Untukmu, yang Kuingat dari Lagu Itu

 


# Untukmu, yang Kuingat dari Lagu Itu


Ada sesuatu dari malam itu yang masih tinggal di ujung napasku. Seperti sisa bau tanah setelah hujan pertama yang turun di bulan November. Seperti lagu yang tidak pernah selesai.


---


Konser Dewa 19 malam itu bukan soal musik.


Lapangan terbuka penuh sesak. Rumput basah mengisap sepatuku ke dalam lumpur yang lembut dan lengket. Bass dari speaker utama bergetar sampai ke tulang dada, membuat jantung berdetak tidak pada temponya sendiri. Lampu panggung menari dalam warna ungu dan merah—passionate dan melancholic, bergantian menyentuh wajah-wajah asing yang saling menengadah.


Aku berdiri di tengah ribuan orang, tapi merasa sendirian. Sampai seseorang menginjak sepatuku.


"Aduh—maaf!"


Aku menoleh. Perempuan itu sedang berjuang menjaga keseimbangan, didorong dari belakang oleh arus manusia. Rambutnya agak kusut, basah di ujung-ujungnya. Pipinya memerah diterpa angin atau malu, aku tidak tahu. Di tangannya ada permen yang bungkusnya lengket, sepertinya sudah lama ingin dibuka tapi tidak sempat.


"Nggak apa-apa," jawabku. "Asal jangan hati saya yang diinjak."


Dia tertawa. Bukan tawa sopan. Matanya menyipit sampai hampir hilang, seperti mata seseorang yang sudah sering tertawa pada hal-hal biasa-biasa saja—tapi malam ini tidak. Dan entah kenapa, tawa itu membuat seluruh hiruk pikuk lapangan terasa lebih tenang.


Kami berdiri bersebelahan. Nafas kami mengembun tipis di udara.


"Dingin ya," bisiknya, lebih pada diri sendiri, tapi aku mendengarnya jelas.


"Banget." Aku merasakan jaketku yang sedikit lembab menempel di kulit. "Kamu sendiri?"


"Temenku ke toilet dari lagu Separuh Nafas. Kayaknya nyasar atau malah pulang duluan." Dia tertawa lagi, kali ini lebih kecil. Ada gurat kecil di sudut bibirnya, bekas luka lama yang hampir hilang. "Kamu?"


"Dari awal sendiri."


"Sengaja?"


"Nggak ada yang mau diajak."


"Atau nggak ada yang kamu mau ajak?"


Aku terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan orang yang baru sadar sudah bicara terlalu jauh.


"Maaf, aku kebiasaan. Omongan kadang lebih cepat dari rem."


"Nggak salah kok." Aku tersenyum. "Kamu bener."


Dia menatapku sebentar, lalu mengangguk pelan. Seperti orang yang paham tanpa perlu penjelasan.


---


Ketika intro *Cinta 'Kan Membawamu Kembali* mulai dimainkan, dia menarik napas panjang. Aku merasakannya—getaran di udara, jeda sunyi sejenak di antara ribuan orang, seolah semua menahan napas bersamaan.


"Lagu ini…" Suaranya pelan. "Kayak menagih sesuatu dari masa lalu."


"Mungkin karena kita pernah percaya pada sesuatu yang nggak pernah kembali."


Dia menoleh, matanya menangkap cahaya ungu dari panggung. "Atau karena kita diam-diam masih menunggu."


Aku tidak menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Kamu selalu sedalam ini ngomong ke orang asing?" tanyaku akhirnya.


"Nggak." Dia menggeleng. "Hanya ke yang kelihatannya ngerti."


"Jadi kamu ngira aku ngerti?"


"Nggak ngerti sih…" Dia tersenyum tipis. "Tapi kamu diem waktu yang lain teriak. Itu biasanya tanda orang yang nyimpan sesuatu."


Angin malam menyibak aroma tanah basah bercampur kopi dari termos seseorang di belakang kami. Dia memasukkan tangannya ke dalam kantong jaket, permen yang tadi dipegangnya entah kemana.


"Pernah berharap ketemu orang yang rasanya kayak pulang?" tanyanya tiba-tiba.


Aku menatap panggung. Ahmad Dhani sedang berbicara sesuatu yang tidak kudengar dengan jelas.


"Baru malam ini."


Dia tersenyum. Tidak menjawab. Hanya berdiri lebih dekat, sampai lengan kami hampir bersentuhan.


---


"Hei!" Seseorang dari belakang berseru, sedikit mabuk atau terlalu bahagia. "Kalau Dewa 19 konser di Mars, menurutlu warna langitnya apa?"


"Merah lah, Mars kan merah!" sahut yang lain.


"Bukan," jawab perempuan di sebelahku, cepat dan tanpa ragu. "Tetap ungu."


"Kenapa ungu?" tanyaku.


Dia menoleh, separuh wajahnya tertutup bayangan. "Karena ungu itu percampuran dua hal. Merah dan biru. Panas dan dingin. Seperti kita… bertemu di tengah dua waktu yang seharusnya nggak nyambung."


Kami tertawa kecil. Tapi ada sesuatu dalam kata-katanya yang terasa lebih besar daripada lelucon spontan di tengah konser.


---


"Kamu suka bagian mana dari lagu? Lirik atau melodi?"


"Lirik," jawabnya. "Karena lirik jujur. Kayak air hujan yang jatuh tanpa izin."


"Aku suka melodi," balasku. "Karena melodi tahu cara bicara tanpa perlu dijelaskan."


Dia tersenyum. "Mungkin kita cocok. Kamu yang ngomong tanpa kata, aku yang kebanyakan ngomong."


Kami terdiam sejenak, membiarkan suara Ahmad Dhani mengisi ruang di antara kami. Suaranya serak, setengah patah, tapi justru itu yang membuatnya terdengar manusiawi.


"Kalau kamu jadi lagu Dewa, kamu yang mana?"


"*Kangen*," jawabnya tanpa pikir panjang.


"Kenapa?"


"Karena semua orang pernah ngerasain. Tapi nggak semua bisa bilang." Dia menggigit bibirnya lagi. "Kamu?"


"*Risalah Hati*."


Dia menoleh, mata menyipit sedikit. "Kenapa?"


"Karena lagu itu… mengakui hal-hal yang nggak bisa diubah. Hal-hal yang cuma bisa disimpan."


Dia tidak menjawab. Hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca—seperti orang yang baru mengenali seseorang yang sebenarnya sudah lama dikenal.


---


Malam semakin larut. Kerumunan semakin padat saat lagu-lagu hits diputar. Kami tidak banyak bicara lagi, tapi keheningan itu tidak canggung. Sesekali bahu kami bersentuhan karena desakan orang lain. Sesekali kami saling melirik, lalu tersenyum kecil seperti berbagi rahasia yang tidak perlu diucapkan.


Sampai dia bertanya—pertanyaan yang mengubah segalanya.


"Kamu takut jatuh cinta, nggak?"


Aku terdiam. Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba, terlalu jujur.


"Kenapa tanya gitu?"


"Karena cinta bisa jadi cuma numpang lewat. Kayak konser ini. Ramai sesaat, penuh janji, terus menghilang. Sisanya cuma lumpur yang nempel di sepatu."


Aku menatap sepatuku yang kotor. Lumpur sudah mengering di sana-sini, membentuk pola yang tidak beraturan.


"Mungkin aku takut," jawabku pelan. "Tapi kalau ada satu momen kayak ini… aku rasa aku mau ambil risiko itu."


Dia tersenyum. Senyum paling sedih yang pernah kulihat.


"Sayang ya," bisiknya. "Momen kayak gini nggak bisa diulang. Cuma bisa diingat."


---


Ketika konser mendekati akhir, lampu panggung mulai redup. Lagu terakhir dimainkan—*Kamudah Satu-Satunya*. Orang-orang mulai bergerak, bersiap pulang. Kerumunan mulai terdorong keluar.


"Ramai banget ya keluarnya," kataku, mencoba menahan waktu sedikit lebih lama.


"Penuh sesak," jawabnya. "Kayak kenangan."


Dia menatapku, lalu tersenyum. Ada rasa perpisahan di sana, meskipun kami belum bicara tentang itu.


"Kita nggak tukeran nama?"


Dia menggeleng. "Kamu percaya kebetulan?"


"Sedikit."


"Kalau begitu, biarkan takdir yang nentuin. Kalau kita ketemu lagi… berarti bukan cuma konser yang menyatukan kita."


"Dan kalau nggak?"


Dia melangkah mundur, terbawa arus orang yang mulai berjalan keluar. Senyumnya masih ada, tapi matanya sudah jauh.


"Setidaknya kamu punya satu malam. Satu lagu. Dan satu perempuan yang bikin dunia sebentar jadi masuk akal."


Dia menghilang di antara kerumunan. Aku berdiri di sana, dikelilingi ribuan orang, tapi merasa sendirian lagi. Di tanganku, entah sejak kapan, ada permen dengan bungkus lengket. Yang sama dengan yang dia pegang tadi.


Aku tidak pernah membukanya.


---


Meski sudah bertahun-tahun, tiap kali lagu itu diputar, aku masih bisa mencium bau tanah basah. Masih bisa merasakan dentuman bass yang bergetar sampai ke tulang. Masih bisa melihat warna ungu dan merah yang menari di wajahnya.


Dan masih bisa merasakan lumpur yang lengket di sepatuku—sesuatu yang sulit dilepas, seperti kenangan yang tidak pernah mau pergi.


---


## Kembali ke Live Levita


Levita menarik napas panjang. Layar laptopnya menampilkan blog sederhana dengan satu postingan. Hanya satu. Judulnya: *Untukmu, yang Kuingat dari Lagu Itu*.


Beberapa penontonnya di live stream menyeka air mata. Komentar-komentar berhamburan seperti banjir.


> **@stardustmemories:** gue nangis anjir  

> **@nightowl_089:** ini cerita nyata atau fiksi sih?  

> **@melankolis_:** siapa yang nulis ini... gue harus tau kelanjutannya  

> **@anon_wanderer:** mungkin ada hal yang emang ga boleh punya kelanjutan


Levita membaca komentar-komentar itu sambil menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu di wajahnya—nostalgia, atau mungkin kenangan pribadi yang tersentuh.


"Namanya… Ghostbusters." Suaranya pelan. "Itu nama penulis blog ini."


Dia scroll ke bawah. Tidak ada postingan lain. Tidak ada profil. Tidak ada jejak.


"Ini cuma satu postingan. Dibuat November 2019. Enam tahun lalu." Dia terdiam sejenak. "Tepat setelah konser Dewa 19 yang terakhir waktu itu."


Komentar terus berdatangan.


> **@digital_detective:** gue coba trace. blog ini dibuat cuma buat satu cerita ini doang. terus ditinggal  

> **@hopeless_romantic:** maybe that's the point. some stories are meant to be told once  

> **@searchingforyou:** GUYS ADA YANG PERNAH KE KONSER ITU GA? COBA INGET2  


Levita tersenyum tipis, tatapannya jauh.


"Buat kalian yang jago nyelam…" Suaranya terdengar rapuh. "Tolong carikan aku siapa Ghostbusters ini. Atau… perempuan yang dia temui. Kita harus tahu…"


Dia berhenti. Menarik napas.


"…atau mungkin nggak perlu. Mungkin beberapa cerita emang lebih indah kalau nggak ada akhirnya."


Layar menampilkan blog itu lagi. Satu postingan. Satu malam. Satu kenangan yang ditinggalkan untuk dunia.


Lalu Levita memutar lagu. *Cinta 'Kan Membawamu Kembali*. Pelan. Memenuhi ruang live streamnya.


Di kolom komentar, seseorang menulis:


> **@ghost_in_the_crowd:** aku pernah di konser itu. aku ingat permen yang lengket. aku ingat sepatu yang diinjak. tapi aku nggak pernah tahu namanya.


Komentar itu hanya muncul sedetik, lalu akun tersebut langsung deleted.


Levita membeku. Mencoba refresh. Mencoba mencari. Tapi sudah hilang.


Dia menatap kamera dengan mata berkaca-kaca.


"Kalian lihat itu? Kalian lihat?"


Ribuan komentar membanjiri layar. Chaos. Spekulasi. Teori.


Tapi Levita hanya tersenyum—senyum paling sedih yang pernah dilihat viewersnya.


"Mungkin…" bisiknya. "Mungkin mereka berdua masih di luar sana. Masing-masing menyimpan kenangan yang sama. Masing-masing menunggu lagu itu dimainkan lagi."


Layar fade to black.


Lagu masih terdengar pelan di latar.


Dan malam, dengan segala getar dan warnanya, seolah ingin kembali menjadi kenangan sekali lagi.


---


*#resonansi #ceritakehidupan #dramapendek #romansa #nostalgia*


---


**Catatan dari Ghostbusters:**  

*Jika kamu pernah berada di konser itu. Jika kamu pernah menginjak sepatu seseorang. Jika kamu masih menyimpan permen dengan bungkus lengket…*


*Aku masih mengingatmu dari lagu itu.*

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul

Air yang Mengingat