Bangku Depan yang Jarang Aku Sapa

Bangku Depan yang Jarang Aku Sapa

Bangku Depan yang Jarang Aku Sapa

I.

Ada notifikasi yang menyala di kegelapan kamar—cahaya biru pucat yang mencuri perhatian dari keheningan malam. Aku membiarkannya berkedip tiga kali sebelum mengulurkan tangan. Jemari mencari permukaan kaca yang dingin. Di layar, nama-nama lama berkerumun seperti debu yang terusik setelah bertahun-tahun mengendap.

"Reuni kecil di warung kopi belakang sekolah."

Lalu satu nama muncul terpisah. Pribadi. Seperti bisikan yang sengaja memilih malam untuk datang.

Putri: "Kamu bakal datang? 😊"

Jempolku melayang di atas keyboard virtual. Getaran halus dari ponsel terasa seperti denyut nadi yang terpisah dari tubuhku sendiri. Tujuh belas tahun. Cukup lama untuk melupakan wajah seseorang. Terlalu singkat untuk melupakan bagaimana nama itu terasa di dalam mulut—suku kata yang tak pernah kuucapkan keras-keras, hanya dalam doa-doa sunyi di sela-sela pelajaran Biologi saat guru menjelaskan tentang mitosis, tentang bagaimana sel membelah dan memisah, tentang bagaimana sesuatu yang utuh bisa menjadi dua hal yang terpisah.

"Mungkin," jawabku. Kata yang paling aman untuk kebohongan.

Karena sejak membaca namanya, aku tahu aku akan datang.


II.

Pagi itu lemari pakaian terasa seperti naskah yang salah ketik—penuh pilihan yang tidak ada yang tepat. Kemeja putih mengingatkan pada seragam yang dulu kukenakan dengan kerah terlalu kaku. Kemeja biru muda adalah warna yang kupilih saat presentasi, warna yang membuat suaraku terdengar lebih yakin daripada yang sebenarnya aku rasakan.

Akhirnya: kaos hitam berlapis kemeja biru. Kompromi antara keberanian dan ketakutan. Seperti biasa, aku memilih yang tidak mencolok. Seperti biasa, aku adalah penonton di filmku sendiri.

Motor meluncur di jalanan yang basah oleh embun pagi. Setiap lampu merah adalah kesempatan untuk mundur. Di lampu merah terakhir, tanganku sudah menyalakan sein kiri—tanda putar balik yang paling jujur yang pernah kubuat hari ini—tapi kemudian aku teringat: foto profil WhatsApp-nya. Rambut sepanjang bahu. Senyum yang sama. Hanya waktu yang berubah, bukan wajahnya.

Aku mematikan sein. Melaju lurus. Seperti orang yang kalah berdebat dengan kenangan.


III.

Warung kopi itu menyimpan waktu dengan cara yang aneh. Lampu-lampu temaram masih tergantung di langit-langit kayu yang mulai lapuk. Bau kopi bercampur aroma tanah lembab—seperti sesuatu yang membusuk dan tumbuh dalam waktu bersamaan.

Di ruangan itu, wajah-wajah lama berubah menjadi versi yang lebih lelah dari diri mereka sendiri. Andi dengan kumis tipis yang tampak seperti belum yakin ingin tumbuh. Rya dengan rambut dicat cokelat yang mulai memudar di akar. Reza, yang konon sudah menikah dua kali, duduk sendiri di pojok dengan wajah orang yang sedang mencoba mengingat siapa dirinya sebelum semua keputusan itu diambil.

Tapi aku tidak peduli dengan mereka.

Karena di ujung ruangan, di bangku kayu yang sama—yang dulu pernah menjadi pusat gravitasi duniaku—ada seseorang yang duduk dengan punggung tegak. Rambut dikuncir sederhana. Kebiasaan yang tidak berubah sejak kelas sepuluh. Jemari memainkan sendok kecil dalam cangkir, gerak memutar yang hipnotis, mata sesekali melirik ke pintu dengan ekspresi yang sulit kubaca: harap atau cemas.

Mata kami bertemu.

Dan aku menyadari: beberapa jarak tidak pernah berkurang. Hanya cara kita melihatnya yang berubah.

Ia tersenyum. Tersenyum dengan cara orang yang sudah lama menunggu sesuatu, tapi tidak yakin itu akan datang.

"Kamu datang juga."

Aku melangkah. Meja kayu antara kami terasa seperti perbatasan yang terlalu lama dijaga. Tanganku mencari tempat di permukaan meja—gerak gugup yang sama seperti dulu, saat aku mengembalikan pulpen pinjaman dengan alasan yang dibuat-buat.

"Masih suka nulis di balik buku tulis?"

Suaranya. Tuhan. Suaranya masih sama. Sedikit serak di nada rendah, seperti orang yang baru bangun tidur atau baru selesai menangis.

"Masih. Tapi sekarang nulisnya di notes handphone."

"Hmm." Ia mengaduk kopinya—gerak melingkar yang perlahan, meditatif. "Tidak seromantis dulu ya."

"Romantis waktu itu karena kamu duduk di depan."

Kata-kata itu keluar sebelum otakku sempat menyadari. Jujur dengan cara yang paling bodoh.

Putri berhenti mengaduk. Sendok berhenti di tengah lingkaran yang belum selesai. Matanya menatapku—bukan dengan terkejut, tapi dengan sesuatu yang lebih buruk: pengertian.

"Jadi itu alasannya kamu tidak pernah menyapa?"

"Bisa jadi. Aku sibuk melihat bahumu." Aku tertawa kecil, suara yang tidak meyakinkan siapa pun, termasuk diriku sendiri. "Bahu orang yang kusuka tapi terlalu takut untuk kuajak bicara."


IV. (Interlude: Masa Lalu seperti Luka yang Tidak Pernah Sembuh Sempurna)

Putri selalu datang lima menit sebelum bel berbunyi.

Aku tahu karena aku selalu datang sepuluh menit lebih awal—hanya untuk memastikan aku sudah duduk saat ia masuk. Ia akan meletakkan tas di bangku dengan hati-hati, mengeluarkan buku-buku dengan urutan yang sama setiap hari: buku pelajaran dulu, baru novel tipis yang berbeda setiap minggu.

"Senja di Jakarta." "Hujan Bulan Juni." "Cinta di Ujung Senja."

Aku hafal semua judulnya. Bukan karena aku membacanya—tapi karena aku membaca bahunya saat ia membaca. Cara tubuhnya sedikit condong ke depan saat sampai di bagian yang menarik. Cara jemarinya kadang menyentuh sudut halaman terlalu lama sebelum membaliknya, seolah tidak rela meninggalkan kalimat terakhir.

Suatu hari, ia membaca "Rindu."

Aku menulis di secarik kertas: "Buku itu bagus?"

Tanganku gemetar saat melipat kertas itu. Aku membayangkan dua kemungkinan: ia tersenyum, atau ia mengabaikan. Keduanya sama menakutkannya. Akhirnya kertas itu kusobek. Kubuang. Seperti semua kata yang tidak sempat kuucapkan, berakhir di tempat sampah—atau di dalam dada, mengendap seperti sedimen di dasar danau.


V.

"Aku tahu, loh."

Dua kata yang menghentikan waktu.

"Apa?"

"Kamu suka aku."

Dunia menyempit menjadi meja ini. Cangkir kopi. Sendok yang berhenti bergerak. Mata Putri yang menatapku tanpa berkedip.

"Dari kapan?"

"Dari sejak kamu selalu meminta fotokopi catatan—padahal nilaimu jauh lebih bagus dariku." Ia tersenyum, tapi matanya tidak. Matanya sedih dengan cara yang aneh. Sedih karena tahu sesuatu terlalu terlambat. "Dan kamu selalu berdiri agak lama di samping mejaku saat mengembalikan pulpen yang kamu pinjam. Seperti orang yang ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu caranya."

Kami tertawa. Tawa yang terdengar seperti orang yang mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini lucu, padahal ini tragis.

"Dulu aku juga menunggu kamu menyapa."

Suaranya turun—hampir berbisik, seperti mengaku dosa.

"Aku sering melihatmu dari pantulan kaca jendela. Kamu selalu serius kalau sedang menulis. Lidahmu sedikit menjulur kalau sedang konsentrasi. Lucu."

Jantungku berhenti. Atau berdetak terlalu cepat. Aku tidak bisa membedakan.

"Kamu... juga?"

"Aku juga."

Dua kata lagi yang mengubah semua yang kupercaya tentang masa laluku. Tentang diriku. Tentang semua penyesalan yang kubawa selama tujuh belas tahun.

"Mungkin kita seperti dua huruf yang bersebelahan tapi tidak pernah jadi kata," kataku—dan aku tidak tahu dari mana metafora itu datang, tapi ia terasa benar.

"Atau seperti dua kalimat yang ditulis di halaman berbeda," sahut Putri. "Tidak pernah bertemu, tapi selalu tentang hal yang sama."

Kami diam.

Keheningan di antara kami bukan lagi keheningan yang canggung—tapi keheningan dua orang yang akhirnya mengerti: beberapa hal tidak perlu diucapkan untuk menjadi nyata.

"Kenapa sekarang kamu mau bicara?" tanyanya lembut.

Aku menatap tangannya. Tidak ada lagi gelang karet warna-warni yang dulu selalu ia pakai. Tangannya dewasa. Kami berdua sudah dewasa—atau setidaknya, lebih tua.

"Mungkin karena aku sudah tidak punya alasan untuk takut," jawabku pelan. "Atau mungkin karena aku sadar: beberapa hal akan lebih menyesal kalau tidak diucapkan—bahkan jika sudah terlambat untuk mengubah apa pun."


VI.

Cangkir sudah kosong. Di luar, hujan mulai turun—rintik-rintik halus yang mengetuk atap seng seperti jari-jari yang gelisah. Dari speaker usang di sudut ruangan, lagu lama mengalun: Kasih Putih. Lagu yang dulu sering kami dengar di kantin saat istirahat kedua. Lagu yang selalu membuatku ingat sore-sore pulang sekolah naik angkot—duduk berjauhan tapi dalam hati berharap bisa duduk berdampingan.

Aku tidak pernah duduk di sampingnya. Tidak sekali pun.

"Aku senang kamu datang malam ini."

Suara Putri hampir tenggelam dalam suara hujan.

"Aku juga senang akhirnya bisa duduk di depanmu," jawabku. "Bukan cuma di belakang, menyapa dalam diam."

Ia berdiri perlahan. Mengambil tasnya. Menatapku sekali lagi dengan mata yang berkaca-kaca—bukan sedih, tapi seperti bahagia yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Lalu ia mendekat.

Mencium pipiku—ringan, cepat, seperti kupu-kupu yang hinggap sebentar lalu terbang.

"Untuk semua yang terlambat," bisiknya di telinga.

Aku merasakan hangat di pipi yang ia sentuh. Hangat yang akan memudar, aku tahu, tapi untuk saat ini cukup untuk membuat semuanya terasa nyata.

"Beberapa hal memang tidak untuk dimiliki," kataku. "Tapi bisa dikenang dengan indah."

Ia mengangguk. Tersenyum dengan mata yang masih basah.

Sebelum pergi, ia berbalik sekali lagi.

"Aku simpan semua kertas yang kamu buang di tempat sampah dulu."

Dunia berhenti.

"Tulisanmu bagus. Sangat bagus. Aku baca semuanya."

Lalu ia menghilang ke dalam hujan—aroma vanila samar tertinggal di udara seperti hantu yang ramah.


VII. (Epilog: Tentang Perasaan yang Tidak Perlu Dimiliki untuk Menjadi Nyata)

Aku duduk sendirian di bangku yang tadi ia duduki. Masih hangat. Atau mungkin itu hanya imajinasiku—cara tubuh menciptakan kenyamanan dari kehilangan.

Hujan semakin deras. Tetesan air di atap seng berbunyi seperti jam yang tidak pernah berhenti berdetak. Aku memesan kopi lagi—kopi yang tidak akan kuhabiskan—hanya untuk punya alasan tetap duduk di sini lebih lama.

Kupandangi meja kayu ini. Ada ukiran kecil di sudutnya: inisial yang tidak kubaca, hati yang digambar tergesa. Bukti bahwa orang lain juga pernah merasa seperti ini—mencoba mengabadikan perasaan di tempat yang tidak akan bertahan lama.

Aku berpikir tentang kertas-kertas yang ia simpan. Kata-kata yang kutulis dengan tangan gemetar, lalu kusobek dengan penyesalan. Ia membacanya. Ia tahu. Dan ia tetap diam—bukan karena tidak peduli, tapi karena ia juga takut. Karena ia juga sedang menunggu. Karena kami berdua adalah pengecut dengan cara yang sama.

Tapi malam ini, kami akhirnya berani.

Terlambat untuk mengubah apa pun. Tapi cukup untuk membuat perdamaian dengan masa lalu.

Aku berdiri. Mengenakan jaket. Melangkah ke luar di bawah hujan yang membasahi rambut dan wajah—dingin, tapi entah kenapa terasa menyegarkan. Seperti dibaptis. Seperti dilahirkan kembali dengan satu beban yang lebih ringan.

Motor menyala. Aku pulang dengan pelan, menikmati hujan, menikmati malam, menikmati perasaan ini: bukan bahagia, bukan sedih—tapi sesuatu di antaranya. Sesuatu yang lebih jujur.

Sesuatu yang akhirnya bisa kusebut: selesai.

Dan di tengah perjalanan pulang, aku tersenyum sendiri. Karena menyadari: beberapa cinta tidak perlu memiliki untuk menjadi indah. Cukup pernah ada. Cukup pernah dirasakan. Cukup—akhirnya—diucapkan.

Meski hanya di malam hujan, tujuh belas tahun terlambat.


FIN

Comments

Popular Post

Kopi yang Dingin

Mie Ayam Pak Samsul

Air yang Mengingat