasiswa juga, dengan keranjang belanja berisi instant noodles (mie instan) dan sayuran.
"Nggak pernah ada. Adanya ini."
"Oh. Ya udah pakai ini aja. Lumayan lah."
Keheningan canggung. Dua orang Indonesia di lorong supermarket Jerman, berbicara bahasa Indonesia yang terdengar terlalu keras, terlalu familiar di tengah Guten Tag (selamat siang) dan Entschuldigung (permisi).
"Udah lama di sini?"
"Tiga bulan."
"Masih baru dong. Nanti juga biasa. Aku udah setahun."
Perempuan itu tersenyum, lalu pergi. Troli-nya berderit di lantai keramik.
Dia melanjutkan belanja. Wortel, bawang bombay, daging ayam. Untuk satu orang, tapi dia selalu membeli terlalu banyak. Di kasir, baru menyadari: ini bahan untuk sup ayam yang biasa Arya masak. Bukan makanan yang dia sendiri masak.
Antrean kasir. Seorang ibu tua di depannya membeli roti dan selai. Kasir muda dengan rambut pirang dikuncir.
Dari speaker toko, lagu jazz mengalun pelan. "Autumn Leaves". Dia mengenal lagu ini.
Tiba-tiba dia kembali di Jakarta. Di mobil Arya. Macet di Sudirman, hujan deras, AC menyala, dan Arya memutar playlist jazz-nya. Lagu ini. "Autumn Leaves".
"Kamu suka jazz?"
"Nggak ngerti. Tapi enak didengar waktu hujan."
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Rasanya pas aja."
Sedetik, dia yakin mencium parfum Arya—woody, sedikit manis. Lalu menghilang. Hanya Febreze (pewangi ruangan) dari supermarket.
"Entschuldigung?" (Permisi?)
Kasir menatapnya. Sudah gilirannya.
"Oh, ja. Entschuldigung." (Oh, ya. Maaf.)
Dia meletakkan belanjaan di conveyor belt (ban berjalan). Kasir memindai barang satu per satu dengan wajah netral, profesional. Suara beep yang monoton.
"Schönes Wetter heute." (Cuaca bagus hari ini.)
"Ja." (Ya.)
Keheningan.
"Das macht 23,50 Euro." (Total 23,50 Euro.)
"Karte, bitte." (Kartu, tolong.)
Transaksi selesai. Kasir tersenyum tipis, kata-kata otomatis: "Schönen Tag noch." (Semoga harimu menyenangkan.)
"Danke." (Terima kasih.)
Kata-kata dalam bahasa Jerman keluar otomatis dari mulutnya. Lancar. Tepat. Tapi tidak pernah terasa miliknya. Seperti baju yang dipinjam—hangat, tapi bukan punyanya.
Di jalan pulang, hujan turun lagi. Dia tidak membawa payung. Plastik belanja di tangan kiri, tas di bahu kanan. Ponsel bergetar di saku.
Arya. Video call.
Dia menatap layar yang menyala. Nama Arya. Foto profil lama—mereka berdua di depan Monas, dia menutup mata karena matahari terlalu terang.
Ponsel terus bergetar. Satu. Dua. Tiga kali.
Dia menekan tombol merah. Mematikan.
Terus berjalan dalam hujan, membiarkan dirinya basah, membiarkan plastik belanja basah, membiarkan Freiburg membasuhnya dengan air dingin yang tidak membawa kata-kata apa pun.
* * *
❋ IV. Percakapan yang Tertunda ❋
Dua jam kemudian, dia duduk di lantai apartemen dengan handuk di kepala, rambut masih basah. Ponsel di pangkuan. Tiga missed calls (panggilan tak terjawab) dari Arya.
Dia menekan tombol video call.
Satu nada. Dua nada. Layar menyala. Wajah Arya muncul—background kamarnya yang familiar tapi terasa seperti museum. Semuanya masih di tempat yang sama. Poster film lama di dinding. Rak buku. Jendela dengan gorden krem yang tidak pernah ditutup penuh.
"Halo."
"Halo. Maaf tadi lagi jalan."
"Hujan?"
"Iya. Di sana?"
"Baru berhenti."
Keheningan tiga detik. Koneksi bagus. Bukan soal internet.
"Kamu makan apa tadi?"
"Belum. Baru belanja. Kamu?"
"Gado-gado. Tapi beda rasanya."
"Beda kenapa?"
"Entah. Beda saja."
Dia melihat wajah Arya di layar kecil. Rambutnya lebih panjang. Ada lingkar hitam di bawah mata. Atau mungkin hanya cahaya kamar yang kuning, membuat semuanya tampak lelah.
"Kerjaan gimana?"
"Sibuk. Proyek Tangerang itu jadi. Groundbreaking bulan depan."
"Bagus dong."
"Iya. Lumayan. Kamu? Risetnya?"
"Jalan. Banyak baca. Minggu depan ada seminar."
"Presentasi?"
"Nggak. Cuma dengar."
"Oh."
Mereka berbicara seperti dua orang di lift—educato, distant, menunggu pintu terbuka supaya bisa keluar. Tidak ada yang berani menekan tombol darurat.
"Dingin nggak di sana?"
"Mulai dingin. Masih oke."
"Beli jaket tebal?"
"Belum. Nanti."
"Jangan sakit."
"Nggak akan. Kamu juga."
Arya menggeser ponselnya, bersandar ke dinding. Dia bisa melihat langit-langit kamar Arya—ada bekas bocor di sudut yang belum diperbaiki.
"Ingat nggak dulu kamu bilang setiap tetes hujan itu kata?"
Dia terdiam. Tidak mengira Arya akan menyebut itu.
"Ingat."
"Kalau hujan di sana sama di sini jatuh bareng... artinya apa?"
Keheningan panjang. Lima detik. Sepuluh detik. Dia bisa mendengar napasnya sendiri.
"Mungkin hujan cuma hujan, Ar."
Arya tidak menjawab. Hanya menatap layar. Mata mereka bertemu—atau tidak bertemu. Sulit membedakan tatapan nyata dengan tatapan melalui kamera.
"Iya. Mungkin."
Percakapan melanjut sepuluh menit lagi. Soal teman. Soal makanan. Soal cuaca lagi. Lingkaran yang sama berulang. Mereka tidak menyebut kapan dia akan pulang. Tidak menyebut apakah mereka akan bertemu tahun depan. Tidak menyebut apa yang terjadi jika dia memutuskan untuk tidak pulang.
Akhirnya Arya yang bilang:
"Udah jam berapa di sana?"
"Sembilan malam."
"Tidur sana."
"Belum ngantuk. Kamu? Pagi kan?"
"Iya. Jam enam. Harus siap-siap."
"Ya udah. Jangan telat."
"Nggak akan."
Keheningan terakhir. Tidak ada yang mau menutup duluan.
"Yaudah ya."
"Ya."
"Dadah."
"Dadah."
Layar mati. Apartemen seketika lebih sunyi. Hujan di luar jendela jatuh dalam irama yang sama—tapi sekarang dia tidak mencari kata-kata di dalamnya.
Dia memasak mie instan. Yang dibawa dari Jakarta, stok terakhir. Indomie Goreng (mie instan goreng). Makan sendirian di meja kecil, sambil membuka foto lama di ponsel.
Mereka di Puncak. Di pantai Anyer. Di kafe Menteng. Di kamar kos-nya yang sempit. Wajah-wajah yang tersenyum, tidak tahu bahwa suatu hari mereka akan menjadi arsip.
Dia tidak menangis. Hanya menatap sampai layar mati dengan sendirinya, dan yang tersisa hanya pantulan wajahnya sendiri di kaca hitam.
* * *
❋ V. November, dan yang Tersisa ❋
Tiga minggu kemudian, November datang dengan dingin yang serius. Freiburg mulai bersiap untuk musim dingin—toko-toko memasang lampu Natal terlalu awal, orang-orang memakai scarf (syal) tebal, napas menguap putih di udara.
Dia berjalan pulang dari universitas pukul lima sore—sudah gelap, langit hitam pekat. Hujan turun tiba-tiba. Deras. Tidak biasa untuk Freiburg yang hujannya selalu sopan, selalu pelan.
Dia tidak membawa payung. Tidak berlari. Hanya terus berjalan dengan kecepatan yang sama, membiarkan hujan membasahi jaket, tas, rambut. Orang-orang berteduh di toko, menatapnya aneh—perempuan Asia kecil berjalan sendirian dalam hujan seolah tidak peduli.
Tapi dia peduli. Dia sangat peduli. Hanya saja, entah kenapa, basah kuyup terasa seperti satu-satunya hal yang riil hari itu. Air dingin di kulit. Sepatu yang mulai becek. Rambut menempel di wajah. Semuanya konkret, tidak bisa diterjemahkan, tidak bisa disalahpahami.
Dalam hujan, dia merasa ringan. Seperti beban yang sudah lama dia bawa—beban yang tidak dia sadari ada—pelan-pelan terangkat. Bukan hilang. Hanya lebih ringan.
§
Di Jakarta, pukul sebelas malam, Arya berdiri di lokasi proyek Tangerang. Seharusnya dia sudah pulang. Tapi ada masalah dengan pondasi—air merembes, konstruksi terhenti.
Hujan turun. Pekerja sudah berteduh di barak sementara. Arya tetap berdiri di tengah lapangan becek, melihat lubang pondasi yang tergenang air, membayangkan kompleks apartemen yang akan berdiri di sini—atau tidak berdiri, jika fondasi salah.
Dia membiarkan dirinya basah. Kemeja kerja lengket di punggung. Sepatu bot penuh lumpur. Tidak ada alasan untuk tetap di sini. Tapi dia tidak bergerak.
Mandor proyek keluar dari barak, membawa payung, berteriak dari kejauhan:
"Pak Arya! Masuk! Nanti sakit!"
Arya melambaikan tangan. Isyarat: nanti. Mandor menggeleng, tapi masuk lagi.
Hujan Jakarta mengguyur dengan keras, amarah, tidak mengenal ampun. Arya menutup mata. Mendengar suara air di mana-mana—di atap seng, di genangan, di talang yang meluap. Seperti orchestra yang tidak terlatih tapi jujur.
Ponselnya bergetar. Dia membuka. Chat dari dia: "Aku basah kuyup siang ini."
Arya menatap layar basah. Mengetik dengan jari yang basah: "Aku juga."
Balasan cepat: "Hujan ya?"
"Hujan."
Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi.
"Tidur sana. Sudah malam."
"Kamu juga. Pagi kan?"
"Iya."
Arya memasukkan ponsel ke saku. Melihat langit Jakarta yang hitam, tanpa bintang, hanya mendung tebal yang terus meneteskan air. Dia tidak tahu apakah di Freiburg langit juga hitam. Tidak tahu apakah dia juga berdiri dalam hujan seperti ini, atau sudah sampai di apartemen, ganti baju kering, menyeduh teh.
Dia tidak menanyakan.
Akhirnya dia berjalan ke barak. Mandor menyodorkan handuk dan kopi panas dari termos. Arya menerima keduanya, duduk di bangku kayu, mendengar hujan dari dalam, bukan dari tengahnya lagi.
§
Mereka tidak mengatakan "aku mencintaimu". Tidak mengatakan "ini tidak akan berhasil". Tidak mengatakan "kita akhiri saja".
Mereka bicara tentang hujan.
Dan mungkin itu sudah cukup. Atau mungkin tidak.
Di apartemen Freiburg, dia mengganti baju basah dengan piyama kering. Memasak sup ayam—akhirnya menggunakan bahan yang dibeli tiga minggu lalu. Rasanya tidak seperti yang Arya masak. Tapi cukup hangat. Cukup untuk malam ini.
Dia makan sambil melihat jendela. Hujan sudah berhenti. Yang tersisa hanya tetesan dari atap, jatuh ke tanah dengan interval tidak teratur. Drip. Drip. Drip.
Tidak ada kata-kata di dalamnya. Hanya air yang jatuh karena gravitasi.
Di Jakarta, Arya sampai rumah pukul dua dini hari. Mandi air panas, ganti baju, berbaring di tempat tidur dengan lampu mati. Ponsel di meja samping, tidak dibuka lagi.
Besok dia harus ke lokasi proyek pukul tujuh. Menyelesaikan masalah pondasi. Bertemu klien. Hidup berlanjut dengan daftar hal yang harus dilakukan.
Dia menutup mata. Tidur datang perlahan, seperti hujan yang turun dari langit abu-abu, tanpa urgency, tanpa janji, hanya karena itulah yang dilakukan hujan.
§
Hujan akan terus turun—di Freiburg, di Jakarta, di kota-kota lain yang bahkan tidak mereka kenal namanya. Hujan tidak membawa pesan. Tidak mengandung kata-kata. Tidak menghubungkan dua orang yang terpisah ribuan kilometer hanya karena kebetulan mereka basah di waktu yang hampir bersamaan.
Tapi tetap saja, setiap kali hujan turun, mereka akan memikirkan satu sama lain. Tidak menelepon. Tidak mengirim pesan panjang. Hanya berpikir sebentar—apakah di sana juga hujan?—lalu melanjutkan hari.
Karena kehidupan bukan tentang pesan di setiap tetes air.
Kehidupan adalah bangun pagi, membuat kopi atau teh, pergi bekerja, pulang ketika gelap, tidur, lalu ulangi. Sesekali hujan turun. Sesekali seseorang menelepon. Sesekali ada yang berubah, tapi lebih sering semuanya tetap sama.
Dan di antara semua itu, ada ruang kecil untuk kerinduan yang tidak perlu diucapkan, untuk kenangan yang tidak perlu dibahas lagi, untuk dua orang yang pernah sangat dekat dan sekarang sangat jauh, tapi masih tahu—tanpa perlu bertanya—bahwa di suatu tempat, seseorang sedang memikirkan mereka ketika hujan turun.
Mungkin itu cukup.
Mungkin tidak.
Tapi itu yang ada.
— TAMAT —

Comments
Post a Comment