Air yang Mengingat
Air yang Mengingat
Tangan ini sudah menyentuh lima ratus tiga puluh dua perahu. Aku ingat semuanya. Atau kayu yang ingat—aku tidak pernah yakin mana yang benar.
Pagi ini Pieter datang dengan perahu tua di gerobak kayunya. Perahu kecil, untuk satu orang, cat hijaunya sudah mengelupas seperti kulit ular berganti musim. Aku berdiri di ambang pintu bengkel, menunggu dia bicara dulu. Orang-orang di desa selalu bicara dulu sebelum aku menyentuh apa pun. Seolah kata-kata bisa membersihkan kayu dari apa yang tersimpan di dalamnya.
"Kau bisa perbaiki ini, Matthias?" suaranya pelan. Pieter tidak pernah keras bicara. Aku kenal dia sejak kami anak-anak, dan suaranya selalu seperti orang yang takut membangunkan sesuatu.
"Aku bisa." Aku berjalan mendekat, tapi tidak langsung menyentuh. Tanganku berhenti beberapa senti dari lambung perahu. "Tapi pertanyaan sebenarnya: apakah kau ingin tahu siapa yang pernah duduk di sini?"
Pieter menatapku. Matanya seperti orang yang sudah tahu jawabannya tapi tidak ingin mengakui. "Tidak," katanya akhirnya. "Beberapa hal lebih baik tidak diketahui."
Aku mengangguk. Tapi tanganku sudah bergerak sendiri. Ini adalah masalahnya—masalah yang sudah lima puluh tahun kusimpan. Tanganku tidak pernah benar-benar menurut padaku. Mereka ingin menyentuh. Mereka ingin tahu. Atau kayu yang ingin disentuh. Atau ingatan yang ingin keluar. Aku berhenti mencoba membedakan ketiganya sejak lama.
Jari-jariku menekan kayu. Dingin. Basah. Ada lumut tipis di sisi bawahnya. Aku menutup mata—bukan karena harus, tapi karena lebih mudah begini. Lebih mudah tidak melihat wajah Pieter ketika aku mulai tahu.
Pertama datang berat. Perahu ini pernah membawa beban yang berat sebelah—seseorang duduk condong ke kiri, seperti mencoba menyeimbangkan sesuatu yang tidak terlihat. Kemudian datang dingin. Malam. Air yang lebih gelap dari biasanya karena tidak ada bulan. Kemudian datang gemetar—bukan dari air, tapi dari tangan yang memegang dayung terlalu kencang.
Seorang wanita.
Aku tahu ini wanita bukan karena kayu memberitahuku. Kayu tidak punya kata. Kayu memberi sensasi, dan aku yang harus menerjemahkannya. Gemetar kecil di pegangan dayung. Bau parfum murah yang meresap ke pori-pori kayu. Berat tubuh yang tidak terlalu menekan—sekitar lima puluh kilogram, mungkin kurang.
Dia takut.
Tidak. Dia lebih dari takut. Dia panik dengan cara yang sudah dipaksakan tenang. Seperti orang yang memutuskan untuk bunuh diri tapi masih sempat merapikan rambut dulu.
Aku membuka mata. Pieter menatapku dengan wajah yang sudah siap menerima. Atau siap lari. Aku tidak pernah tahu bedanya di mata orang.
"Ada wanita di perahu ini," kataku pelan. "Dia takut."
Pieter tidak bergerak. Bahkan tidak berkedip.
"Dia pergi malam-malam. Tidak bilang siapa-siapa. Atau mungkin bilang satu orang, tapi orang itu tidak bisa menghentikannya."
"Jangan lanjutkan." Suara Pieter serak.
"Aku tidak bisa tidak melanjutkan. Kayu ingin—"
"Kayu bukan manusia. Kayu tidak ingin apa-apa."
Aku terdiam. Dia benar, tentu saja. Tapi juga salah. Aku sudah terlalu lama melakukan ini untuk tahu mana yang benar.
Pieter berbalik, setengah jalan ke pintu, kemudian berhenti. "Perbaiki perahunya," katanya tanpa menoleh. "Tapi jangan ceritakan apa-apa lagi. Pada siapa pun. Termasuk aku."
Dia pergi. Gerobaknya berderit di jalan batu. Aku berdiri sendirian dengan perahu hijau tua itu, tanganku masih menyentuh kayunya. Dan ingatan masih datang—tidak bisa kuhentikan sekalipun kumau. Wanita itu tidak pernah kembali. Aku tahu ini bukan karena kayu memberitahuku. Aku tahu ini karena perahu ini pernah menunggu—lama sekali—di tepi air. Menunggu sampai lumut tumbuh di lambungnya.
---
Ayah mengajarkanku cara membuat perahu ketika aku berumur tujuh tahun. Dia tidak pernah mengajarkanku cara mendengar kayu—itu datang sendiri, seperti demam yang tidak kau undang.
"Kayu bukan benda mati, Matthias," katanya suatu sore, tangannya yang kasar membelai permukaan oak. "Kayu adalah penyimpan."
"Menyimpan apa, Ayah?"
"Getaran. Suara. Berat tubuh. Peluh. Air mata. Semuanya masuk ke dalam serat." Dia menatapku dengan mata yang sudah tahu terlalu banyak. "Pohon menyimpan hujan. Kayu menyimpan manusia."
Aku tidak mengerti waktu itu. Aku mengerti seminggu kemudian.
Kakek meninggal di perahunya. Perahu kecil yang biasa dia pakai untuk memancing seorang diri. Mereka menemukan dia sudah kaku, masih memegang joran, mata terbuka menatap langit. Serangan jantung, kata orang. Cara baik untuk pergi, kata yang lain. Tidak menderita.
Ayah membawa perahu itu pulang. Dia membersihkannya, memperbaiki papan yang retak, mengecat ulang bagian yang pudar. Kemudian dia menaruhnya di sudut bengkel dan tidak pernah menyentuhnya lagi.
Aku menyentuhnya.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku merindukannya. Mungkin karena tujuh tahun adalah usia di mana kau tidak tahu batas antara ingin tahu dan tidak seharusnya tahu. Aku menaruh tangan kecilku di bangku perahu, di tempat kakek biasa duduk.
Dan aku mendengar dia menyanyi.
Bukan dengan telinga. Dengan sesuatu yang lebih dalam dari itu. Lagu tanpa melodi, tanpa kata—hanya perasaan bernyanyi. Kebahagiaan tenang. Kesepian yang tidak kesepian. Kepuasan pagi di atas air ketika kabut masih menutupi dunia dan kau merasa sendirian dengan Tuhan, atau sendirian dengan tidak ada apa-apa, dan keduanya sama saja.
Aku menangis. Tidak tahu kenapa. Tangis yang datang dari tempat yang tidak bisa kujelaskan.
Ayah menemukanku seperti itu. Dia tidak marah. Dia hanya duduk di sebelahku, menaruh lengannya di pundakku, dan menunggu sampai aku selesai menangis.
"Kau dengar dia," katanya. Bukan pertanyaan.
Aku mengangguk.
"Ini hadiah," katanya pelan. "Atau kutukan. Kau yang akan memilih."
"Aku tidak mau," aku berbisik. "Aku tidak mau dengar orang-orang yang sudah mati."
"Kau tidak mendengar orang mati." Ayah mengangkat daguku, membuatku menatap matanya. "Kau mendengar apa yang mereka tinggalkan. Jejak. Gema. Bukan hantu—hanya... hanya bukti bahwa mereka pernah ada."
"Tapi aku tidak mau!"
Ayah terdiam lama. Kemudian dia berkata, sangat pelan, "Aku tahu. Ayahmu juga tidak mau. Tapi tangan kita tidak bertanya izin. Tangan kita tahu sebelum kita tahu."
Malam itu aku mencoba tidur dengan tangan dikepal erat, sembunyi di bawah selimut. Seolah kalau aku tidak melihat tanganku, mereka akan lupa cara menyentuh. Tapi di pagi hari, ketika aku bangun, tangan itu sudah terbuka lagi. Menunggu. Selalu menunggu.
---
Aku membuat perahu untuk Anna ketika kami berumur dua puluh tahun. Perahu kecil, untuk dua orang, dengan bangku yang saling berhadapan sehingga kami bisa melihat wajah satu sama lain saat mendayung.
Anna datang dari desa sebelah. Rambutnya panjang, selalu basah karena dia suka berenang di sungai bahkan saat masih pagi. Dia tertawa seperti orang yang tidak takut pada apa pun, dan aku jatuh cinta padanya karena itu—karena dia adalah kebalikan dariku yang takut pada terlalu banyak hal.
"Kau bisa mendengar kayu berbicara," katanya suatu hari, bukan bertanya. "Orang-orang bilang begitu."
"Orang-orang bilang banyak hal."
"Tapi itu benar, kan?" Dia menatapku dengan mata yang tidak menghakimi. Hanya ingin tahu. Anna selalu hanya ingin tahu.
"Mungkin," jawabku. "Atau mungkin aku hanya gila."
"Kalau gila, kau gila dengan cara yang indah."
Kami menikah di musim semi. Tidak ada pesta besar. Hanya kami, pastor tua, dan perahu yang kubuat. Aku membawa Anna menyusuri sungai dengan perahu itu, dan dia duduk berhadapan denganku, kakinya menyentuh kakiku di bawah bangku.
"Aku akan hidup di desa ini," katanya tiba-tiba. "Bersamamu. Tapi aku tidak janji akan bahagia."
Aku berhenti mendayung. "Kenapa kau bilang begitu?"
"Karena aku tidak mau kau kecewa nanti. Kalau ternyata aku bukan orang yang bisa hidup tenang di satu tempat."
"Kau bisa pergi kapan saja."
"Tidak." Dia menggeleng. Rambutnya basah, menetes ke pundaknya. "Kalau aku pergi, aku akan bawa hatimu. Dan aku tidak mau membawanya kalau aku tidak yakin bisa menjaganya."
Kami terdiam. Perahu bergoyang pelan di arus. Air menepuk lambung kayu dengan ritme yang terdengar seperti jantung berdetak.
"Kau mencintai aku," tanyanya pelan, "atau kau mencintai bayangan aku di perahu ini?"
Aku tidak mengerti pertanyaan itu waktu itu. Aku mengerti tiga tahun kemudian.
---
Anna sakit di musim dingin ketiga kami menikah. Batuk yang tidak berhenti. Demam yang datang pergi. Tubuhnya semakin kurus, seperti dia perlahan menghilang dari dalam kulitnya sendiri.
Dokter dari kota datang, melihatnya, dan menggeleng. "Paru-parunya," katanya. "Udara di sini terlalu lembab. Dia butuh tempat yang kering, atau dia akan mati."
"Aku tidak bisa pindah," kataku. "Pekerjaanku di sini. Keluargaku—"
"Kalau begitu dia yang harus pindah," dokter memotong. Dia menatapku dengan mata yang tidak simpatik. "Atau kau pilih perahu daripada istri?"
Anna memegang tanganku. "Jangan," katanya. Suaranya serak. "Jangan pilih aku. Aku tidak ingin kau membenciku nanti karena aku yang membuatmu pergi."
"Aku tidak akan membencimu."
"Kau akan. Suatu hari kau akan bangun di tempat yang bukan rumahmu dan kau akan membenciku. Lebih baik aku yang mati daripada kau hidup membenci."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku hanya duduk di sebelah ranjangnya, memegang tangannya, mendengarkan napasnya yang semakin berat.
Dia mati di musim semi. Pagi hari. Burung baru mulai berkicau. Tangannya dingin di tanganku, dan aku tidak tahu kapan kehangatan meninggalkannya. Mungkin sejak tengah malam. Mungkin sejak seminggu lalu. Mungkin sejak pertama kali dia menanyakan apakah aku mencintai dia atau bayangan dia.
Sebelum dia mati, dia berbisik sesuatu. Aku harus mendekatkan telinga ke bibirnya untuk mendengar.
"Perahu yang kau buat untukku," katanya. "Bakar setelah aku mati."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin jadi ingatan. Aku tidak ingin kau menyentuh kayu itu dan mendengar aku. Aku ingin kau lupa. Aku ingin kau hidup tanpa bayangan aku."
Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Tenggorokanku terlalu sesak.
"Janji padaku," dia berbisik. "Bakar perahunya."
Aku tidak berjanji. Dan dia mati dengan mata terbuka, menatapku, menunggu jawaban yang tidak pernah datang.
---
Aku tidak membakar perahunya. Aku menaruhnya di sudut paling gelap bengkel, menutupinya dengan terpal, dan tidak pernah menyentuhnya lagi. Tiga puluh lima tahun. Perahu itu masih di sana. Aku melewatinya setiap hari—kadang tiga kali sehari—dan setiap kali aku melewatinya, tanganku gatal ingin menyentuh.
Tapi aku tidak pernah menyentuh. Karena aku takut apa yang akan kudengar. Takut mendengar dia memohon untuk pergi. Takut mendengar dia menyesal menikahiku. Takut mendengar kebahagiaan yang tidak pernah benar-benar ada.
Atau lebih takut lagi: mendengar kebahagiaan yang benar-benar ada, dan harus hidup dengan pengetahuan bahwa aku membiarkannya mati.
---
Sore hari Helena datang. Dia istri Pieter, wanita dengan wajah yang selalu terlihat lelah meski dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak membawa apa-apa. Hanya berdiri di pintu bengkel, menatap perahu hijau tua yang sudah kubersihkan tapi belum kuperbaiki.
"Pieter bilang kau tahu tentang Elise," katanya tanpa basa-basi.
"Kayu yang tahu."
"Jangan main-main dengan kata." Suaranya tajam. "Kau tahu. Pieter tahu kau tahu. Aku tahu kau tahu."
Aku tidak menjawab. Helena masuk, menutup pintu di belakangnya. Dia duduk di bangku kayu tua di seberang meja kerjaku. Tangannya dilipat di pangkuan, seperti orang yang berdoa tapi tidak ingat doanya.
"Elise itu kakakku," katanya pelan. "Dia kabur dua puluh tahun lalu. Tengah malam. Dengan perahu ini."
Aku mengangguk. Aku sudah tahu.
"Dia kabur karena aku." Helena menatap tangannya sendiri. "Karena aku menikahi Pieter. Pieter yang seharusnya jadi tunangannya."
"Kau tidak perlu cerita kalau—"
"Aku perlu." Dia menatapku. Matanya basah tapi tidak menangis. "Aku perlu seseorang tahu. Pieter tidak mau tahu. Orang tua kami sudah mati tidak mau tahu. Kau... kau satu-satunya yang tahu tanpa aku perlu bilang."
Kami terdiam. Di luar, angin bergerak melalui pohon-pohon di tepi air. Daun berdesir seperti seseorang berbisik di gereja.
"Kau pikir aku tidak hidup dengan itu setiap hari?" Helena berbisik. "Kau pikir aku tidak bangun setiap pagi dan bertanya-tanya apakah dia masih hidup di suatu tempat, membenciku? Atau sudah mati, masih membenciku?"
"Kayu tidak bilang dia membencimu."
"Lalu kayu bilang apa?"
Aku memikirkan ini. Memikirkan gemetar di pegangan dayung. Memikirkan cara perahu condong ke kiri, seperti membawa beban yang tidak terlihat. Memikirkan dingin malam tanpa bulan.
"Kayu bilang dia takut," kataku akhirnya. "Tapi bukan takut padamu. Takut pada dirinya sendiri. Takut dia akan menyakitimu kalau dia tinggal."
Helena menangis. Tidak keras. Hanya air mata yang mengalir diam-diam, seperti atap bocor. Dia tidak menutupi wajahnya. Hanya duduk di sana, membiarkan air mata jatuh ke tangannya yang terlipat.
"Bisakah kau," dia berbisik, "bisakah kau perbaiki perahunya? Dan... lepaskan dia?"
"Lepaskan?"
"Ke air. Biarkan dia hanyut. Biarkan... biarkan dia pergi. Benar-benar pergi."
Aku menatap perahu hijau tua itu. Menatap lambungnya yang retak, catnya yang mengelupas, lumutnya yang tumbuh sabar. Perahu yang sudah dua puluh tahun menunggu untuk selesai menunggu.
"Aku akan perbaiki," kataku pelan. "Aku akan lepaskan. Tapi aku tidak janji dia akan pergi. Air punya kehendak sendiri."
Helena mengangguk. Dia berdiri, berjalan ke pintu, kemudian berhenti.
"Terima kasih," katanya. "Untuk mendengar. Bahkan ketika tidak ada yang ingin didengar."
Dia pergi. Aku duduk sendirian dengan perahu Elise, tanganku terangkat, hampir menyentuh kayu lagi, kemudian berhenti.
Cukup. Cukup mendengar untuk hari ini.
---
Aku menghabiskan tiga hari memperbaiki perahu Elise. Mengganti papan yang lapuk. Menambal retakan. Mengamplas permukaan sampai halus. Aku tidak mengecat ulang—cat lama adalah bagian dari ingatan.
Setiap kali aku menyentuh kayu, ingatan datang. Potongan-potongan kecil. Elise menyimpan roti di kantong. Elise mengayuh sampai tangannya luka. Elise berhenti di tengah sungai dan menangis—hanya lima menit—kemudian mengusap wajah dan melanjutkan. Elise bernyanyi untuk dirinya sendiri, lagu yang tidak kukenal, mungkin lagu yang dia karang sendiri.
Pada malam ketiga, aku membawa perahu itu ke air. Tidak ada yang melihat. Aku sengaja menunggu sampai desa tidur. Bulan setengah, cukup terang untuk melihat tapi tidak cukup terang untuk diingat dengan jelas.
Aku menurunkan perahu ke air. Kayu mengapung dengan bunyi kecil, seperti napas lega. Aku memegang tepi perahu, membiarkan air dingin membasahi tanganku.
"Kau sudah cukup lama menyimpan," aku berbisik pada perahu. Atau pada Elise. Atau pada diriku sendiri. "Sekarang waktunya pergi."
Aku mendorong perahu. Pelan. Membiarkan arus menangkap. Perahu bergoyang, berputar sedikit, kemudian mulai bergerak menjauh. Aku berdiri di tepi air, menonton perahu hijau tua itu mengecil, menjadi bayangan, kemudian menghilang di kabut.
Dan ketika perahu itu hilang sepenuhnya, aku merasakan sesuatu yang aneh. Tanganku—tangan yang selalu ingin menyentuh, selalu ingin tahu—tiba-tiba diam. Tidak ada dorongan. Tidak ada gatal. Hanya... diam.
Mungkin inilah yang dimaksud melepaskan. Bukan kekosongan. Bukan kehilangan. Hanya diam yang tidak lagi berat.
---
Aku berjalan pulang perlahan. Bengkelku gelap, hanya lampu kecil di sudut yang masih menyala. Aku masuk, menutup pintu, dan berhenti.
Perahu Anna. Masih di sudut. Masih tertutup terpal.
Aku berdiri di depannya. Berapa lama? Lima menit. Sepuluh. Waktu tidak bergerak dengan cara yang biasa di dalam bengkel ini.
Tanganku terangkat. Hampir menyentuh terpal. Hampir menariknya. Hampir...
Aku menurunkan tangan.
"Tidak hari ini," aku berbisik. "Belum."
Tapi suatu hari. Suatu hari aku akan cukup berani. Atau cukup tua sehingga tidak peduli lagi. Atau cukup lelah sehingga rasa takut tidak lebih besar dari rasa ingin tahu.
Suatu hari.
Aku berbalik, berjalan ke kamarku di belakang bengkel. Berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit kayu. Mendengarkan air bergerak di luar, melawan tiang-tiang rumah.
Air mengingat apa yang kita lupakan, pikirku. Kayu menyimpan apa yang kita lepaskan. Dan tangan—tangan hanya menjembatani. Sisanya adalah pilihan: mendengar atau membiarkan hanyut.
Aku menutup mata. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu sangat lama, aku tidur tanpa mimpi.
---
Pagi datang seperti biasa. Kabut. Burung. Air yang tenang. Aku membuat kopi di tungku kecil, duduk di bangku di depan bengkel, menatap sungai yang mengalir dengan cara yang sama seperti kemarin, seperti besok, seperti selalu.
Ada langkah kaki di jembatan kayu. Aku menoleh. Seorang pria muda—mungkin dua puluh lima tahun—berjalan mendekat dengan canggung, seperti orang yang tidak yakin dia datang ke tempat yang tepat.
"Bapak Matthias?" tanyanya.
"Ya."
"Saya Jonas." Dia berhenti beberapa langkah dari bengkel. "Ayah saya... ayah saya dulu pembuat perahu. Dia meninggal tahun lalu."
Aku mengangguk. Menunggu.
"Saya ingin belajar," katanya. "Membuat perahu. Seperti Ayah dulu." Dia menatap tangannya sendiri. "Saya tidak tahu kenapa. Mungkin supaya merasa dekat dengan dia lagi. Atau mungkin hanya supaya ada yang tersisa dari dia."
Aku menatap pria muda ini. Menatap tangannya yang belum tahu apa yang mereka bisa lakukan. Belum tahu apa yang mereka akan dengar.
"Kau tahu," kataku pelan, "kayu bukan hanya kayu. Kayu menyimpan. Kau siap dengan itu?"
Jonas menatapku bingung. "Menyimpan apa?"
"Segalanya. Setiap orang yang pernah duduk di sana. Setiap tangan yang pernah menyentuh. Kayu tidak lupa."
"Saya..." Jonas ragu. "Saya tidak mengerti."
"Kau akan mengerti." Aku berdiri, menaruh tangan di bahunya. Dan ketika aku menyentuh, aku merasakan getaran kecil—bukan dari Jonas, tapi dari ayahnya yang pernah memegang bahu ini dengan cara yang sama, mengajarkan cara yang sama, berharap hal yang sama.
Aku tersenyum. "Kau ayahmu," kataku pelan.
Jonas berkedip. "Apa?"
"Tidak. Maksudku... tidak apa-apa. Ayo masuk. Kita mulai dari yang sederhana dulu. Memilih kayu."
Kami masuk ke bengkel. Aku menunjukkan kayu-kayu yang tersimpan—oak, pine, cedar. Menjelaskan perbedaan tekstur, berat, kekuatan. Jonas mendengarkan dengan serius, sesekali menyentuh kayu dengan hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang suci.
Di sudut mata, aku melihat terpal yang menutupi perahu Anna.
Masih di sana.
Masih menunggu.
Tapi tanganku tidak gemetar lagi ketika aku melewatinya.
Suatu hari, pikirku. Tapi tidak hari ini. Tidak besok.
Suatu hari, ketika aku siap mendengar apakah dia memaafkan aku. Atau tidak.
Ketika aku siap mendengar apakah cinta itu cukup. Atau tidak.
Ketika aku siap mendengar kebenaran yang mungkin tidak ingin kudengar.
Air mengalir di luar. Kayu diam di dalam. Dan aku—aku terus membuat perahu, satu demi satu, menyimpan ingatan yang bukan milikku, melepaskan ingatan yang terlalu berat untuk disimpan sendirian.
Ini bukan hadiah. Ini bukan kutukan.
Ini hanya cara aku hidup di dunia yang terus bergerak, sementara aku tetap di sini, mendengarkan apa yang orang lain tidak bisa—atau tidak mau—dengar.
Dan mungkin itu cukup.
Untuk hari ini, itu cukup.
#resonansi #resonance #psychology #ceritakehidupan #rumahkayu
Comments
Post a Comment